Telp. 0265-2351868 | WA 0878 8555 4556 | BBM 5AE49B09

Kisah Inspiratif

Smart Family

Tafakur

Terbaru

Friday, 28 April 2017

Ujian Kesenangan


Allah SWT. berfirman, “Apakah manusia itu mengira bahwa mereka dibiarkan (saja) mengatakan, “Kami telah beriman”, sedang mereka tidak diuji lagi? Dan sesungguhnya Kami telah menguji orang-orang yang sebelum mereka, maka sesungguhnya Allah mengetahui orang-orang yang benar dan sesungguhnya Dia mengetahui orang-orang yang dusta.” (QS. Al Ankabut [29] : 2-3)

Sudahkah kita pahami bersama bahwasanya ujian adalah keniscayaan hidup. Hidup di dunia pasti selalu bertemu dengan berbagai persoalan, masalah, ujian. Dan salah satu bentuk dari ujian tersebut adalah ujian dalam bentuk kesenangan. Bahkan, ujian dalam bentuk kesenangan ini jauh lebih berat daripada ujian kesusahan. Resiko ketika salah mensikapinya pun jauh lebih besar daripada ujian kesulitan.

Ujian kesenangan itu bisa berbentuk pangkat, jabatan, popularitas, anak-anak yang lucu dan pintar, pasangan hidup yang berparas indah, harta kekayaan, kendaraan, rumah. Bisa juga berupa sanjungan dan pujian. Semua ini adalah hal-hal yang menyenangkan kita dan bisa melenakan kita. Jika salah mensikapinya, kita bisa terjerumus pada berbagai penyakit hati yang menimbulkan malapetaka pada diri kita sendiri.

Bagaimana sikap terbaik mensikapi ujian kesenangan?

Pertama, beristighfar. Kesenangan yang kita dapatkan, apapun bentuknya, biasanya meninggalkan lintasan rasa senang, gembira di dalam hati. Tidak jarang secara halus menimbulkan bibit-bibit ujub, riya, sum’ah. Maka istighfar, memohon ampun adalah untuk membersihkan bibit-bibit penyakit tersebut. Sehingga hati kita senantiasa terjaga kebersihannya. Hanya hati yang bersih yang bisa peka menangkap hidayah Allah SWT.

Kedua, bertasbih memuji Allah SWT. Kepahitan dan kesenangan adalan ujian, sedangkan ujian adalah bagian dari nikmat Allah terhadap hamba-Nya. Ketika mendapatkan ujian kesenangan, maka langkah terbaik menghadapinya adalam dengan segera menyandarkan kesenangan itu hanya kepada Allah SWT. Yakin di dalam hati bahwa tiada yang kuasa melimpahkan kesenangan ini selain Allah. Dan tiada yang kuasa mencabut kesenangan ini melainkan hanya Allah semata.

Ketiga, bersyukur. Sikap yang juga sangat disukai Allah SWT. dari hamba-Nya adalah sikap bersyukur. Ketika mendapatkan ujian berupa kesenangan, maka bersyukur adalah sikap orang yang beriman. Ini adalah sikap yang Allah sukai sebagaimana Allah sampaikan di dalam Al Quran. Bentuk-bentuk syukur pun banyak macamnya. Hati dan lisan memuji Allah. Sikap dan perbuatan menggunakan dan membelanjakan pemberian Allah di jalan yang Allah ridhoi.

Semoga ujian kesenangan yang datang kepada kita, bisa menjadi ladang amal sholeh bagi kita. Sehingga ujian tersebut tidak menjadi pemberat dosa kita kelak di akhirat, namun sebaliknya, menjadi pemberat catatan amal ibadah kita di hadapan Allah SWT. Aamiin yaa Robbal ‘aalamiin

Thursday, 27 April 2017

Perjalanan Terberat


Diriwayatkan dari Abu Sa’id al-Khudry, Rasulullah SAW bersabda : “Jika kamu melihat orang rajin mendatangi masjid, maka persaksikanlah ia sebagai orang yang beriman.” Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman : Orang yang mau memakmurkan masjid-masjid Allah hanyalah orang-orang yang beriman kepada Allah dan Hari kiamat. [QS At-Taubah : 18]. {HR. At-Tirmidzi}

Orang bijak mengatakan : Perjalanan terberat adalah perjalanan menuju ke Masjid. Banyak pemuda yang kuat menaklukan puncak Gunung bromo dengan ketinggian : 2.329 meter, atau Puncak gunung semeru yang tingginya 3.676 meter namun tak mampu menaklukkan perjalanan ke Masjid yang berjarak beberapa meter saja dari rumahnya.

Perjalanan terjauh adalah perjalanan menuju ke Masjid sebab banyak orang-orang kaya yang membayar jutaah rupiah untuk menempuh jalan ke cina, jepang, swedia bahkan telah travelling seluruh penjuru dunia namun tidak sanggup menempuh jalan ke masjid meskipun tanpa mengeluarkan biaya. Jangankan untuk sholat sehari 5 waktu, bahkan dalam seminggupun banyak yang melupakannya, dan tidak jarang pula yang seumur hidup tidak pernah mampir ke sana.

Perjalanan terjauh dan terberat adalah perjalanan menuju ke Masjid. Sebab banyak orang-orang pintar yang mampu melangkah dan dengan semangat membara pergi mencari ilmu ke negeri yang jauh hingga ke negeri cina, eropa, amerika, jepang, australia, korea, dan jangka waktu yang lama hingga bergelar S3 sekalipun namun tidak mampu menempuh perjalanan ke Masjid meskipun membutuhkan waktu yang tidak lama.

Maka berbahagialah, Bila engkau mampu melangkahkan kakimu ke Masjid karena sejauh manapun dirimu melangkahkan kaki, tidak ada perjalanan yang paling membanggakan selain perjalananmu ke Masjid. Bagaimana tidak? Rasulullah SAW bersabda : “Jika kamu melihat orang rajin mendatangi masjid, maka saksikanlah ia sebagai orang yang beriman.” Allah SWT berfirman : Orang yang mau memakmurkan masjid-masjid Allah hanyalah orang-orang yang beriman kepada Allah dan Hari kiamat. [QS At-Taubah : 18]. {HR. At-Tirmidzi}

Tiada predikat yang lebih prestisius dari iman, sebab gelar iman bukan pemberian rektor, pimpinan sebuah universitas namun ia adalah gelar yang disematkan oleh dzat penguasa alam semesta.

Perjalanan ke Masjid adalah perjalanan menjumpai Rabbmu, sesuai dengan perintah-Nya yang diajarkan oleh Nabimu, serta perjalanan yang akan membedakanmu dengan orang-orang yang lalai akan Rabbnya. Maka lakukanlah walaupun engkau harus merangkak dalam gelapnya malam demi keselamatanmu, mengarungi dunia yang fana menuju tempat keabadian, serta bertemu dengan Rabbmu.
Rasulullah SAW bersabda : “Seandainya orang-orang mengetahui pahala adzan dan shaf pertama, lalu mereka tidak akan memperolehnya kecuali dengan ikut undian, niscaya mereka akan berundi. Dan seandainya mereka mengetahui pahala menyegerakan shalat pada awal waktu, niscaya mereka akan berlomba-lomba melaksanakannya. Dan seandainya mereka mengetahui pahala shalat Isya dan Subuh, niscaya mereka akan mendatanginya meskipun dengan jalan merangkak.” {HR. Bukhari}

Nabi SAW juga bersabda, “Seandainya orang-orang mengetahui” ini mengisyaratkan bahwa banyak orang yang tidak tahu karena pahala itu bersifat abstrak, kasat mata seandainya pahala mendatangi masjid berupa kipas angin, kulkas atau uang niscaya mereka akan mendatanginya meskipun dengan cara merangkak.”

Wednesday, 26 April 2017

Hakikat Doa Kepada Allah


Imam ibnu Atha’illah mengatakan “jangan sampai doa permintaanmu kepada Allah itu engkau jadikan sebagai alat (sebab) untuk mencapai pemberian Allah, niscaya akan kurang pengertianmu (ma’rifatmu) kepada Allah, tetapi hendaknya doa permintaanmu semata-mata untuk menunjukan kerendahan kehambaanmu dan menunaikan kewajiban terhadap kemuliaan kebesaran dan kekayaan Tuhanmu”.

jadi kalau kita meminta kepada Allah, jangan menganggap karena kita minta, Allah memberi, jika demikian berarti Allah diatur kita. Bagi kita, berdoa itu adalah ibadah, ikhtiar itu adalah amal sholeh, perkara Allah memberi itu terserah Allah saja.

Kita diperintahkan berdoa bukan untuk memberitahu Allah tentang keperluan kita, karena Allah maha tau, bahkan Yang Menciptakan kita punya keperluan juga Allah, jadi sebelum kita minta, Allah sudah tau keperluan kita, kenapa Allah tau keperluan kita? Karena dia yang menciptakan keperluan kita.

Kita tidak mengerti kenapa kita lapar, tapi lapar,kita perlu makanan. Allah yang menciptakan kita lapar, dan Allah juga yang tau kalau kita tidak ada makanan, kita tidak bisa ibadah kepada-NYA. Allah menciptakan haus, Allah juga yang menyediakan air.

Kalau setiap permintaan selalu berbuah pemberian, bagaimana kalau kita tidak minta, pasti tidak ada pemberian.

Sekarang banyak mana? banyak mintanya? atau banyak pemberian Allahnya?kalau setiap pemberian harus lewat minta, bagaimana? repot kita, sedang kita tidak tau semua keperluan tubuh kita. Misal:“ya Allah tolong panjangkan rambut saya, dengan kecepatan, coba mau berapa kecepatannya, 1 cm/menit, tolong ya Allah, komposisi rambut, jangan terlalu keras, nanti berdiri semua, jangan juga kekecilan, dan tolong ya Allah warnanya seragam.”

Rumit…, itu baru rambut, belum kebutuhan semua anggota tubuh ini, rumit sekali tubuh ini, dan tidak minta, dicukupi, benar?

Makanya akhwat tidak perlu pakai bulu mata palsu, karena bulu mata ini sudah diatur dengan keseimbangan otot mata, siapa yang bawa pakai bulu mata palsu, itu seperti kita bawa barbel, aka ada kelelahan otot mata, jangan heran, yang masa mudanya sering pakai bulu mata, nanti makin tua jadi sudah kelelahan ototnya, jadi gak bentuk lagi.

Jadi antara keperluan dengan permintaan beda, meminta ke Allah itu adalah ibadah, doa itu “mukh al-‘ibadah” saripatinya ibadah.

Yang terpenting dari doa bukan terkabulnya, yang terpenting dari doa adalah kita jadi hamba Allah, bener-bener merunduk, “saya itu tidak berdaya Allah yang maha kuasa, saya itu bodoh Allah yang maha tahu, saya itu miskin gak punya apa-apa, Allah yang punya segala-segala, saya itu kotor berlumur dosa, hanya Allah yang maha suci”.

Kalau doa bisa membuat kita nyungsep laahaulaawalaquwwata illabillah, itu sudah berhasil doanya.
Dikasih apapun bentuknya, mau cocokdengan yang kita minta, mau tidak cocok, tidak apa-apa, karena yang penting dari doa itu adalah berhasilnya kita mentauhiidkan Allah.

Dikabulkannya doa juga tidak harus cocok dengan yang kita inginkan, karena yang kita inginkan belum tentu yang terbaik menurut Allah, kitakan menginginkan sesuatu cendrung hawa nafsu.

Salah satu doa yang bagus itu seperti doanya Nabi Yunus, “laa ilaahailla anta subhanaka inni kuntu minandzoolimiin”.Itu doa ismul ‘adzom, jadi doa yang bagus itu adalah:

Mentauhiidkan Allah, laailaaha illa anta; tiada illah selain Engkau,
Mensucikan Allah, subhanaka; Maha suci Engkau. Intinya tidak ada yang kurang tidak ada yang salah tidak ada yang jelek, semua perbuatan Allah sempurna baiknya mau apapun yang terjadi subhanaka termasuk musibah yang menimpa kita pasti Allah itu baik, mau digimanainsaja tubuh ini, pasti perbuatan Allah itu baik.

Subhanaka inni kuntu mindzdzoolimiin; sedang saya inilah ya Allah orang yang dzolim, nah itu doa, laa haulaa walaa quwwata illabillah, tiada daya tiada kekuatan kecuali dari Allah yang maha agung, kita ngebungkukseperti karung yang tidak ada apa-apanya kecuali dikuatkan oleh Allah.

Jadi yang penting dari doa itu sebetulnya bukan fokus dikabulkannya tapi fokus: mentauhiidkan Allah, mensucikan Allahh, dan pengakuan atas kehambaan diri kita.

Tuesday, 25 April 2017

Sedekah Terbaik Tukang Warteg




Pasangan muda penjual nasi pinngir jalan, yang lebih dikenal dengan Warteg (Warung Tegal). Ditangan mereka hanya ada uang 1 juta rupiah. Uang itu seharusnya dipakai untuk membayar sewa kontrakan rumah mereka. Namun Si suami begitu semangat ingin menyedekahkan uang itu.

“Kita sedekahkan saja uang kontrakan itu Bu”. Kata Si suami “Kita bakalan dibalas Alloh minimal 10 kali lipat” Begitu Si suami melanjutkan.”

“Tapi ini tinggal uang buat kita bayar kontrakan lho Pak” Sahut istrinya.
Istrinya deg-degan juga, dengan melepas uang 1 juta rupiah itu, mana tahu nanti malahan apes. Kalau sampai tidak balik lagi uang 1 juta itu, mereka pasti akan diusir si empunya kontrakan. “Mau tidur dimana nanti?” Begitu kegelisahan Si istri terhadap keberadaan uang 1 juta rupiah yang telah diniatkan Si suami.

Tetapi Si suami tetap bersikukuh untuk menyedekahkan uang 1 juta itu. Singkat cerita uang 1 juta itu kemudian mereka sedekahkan.

“Mudah-mudahan Alloh SWT akan mengganti uang kontrakan ini dengan yang lebih baik. Apabila memang uang ini akan berarti bagi yang lebih membutuhkan. Mungkin bulan depan kita sudah pindah ke rumah gedong itu” Tunjuk si suami kearah rumah gedung yang memang ada tulisannya “Dijual, hubungi no Hp 0811xxxxxxx” dengan penuh optimis

Dari sinilah kini suami istri itu setiap hari menunggu perubahan yang akan terjadi. Satu hari, dua hari belum ada perubahan mendasar terhadap kehidupan rumah tangganya.Seminggu, dua minggu dan masuk minggu ke empat pasangan ini sudah mulai gelisah.

Begitulah tabiat dasar manusia, semuanya menginginkan hasil cepat dan sekali jadi. Hari ini menanam besok maunya langsung panen. Tapi bukanhah semuanya butuh proses? Dalam kondisi seperti ini pasangan tersebut mulai belajar apa artinya sabar.

Alloh SWT tidak pernah mengingkari janjinya, karena memang tidak mungkin dan tidak patut bagi sifat Alloh yang Maha Pengasih dan Penyayang, kita saja yang tidak pernah bersabar dengan apa artinya sabar.

Menjelang akhir bulan, datang utusan dari sebuah perusahaan yang sedang ditimpa masalah internal, utusan itu menemui pemilik warung tersebut menawarkan suatu kontrak untuk menyuplai nasi bungkus dalam jumlah besar. Tidak ada angin tidak ada hujan, seumur hidup belum pernah kepikiran akan mendapatkan orderan sebesar itu.

“Bapak sanggup nggak? kalau enggak sanggup, kami akan mencari orang lain. Ini tawaran besar. kalau bapak sanggup kami akan membuat kontrak.”

“Memangnya, bapak pesan berapa bungkus?” tanya penjual nasi dengan penuh tanda anya. Dia bertanya seperti itu karena bisanya pesanan dari persusahaan yang ada di dekat warung itu cuma pesan beberapa ratus bungkus saja.

“15 ribu bungkus sehari tiga kali makan. Nasi sebanyak itu untuk pengungsi yang menjadi tanggungan kami. Bagaimana? Bapak sanggup?”
“Sanggup” Entah dari mana datangnya tenaga menganggukan kepala, tahu-tahu seperti ada yang menggerakan kepala untuk mengangguk begitu saja. Dari anggukan kepala itulah pemilik warteg itu mendapatkan keuntungan yang luar biasa. Hitungan kasar 15000 X 3000 X 3 = Rp 1,35 miliar.

Awal bulan berikutnya mereka sudah pindah ke rumah gedung yang dahulunya hanya di angan-angan, kini rumah gedung itu sudah atas nama penhjual nasi itu.
Subahanalloh...

Mensyukuri Nikmat Waktu


“Demi waktu, sesungguhnya manusia itu benar-benar berada dalam kerugian, kecuali orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal saleh dan saling nasehat-menasehati dalam menetapi kebenaran dan nasehat-menasehati dalam menetapi kesabaran.” (QS. AI ‘Ashr [103]:1-3).

Sahabatku, waktu adalah karunia yang sangat berharga. Betapa pentingnya waktu hingga Allah SWT. bersumpah dalam AI Quran, “Wal ‘Ashri (Demi waktu)”, “Wadh Dhuha (Demi waktu dhuha)”, “Wal Lail (Demi waktu malam)”.

Waktu adalah modal yang sangat besar untuk hidup kita. Setiap orang di dunia ini mendapatkan modal yang sama yaitu 24 jam sehari, 168 jam seminggu, 672 jam sebulan, dan seterusnya. Akan tetapi, mengapa kemudian ada orang yang sukses dan ada yang tertinggal, ada yang beruntung ada dan ada yang merugi?

Mari kita simak keteladanan yang ditunjukkan oleh suri teladan kita Rasulullah SAW., para sahabat dan generasi setelahnya. Rasulullah SAW. dalam tempo 23 tahun mampu membawa Islam menjadi peradaban besar di dunia, hingga sekarang dan masa yang akan datang. Insya Allah. Beliau juga mengikuti 80 peperangan dalam kurun waktu 10 tahun dalam rangka membela Islam. Dalam waktu-waktu tersebut beliau juga sukses memberikan contoh bagaimana menyayangi sesama dan menjadi pemimpin yang adil lagi bijaksana.

Zaid bin Tsabit ra. bisa menguasai bahasa Parsi hanya dalam waktu dua bulan saja. Kemudian beliau dipercaya sebagai sekretaris Rasulullah SAW. dan penghimpun ayat-ayat Al Quran dalam sebuah mushaf. Sedangkan Abu Hurairah ra. masuk Islam dalam usia 60 tahun, dan ketika wafat di usia 80 tahun beliau telah menghafal 5.374 hadits secara akurat. Beliau adalah sahabat yang paling banyak menghafal hadits.

Masih banyak contoh-contoh lainnya selain ketiga contoh tersebut di atas, contoh-contoh yang memperlihatkan bagaimana seseorang memanfaatkan waktunya sebaik mungkin. Sehingga tak heran jika dalam kehidupan sehari-hari kita melihat ada orang yang sukses dalam bisnisnya, ada juga yang tidak. Ada yang berprestasi di sekolahnya, ada juga yang tidak. Ada yang mampu menambah hafalan surat-surat dalam Al Quran, dan ada yang tetap saja malah berkurang karena lupa.

Mengapa hal itu terjadi? Tiada lain adalah karena waktu yang dimiliki manusia itu sama, namun cara menggunakannya yang berbeda. Ada yang menggunakannya sebaik mungkin. Ini adalah wujud rasa syukur atas nikmat waktu yang diberikan Allah SWT. Ada juga yang menggunakan waktu seenaknya saja, dan ini adalah wujud dari mengkufuri nikmat waktu. Sedangkan barangsiapa yang mengkufuri nikmat Allah, maka ia sama saja dengan mencelakai dirinya sendiri.

Karena Allah SWT. berfirman, “Sesungguhnya jika kalian bersyukur, pasti kami akan menambah nikmat kepada kalian. Dan jika kalian mengingkari nikmat-Ku, maka sesungguhnya adzab-Ku amat pedih.” (QS. Ibrahim [14]: 7).

Sedangkan Rasulullah SAW. sudah mengingatkan kita bahwa nikmat waktu ini seringkali dilupakan oleh manusia. Dalam haditsnya beliau bersabda, “Dua kenikmatan yang sering dilalaikan oleh sebagian besar manusia adalah nikmat sehat dan nikmat waktu luang”. (HR. Bukhari dan Ibnu Majah).

Kerugian orang-orang yang lalai akan semakin bertambah karena waktu yang telah ia lewati tidak akan pernah kembali. Orang yang beruntung akan sangat bersyukur, dan orang yang rugi akan sangat menyesal. Sedangkan penyesalan tak akan mengubah keadaan.

Oleh karena itulah Rasulullah SAW. bersabda, “Manfaatkan lima perkara sebelum lima perkara, Waktu mudamu sebelum datang waktu tuamu, Waktu sehatmu sebelum datang waktu sakitmu,Masa kayamu sebelum datang masa kefakiranmu, Waktu luangmu sebelum datang waktu sibukmu, Hidupmu sebelum datang kematianmu.” (HR. Al Hakim).

Sahabatku,mari kita tafakuri hal ini. Mari kita renungi bagaimana waktu yang sudah kita lalui. Sudahkah kita mengisinya dengan hal-hal bermanfaat sebagai wujud syukur kita kepada Allah SWT.? Ataukah malah sebaliknya, berlalu begitu saja secara sia-sia?

Mari kita renungi waktu saat ini dan yang akan datang dengan mengkuatkan tekad bahwa kita akan mengisinya dengan hal-hal yang akan semakin mendekatkan diri kita kepada Allah SWT. Semoga kita tergolong orang-orang yang beruntung di dunia, juga di akhirat. 

Amiin ya Rabbal ‘Alamin.

Saturday, 22 April 2017

Memberi Kasih Sayang Terhadap Anak




Memiliki anak adalah anugerah besar yang diberikan Allah kepada orangtua. Banyak suami istri yang belum memiliki anak berjuang sekuat tenaga agar memiliki keturunan.

Anak adalah amanah. Oleh karena itu, orangtua wajib menyayangi anak-anak mereka. Rasulullah saw, adalah potret orangtua yang mencintai anak-anaknya. Beliau biasa memeluk, mencium, dan mendoakan anak-anak serta cucu-cucu beliau.

Hasan dan Husein, cucu beliau pernah menaiki punggung beliau saat sedang shalat. Beliau membiarkan mereka dengan tidak bangkit dari sujud. Setelah mereka puas dan turun, barulah beliau bangkit dari sujud.

Usamah bin Zaid ra, mengatakan "Dahulu Rasulullah saw pernah mengambilku dan mendudukkanku di sebelah paha beliau dan mendudukkan Hasan bin Ali di sebelah paha yang lain. Beliau memeluk kami berdua, lalu berdoa, 'Ya Allah, kasihanilah keduanya karena sesungguhnya aku mengasihani keduanya."

Abu Hurairah bercerita, suatu hari Rasulullah saw keluar menuju ke pasar Bani Qainuqa. Beliau berjalan mengelilingi pasar seraya berpegangan pada tanganku, kemudian duduk-duduk di masjid dan bertanya, "Mana si kecil yang lucu itu? Panggilkanlah dia untuk datang kepadaku!" Hasan pun datang dengan berlari, lalu langsung melompat ke pangkuan beliau. Rasulullah saw, mencium mulut Hasan kemudian berdoa, "Ya Allah sesungguhnya aku mencintainya, maka cintailah dia dan cintailah pula orang yang mencintainya." Beliau mengucapkan doa ini sebanyak tiga kali." (HR. Bukhari dan Muslim)

Banyak riwayat yang menggambarkan betapa Rasulullah saw, amat menyayangi anak-anak, membelai rambut mereka, serta mencium dan mendoakan mereka. Beliau tidak pernah membentak, apalagi memukul mereka. Anak-anak merasakan kasih sayang luar biasa dari beliau.

Menyanyangi anak bukan berarti bersikap permisif atau memanjakan, melainkan memberikan didikan yang baik terhadap akhlak serta potensi kecerdasannya, terutama mengenalkan kewajibannya sebagai seorang muslim.

Apa keutamaan orangtua yang menyayangi anaknya dengan tulus. Diriwayatkan dari Abu Umamah ra, bahwa Rasulullah saw, melihat seorang perempuan yang membawa anak-anaknya. Anak yang satu di gendong dan anak yang lain berjalan di belakangnya. Rasulullah saw bersabda, "Ibu-ibu yang mengandung, melahirkan, dan menyayangi anak-anak mereka, jika tidak mendurhakai suami dan selalu mendirikan shalat, niscaya akan masuk surga." (HR. Hakim)

Friday, 21 April 2017

Balasan Berbakti Kepada Orangtua







Orang tua adalah manusia yang paling berjasa dalam kehidupan seorang anak. Merekalah sosok yang menjadikan putra-putri mereka generasi saleh impian bangsa. Demikian tinggi kedudukan mereka hingga Rasulullah saw mengingatkan seseorang bisa masuk surga atau neraka, sangat bergantung pada perlakuannya kepada mereka (HR. Ibnu Majah).

Dikisahkan pada zaman Nabi Sulaiman as, saat itu Nabi Sulaiman as melakukan perjalanan dan tiba di suatu lautan. Nabi Sulaiman as memerintahkan jin menyelam ke dasar samudra. Di sana jin melihat sebuah kubah dari permata putih tanpa lubang. Ia mengangkat kubah itu ke atas samudra. Melhat "barang" tersebut, Nabi Sulaiman as penasaran dan membuka tutup kubah. Betapa terkejutnya Nabi Sulaiman as begitu melihat seorang pemuda tinggal di dalamnya.

"Siapakah Anda? Golongan jin atau manusia?" tanya Nabi Sulaiman.

"Aku adalah manusia." jawan si pemuda.

"Bagaimana Anda bisa seperti ini?"

Pemuda itu bercerita, ibunya dulu sudah tua dan tidak berdaya. Dialah yang memapah dan menggendongnya ke mana pun. Dia adalah anak yang berbakti. Karena baktinya itu, si ibu mendoakan anaknya agar diberi rezeki dan perasaan qanaah serta ditempatkan di suatu tempat yang tidak di dunia dan tidak pula di langit.

"Setelah ibuku wafat, aku berkeliling di pantai. Dalam perjalanan, aku melihat sebuah kubah yang terbuat dari permata. Aku mendekatinya. Pintu kubah itu terbuka dan aku masuk ke dalamnya."

Nabi Sulaiman kagum terhadap pemuda itu. "Bagaimana anda hidup di dalam kubah di dasar laut?"

Si pemuda menjawab, "Di dalam kubah, aku tidak tahu di mana berada. Di langitkah atau di udara, tetapi Allah tetap memberi rezeki kepadaku ketika aku tinggal di dalam kubah."

"Bagaimana Allah memberi makan?"

"Jika aku lapar, Allah menciptakan pohon di dalam kubah dan buahnya kumakan. Jika aku merasa haus, keluarlah air yang bersih, lebih putih daripada susu dan lebih manis daripada madu."

"Bagaimana Anda tahu perbedaan siang dan malam?"

"Bila Anda terbit fajar, kubah berubah putih. Dari situ aku tahu hari sudah siang. Bila matahari terbenam, kubah menjadi gelap dan aku tahu hari sudah malam."

Begitulah balasan yang diberikan Allah kepada anak yang berbakti kepada orangtuanya.

Yang pasti, seorang anak tidak akan mampu membalas jasa orangtua meskipun memberikan semua kekayaan kepada mereka. Seorang anak hanya berusaha memenuhi hak-hak orangtua dan melayani mereka dengan keikhlasan hati. Bantulah memenuhi kebutuhan mereka. Senangkan dan gembirakan hati mereka.

Rasulullah bersabda, "Keridhaan Allah terletak pada keridhaan kedua orangtua dan kemarahan Allah terletak pada kemarahan orangtua." (HR Ibnu Hibban dan Hakim)