Telp. 0265-2351868 | WA 0878 8555 4556 | BBM 5AE49B09

Kisah Inspiratif

Smart Family

Tafakur

Terbaru

Wednesday, 26 February 2020

Sedekah Mengantar Ahli Neraka Menuju Surga









Sahabat, sedekah adalah perbuatan yang sangat disukai oleh Rasulullah SAW. Banyak manfaat yang akan didapat dengan bersedekah. Apalagi dilakukan di bulan Ramadan, pahalanya akan dilipatgandakan.
Dikutip dari Kitab Risalah Nawadirul Hikayah karya Ahmad Syihabuddin bin Salamah Al Qulyubi, suatu masa Aisyah RA membebaskan seorang budak wanita karena merasa kasihan. Meski sudah dibebaskan, budak tersebut ikut ke rumah Aisyah.
Tiba-tiba Malaikat Jibril mendatangi rumah tersebut dan menyampaikan kepada Rasulullah SAW.
"Wahai Muhammad, keluarkanlah budak itu dari rumahmu! Karena sesungguhnya dia adalah ahli neraka," kata Jibril.
Rasulullah dengan berhati-hati menyampaikan kata Jibril tersebut ke Aisyah. Dia terkejut dengan omongan Rasulullah, sebab Aisyah mengaku membebaskan budak wanita itu karena iba tanpa mengetahui penyebab budak itu dilabeli ahli neraka.
Dia pun menuruti permintaan Rasulullah dan melepaskan budak tersebut pergi. Namun dia juga membekali budak itu dengan beberapa kurma untuk bekal di perjalanan.
Budak itu pergi berurai airmata. Di perjalanan, dia merasa kelaparan dan kelelahan. Kurma pemberian Aisyah pun dimakan. Namun baru makan satu buah, datang pengemis faqir meminta kurma itu karena belum makan.
Iba melihat pengemis tersebut, budak itu ikhlas memberikan semua kurma yang tersisa meski rasa lapar masih bersarang di perutnya.
Tak lama, Jibril kembali ke rumah Nabi Muhammad SAW. Jibril membawa perintah ke Rasulullah mengambil kembali budak wanita itu untuk tinggal di rumahnya. Sedekah telah mengantar budak wanita ahli neraka itu menuju surga.

Tuesday, 25 February 2020

Santri Memanen Cabai







Sahabat, alhamdulillah salah satu agenda para santri adalah belajar menanam, para santri telah menanam cabai di lahan komplek pesantren, dan sudah bisa menghasilkan cabai sebanyak 5 sampai 6 kilogram setiap minggunya. Tanaman cabai yang dipanen setiap minggu ini dipergunakan untuk keperluan dapur pesantren.
Namun bukan seorang tukang kebun yang memanen tanaman cabai tersebut, melainkan para santri. Hal ini ternyata masuk ke dalam pembelajaran, yaitu agar kelak supaya para santri bisa bercocok tanam sendiri...😊
Semoga BERKAH, Aamiin...🤲




Friday, 21 February 2020

Raih Ridho Orang Tua Sebelum Menjemput Rezeki











Sahabat mungkin pernah mendengar kata “ Jadikan orangtua layaknya Raja maka rezekimu akan juga seperti Raja “ memang benar salahsatu perbuatan yang bisa melancarkan rezeki yakni dengan berbakti kepada orangtua. Nah sahabat dakwah, Sebelum Menjemput Rezeki, Sudahkah Kau Raih Ridho Orang Tuamu?

Krisis moneter mengguncang tanah air dengan begitu hebatnya. Ayah bekerja serabutan, ibu membuka warung kecil-kecilan. Bisa di bayangkan  betapa “Negpas”-nya ekonomi keluarga kami.

Karena itulah, mau tidak mau kami harus legowo dengan kenyataan bahwa saya tak bisa melanjutkan kuliah. Seorang teman mengajak saya untuk melamar pekerjaan.

Bermodal nekat, kamipun berangkat. Bahkan, saya tak sempat meminta izin kepada orang tua. Toh, inikan hanya coba coba. Singkat cerita, saya diterima. Ternyata, saya bekerja di bidang multi level marketing. Ini hal yang amat baru bagi saya. Tiap hari, kami harus menjajakan produk dengan cara berkeliling.

Jika dalam sehari kami tidak berjualan, maka kami tidak mendapat gaji sepeserpun. Walau begitu berat, saya tetap bertahan dengan profesi ini dan melabuhkan harapan agar bisa meraih sukses sebagaimana yang di sampaikan para petinggi MLM itu.

Hingga suatu hari, saya memutuskan untuk pindah ke kantor pusat MLM di jakarta. Kedua orang tau menentang keputusan itu. Mereka tidak tega membiarkan saya hidup sendiri di kota besar. Dasar nekad, saya terus mempersuasi kedua orang tua.

Saya lancarkan segala argumentasi agar beliau berdua bisa mengizinkan saya hidup di belantara ibu kota. Dengan berat hati, ayah-ibu mengizinkan saya. Walaupun, saya tahu persis, di lubuk hati mereka yang paling dalam, sebenarnya mereka sama sekali tidak ridho.

Hari-hari pertama di jakarta, saya begitu bersemangat. Rasanya begitu bebas. I feel free…! kota yang begitu megah, kosmopolitan. Segala kemewahan hidup tersaji disini.

Namun, ketika memasuki hitungan bulan, saya mulai merasakan kerasnya hidup di kota besar yang penuh persaingan. Belum lagi biaya hidup, kos, transport dan harga makanan yang selangit.

Ada kalanya, dua sampai tiga hari saya tidak makan. Karena tidak ada sepeserpun uang yang bisa saya pakai untuk membeli makanan. Saya bahkan pernah menyusuri jalan demi mengais uang yang barangkali terjatuh.

Sore itu, dengan perut perih melilit menahan lapar, saya berjalan menuju kos dengan hati yang begitu pedih. Tidak ada satu barang daganganpun yang terjual. Sempat terpikir untuk meminta duit entah pada siapa, sekedar untuk ongkos pulang.

Tapi, saya sadar, islam melarang umatnya meminta-minta. Saya memohon kepada Allah, agar ada beberapa rupiah yang bisa kami gunakan.

Mendadak di depan saya ada koin lima puluh rupiah dengan jumlah cukup banyak. Sambil menahan malu, saya coba ambil koin-koin tersebut. Ternyata koin-koin itu sudah melekat di aspal. Saya cungkil berkali-kali, tidak berhasil. Astaghfirullahal ‘adzim…

Dengan menahan air mata yang nyaris tumpah, saya menuju rumah kos. Sampai di kamar, saya termenung. Apa salah saya, sehingga mengalami kesulitan hidup seperti ini ? apa dosa-dosa yang saya lakukan, sehingga hidup saya laksana bentangan jalan yang terjal dan berliku? Di tengah hati yang menggerimis, terputarlah fragmen-fragmen hidup saya delapan bulan terkahir.

Ya, semua ini bermula dari absennya ridho orang tua. Guru agama saya pernah berpesan, bahwa ridha Allah ada pada ridho orang tua. Maka jika orang tua tidak ridho, Allah takkan pernah memberkahi hidup kita.

Bukan hanya itu, saya kerap didera rasa bersalah setiap kali berhasil menjual suatu produk. Perusahaan MLM mengharuskan kami menjual produk dengan cara meyakinkan costomer bahwa produk kami berkualitas terbaik serta berharga murah.

Dengan gaya ala seles profesional, saya “membujuk” konsumen. Yang penting produk saya laku. Yang penting saya dapat duit. Yang penting, saya bisa makan. Padahal, duit, makanan dan semua yang pernah saya dapatkan berasal dari jalan menipu orang lain. Astaghfirullahal ‘adzim…

Kendati kerap diterpa kemalangan bertubi-tubi, ada kalanya saya mendapatkan jalan keluar dari arah yang tak disangka. Pertolongan Allah selalu datang pada saya. Sifat Rahman dan Rahiim-Nya memang membuat saya bergelimang syukur.

Suatu ketika, seorang bapak (yang sama sekali tidak saya kenal) memberi ongkos untuk naik bajaj. Beliau merasa iba tatkala tahu bahwa saya tak punya uang untuk ongkos pulang.

Awalnya saya tolak pemberian beliau. Tapi, bapak yang beranjak sepuh itu berkata, “Saya juga punya anak yang sedang merantau. Saya hanya berharap kelak ada yang membantunya saat dia kesulitan”

Masya Allah. Berdesir hati saya. Sepanjang perjalanan pulang, air mata saya menetes tiadak henti. Ucapan bapak tadi membuat saya teringat akan ketulusan hati ayah. Beberapa tahun lalu, ayah pernah mengatakan hal serupa tatkala membantu orang yang kesulitan. Saya rindu ayah dan ibu. Saya ingin pulang.

Lagi-lagi, Allah maha mendengar rintihan hamba-Nya. Dalam doa yang saya langitkan, sungguh, saya sangat rindu ayah dan ibu. Tiada habis rasa sesal, karena saya nekad berbuat hal yang sebenarnya tidak beliau ridhoi.

Subhanallah.. maha suci Allah, beberapa pekan kemudian, ayah menjemput saya ke jakarta. Rindu saya terjawab. Sosok ayah tampak begiru tenang. Tak ada raut amarah di wajah beliau. Padahal, sebelumnya, ayah cukup keras menentang kepergian saya ke jakarta. Beliau meneteskan air mata saat melihat saya. Dengan suara bergetar, beliau berkata, “Ayo kita pulang nak…”

Sepanjang perjalanan menuju surabaya, saya tidur dengan bersandar pada tubuh ayah. Antara rindu yang begitu memuncak dipadu rasa bersalah. Belakangan saya tahu, bahwa beliau berangkat ke jakarta dengan uang hasil ganti rugi warung kami yang terkena gusur. Makin bertambah rasa bersalah saya saat itu, terlebih ketika ibu sempat tidak mengenali saya, karena saya terlihat kurus dan kumal.

Ayah, ibu, maafkan anakmu ini. Betapa ridho orang tua sangat penting bagi kita. Mulai detik ini, saya tak akan melakukan apapun, atau pergi kemanapun, apabila ridho ayah dan ibu belum saya kantongi. Terima kasih sudah menjadi orang tua terbaik  bagi kami.

Thursday, 20 February 2020

Menjaga Kebersihan Lingkungan









Assalamu'alaikum wr wb...
Sahabat, tahukah kita bahwa lingkungan itu merupakan amanat yang harus kita jaga. Allah wajibkan para hamba Nya untuk menjaga kebersihan, kesehatan, dan keindahan lingkungannya. Di antaranya membuang sampah pada tempatnya. Tidak membuangnya di bantaran kali, jalan tempat berlalunya orang, pekarangan, dan selainnya.
وَلَا تُفْسِدُوا فِي الْأَرْضِ بَعْدَ إِصْلَاحِهَا
“Dan janganlah kamu membuat kerusakan di muka bumi, sesudah (Allah) memperbaikinya.” (QS. Al-A’raf: 56)
slam sangat memperhatikan kebersihan. Sering dikatakan, kebersihan sebagian dari iman. Ini menunjukkan bahwa ada hubungan erat antara iman dan prinsip hidup bersih. Seharusnya, seorang muslim menjaga kebersihan dirinya, pakaiannya, dan lingkungannya.
Berikut adalah kegiatan santri yang sedang bersih-bersih lingkungan Pesantren sebelum memulai aktivitas belajar.
Yuk kita jaga kebersihan lingkungan kita!




Thursday, 13 February 2020

Jangan Meremehkan Hal Kecil




Ketika sore sepulang kerja seorang suami melihat isteri yang tertidur pulas karena kecapekan bekerja seharian di rumah. Sang suami mencium kening isterinya dan bertanya, ‘Bunda, udah shalat Ashar belum?’ Isterinya terbangun dengan hati berbunga-bunga menjawab pertanyaan suami, ‘sudah yah.’ Isterinya beranjak dari tempat tidur mengambil piring yang tertutup, sore itu isterinya memasak kesukaan sang suami.
‘Lihat nih, aku memasak khusus kesukaan ayah.’ Piring itu dibukanya, ada sepotong kepala ayam yang terhidang untuk dirinya.
Sang suami memakannya dengan lahap dan menghabiskan. Isterinya bertanya, ‘Ayah, kenapa suka makan kepala ayam padahal aku sama anak-anak paling tidak suka ama kepala ayam.’
Suaminya menjawab, ‘Itulah sebabnya karena kalian tidak suka maka ayah suka makan kepala ayam supaya isteriku dan anak-anakku mendapatkan bagian yang terenak.
Mendengar jawaban sang suami, terlihat butir-butir mutiara mulai menuruni pipinya. Jawaban itu menyentak kesadarannya yang paling dalam. Tidak pernah dipikirkan olehnya ternyata sepotong kepala ayam begitu indahnya sebagai wujud kasih sayang yang tulus kecintaan suami terhadap dirinya dan anak-anak. ‘Makasih ya ayah atas cinta dan kasih sayangmu.’ ucap sang isteri. Suaminya menjawab dengan senyuman, pertanda kebahagiaan hadir didalam dirinya.
Kita seringkali mengabaikan sesuatu yang kecil yang dilakukan oleh sosok ayah kita, namun memiliki makna yang begitu besar, di dalamnya terdapat kasih sayang, cinta, pengorbanan dan tanggungjawab.

Wednesday, 12 February 2020

Rekreasi Bersama Di Teejay Waterpark







Assalamu'alaikum wr wb..

Alhamdulillah, kami segenap pengurus dan seluruh santri Yayasan Rumah Yatim Indonesia mengucapkan banyak terima kasih kepada Teejay Waterpark Tasikmalaya yang telah mengundang kami untuk merasakan serunya berenang bersama. Semua anak-anak turut merasakan bahagia karena bisa berekreasi bersama teman-temannya.








Lelah Akan Hilang, Kebaikan Akan Kekal


Sahabat,lelah saat berbuat kebaikan itu manusiawi. Siapapun terkadang merasakannya. Bahkan beberapa diantaranya ada yang menangis karena lelah yang amat sangat. Kebaikan memang terkadang membuat lelah sementara perbuatan buruk terkadang menyenangkan. Tetaplah pilih yang membuat lelah karena dampaknya kekal dan berdampak panjang.

Kita juga perlu waspada karena terkadang dosa itu datang dengan penampakkan yang menyenangkan dan terkesan membuat kita bahagia. Namun akhirnya, penyesalan berkepanjanganlah balasan yang kita terima. Nikmati saat lelah datang ketika kita berbuat kebaikan.

Kebaikan kadang memang membuat kita lelah, namun ketika lelah itu menghampiri segeralah ingat bahwa ada pahala yang akan kekal abadi. Maka teruslah berbagi tanpa tapi dan berbuat baik tiada henti. Selagi masih muda, selagi nyawa masih di raga, maka jangan pernah berhenti menebar kebaikan di mana pun berada.

Raulullah SAW pernah bersabda, “Tidak akan bergeser kedua kaki anak Adam di hari kiamat dari sisi RabbNya, hingga dia ditanya tentang lima perkara (yaitu): tentang umurnya untuk apa ia habiskan, tentang masa mudanya untuk apa ia gunakan, tentang hartanya dari mana ia dapatkan, dan dalam hal apa (hartanya tersebut) ia belanjakan serta apa saja yang telah ia amalkan dari ilmu yang dimilikinya.”  (HR. at-Tirmidzi)

Sebab itulah mengapa kita jangan pernah merasa bosan untuk berbuat baik, karena sekecil apapun kebaikan yang kita lakukan pasti akan Allah balas dengan sempurna. Contohnya, bila Anda membantu orang maka percayalah saat Anda mengalami kesulitan, tentu Allah datangkan bantuan Anda dari berbagai arah dan dengan cara yang mungkin tidak Anda sangka.

Melakukan kebaikan itu ibarat menanam bibit pohon yang dapat berbuah, butuh yang namanya kesabaran untuk menjadikannya tetap tumbuh dan pada akhirnya berbuah. Lalu ketika berbuah, maka kita sendiri yang akan menikmatinya dengan penuh rasa bangga dan bahagia.