Telp. 0265-2351868 | WA 0878 8555 4556 | BBM 5AE49B09

Kisah Inspiratif

Smart Family

Tafakur

Terbaru

Tuesday, 15 August 2017

Keutamaan Mendoakan Orang Lain


Penderitaan yang dialami orang lain kerap kali kerap kali membuat hati terenyuh. Sadar atau tidak terkadang kita diam-diam mendoakan agar orang yang didera derita tersebut mendapatkan kelapangan.

Perbuatan ini memang hanya menjadi rahasia anda dan Allah SWT. Sementara orang yang didoakan, tidak pernah tahu bahwa kelapangan yang Ia peroleh didapatkan karena Allah SWT mendengar doa orang lain untuknya.

Meksi tidak ada yang tahu anda turut mendoakan kebaikan atas orang lain, namun Allah SWT maha mengetahui. Berita baiknya, anda akan mendapatkan banyak keutamaan ketika mendoakan orang lain diam-diam. Apa saja keutamaan tersebut? Berikut ringkasanya.

Agama Islam sangat menjunjung kasih sayang terhadap sesama muslim. Hal ini menjadi sunnah hassanah yang diturunkan secara turun temurun dari Nabi-nabi sebelum Muhammad SAW. Mereka senang kalau kaum muslimin mendapatkan kebaikan, sehingga mereka pun mendoakan saudaranya diam-diam tatkala mereka mendoakan diri mereka sendiri.

“Tidak beriman salah seorang di antara kalian sampai dia mencintai untuk saudaranya apa yang dia cintai untuk dirinya sendiri.” (HR. Al-Bukhari dan Muslim dari Anas bin Malik)

Dalam sebuah hadist riwayat Muslim Nabi Muhammad SAW menjelaskan bahwa ketika seseorang mendoakan orang lain secara diam-diam, maka malaikat akan mendoakan dirinya seperti apa yang dimintakan terhadap orang itu.

“Tidak ada seorang muslim pun yang mendoakan kebaikan bagi saudaranya (sesama muslim) tanpa sepengetahuannya, melainkan malaikat akan berkata, “Dan bagimu juga kebaikan yang sama,” (HR. Muslim no. 4912).

Ternyata mendoakan kebaikan sesama Muslim merupakan salah satu doa yang mustajab. Mendoakan orang lain dengan keikhlasan dan ketuluasan selain memberi manfaat kepada orang lain ternyata juga akan berdampak terhadap diri sendiri Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam bersabda,

“Doa seorang muslim untuk saudaranya (sesama muslim) tanpa diketahui olehnya adalah doa mustajabah. Di atas kepalanya (orang yang berdoa) ada malaikat yang telah diutus. Sehingga setiap kali dia mendoakan kebaikan untuk saudaranya, maka malaikat yang diutus tersebut akan mengucapkan, “Amin dan kamu juga akan mendapatkan seperti itu.”

Itulah mengapa Rasulullah SAW memberikan teladan agar saling mendoakan sesama muslim. Karena Allah memberikan perhatian khusus terhadap hal ini, yakni dengan mendatangkan malaikat untuk mengaminkan langsung doa baik yang dipanjatkan orang lain tersebut.

Karenanya jika mendoakan diam-diam, tentu saja doa yang sama akan kembali kepadanya dan potensi dikabulkannya doa akan lebih besar dibandingkan jika kita mendoakan untuk diri sendiri.

Namun berdasarkan hadist ini, maka ada batasan yang bisa ditelaah. Yakni doa ini hanya mustajab jika orang yang kita doakan tersebut tidak mengetahui jika kita sedang mendoakan kebaikan untuknya. Jika dia mengetahui bahwa dirinya didoakan maka lahiriah hadits menunjukkan malaikat tidak meng’amin’kan, walaupun tetap saja orang yang berdoa mendapatkan keutamaan karena telah mendoakan saudaranya. Dengan mendoakan orang lain diam-diam, maka akan lebih menjaga keikhlasan dan lebih berpengaruh dalam kasih sayang dan kecintaan.

Semoga mulai hari ini dan seterusnya kita selalu mendoakan saudara-saudara sesama muslim dalam kebaikan, tidak pelit untuk turut memohon kepada orang lain diberi kelapangan, dan bahagia melihat kebahagiaan orang lain. Ya Allah semoga teman-teman yang membaca artikel ini diberi kesehatan, dilimpahkan rezeki, didekatkan jodohnya, dan jadi kesayangan suami atau istri, dan kesayangan mertua. 

Aamiin.

Friday, 11 August 2017

Tetap Ingat Kepada Allah


Apakah yang paling berharga di dunia ini? Tiada lain ketentraman dan ketenangan hati. Jika ditanya, dimanakah surga dunia itu? Jawabannya adalah di dalam hati yang tentram. Hati yang tetap ajeg, kuat dan tenang meski menghadapi keadaan seperti apapun. Dipuji atau dicaci tiada bedanya, tetap tenang. Ada uang atau tidak ada uang, tetap tentram saja. Sehat atau sakit, tetap mantap saja. Sungguh beruntung orang yang memiliki kualitas hati seperti demikian.

Inilah sebenarnya orang yang memiliki surga dunia. Orang yang meski menghadapi berbagai gejolak dunia, hatinya tetap tentram, tetap tenang. Karena ketenangan hati tiada pernah bisa terbeli oleh uang, jabatan, harta atau rupa. Betapa banyak orang yang berlimpah hartanya, mentereng jabatannya, tapi tak ada tenang di dalam hatinya. Hatinya dipenuhi resah, gelisah, takut, dan cemas. Jika sudah demikian, maka apa yang ia miliki tiada berguna lagi.

Allah Swt. berfirman, “(yaitu) orang-orang yang beriman dan hati mereka menjadi tentram dengan mengingat Allah. Ingatlah, hanya dengan mengingati Allah-lah hati menjadi tentram.” (QS. Ar Ro’du [13] : 28)

Dengan kata lain, memiliki apapun, ingat pada apapun, sedang mengurusi apapun, tetaplah ingat kepada Allah Swt., niscaya hati menjadi kokoh, kuat, tenang dan tentram. Inilah sumber kebahagiaan. Banyak atau sedikit yang dimiliki dari dunia ini, asal hati tenang dan bahagia dengan ingat kepada Allah, maka cukuplah sudah.

Harta yang berlimpah, tidak akan menjamin ketenangan. Jabatan yang tinggi, bukan jaminan ketentraman. Popularitas yang besar, bukan sumber kebahagiaan. Malah semua itu bisa berbalik menjadi sumber kegelisahan dan malapetaka, jikalau hati tidak bersandar kepada Allah Swt., Dzat Yang Maha Memiliki segala-galanya.

Maka sSahabat, marilah kita senantiasa bersandar kepada Allah Swt. dalam kondisi apapun. Basahkanlah lisan kita dengan dzikir kepada-Nya, dan deraskanlah hati kita dengan cinta kepada-Nya. Semoga Allah Swt. senantias melimpahkan ketenangan dan kebahagiaan di dalam hidup kita. 
Aamiin yaa Robbal ‘aalamiin.

Wednesday, 9 August 2017

Masalah Itu Bagian Dari Karunia


Allah Swt. berfirman, “..Barangsiapa bertakwa kepada Allah niscaya Dia akan Mengadakan baginya jalan keluar.” (QS. Ath Tholaq [65] : 2)

Hidup di dunia ini pasti banyak masalah. Masalah itu adalah bagian dari karunia Allah Swt., bukan bagian dari musibah. Masalah menjadi musibah jikalau kita salah menyikapinya. Seperti ujian di sekolah, ujian tersebut adalah karunia karena ujian menjadi kesempatan untuk bisa naik kelas. Justru murid yang tidak ujian bisa dianggap tidak sekolah. Dan, seseorang yang tidak lulus itu bukan disebabkan soal-soal dalam ujiannya, akan tetapi disebabkan dia salah menjawab soal-soalnya, dia salah menyikapi persoalannya.

Begitulah gambaran masalah yang kita temui dalam hidup kita di dunia. Jadi, tidak perlu khawatir menghadapi masalah, yang perlu kita khawatirkan adalah jika kita salah menyikapi masalah.

Salah satu kesalahan yang dilakukan banyak orang ketika menghadapi masalah adalah sibuk mengandalkan sesuatu selain Allah. Mungkin sibuk hanya mengandalkan pikiran sendiri, pengalaman sendiri, tenaga sendiri atau mengandalkan pertolongan orang lain. Bukan tidak boleh semua itu, tapi jika semua itu ditempuh tanpa mendapat bimbingan dan izin Allah maka semuanya tidak akan berarti apa-apa.

Masalah sebesar apapun jika Allah menolong, maka akan menjadi sangat ringan dan mudah. Sedangkan urusan remeh sekalipun, jika Allah tidak menolong, maka akan menjadi terasa sangat berat dan sulit. Dalam ujian sekolah, jika kita meminta tolong jawabannya kepada guru maka guru tidak akan memberikannya. Sedangkan dalam hidup, jika kita meminta jalan keluar kepada Allah atas masalah yang kita hadapi, niscaya Allah akan memberikannya.

Salah satu doa Rasululloh Saw. adalah, “Wahai Dzat Yang Maha Hidup lagi Maha Berdiri dengan sendiri-Nya, dengan rahmat-Mu aku mohon pertolongan. Perbaikilah urusanku seluruhnya dan jangan Engkau serahkan aku kepada diriku walau hanya sekejap mata.”

Sahabat, semoga Allah Swt. senantiasa memberikan kita kekuatan sehingga kita bisa bersungguh-sungguh dalam menghadapi setiap masalah hidup. Dan, semoga Allah senantiasa melimpahkan pertolongan kepada kita. Aamiin yaa Robbal ‘aalamiin.

Sunday, 30 July 2017

Lupakan Jasa Dan Kebaikan Diri







Ada sebuah kisah. Salah satu murid Imam bin Hanbal menceritakan bahwa pada satu malam yang hampir larut, gurunya datang ke rumahnya. Beliau mengetuk pintu dengan pelan, dan setelah dipersilakan masuk beliau berjalan dengan agak berjinjit, kemudian duduk dengan pelan, seolah setiap gerakannya tidak mau didengar oleh siapapun.
Setelah meminta maaf karena kedatangannya di malam hari, Imam bin Hambal berkata kepada muridnya itu, “Wahai Harun, siang tadi aku melintas tidak jauh dari majlismu ketika engkau sedang mengajar. Aku melihat murid-muridmu terkena terik matahari saat mencatat hadits-hadits. Sementara engkau, bernaung di bawah bayangan pepohonan. Lain kali, sebaiknya engkau duduklah dalam keadaan sebagaimana murid-muridmu duduk.”
Kemudian, Imam bin Hanbal pamit dan meninggalkan rumah sang murid dengan langkah yang penuh kehati-hatian supaya tak menimbulkan suara.
SubhaanAllah. Indah sekali akhlak Imam bin Hanbal. Beliau sebenarnya bisa saja mengoreksi sikap muridnya itu langsung ketika melintas majlisnya. Namun, beliau memilih untuk melakukan hal itu di rumahnya dan di malam hari tanpa diketahui oleh orang lain dengan tujuan agar kehormatan muridnya itu tetap terjaga.
Pelajaran lain dari hikmah ini adalah bahwa Imam bin Hanbal enggan jika sikapnya, kebaikannya ketika mengingatkan sang murid itu dilihat orang lain. Bagi beliau cukuplah hal itu orang yang bersangkutan yang mengetahui dan tentu saja Allah Swt. Beliau juga tidak berlarut-larut, melainkan segera pergi setelah mengutarakan maksudnya.
Kebaikan Imam bin Hanbal meski beliau lakukan sekilas saja tanpa mau mengingat-ingatnya, membahas-bahasnya, namun tetap betapa meninggalkan pelajaran yang sangat berarti bagi sang murid. Kebaikan yang dilakukan dengan penuh rasa ikhlas dan menjauhi kemungkinan timbulnya rasa ingin dipuji, ujub dan sum’ah (ingin didengar orang lain).
Rosululloh Saw. bersabda, “Orang yang jahat akan melihat dosa-dosanya seperti lalat yang hinggap di hidungnya, dengan santai diusirnya hanya dengan mengibaskan tangan. Adapun seorang mukmin melihat dosa-dosanya bagaikan duduk di bawah kaki gunung yang siap menimpanya.” (HR. Bukhori)
Cukuplah Allah yang menilai kebaikan kita. Semoga kita tergolong hamba-hamba-Nya yang senantiasa ikhlas dan hanya mengharapkan ridho-Nya. Aamiin yaa Robbal ‘aalamiin.

Friday, 21 July 2017

Pilihan Kita Bukanlah Keputusan Orang Lain






Alkisah, ada seorang pemuda tampan yang rajin bekerja dan terkenal ringan tangan menolong sesama. Sayangnya, dia terkadang sulit melakukan beberapa pekerjaan, terkendala karena memiliki kaki yang tidak normal, sehingga agak timpang saat berjalan. Ketidaknormalan ini telah dibawa sejak lahir. Untuk itu dibutuhkan sepasang sepatu yang harus dipesan khusus agar dia bisa berjalan layaknya orang normal .
Suatu hari, si pemuda mendatangi seorang pembuat sepatu yang terkenal. Setelah diukur dengan teliti, si paman pembuat sepatu berkata, “Anak muda, paman pasti buatkan sepasang sepatu yang nyaman dipakai dan kelak akan membuatmu berjalan layaknya orang normal. Nah, sambil paman persiapkan bahan-bahannya, silakan kamu pilih modelnya. Apakah berbentuk bulat di depan atau lancip seperti model sekarang?”
“Terima kasih, Paman. Saya sungguh berharap, sepatu yang dibuat Paman akan membantu saya untuk bisa berjalan layaknya orang normal. Mengenai modelnya.. terserah Paman saja. Saya percaya Paman akan memilihkan yang terbaik!”
Selang dua minggu, sepatu pesanan pun akhirnya selesai dan diantar langsung ke rumah si pemuda. Saat membuka kotak, si pemuda kaget dan takjub memandang sepasang sepatu di tangannya. Sungguh indah dan sangat halus buatannya! Tetapi dengan penasaran dia bertanya, “Paman, sepatu ini sungguh indah sekali. Tetapi kenapa modelnya berbeda antara sepatu yang kiri dengan yang kanan?”
Sambil tersenyum si paman menjawab, “Anak muda. Katamu waktu itu, modelnya terserah paman. Dan menurut paman, itu adalah model yang terbaik untukmu. Jika kamu merasa tidak cocok, itu adalah urusanmu. Ingat anak muda: Jika kamu tidak membuat keputusan dan menentukan pilihan, sama artinya kamu membiarkan orang lain yang akan memutuskan dan menentukan pilihan untukmu!”
Mendengar hal itu, si pemuda tersentak. Katanya, “Terima kasih Paman. Ini adalah pelajaran yang luar biasa buat saya dan sebagai pengingat, saya akan pajang sepasang sepatu ini di tempat yang mudah terlihat untuk peringatan jika saya tidak bisa menentukan pilihan maka orang lain yang akan membuat pilihan untuk saya."
Di bulan Mulia inilah saat yang tepat untuk MEMILIH menjadi PRIBADI BARU YANG LEBIH BAIK, dan berjanji meninggalkan KEPRIBADIAN LAMA KITA YANG BEGITU KELAM, sekarang juga jangan lagi bilang NANTI, karena IBLIS siap setiap saat membentuk kepribadian kita agar kita mau dan setia kepadanya.
HIDUP YANG SESA'AT INI AKANKAH POLA HIDUP KITA DITENTUKAN OLEH IBLIS ?

Thursday, 20 July 2017

Yuk Bahagiakan Yatim Dan Dhuafa Dengan Berqurban


Sahabat, diantara sekian besar nikmat yang telah kita peroleh itu, dibandingkan dengan pengabdian kita yang tak seberapa selama ini, lalu di hari Idul Adha, Allah SWT menyuruh memberikan harta terbaik kita sebagai bukti nyata ketaatan kita dan keseriusan kita mendekat kepadaNYA.

Sahabat, ibadah qurban merupakan ibadah yang sangat dianjurkan untuk dilaksanakan (sunnah muakkadah) bagi yang memiliki kelapangan harta sebagai perwujudan dari ketauhidan dan ketaatan seorang hamba kepada Rabbnya serta sebagai perwujudan kepedulian sosial kepada sesama.
" Sesungguhnya Kami telah memberikan kepadamu nikmat yang banyak. Maka dirikanlah shalat karena Tuhanmu, dan berqurbanlah " (QS.Al-Kautsar).

Rasulullah SAW bersabda : “Barangsiapa yang memiliki kelapangan (harta) kemudian dia tidak melakukan peneyembelihan (ibadah qurban) maka janganlah ia mendekati tempat sholat kami”. (HR. Ahmad & Ibnu Majah).

Ini merupakan sebuah harapan besar bagi para Anak Asuh Yatim dan Dhuafa kita untuk BERBAHAGIA bersama di hari IDUL ADHA, ketika para Sahabat semua berkenan menunaikan ibadah qurban di Rumah Yatim Indonesia.

Mari berbagi kebahagiaan di Hari Raya dengan berbagi kepada Yatim dan Dhuafa. Silahkan dipilih Paket Qurban Rumah Yatim Indonesia sesuai keinginan dan kemampuan kita:

1. Kambing A Rp.2.100.000,- (berat kisaran 20 kg)
2. Kambing B Rp.2.500.000,- (berat kisaran 25 kg)
3. Kambing C Rp.3.100.000,- (berat kisaran 30 kg)
4. Sapi A Rp.16.100.000,- (berat kisaran 200 kg)
5. Sapi B Rp.18.300.000,- (berat kisaran 220 kg)
6. Sapi C Rp.20.400.000,- (berat kisaran 250 kg)
7. Sapi (Patungan) Rp.2.300.000,- untuk 7 orang (berat kisaran 200 kg)

Caranya : Transfer Dana Qurban, lalu konfirmasi SMS/WA : "BISMILLAH, NAMA, NIAT QURBAN.........EKOR............KARENA ALLAH SWT UNTUK YATIM & DHUAFA ", lalu Kirim ke : 087885554556 (SMS/WA)

Rekening Donasi Qurban:
》Bank BCA : 054 0766 100
》Bank MANDIRI : 13 10010 47 1011
》Bank MUAMALAT : 151 00191 38
》Syari’ah MANDIRI : 70 323 619 48
》Bank BNI : 0244 928 496
》BNI Syari’ah : 65 235 181 41
》Bank BRI : 01000 1001 8853 00
》Bank bjb : 001 777 8552 100
Atas nama Yayasan Rumah Yatim Indonesia

Alamat Kegiatan: Jl Bandung Blok II No 140 Perumnas Kotabaru Cibeureum Tasikmalaya Tlp 0265-2351868






Penyesalan Seorang Perampok







Suatu hari Abdul Qadir yang masih belia meminta izin ibundanya untuk pergi ke kota Bagdad. Bocah ini ingin sekali mengunjungi rumah orang-orang saleh di sana dan menimba ilmu sebanyak-banyaknya dari mereka.

Sang ibunda merestui. Diberikanlah kepada Abdul Qadir empat puluh dinar sebagai bekal perjalanan. Agar aman, uang disimpan di sebuah saku yang sengaja dibuat di posisi bawah ketiak. Sang ibunda tak lupa berpesan kepada Abdul Qadir untuk senantiasa berkata benar dalam setiap keadaan. Ia perhatikan betul pesan tersebut, lalu ia keluar dengan mengucapkan salam terakhir.

“Pergilah, aku sudah menitipkan keselamatanmu pada Allah agar kamu memperoleh pemeliharaan-Nya,” pinta ibunda Abdul Qadir.

Bocah pemberani itu pun pergi bersama rombongan kafilah unta yang juga sedang menuju ke kota Bagdad. Ketika melintasi suatu tempat bernama Hamdan, tiba-tiba enam puluh orang pengendara kuda menghampiri lalu merampas seluruh harta rombongan kafilah.

Yang unik, tak satu pun dari perampok itu menghampiri Abdul Qadir. Hingga akhirnya salah seorang dari mereka mencoba bertanya kepadanya, “Hai orang fakir, apa yang kamu bawa?”

“Aku membawa empat puluh dinar,” jawab Abdul Qadir polos.

“Di mana kamu meletakkannya?”

“Aku letakkan di saku yang terjahit rapat di bawah ketiakku.”

Perampok itu tak percaya dan mengira Abdul Qadir sedang meledeknya. Ia meninggalkan bocah laki-laki itu.

Selang beberapa saat, datang lagi salah satu anggota mereka yang melontarkan pertanyaan yang sama. Abdul Qadir kembali menjawab dengan apa adanya. Lagi-lagi, perkataan jujurnya tak mendapat respon serius dan si perampok ngelonyor pergi begitu saja.

Pemimpin gerombolan perampok tersebut heran ketika dua anak buahnya menceritakan jawaban Abdul Qadir. “Panggil Abdul Qadir ke sini!” Perintahnya.

“Apa yang kamu bawa?” Tanya kepala perampok itu.

“Empat puluh dinar.”

“Di mana empat puluh dinar itu sekarang?”

“Ada di saku yang terjahit rapat di bawah ketiakku.”

Benar. Setelah kepala perampok memerintah para anak buah menggledah ketiak Abdul Qadir, ditemukanlah uang sebanyak empat puluh dinar. Sikap Abdul Qadir itu membuat para perampok geleng-geleng kepala. Seandainya ia berbohong, para perampok tak akan tahu apalagi penampilan Abdul Qadir saat itu amat sederhana layaknya orang miskin.

“Apa yang mendorongmu mengaku dengan sebenarnya?”

“Ibuku memerintahkan untuk berkata benar. Aku tak berani durhaka kepadanya,” jawab Abdul Qadir.

Pemimpin perampok itu menangis, seperti sedang dihantam rasa penyesalan yang mendalam. “Engkau tidak berani ingkar terhadap janji ibumu, sedangkan aku sudah bertahun-tahun mengingkari janji Tuhanku.”

Dedengkot perampok itu pun menyatakan tobat di hadapan Abdul Qadir, bocah kecil yang kelak namanya harum di mata dunia sebagai Sulthanul Auliya’ Syekh Abdul Qadir al-Jailani. Drama pertobatan ini lantas diikuti para anak buah si pemimpin perampok secara massal.