Telp. 0265-2351868 | WA 0878 8555 4556

Friday, 17 July 2020

Kisah Si Miskin Yang Berqurban










Kisah ini menceritakan tentang seorang penjual hewan qurban yang merasa terharu hingga menangis karena ada seseorag yang membeli seekor kambing miliknya pada hari itu, dan orang yang membelinya pun tidak pernah disangka. 

Pada saat itu, idul adha semakin dekat sehingga banyak orang yang berkunjung ke tempat penjualan hewan qurban milik (kita sebut saja) Pak Ahmad. Ada yang hanya melihat-lihat dan ada pula yang membeli. Pak Ahmad sangat menyukai bisnis jual hewan qurban ini. Karena menurutnya bisa membantu orang untuk mendapatkan hewan qurban dan Allah memberikan rezeki halal dari keuntungan penjualan.

Pada suatu hari, datanglah seorang ibu sederhana dengan pakaian kumalnya menghampiri tempat jual hewan qurban milik Pak Ahmad. Dalam hati Pak Ahmad mengira jika ibu tersebut hanya datang untuk melihat-lihat tanpa mampu untuk membeli. Meskipun begitu Pak Ahmad tetap melayaninya dengan ramah dan baik.

"Silahkan Bu, ada yang bisa saya bantu?" Tanya Pak Ahmad

"Kalau kambing itu harganya berapa Pak?"

"Itu 700.000 rupiah bu."

"Harga pasnya berapa?" Ibu itu mencoba menawar.

"Bolehlah 600.000 Bu. Itu untungnya sangat tipis. Buat ibu bolehlah kalau ibu mau."

"Tapi, uang saya cuma 500.000 Pak. Boleh?" Kata ibu dengan penuh harap.

Keyakinan Pak Ahmad pun berubah, yang tadinya menganggap ibu tersebut hanya datang untuk melihat-lihat ternyata ibu tersebut serius ingin berqurban. Mungkin jika menilai dari penampilan ibu tersebut seperti tidak mampu untuk berqurban. Namun kenyataannya berbeda.

Akhirnya Pak Ahmad pun melepas kambingnya dengan harga 500.000 khusus untuk ibu tersebut. walaupun sebenarnya dia tidak mendapatkan untung sama sekali dari penjualannya tersebut.

Lalu Pak Ahmad mengantar kambing ke rumah ibu tersebut. Tiba-tiba hati dan tubuhnya bergetar melihat kondisi rumah ibu tersebut. Betapa tidak terkejutnya melihat sang pembeli kambing nya mempunyai rumah gubuk berlantai tanah yang didalamnya tidak ada barang mewah satupun. Jangankan barang mewah, kursi, meja, kasur pun tidak ada. 

Di dalam rumah tersebut hanya ada dipan beralas kasur yang diatasnya terbaring seorang nenek. Beliau adalah ibu dari sang pembeli kambing. Ternyata sang pembeli kambing hanya bekerja sebagai buruh cuci. Dia berusaha keras menabung agar bisa berqurban atas nama ibu nya.

Nampak Ibu dan sang pembeli kambing tersebut bahagia karena akhirnya bisa menunaikan ibadah qurban. 

"Astagfirullah, Allahu Akbar, Ya Allah ampuni dosa hamba, hamba malu berhadapan dengan hamba-Mu yang pasti lebih mulia ini, seorang yang miskin harta namun kekayaan imannya begitu luar biasa."

Sahabat, kisah di atas bisa menjadi renungan bagi kita semua. Jika berqurban itu bukan hanya kewajiban bagi orang kaya saja. Jika kita mampu membeli barang mewah seperti gadget dan lainnya, kenapa kita tidak mampu untuk menyisihkan uang kita untuk berqurban.

"Barangsiapa yang memiliki kelapangan untuk berkurban namun dia tidak berkurban, maka janganlah ia mendekati tempat salat kami." (HR Ibnu Ahmad dan Al Hakim)