Telp. 0265-2351868 | WA 0878 8555 4556

Kisah Inspiratif

Smart Family

Tafakur

Terbaru

Saturday, 26 September 2020

Dosa Yang Diampuni Karena Menyantuni Anak Yatim


Dalam kitabnya Mukasyafatul Qulub, Imam Al-Ghazali pernah mengisahkan bahwa suatu ketika ada seorang pria Basrah yang jahat di masa hidupnya, dan ketika meninggal tidak ada satupun orang yang mau menshalati dan mengantarkan jenazahnya ke tempat pemakaman.

Bahkan sang istripun sampai membayar dua orang untuk memikul jenazah suaminya untuk dibawa ke musholla, agar dishalati. Namun tidak ada seorangpun yang mau menshalati jenazah suaminya tersebut, sehingga sang istripun membawa jenazah suaminya tersebut ke lahan luas untuk dimakamkan.

Namun tak jauh dari lahan luas yang menjadi tempat untuk memakamkan suaminya tersebut, hiduplah seorang ahli ibadah yang rumahnya berada di atas gunung. Sang istri seakan-akan melihat sang ahli ibadah tersebut turun gunung untuk menshalati jenazah suaminya tersebut, yang dicap sebagai orang jahat dan tidak ada yang mau mensholatinya, serta mengantar jenazahnya ke tempat pemakaman. Sang ahli ibadah yang akhirnya turun gunung, dan berniat untuk menshalati jenazah orang jahat tersebut didengar oleh para penduduk yang sebelumnya tidak mau menshalati jenazah tersebut. Sehingga, kabar tentang turunnya sang ahli ibadah yang berniat untuk mensholati jenazah orang jahat tersebut, didengar oleh para penduduk. Banyaknya para penduduk yang mendengar kabar tersebut, kemudian ikut untuk menshalati jenazah orang jahat itu. Para penduduk yang selesai menshalati jenazah tersebut merasa heran, dan mempertanyakan apa yang menjadi sebab sang ahli ibadah mau turun gunung untuk menshalati jenazah itu.

Sang ahli ibadah menjawab pertanyaan para penduduk tersebut, bahwasanya, “Aku mendengar dalam mimpiku; turunlah ke si fulan, karena tidak seorangpun yang mau menshalatinya. Maka shalatkanlah, sebab ia telah diampuni oleh Allah SWT”. Jawaban yang keluar dari mulut sang ahli ibadah semakin membuat para penduduk penasaran, amalan apakah yang telah dilakukan oleh almarhum yang merupakan seseorang yang jahat dalam hidupnya, sehingga semua dosa-dosanya diampuni oleh Allah SWT. Kemudian sang ahli ibadah tersebut, memanggil istri almarhum dan menanyakan perilaku suaminya semasa hidupnya.

Istri almarhum kemudian ingat dan menjawab, “Oh ya, saya ingat. Ada tiga amalan kebaikan yang selalu dilakukan oleh almarhum suami saya di masa hidupnya. Pertama, ketika dia sadar dari mabuknya di waktu subuh, dia segera mengganti pakaiannya. Kemudian berwudhu, dan ikut sholat berjama’ah subuh. Kedua, di rumah kami tidak pernah sepi dari satu atau dua anak yatim, dan kebaikan almarhum suami saya terhadap anak yatim melebihi kebaikannya terhadap anaknya sendiri. Ketiga, suatu ketika almarhum pernah sadar dari mabuknya di tengah malam, dia menangis dan berkata; ‘Ya Tuhanku, letak neraka jahannam manakah yang engkau kehendaki untuk meletakkan orang terkutuk sepertiku ini?" 

Ketulusan dalam melakukan hal-hal yang kadang dianggap sepele oleh sebagian orang seperti menyantuni anak yatim dan merawatnya, justru malah menjadi pintu ampunan dari Allah SWT bagi para hamba-Nya. Karena Allah SWT tidak memandang seberapa banyak kita beramal, tetapi seberapa istiqomah dan tulusnya kita beramal untuk sesama dan seberapa tulus kita beriman kepada-Nya.

Wednesday, 23 September 2020

Peran Besar Ibu Mendidik Anak

Anak  merupakan amanah yang dititipkan Allah  kepada kedua orang tua untuk selanjutnya dididik, dibina dan dibesarkan sesuai dengan fitrohnya manusia. Seorang anak merupakan bagian yang tak terpisahkan dari figur seorang ibu. Ibu sebagai sekolah pertama bagi sang anak dan mempunyai kewajiban atas anak. Di antaranya adalah menyusui anaknya yang masih kecil, sebagaimana firman Allah  yang artinya:

“Para ibu hendaklah menyusui anak-anaknya selama dua tahun penuh, yaitu bagi yang ingin menyempurnakan penyusuan. (QS Al-Baqoroh: 233)”

Dalam keseharian, para ibulah yang memegang peranan penting dalam pengasuhan dan pendidikan putra-putrinya. Pernahkah para ibu merenungkan sejauh mana peranan yang mereka mainkan akan berpengaruh dalam perjalanan hidup si anak? Kita semua tahu bahwa semua perbuatan manusia selama di dunia dicatat dalam sebuah buku yang akan dimintai pertanggungjawabannya di hadapan Allah..

Mendidik anak dengan baik merupakan salah satu sifat seorang ibu muslimah. Dia senantiasa mendidik anak-anaknya dengan akhlak yang baik, yaitu akhlak Rosululloh  dan para sahabatnya yang mulia. Mendidik anak bukanlah (sekedar) kemurahan hati seorang ibu kepada anak-anaknya, akan tetapi merupakan kewajiban dan Fitroh yang diberikan Allah kepada seorang ibu. Mendidik anak pun tidak terbatas dalam satu perkara saja tanpa perkara lainnya, seperti (misalnya) mencucikan pakaiannya atau membersihkan badannya saja.

Bahkan mendidik anak itu mencakup perkara yang luas, mengingat anak merupakan generasi penerus yang akan menggantikan kita yang diharapkan menjadi generasi tangguh yang akan memenuhi bumi ini dengan kekuatan, hikmah, ilmu, kemuliaan dan kejayaan. Kemudian menanamkan aqidah yang bersih, yang bersumber dari Kitab dan Sunnah yang shahih.

Di tengah perkembangan zaman seperti sekarang ini. Tugas mendidik, menjaga dan melindungi anak dari pengaruh buruk arus globalisasi dan modernisasi, bukan perkara yang ringan. Bekal pendidikan dari sekolah berkualitas, menanamkan rasa tanggung jawab dan disiplin serta moral tidaklah cukup, jika tidak diimbangi dengan bekal pendidikan agama yang baik.

Bekal pendidikan rohani yang harus para ibu tanamkan sejak dini adalah membangun keyakinan yang kuat dalam hati mereka tentang ke-esa-an Allah, mengajarkan rasa cinta yang besar pada Nabi Muhammad dan mengajarkan mereka nilai-nilai serta ketrampilan yang akan bermanfaat bagi kehidupan mereka saat dewasa nanti.

Sejak dini, tanamkan pada diri anak-anak tentang konsep Tiada tuhan Selain Allah. Allah tidak ada sekutu bagi-Nya dan tidak ada yang menyerupai-Nya. Selalu mengingatkan pada anak-anak bahwa Allah Mahatahu apa yang ada di bumi dan di langit, agar anak-anak selalu menjaga ucapan dan tindakannya.

Seorang anak terlahir di atas fitroh, sebagaimana sabda Rasululloh,  maka sesuatu yang sedikit saja akan berpengaruh padanya. Dan wanita muslimah adalah orang yang bersegera menanamkan agama yang mudah ini, serta menanamkan kecintaan tehadap agama ini kepada anak-anaknya. Ibu sebagai madrassatul ula terus membimbing dan mengajarkan anaknya untuk bisa melaksanakan shalat, menanamkan kecintaan kepada Allah dan Rasulnya serta mendahulukan keduanya, mengajarkan Alquran dan menyuruh Anak-anak untuk mengahafalkannya, menanamkan kejujuran, menanamkan sifat sabar, menyadarkan kepada anak tentang berharganya waktu, dan lain sebagainya.

Intinya, semua potensi kebaikan mestilah senantiasa diajarkan orang tua khususnya ibu kepada sang buah hati agar ia terbiasa menerima lingkungan dan pengetahuan yang baik. Kerana panca indra sang anak adalah sesuai dengan apa yang disinyalkannya. Ketika potensi kebaikan lebih dominan ketimbang potensi keburukan, maka sang anakpun akan tumbuh menjadi pribadi yang tangguh iman dan kokoh akhlaknya. Tapi sebaliknya, jika potensi keburukan yang lebih dominan, maka kemungkinan besar sang anak akan tumbuh jauh dari norma-norma islami. Disinilah sekali lagi peran orang tua sangat vital, terutama sang ibu. Karena secara psikologis sang anak akan lebih banyak bergaul dengan sang ibu.

Jadilah pribadi muslimah yang baik, seorang ibu yang patuh dan ta’at terhadap syariat-Nya. Agar semua kebaikan dan ketakwaan kita dapat terpancar terhadap perilaku generasi kita. Jika sudah melekat pada diri kita wahana-wahana keta’atan, niscaya sang anak dengan sendirinya akan mengikuti dan menyesuaikan diri. Sehingga terciptalah pribadi anak yang benar-benar berbakti, bukan hanya kepada kedua orang tua, akan tetapi juga kepada Allah.


Tuesday, 22 September 2020

Sampai Kapan Terus Berbuat Maksiat?

Setiap detik yang kita lalui tidak akan bisa kita ulangi kembali, itulah fitrahnhya. Waktu terus berjalan dengan begitu cepat tanpa terasa oleh kita dalam menjalani arus kehidupan ini. Dan saat ini kita semua masih melalui perjalanan hidup yang penuh sandiwara ini untuk mencapai tujuan yang abadi yaitu akhirat.

Setiap manusia tidak ada yang sempurna semuanya pasti melakukan kesalahan baik yang ia sengaja maupun tidak ia sengaja. Seperti yang dijelaskan dalam hadist Rasulullah: “Setiap anak cucu adam pasti berbuat dosa, dan sebaik-baiknya yang berbuat dosa adalah yang bertaubat”. (HR. At-Tirmizi & Ibnu Majah).

Sudah jelas dalam hadis ini bahwa siapapun orangya pasti pernah melakukan kesalahan dalam hidupnya dan kesalahan yang terbaik yaitu yang diiringi dengan taubat nasuha.

Mau sampai kapan kita hidup dengan berlumuran dosa dan maksiat? Sudah berapa banyak dosa yang telah kita lakukan di siang dan di malam hari? Sadarkah kita bahwa di ahirat mulut kita akan dikunci, tangan kitalah yang akan berbicara, kaki kitalah yang akan memberikan kesaksian apa yang telah mereka kerjakan selama hidup di dunia, dan kita akan dimintai pertanggung jawaban atas semua kelakuan kita di dunia ini.

Betapa zholimnya kita, yang mengaku sebagai hamba Allah tapi kita bergelimang dosa. Apakah kita tidak malu kepada sang pencipta, kita selalu meminta kepada-Nya untuk mengabulkan segala doa dan permintaan kita tapi sadarkah bahwa dalam jiwa kita penuh dengan noda-noda hitam kemaksiatan yang selalu kita kerjakan.

Kita tidak tahu, berapa jatah umur yang diberikan Allah SWT. jika saat ini kita masih bisa bernafas, Jika hari ini kita masih bisa bersenda gurau dengan orang yang kita cintai, siapakah yang bisa menjamin esok hari kita masih dapat melakukan hal yang sama. Kita tidak tau dibumi mana kita akan mati kapan waktunya yang pasti kita semua akan menemuinya.

Oleh karena itu, marilah kita kembali tunduk kepada Ar-Rahman, sebelum terlambat. Karena apabila ajal telah datang maka tidak ada seorang pun yang bisa mengundurkanya sedikitpun ataupun menyegerakanya, ketika maut itu telah datang… beribu-ribu penyesalan akan menghantui dan bencana besar ada di hadapan, siksa kubur yang meremukkan dan gejolak bara api neraka yang menyakitkan.

Semoga Allah SWT memberikan taufiq-Nya kepada kita semua agar senantiasa segera bertaubat dari kesalahan-kesalahan yang telah kita perbuat. Dan semoga kita semua bisa mengakhiri kehidupan ini dengan dalam keadaam husnul Khotimah. Amiiinnn.

Wallahua’lam. 


Friday, 18 September 2020

Sedekah Di Jumat Berkah




 Assalamu'alaikum wr wb..


Alhamdulillah, di hari jumat berkah, ada donatur dermawan yang berkunjung ke Yayasan Rumah Yatim Indonesia dengan memberikan uluran kasih sayangnya berupa nasi untuk dinikmati oleh para santri.


Baarokallahu laka, jazaakumullah khoiron katsiiron. Semoga Allah Swt membalas kebaikan ibu & bapak donatur.


Aamiin Ya Robbal Alamin.


Sahabat, yuk ikut berpartisipasi dalam program berbagi sedekah makanan untuk santri yatim dhuafa dan penghafal Qur'an, dimulai dari Rp 10.000,-










Kedudukan Anak Dalam Al-Qur'an



Anak adalah dambaan dan kebanggan setiap Ayah-Bunda. anak bisa sebagai pelipur lara, pelengkap keceriaan rumah tangga, penerus cita-cita, investasi, guru, partner, bahkan pelindung orang tua terutama ketika orang tua sudah berusia lanjut. Tidak ada orang tua yang mengharapkan anaknya akan menyeretnya ke neraka. Mereka tentunya mendambakan dan mengharapkan anak-anaknya kelak bisa membahagiakannya, menjadi penyejuk hati dan mata.

Di dalam Al-Qur’an disebutkan 4 macam kedudukan anak dalam Al-Qur’an dalam hubungannya dengan orang tuanya. Apakah itu?

1. ZIINATUN (Perhiasan)

Zinatun adalah dengannya dunia menjadi indah, hiasan untuk kedua orang tuanya. Perhiasan yang dimaksud adalah bahwa orangtua merasa sangat senang dan bangga dengan berbagai hal hal baik yang diperoleh oleh anak-anaknya, sehingga dia pun akan terbawa baik pula namanya di dunia, ataupun anak bisa sebagai pembawa rasa senang. Dengan tingkah polahnya yang lucu, ucapan-ucapannya yang sering membuat orang tua terhibur. 

2.QURROTA A’YUN (Penyejuk Hati)

Qurrotu a’yun adalah menyejukkan pandangan mata karena mereka mempelajari huda (tuntunan Allah) lalu mengamalkannya dengan mengharap ridha Allah. 

Sebagai Qurrata a’yun (penyejuk hati kedua orang tua). Ini kedudukan anak yang terbaik yaitu manakala anak dapat menyenangkan hati dan menyejukan mata kedua orang tuanya. Mereka adalah anak-anak yang apabila ditunjukkan untuk beribadah, mereka segera melaksanakannya dengan suka cita.

Apabila diperintahkan belajar, mereka segera mentaatinya. Mereka juga anak-anak yang baik budi pekerti dan akhlaknya, ucapannya santun dan tingkah lakunya sangat sopan

3.FITNAH (Ujian dan Cobaan)

Makna fitnah adalah ujian yang bisa memalingkan orang tua dari ketaatan atau terjerumus dalam perbuatan maksiat. Anak, selain sebagai perhiasan dan penyejuk mata, juga bisa menjadi fitnah (ujian dan cobaan) bagi orang tuanya. Ia merupakan amanah yang akan menguji setiap orang tua, Maka berhati-hatilah, janganlah kita terlena dan tertipu sehingga kita melanggar perintah Allah. Realitanya, mungkin kerap kita saksikan, para orang tua sibuk bekerja membanting tulang tak kenal lelah demi sang anak.

Sebagai Fitnatun (fitnah/cobaan), fitnah yang dapat terjadi pada orang tua adalah manakala anak-anaknya terlibat dalam perbuatan yang durhaka. Seperti mengkonsumsi narkoba, pergaulan bebas, tawuran, penipuan, atau perbuatan-perbuatan lainnya yang membuat resah orang tuanya.

4.‘ADUWWUN (Musuh)

Inilah yang paling dikuatirkan, dari 4 macam kedudukan anak dalam Al-Qur’an.

'Aduwwun (musuh orang tuanya) adalah anak yang melalaikan bahkan menjerumuskan orang tuanya untuk melakukan perbuatan-perbuatan yang tidak dibenarkan oleh agama. Ayat diatas menjelaskan ketika anak menjadi sebab kedurhakaan dan kemungkaran bagi orang tuanya. Mungkin kita sering mendengarkan tak sedikit orang tua yang melakukan apa saja (tanpa harus melihat halal atau haram) untuk anak dan keluarganya. Atau mungkin disaat anak memaksa untuk memenuhi kebutuhannya namun orang tua belum sanggup secara ekonomi maka menjadikan orang tuanya melakukan perbuatan terlarang demi memenuhi kebutuhan anaknya.

Semoga kita semua selalu diberi kekuatan dan kemudahan dalam membina dan mengarahkan anak-anak kita kepada kelompok qurrota a’yun, sehingga mereka menjadi penyejuk hati, dan pembawa kebahagiaan bagi kedua orangtuanya baik di dunia maupun di akhirat kelak. Aamiin.


Wednesday, 16 September 2020

Gaji Yang Terlalu Besar



Saat itu, Abu Bakar Ash Shidiq menjabat sebagai Khalifah. Waktu itu beliau sedang pergi ke pasar untuk berdagang, di tengah jalan Beliau bertemu dengan Umar Bin Khattab, Umar pun bertanya, "Wahai Abu Bakar, engkau sebagai Khalifah, tapi masih juga menyibukkan diri ke pasar untuk berdagang, apakah tidak mengganggu tugasmu sebagai Khalifah yang berkewajiban untuk melayani rakyat (umat)?"

Abu Bakar kemudian menjawab, "Wahai Umar, aku berdagang ke pasar mencari nafkah untuk keluargaku."

Lalu Umar mendatangi Abu 'Ubaidah sebagai pemegang amanah baitul mal (Bendahara negara) untuk mengusulkan agar Abu Bakar di beri gaji yang diambil dari Kas Negara, agar tidak harus berdagang ke pasar yang bisa mengganggu tugas Abu Bakar sebagai Kepala Negara.

Di kemudian hari istri Abu Bakar berkata pada Beliau "Aku ingin membuat & makan manisan, Jika Engkau mengizinkan, maka aku akan menyisihkan uang belanja dari Engkau untuk keperluan itu." Abu Bakarpun mengizinkan.

Setelah uang terkumpul maka Istri Abu Bakar berkata lagi, "Ini uang hasil aku menyisihkan sebagian uang belanja, Belikan aku keperluan untuk membuat manisan di Pasar."

Jawab Abu Bakar pada istrinya "Kalau begitu berarti gajiku sebagai Khalifah terlalu besar, sehingga engkau masih bisa menyisihkan sebagian uang untuk keinginanmu ini."

Abu Bakar akhirnya memohon agar gajinya sebagai khalifah dipotong sebesar uang yang telah bisa di sisihkan oleh istri Beliau.

Monday, 14 September 2020

Pertolongan Allah Pasti Datang

Ketika berada dalam kesusahan, kebanyakan manusia hanya bisa mengeluh, frustasi, galau dan tidak sedikit yang menyerah dengan mengakhiri hidupnya. Perbuatan seperti ini sangatlah tidak disukai oleh Allah. Karena apa? Allah sudah menjanjikan atas kamu bahwa Allah akan menolong hambanya yang berada dalam kesusahan. Apa kamu tidak menyadari hal itu? Ataukah tidak mengetahuinya?

Kini saudara kita yang berada di Palestina sedang menghadapi ujian dari Allah SWT. Mereka harus mempertaruhkan harta, jiwa dan raga demi mendapatkan haknya. Bila mereka saja kuat dalam menghadapi hal itu, mengapa kita tidak?

Ujian yang cukup besar yang diterima oleh saudara-saudara kita merupakan pelajaran untuk kita. Bahwa sesungguhnya dengan keimanan yang meyakini akan adanya Allah, ujian sebesar apapun akan sanggup untuk dilakukan. Bahkan akan terasa ringan saat dijalani.

Memang masih ada segelintir saudara kita yang berada di Gaza, kini mulai kehilangan semangat hidupnya. Untuk itu marilah kita beri semangat kepada saudara-saudara kita agar semangat mereka untuk berjihad di jalan Allah kembali muncul. Yakinilah bahwa Allah pasti akan memberikan pertolongan kepada setiap hambanya yang beriman.

Rasulullah SAW Bersabda:”Jika kamu meminta, mintalah kepada Allah, jika kamu memohon pertolongan, mohonlah pertolongan kepada Allah. Ketahuilah sesungguhnya jika sebuah umat berkumpul untuk mendatangkan manfaat kepadamu atas sesuatu, mereka tidak akan dapat memberikan manfaat sedikitpun kecuali apa yang telah Allah tetapkan bagimu, dan jika mereka berkumpul untuk mencelakakanmu atas sesuatu , niscaya mereka tidak akan mencelakakanmu kecuali kecelakaan yang telah Allah tetapkan bagimu." (HR. Tirmidzi No. 2516).

Subhanallah, begitu besarnya rasa cinta Allah kepada hambanya. Hingga Dia memberikan pertolongan kepada hambanya yang sedang berada dalam kesulitan. Dengan cara yang mungkin tidak masuk akal, tapi itulah Allah. Allah Maha Besar atas segala sesuatu.

Oleh karena itu, saudara-saudaraku yang kini sedang mengalami kesulitan, janganlah kalian berputus asa. Karena orang-orang yang berputus asa tidak akan bisa menyelasaikan semua masalahnya. Melainkan menjadikan masalah itu beban dalam hidupnya. Tapi, bersikap tenanglah dalam menjalani kesulitan. Karena kita harus yakin bahwa pertolongan Allah itu pasti datang.