Telp. 0265-2351868 | WA 0878 8555 4556

Kisah Inspiratif

Smart Family

Tafakur

Terbaru

Tuesday, 12 October 2021

Terima Kasih Donatur



Assalamu'alaikum wr wb...

Jazakallah Khoiron Katsiiraan untuk seluruh donatur dermawan yang selama ini selalu memberikan perhatian dan kasih sayangnya kepada kami, sehingga kami bisa merasakan makan yang begitu luar biasa nikmatnya.

Semoga Allah Swt membalas semua kebaikan ibu dan bapak donatur dengan berlipat ganda. Semoga semua yang diberikan menjadi berkah untuk kita semua dan mampu menjadi penghapus dosa.

"Sedekah itu menghapuskan kesalahan seperti air memadamkan api." (HR. At Tirmidzi)

Aamiin Ya Robbal Alamin






Monday, 11 October 2021

Kisah Ali dan Fatimah


Pada zaman dahulu kala, ada seorang sahabat bernama Ali yang mulai menginginkan menikah dengan Fatimah. Keinginannya muncul ketika Fatimah yang membasuh luka Ayahnya (Nabi Muhammad) yang tengah terluka usai mengikuit peperangan. .

Karena memiliki keinginan yang besar untuk menikah dengan putri Nabi, Ali dengan rajin mengumpulkan uang untuk membeli mahar. Ia tidak langsung bisa menikah dengan putri Nabi karena, Ali bukan termasuk Sahabat yang memiliki kekayaan yang melimpah.

Belum cukup Ali mengumpulkan uang untuk membeli mahar, Sahabat Nabi yang Abu Bakar datang kepada Rasul untuk melamar Fatimah. Hati Ali menjadi gelisah, namun Ali sadar bahwa dirinya bukan siapa-siapa bila dibandingkan dengan Abu Bakar.

Akan tetapi setelah mendengar berita bahwa Abu Bakar tidak jadi menikah dengan Fatimah, Ali bersemangat kembali. Namun keceriaan Ali tidak berlangsung lama, karena salah seorang Sahabat dekat Rasulullah, Umar Bin Khatab juga mengikuti jejak Abu Bakar untuk melamar Fatimah.

Lagi-lagi Ali hanya mampu pasrah dan berdoa kepada Allah, jika ia jodohku pasti ia akan bersamaku. Karena Ali sadar bahwa dirinya tidak mungkin bersaing dengan Umar yang terkenal gagah perkasa dan memiliki keimanan yang begitu besar.

Namun takdir Allah masih berpihak kepada Ali, karena Abu Bakar dan Umar sama-sama tidak diterima. Hati Ali kembali ceria ketika berita itu sampai di kedua telinganya. Akan tetapi Sahabat Ali masih ragu untuk meminang Fatimah, karena ia hanya pemuda miskin.

Bahkan beliau hanya memiliki sebuah pedang, baju besi dan unta yang biasa digunakan untuk mengambil air.

Ali mendatangi Abu Bakar dan berkata : “Wahai Sahabat Rasul, sesungguhnya engkau telah membuat hatiku berguncang, engkau mengingatkan diriku kepada hal yang telah terlupa dalam ingatanku. Demi Allah diriku memang ingin untuk meminang Fatimah, akan tetapi yang menjadi satu penghalang untuk meminangnya karena aku ini pemuda yang miskin dan tidak memiliki apa-apa”

Dengan terharu Abu Bakar menanggapi Ali : ” Wahai Ali, janganlah engkau berkata begitu, bagi Allah dan Rasulnya, Dunia ini tidak lebih berharga dari pada debu-debu yang bertaburan”

Mendengar jawaban dari Abu Bakar, Kepercayaan Ali semakin kuat untuk segera meminang putri Nabi. Dengan ragu-ragu Ali datang ke rumah Rasulullah untuk melamar Fatimah.

Dalam hadist dari ummu salamah diceritakan tentang bagaimana proses lamaran Ali untuk meminang Fatimah

“Saat itu aku melihat wajah Rasul begitu berseri-seri, sambil tersenyum Rasulullah bertanya kepada Ali. Wahai Ali apakah engkau mempunyai sesuatu untuk dijadikan sebuah mahar untuk menikah”

Ali menjawab: “Demi Allah, engkau mengetahui sendiri bagaimana keadaanku, tidak ada sesuatupun yang tidak engkau ketahui ya Rasulullah. Tidak tidak memiliki harta kecuali sebuah pedang, satu set baju besi dan seekor unta”

Rasulullah menanggapi pertakaan Ali : ”Tentang pedangmu, engkau masih membutuhkannya untuk berjuang (berperang) di jalan Allah. Tentang unta yang engkau miliki kamu masih memerlukannya untuk mengambil air dan untuk kendaraan saat bepergian jauh. Oleh sebab itu aku hendak menikahkanmu hanya atas dasar mas kawin sebuah baju besi. Wahai Ali engkau harus bergembira karena Allah telah terlebih dahulu menikahkanmu dengan Fatimah di Langit, sebelum aku menikahkanmu di bumi ini”

Setelah itu menikahlah kedua manusia mulia itu dihadapan para sahabatnya, walaupun hanya dipinang dengan sebuah baju besi pernikahan termasuk pernikahan yang berhasil. Karena dari pernikahan ini, melahirkan seorang manusia mulia yaitu Hasan dan Husai.

Friday, 8 October 2021

Adab Anak Terhadap Orang Tua

Sahabat, orang tua mana yang tidak senang jika melihat anaknya mempunyai adab yang baik. Pasti setiap orang tua selalu mengharapkan anaknya bersikap dan tumbuh dengan baik. Memang, ada seorang anak pada orangtua merupakan segalanya dalam sebuah keluarga.

Seorang anak diwajibkan untuk mempunyai adab terkhusus kepada orang tua dan guru.

Hal ini sesuai dengan perintah baik yang ada di dalam Al-Qur’an maupun Hadist. Dalam berinteraksi dengan orang tua, anak pun harus memperhatikan etika atau yang di sebut dengan adab.

Seorang anak yang beradab ia memuliakan kedua orangtua nya dan para pengajarnya, dan para saudaranya yang lebih besar, dan semua orang yang lebih besar darinya, dan menyayangi saudaranya yang lebih kecil, dan semua orang yang lebih kecil darinya.

Dan seorang anak yang beradab selalu jujur dalam setaip perkataannya, dan bertawadhu’ (rendah hati) sesama manusia, dan bersabar atas gangguan dan tidak memutuskan hubungan dengan Anak-Anak (tetangga), tidak pula berkelahi bersama mereka, dan tidak meninggikan suara apabila sedang berbicara atau tertawa.

Adab Seorang Anak pada Orangtua yang Pertama, mendengarkan kata-kata orangtua.

Ketika orangtua berbicara, anak senantiasa harus mendengarkan dengan baik apa yang di sampaikan oleh orang tua. Terutama ketika orangtua memberikan nasihat terhadap kita.

Jika anak ingin memotong pembicaraan orangtua di pastikan anak harus meminta izin terlebih dahulu. Tidak sopan jika anak meminta orang tua berhenti bicara hanya karena tidak menyukai nasihatnya.

Adab Seorang Anak pada Orangtua yang Kedua, berdiri ketika mereka berdiri.

Maksudnya ketika orangtua berdiri, anak sebaiknya berdiri. Hal ini bukan hanya karena merupakan sopan santun, melainkan menunjukkan kesiapan kepada anak untuk memberi bantuan sewaktu-waktu orang tua meminta bantuan. Demikian juga jika orangtua duduk sebaiknya anak pun duduk kecuali jika sudah tidak tersedia kursi lagi yang bisa diduduki.


Adab Seorang Anak pada Orangtua yang Ketiga, mematuhi sesuai perintah-perintah mereka.

Apa yang orangtua perintahkan harus dipatuhi oleh anak kecuali jika perintahnya bertentangan dengan syariat Allah SWT. Atau perintah yang melebihi batas kemampuan anak sehingga anak kesulitan dalam melakukannya.

Jika terpaksa harus menolak, maka cara menolaknya harus dengan kesopanan dengan memohon maaf dan memberikan jalan lain yang sesuai dengan kemampuanya.

Adab Seorang Anak pada Orangtua yang Keempat, memenuhi panggilan mereka.Seorang anak harus segera menjawab panggilan orangtua ketika mendengar suara orangtua memanggilnya.

Contohnya ketika anak sedang dalam keadaan shalat (shalat sunnah), ia boleh membatalkan shalatnya untuk segera memenuhi panggilan orangtua nya.

Adab Seorang Anak pada Orangtua yang Kelima, merendah kepada mereka dengan penuh sayang dan tidak menyusahkan mereka dengan pemaksaan.

Seorang anak yang sepintar dan secerdas apapun tetap harus ta’zim kepada orangtua. Ia juga harus menyayangi orangtua meskipun dulu mereka kurang memenuhi keinginan-keinginan nya.

Adab Seorang Anak pada Orangtua yang Keenam, tidak mudah merasa capek dalam berbuat baik kepada mereka, dan tidak sungkan melaksanakan perintah-perintahnya.

Seorang anak harus peka terhadap keadaan orangtua nya terlebih dahulu mereka lah yang mengasuh dan membesarkan kita. Maka dari itu kita sebagai anak harus mampu berbuat baik kepada mereka.

Adab Seorang Anak pada Orangtua yang Ketujuh, tidak memandang mereka dengan rasa curiga dan tidak membangkang perintah mereka.

Anak harus selalu berprasangka baik terhadap orangtua, jika memang ada sesuatu yang perlu ditanyakan anak boleh menanyakan dengan pertanyaan yang baik dan tidak menunjukkan rasa curiga.

Selain itu juga anak tidak boleh membangkang terhadap perintah-perintahnya sebab mematuhi orangtua hukumnya wajib.

Ketujuh adab diatas harus di ketahui dan dilaksanakan oleh anak. Semakin dewasa seorang anak, semakin besar tanggung jawab nya terhadap orangtua untuk memperhatikan dan menjaga dengan ikhlas.



Wednesday, 22 September 2021

Santri Bermurojaah Al-Qur'an


 Assalamua'laikum wr wb...

Sahabat, inilah kegiatan para santri putri yang sedang murojaah Qur'an. Kegiatan murojaah Qur'an ini rutin dilaksanakan setiap harinya ba'da ashar.

Dengan menggunakan metode ini dalam menghafal Qur'an, diharapkan para santri bisa menjaga hafalannya dan saling mengingatkan jika ada temannya yang lupa.

Semoga mereka semua selalu istiqomah dalam melaksanakan amal shaleh. Yuk dukung terus para santri Rumah Yatim Indonesia dengan mengikuti program beasiswa pendidikan, agar mereka bisa mendapatkan pendidikan yang layak.





Friday, 17 September 2021

Hadapi Kesulitan Dengan Kesabaran

Tidak ada yang bisa menyangkal kesulitan yang telah Allah tetapkan kepada kita, hanya saja kita bisa tetap baik-baik saja dalam kesulitan yang menimpa dikala kita mampu tidak menyerah dan yakin bahwa kita bersama Allah.

Lantas bagaimana dengan dia yang menangis sebab kesulitan yang terjadi? Tentu yang demikian adalah hal yang salah, karena untuk apa menangis? Sebab menangis tidak akan membuat kita keluar dari kesulitan itu sendiri.

“Alangkah mengagumkan keadaan orang yang beriman, karena semua keadaannya (membawa) kebaikan (untuk dirinya), dan ini hanya ada pada seorang mukmin; jika dia mendapatkan kesenangan dia akan bersyukur, maka itu adalah kebaikan baginya, dan jika dia ditimpa kesusahan dia akan bersabar, maka itu adalah kebaikan baginya." (HR Muslim Nomor 2999).

Ingat, kesulitan tidak akan selesai bila hanya ditangisi dan diratapi, namun dikala kita mampu menghadapinya dengan rasa sabar dan yakin bahwa dengan Allah kita bisa, sungguh jalan mudah akan kita temui.

Karena tidak akan pernah ada kata sulit yang hinggap di pikiran mauupun di hati kita, jika kita mampu untuk bersabar atas segala hal yang telah menjadi takdir-Nya.

Maka bersabarlah sebanyak-banyaknya, hingga keyakinan kepada Allah itu tumbuh dengan sendirinya, sehingga jalan untuk senantiasa kuatpun senantiasa terbentang didepan mata.

Sebesar dan sebanyak appaun kesulitan yang menghadang kita, tentu tidka akan kita kita keluhkan sulit jika kita mampu yakin bahwa dengan Allah kita pasti bisa bertahan hingga akhir.

Karena masa sulit, lika-liku kehidupan yang terjal inii hanya sementara, semuanya akan berakhir semestinya, dan tugas kita hanyalah terima kesulitan itu dengan penuh rasa sabar dan yakin bahwa dengan Allah kita mampu melewatinya.

Dan perlu kita ingat, bahwa kesulitan itu sebenarnya hanyalah jalan untuk kita menuju kemudahan, sebab bukankah didalam Al-qur’an telah disebutkan kalau dibalik kesusahan apasti ada kemudahan.

Maka, yakini saja tidak akan ada masa sulit yang abadi, semua akan berganti mudah sesuai masa yang telah ditetapkan Allah. Dan sebab itulah mengapa kita kita harus mampu bersabar dalam kesulitan itu sendiri.

Sadarkanlah hati untuk terus mengingat bahwa tidak akan ada kesulitna yang abadi, karena pada akhirnya sesuatu yang kita anggap sulit atau bahkan sangat sulit akan berubah menjadi mudah.

Kapan? Disaat kita mampu besarkan hati dengan rasa ikhlas, berlapang dada, bersabar, dan yakin bahwa setelah kesulitan itu akan ada kebahagiaan yang indah dan luar biasa.

Serta tahukah kamu apa tujuan Allah kadang menahan kita dalam kesulitan yang besar atau kesulitan yang begitu lama? Yaitu tak lain agar kita tahu caranya bersabar dan yakin secara bersungguh-sungguh hanya kepada-Nya.


Thursday, 16 September 2021

Jangan Lelah Menuntut Ilmu


Assalamu'alaikum wr wb... 

Sahabat,  sebagai seorang manusia yang hidup di muka bumi ini sepatutnya kita untuk terus menuntut ilmu. Agar kita tidak buta ilmu dan bisa hidup dengan terarah. Kita jangan pernah merasa lelah dalam menuntut ilmu,  karena pada dasarnya setiap hari kita selalu belajar yang disadari maupun tidak disadari. 

"Siapa yang menempuh jalan untuk mencari ilmu,  maka Allah akan mudahkan baginya jalan menuju surga." (HR. Muslim) 

Jadi,  jangan pernah bosan dan lelah dalam menuntut ilmu,  jadikanlah diri kita seseorang yang haus akan belajar,  yang ilmunya bermanfaat dunia dan akhirat.

Yuk, terus dukung semangat belajar mereka dengan ikut serta dalam program BEASISWA PENDIDIKAN agar mereka bisa mengenyam pendidikan sama dengan anak pada umumnya.

Wednesday, 8 September 2021

Muhasabah Di Balik Musibah

“Barangsiapa mengumpulkan harta dengan tidak sewajarnya (tidak benar) maka Allah akan memusnahkannya dengan air (banjir) dan tanah (longsor),” (HR. Al-Baihaqi)

Jika membaca hadits di atas tentu jadi bahan muhasabah bagi manusia. Bahwa apa yang terjadi tidak lepas dari kehendakNya.

Dan apapun yang menimpa berupa keburukan dalam pandangan manusia adalah akibat ulah perbuatan manusia.

Bukan tanpa maksud mengapa Allah menghendaki musibah. Bisa sebagai ujian dan teguran agar manusia ingat pada Allah dan kembali padaNya. Mungkin manusia sudah terlampau jauh dariNya sehingga Allah cemburu ingin manusia mendekatiNya.

Allah Swt berfirman:

وَمَا أَصَابَكُمْ مِنْ مُصِيبَةٍ فَبِمَا كَسَبَتْ أَيْدِيكُمْ وَيَعْفُو عَنْ كَثِيرٍ

‘Dan apa saja musibah yang menimpa kamu maka adalah disebabkan oleh perbuatan tanganmu sendiri, dan Allah memaafkan sebagian besar (dari kesalahan-kesalahanmu).” (Q.S. Asy-Syuro: 30).


Allah Maha Mulia dari menduakalikan pembalasan-Nya di akhirat.

Adapun mengenai musibah yang menimpa kepada orang-orang yang tidak berdosa di dunia, dimaksudkan untuk mengangkat derajatnya di akhirat kelak.

Dari penjelasan di atas maka bisa dipahami bahwa apapun yang manusia lakukan akan kembali kepadanya, kebaikan ataupun keburukan.

Namun, walaupun manusia banyak melakukan kesalahan Allah Swt Maha Pemaaf dan Pengampun atas semua kesalahan yang dilakukan oleh manusia.

Dan musibah yang terjadi bagi orang-orang yang tidak berdosa adalah untuk mengangkat derajatnya di akhirat kelak.

Maha Suci Allah dengan segala FirmanNya sebagai petunjuk bagi seluruh alam. Semoga kita termasuk hambaNya yang senantiasa bermuhasabah saat ditimpa musibah. Sehingga semakin menambah keimanan dan ketaqwaan kepada Allah Swt.

Allahu A’lam bi Shawab