Telp. 0265-2351868 | WA 0878 8555 4556

Kisah Inspiratif

Smart Family

Tafakur

Terbaru

Thursday, 20 January 2022

Rezeki Itu Antara Ujian, Adzab, Dan Istidraj

Dalam kehidupan sehari-hari sering kali kita dihadapkan pada kondisi-kondisi yang membuat kita bertanya-tanya. Apakah ini ujian, adzab, ataukah istidraj? Lantas, bagaimana kita membedakannya, dan bagaimana pula kita menyikapinya?

1. UJIAN

Musibah atau bencana yang menimpa orang yang beriman, yang senantiasa beramal sholih, menjauhi maksiat, menghidupkan sunnah-sunnah Nabi, serta selalu berada dalam ketaatan kepada perintah dan larangan Allah. Inilah yang disebut ujian atau cobaan.

Musibah ini bertujuan untuk menguji keistiqomahan hamba. Allah ingin melihat bukti keimanan dan kesabarannya. Jika ia bisa menyikapi dengan benar, dan mengembalikan semuanya kepada Allah, maka Allah akan memberikan pertolongan dan rahmat sesudah musibah atau bencana tersebut, bahkan menjadikan musibah tersebut sebagai penggugur dosa-dosanya.

Sebagaimana sabda Nabi ﷺ. Dari Mush’ab bin Sa’d dari ayahnya. Ayahnya berkata: Aku bertanya kepada Rasulullah ﷺ,” Manusia manakah yang paling berat ujiannya?” Rasulullah ﷺ menjawab,” Para Nabi, kemudian disusul yang derajatnya seperti mereka, lalu yang di bawahnya lagi. Seseorang diuji sesuai keadaan agamanya. Jika agamanya itu kokoh maka diperberatlah ujiannya. Jika agamanya itu lemah maka ujiannya pun disesuaikan dengan agamanya. Senantiasa ujian menimpa seorang hamba hingga ia berjalan di muka bumi tanpa dosa sedikit pun.” (HR. al-Ahmad, al-Tirmidzi dan Ibn Majah)

2. ADZAB

Musibah bagi orang-orang yang lalai menunaikan hak-hak Robb-Nya, sering berbuat dosa, dan menunda taubat. Inilah yang disebut adzab atau teguran. Musibah ini bertujuan untuk memberi peringatan kepada hamba agar bergegas kembali kepada Robb-nya dan segera bertaubat.

Adzab ini adalah hukuman yang disegerakan di dunia agar nanti tidak ditimpakan kepadanya di akhirat, atau di akhirat nanti hukumannya lebih ringan. Allah menginginkan kebaikan kepada hambaNya sehingga hukuman tersebut disegerakan di dunia, untuk menghapus kesalahan-kesalahan hamba tersebut.

Sebenarnya peringatan ini karena kasih sayang Allah SWT. Misalnya seseorang yang berada dalam kesempitan rezeki.

Kemudian ia bermunajat kepada Allah agar memberikannya keluasan rezeki. Rajin ibadah sunah dan perbaikan ibadah lainnya dengan semaksimal mungkin. Hingga Allah SWT memberikan jalan keluar. Bisnisnya lancar, usahanya berkembang, dan kesibukan semakin meningkat.

Tapi justru dikarenakan sibuknya, satu persatu ibadah sunahnya mulai ia tinggalkan. Ibadah wajibnya pun dilalaikan. Seharusnya bertambahnya nikmat, membuat ia bertambah syukur dan semakin dekat dengan Allah, tetapi yang terjadi malah semakin jauh dari Allah.

Orang ini sebenarnya sedang mengundang datangnya musibah atau adzab Allah. Hingga akhirnya Allah cabut kembali nikmatNya. Dan, sungguh musibah yang datang kepadanya ini sebagai peringatan untuk kembali kepada Robb-nya dan segera bertaubat.

3. ISTIDRAJ

Istidraj adalah kesenangan dan nikmat yang Allah berikan kepada orang yang jauh dari-Nya yang sebenarnya itu menjadi adzab baginya apakah dia bertaubat atau semakin jauh. 

Ada seorang yang maksiatnya lancar tapi rezekinya juga lancar. Ia tidak dalam ketaatan namun bergelimang berbagai kelebihan-kelebihan.

Kelancaran rezeki bukanlah standar sayangnya Allah kepada seseorang. Boleh jadi kelapangan hidup itu bentuk adzab yang tidak disadari.

Untuk apa banyak harta tapi batin merana, ancaman adzab akhirat tidak dipedulikan. Juga sebaliknya, jangan mengira orang yang banyak ujian dan cobaan dalam hidup tanda ia dimurkai oleh Allah. Boleh jadi itu adalah musibah untuk menghapuskan dosa dan meninggikan derajatnya di surga nanti.

Sekarang coba tanyakan dengan jujur pada diri sendiri, bagaimana keimanan kita terhadap Allah SWT? Apabila kita termasuk orang yang lalai, maka jawaban atas musibah yang menimpa, adalah sebagai adzab dan peringatan atas kelalaian kita, agar kita sadar dari kelalaian kita selama ini. Dan segeralah bertaubat.

Dan kalau kita bukan hambaNya yang lalai, maka musibah yang menimpa kita, adalah sebagai suatu ujian, dimana dengan ujian itu, Allah telah menyiapkan tingkat keimanan yang lebih tinggi untuk kita. Seperti menjadikan kita hamba pilihanNya yang sabar. Dan pahala orang yang sabar sungguh tanpa batas.

Dan insya Allah dengan kesabaran dan istiqomah di jalanNya akan bisa meraih ridho Allah, dan ridho Allah adalah segalanya. Wallahu a’lam


Thursday, 13 January 2022

Yuk Setoran Hafalan Qur'an

 


Assalamu'alaikum wr wb...

Sahabat, Alhamdulillah hari ini kita semua masih diberikan rahmat oleh Allah Swt untuk menjalani hidup. 

Pada sabtu pagi ini, para santri sudah masuk jadwalnya setoran hafalan Qur'an. Dimana para santri mempunyai targetnya masing-masing dalam meghafal Qur'an. Sangat terlihat, para santri mempunyai antusias yang tinggi dalam menghafal Qur'an. Semoga sampai tua nanti, mereka akan terus istiqomah dalam menghafal Qur'an.

Dan semoga kita pun tidak kalah semangat dalam menghafal Qur'an. Karena menghafal Qur'an tidak mengenal usia. Tidak ada kata terlambat untuk memulai suatu kebaikan.

Sahabat, bisa jadi hafalan Qur'an mereka lah yang akan memadamkan api neraka kita, karena kita telah memberikan kasih sayang kita dengan menyisihkan rezeki kita untuk makan dan pendidikan mereka.





Wednesday, 5 January 2022

Sedekah Tidak Akan Mengurangi Harta

 


“ Sedekah tidaklah mengurangi harta.” (HR. Muslim)

Sahabat, memang sangat aneh terdengar di telinga, bagaimana mungkin uang yang disedekahkan untuk orang lain, bukannya mengurangi, tapi malah bisa menambah rezeki kita?

Secara hitung-hitungan Matematis dan Ekonomis tentunya hal ini di luar kelaziman, tetapi faktanya memang demikian. Bahkan yang menyatakan hal ini adalah manusia paling terpercaya, yakni Rasulullah Muhammad shallallahu ‘alaihi wassalam. 

Beberapa poin berikut merupakan sebagian alasan mengapa harta yang disedekahkan justru dapat menambah jumlah rezeki kita

Janji Allah pada orang-orang yang mengeluarkan uangnya untuk berinfak atau bersedekah, bahwa Allah akan berinfak pula pada mereka

Ketika seseorang bersedia mengeluarkan uangnya untuk berinfak, pada saat yang sama Allah pun bersedia untuk berinfak padanya, dan meluaskan rezekinya. Maka, bagaimana mungkin hartanya akan berkurang?

Sebaliknya, orang yang mengikuti bisikan syetan untuk merasa takut berinfak karena khawatir miskin, sehingga kikir dalam bersedekah justru telah tertipu. Karena kekikirannya itu justru membuat Allah menahan karuniaNya.

“Syaitan menjanjikan (menakut-nakuti) kamu dengan kemiskinan dan menyuruh kamu berbuat kejahatan (kikir); sedang Allah menjadikan untukmu ampunan daripada-Nya dan karunia. Dan Allah Maha Luas (karunia-Nya) lagi Maha Mengetahui.” (QS. Al Baqarah: 268)

Allah menjanjikan akan mengganti apapun yang dikeluarkan hambaNya yang bersedekah

Sahabat, bagaimana mungkin harta akan berkurang jika Allah berjanji akan menggantinya? Hal ini jelas dinyatakan dalam firmanNya:

“Dan barang apa saja yang kamu nafkahkan, maka Allah akan menggantinya dan Dia lah Pemberi rezeki yang sebaik-baiknya.” (QS. Saba’: 39)

Memperoleh ganjaran hingga ratusan kali lipat dari yang dikeluarkan

Ini sama saja seperti seorang bos yang mengatakan pada kita, “Saya pinjam dulu uangmu, jika kamu bersedia pinjamkan akan saya ganti berkali lipat.” Bukankah amat menguntungkan? Demikianlah yang Allah janjikan pada para hambaNya.

“Jika kalian meminjamkan kepada Allah pinjaman yang baik, niscaya Allah melipat gandakan (pembalasannya) kepada kalian dan mengampuni kalian. Dan Allah Maha Pembalas Jasa lagi Maha Penyantun”. (QS. At-Taghabun: 17)

Dalam ayat lain, Allah mempertegas hal ini:

“Barang siapa meminjami Allah dengan pinjaman yang baik maka Allah melipatgandakan ganti kepadanya dengan banyak. Allah menahan dan melapangkan (rezeki) dan kepada-Nyalah kamu dikembalikan.” (QS. Al Baqarah: 245)

Bahkan sungguh dahsyat, Allah akan melipatgandakan ganjaran sedekah hingga ratusan kali lipat.

“Perumpamaan (nafkah yang dikeluarkan oleh) orang-orang yang menafkahkan hartanya di jalan Allah adalah serupa dengan sebutir benih yang menumbuhkan tujuh bulir, pada tiap-tiap bulir seratus biji. Allah melipat gandakan (ganjaran) bagi siapa yang Dia kehendaki. Dan Allah Maha Luas (karunia-Nya) lagi Maha Mengetahui.” (QS. Al Baqarah: 261)

Sahabat, sungguh beruntung orang-orang yang meyakini janji Allah, dan oleh sebab itulah mereka mendapat ganjaran berkali lipat dari apa yang mereka keluarkan untuk sedekah. 

Semoga kita termasuk bagian dari golongan tersebut.

Wednesday, 15 December 2021

Jangan Sia-Siakan Kesempatan Berbuat Baik

Sahabat, terkadang ketika kita ada dalam posisi untuk menolong orang lain, lakukan dan bersenang hatilah sebab Allah sedang menjawab doa seseorang melalui dirimu. Menolong seseorang yang membutuhkan membuat hati ini merasa bergetar bahagia, Ketika mereka tersenyum lepas karena tertolong.

Sahabat, Allah menitipkan harta kepada kita salah satunya untuk menolong sesama. Apalagi jika kita bisa berbagi rutin dari harta yang kita miliki. Sedekah dari harta yang kita miliki tidak harus bernilai besar, yang terpenting adalah konsisten dan Istiqomah dalam melakukannya.

Ternyata, Allah mencintai amalan-amalan yang rutin dan berkelanjutan walaupun secara jumlah hanya sedikit. Misalkan sedekah, jika dilakukan secara rutin Allah lebih senang walaupun tidak banyak. “Amalan yang paling dicintai oleh Allah Ta’ala adalah amalan yang berkelanjutan walaupun itu sedikit.” (H.R Muslim)

Yuk, kita mulai sedekah hari ini secara rutin. Tidak apa-apa jumlahnya sedikit apalagi yang kita berikan sedekah yang terbaik dari yang kita punya. Semoga Allah jadikan yang sedikit itu menjadi berkah dan berlimpahh.

Tuesday, 7 December 2021

Pentingnya Tadabbur Alam

 


Assalamu'alaikum wr wb...

Sahabat, inilah salah satu kegiatan tadabbur alam para santri. Tadabbur Alam merupakan sarana pembelajaran untuk lebih mengenal ke Maha Besaran Allah SWT yang telah menciptakan langit dan bumi serta segala isinya. 

Pada zaman sekarang, banyak sekali orang-orang yang senang melakukan traveling. Namun, banyak dari kita yang lupa. Saat traveling hanya digunakan untuk bersenang-senang saja. Tanpa mengenal, memahami, dan mempelajari ciptaan Allah SWT.

Seperti firman Allah dalam surah al-Ghasiyah ayat 17 sampai 21 yang artinya “Maka apakah mereka tidak memperhatikan unta bagaimana ia diciptakan? Dan langit bagaimana ia ditinggikan? Dan gunung-gunung bagaimana ia ditegakkan? Dan bumi bagaimana ia dihamparkan? Maka berilah peringatan, karena sesungguhnya kamu hanyalah orang yang memberi peringatan”.

Dari penggalan surah al-Ghasiyah itu, kita dapat diartikan bahwa sebagai manusia, makhluk yang Allah SWT beri akal, bisa merenungi bagaimana ciptaan Allah tersebut terjadi. Saat kita pergi ke gunung, renungilah, bagaimana bisa pohon-pohon tumbuh lebat. Bagaimana hewan-hewan di dalam hutan mencari makan tanpa khawatir. Bagaimana air di hulu sungai bisa sampai ke hilir laut.

Jangan sampai, traveling kita menjadi sia-sia hanya untuk bersenang-senang. Tentu seorang muslim boleh memiliki hobi traveling, tanpa lupa mensyukuri ciptaan Allah SWT.





Friday, 3 December 2021

Edukasi Pengurusan Jenazah


 Assalamu'alaikum wr wb...

Sahabat, kali ini Rumah Yatim Indonesia mengadakan edukasi mengurus jenazah, dimulai dari memandikan, mengkafani sampai menyolatkan jenazah. Mengingat bahwa mengurus jenazah itu hal yang penting diketahui oleh masyarakat. Khususnya bagi umat Islam, penting mengetahui dan memahami tata cara pengurusan jenazah yang sesuai dengan sunnah Nabi Muhammad SAW.





Thursday, 2 December 2021

Berkah Dari Menyedekahkan Pakaian


Diriwayatkan suatu hari ada seorang pengemis mengetuk pintu rumah Rasulullah Shollolloohu 'Alaihi Wasallam. Pengemis itu berkata: "Saya pengemis ingin meminta sedekah dari Rasulullah." Lalu Rasulullah bersabda: "Wahai Aisyah berikan baju itu kepada pengemis itu”.

Sayyidah Aisyah pun melaksanakan perintah Nabi. Dengan hati yang sangat gembira, pengemis itu menerima pemberian beliau, dan langsung pergi ke pasar serta berseru di keramaian orang di pasar: 

"Siapa yang mau membeli baju Rasulullah?”. Maka dengan cepat berkumpullah orang-orang, dan semua ingin membelinya. Kemudian ada seseorang kaya namun buta yang mendengar seruan tersebut, lalu menyuruh budaknya agar membelinya dengan harga berapapun yang diminta, dan ia berkata kepada budaknya : “Jika kamu berhasil mendapatkannya, maka kamu merdeka”.

Akhirnya budak itupun berhasil mendapatkannya. Dan kemudian diserahkanlah baju itu pada tuannya yang buta tadi. Alangkah gembiranya si buta tersebut, dengan memegang baju Rasulullah itu, orang buta tersebut kemudian berdoa dan berkata : 

“Yaa Rabb dengan hak Rasulullah dan berkat baju yg suci ini, kembalikanlah pandanganku". Kemudian Masyaa Allah dengan izin Allah, spontan orang tersebut dapat melihat kembali.

Keesokan harinya, ia pun pergi menghadap Rasulullah dengan penuh gembira dan berkata: "Wahai Rasulullah, pandanganku sudah kembali dan aku kembalikan baju anda sebagai hadiah dariku". Sebelumnya orang itu menceritakan kejadiannya sehingga Rasulullah pun tertawa hingga tampak gigi gerahamnya, padahal biasanya Rasulullah jarang sekali tertawa.

Kemudian Rasulullah bersabda kepada Sayyidah Aisyah: "Perhatikanlah baju itu wahai Aisyah, dengan izin dan berkah-Nya, ia telah mengkayakan orang yang miskin, menyembuhkan yang buta, memerdekakan budak dan kembali lagi kepada kita”.

Al-Imam as-Suyuti menyebutkan dalam salah satu kitabnya bahwa pahala shadaqah itu ada 5 macam:

" Sesungguhnya pahala bersedekah itu ada lima kategori :

1. Satu dibalas sepuluh (1:10) yaitu bersedekah kepada orang yang sehat jasmani.

2. Satu dibalas sembilan puluh (1:90) yaitu bersedekah terhadap orang buta, orang cacat atau tertimpa musibah, termasuk anak yatim dan piatu.

3. Satu dibalas sembilan ratus (1:900) yaitu bersedekah kepada kerabat yang sangat membutuhkan.

4. Satu dibalas seratus ribu (1: 100.000) yaitu sedekah kepada kedua orangtua.

5. Satu dibalas sembilan ratus ribu (1 : 900.000) yaitu bersedekah kepada orang yg alim atau ahli fiqih.

(Kitab Bughyatul Musytarsyidin).