Telp. 0265-2351868 | WA 0878 8555 4556

Kisah Inspiratif

Smart Family

Tafakur

Terbaru

Friday, 16 April 2021

Puasamu Penghalang Dari Api Neraka

Rasulullah _shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:”Puasa adalah perisai yang dapat melindungi seorang hamba dari siksa neraka.” (HR. Ahmad)

Dari Abu Sa’id radhiyallahu ‘anhu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam juga bersabda:“Barangsiapa melakukan puasa satu hari di jalan Allah (dalam melakukan ketaatan pada Allah), maka Allah akan menjauhkannya dari neraka sejauh perjalanan 70 tahun.” (HR. Bukhari no. 2840)

Laksanakanlah puasa, karena puasa memiliki keutamaan yang sangat besar. 

Jangan karena merasa lapar sedikit, lalu melihat dapur yang ada makanan seketika kita berpura-pura menjadi lemas seakan-akan tidak kuat lagi menjalaninya.

Mantapkanlah niat, karena Allah tidak akan pernah menyia-nyiakan amalan seorang hamba sekecil apapun itu,semua yang mendorong kepada keburukan itu adalah bisikan setan, maka berdo'alah meminta pertolongan dari Allah dan Allah telah menjamin surga yang dikhususkan bagi siapa saja yang gemar berpuasa, 

Dari Sahl bin Sa’ad, dari Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam beliau besabda:“Sesungguhnya di surga ada suatu pintu yang disebut “ar rayyan". Orang-orang yang berpuasa akan masuk melalui pintu tersebutpada hari kiamat. Selain orang yang berpuasa tidak akan memasukinya. Nanti orang yang berpuasa akan diseru, “Mana orang yang berpuasa?” Lantas mereka pun berdiri, selain mereka tidak akan memasukinya. Jika orang yang berpuasa tersebut telah memasukinya, maka akan tertutup dan setelah itu tidak ada lagi yang memasukinya.“(HR. Bukhari no. 1896 dan Muslim no. 1152)

Wallahu a'lam 

Thursday, 15 April 2021

Taubatnya Pelanggar Hukum Puasa



Pada saat Bulan Ramadhan, Rasulullah Muhammad SAW sedang duduk-duduk bersama dengan para sahabat. Rasulullah didatangi secara tiba-tiba oleh seorang laki-laki yang tampak sedang berjalan ke arah beliau shalallahu ‘alaihi wasallam. Dari kejauhan, ia berteriak-teriak, “Celakalah aku! Celakalah aku! Wahai Rasulullah, sungguh aku telah celaka!” Kata pria itu.

“Ada apa, wahai hamba Allah?” tanya Nabi SAW.

“Aku telah menggauli istriku, padahal ini di siang hari bulan Ramadhan ketika diriku dan dia berpuasa,”

Rasulullah SAW tidak lantas menegur dan memarahinya. Karena, beliau melihat kesungguhan orang itu dalam bertaubat dan menyadari perbuatannya dan ingin lepas dari dosanya lantaran melanggar ketentuan berpuasa Ramadhan.

Maka, Rasulullah SAW membimbingnya agar menunaikan salah satu dari kafarat-kafarat yang ada. “Apakah engkau bisa mendapatkan seorang budak untuk kemudian dimerdekakan?”

“Orang sepertiku mana mungkin sanggup membeli atau memiliki seorang budak, ya Rasulullah,”

“Mampukah engkau berpuasa selama dua bulan berturut-turut?”

“Wahai Rasulullah, puasa 30 hari Ramadhan saja aku tak sanggup menahan dari menggauli istriku. Bagaimana mungkin dengan dua kali lipatnya dari itu? Sungguh, aku tak bisa,” katanya dengan nada memelas.

Lantas, beliau menyampaikan pilihan kafarat terakhir. “Apakah engkau mampu memberi makan kepada 60 orang miskin?”

Lagi-lagi, lelaki itu menyatakan ketidaksanggupannya. “Wahai Rasulullah, dari mana aku dapat uang untuk memberi makan puluhan orang miskin?”.

Akhirnya, Rasulullah SAW terdiam. Itu mengisyaratkan, beliau belum mengambil satu keputusan apa pun atau sedang menunggu turunnya wahyu dari Allah SWT terkait perkara yang sedang dihadapinya.

Tak lama kemudian, seseorang dari kalangan Anshar mendekati beliau. Rasulullah SAW menjawab salamnya dan menerima keperluannya. Rupanya, orang itu datang dengan membawa satu keranjang penuh berisi kurma.

“Wahai Rasulullah, ini aku membawa kurma-kurma untuk kuhadiahkan kepada engkau,” ujarnya.

Nabi SAW menerima pemberian itu dengan senyum dan mendoakan orang Anshar itu. Lalu, beliau kembali memanggil lelaki yang telah batal puasanya tadi.

“Wahai hamba Allah, silakan ambil seluruh kurma ini dan bersedekahlah dengannya sebagai kafarat yang wajib engkau keluarkan karena telah melanggar puasa,”

“Ya Rasulullah, apakah ada orang selainku yang layak mendapatkan kurma-kurma ini? Dari ujung barat hingga timur Kota Madinah ini, tak ada satu pun orang yang lebih fakir dariku. Karenanya, bukankah aku lebih membutuhkan kurma-kurma ini?”

Mendengar jawabannya, Rasulullah SAW pun tertawa sampai-sampai gigi seri beliau terlihat. Beliau tertawa lantaran merasa takjub dengan keadaan orang ini. Ia awalnya datang tergesa-gesa kepada Nabi SAW dengan wajah muram karena takut akan dosa yang telah dilakukannya. Namun, ia sekarang justru menginginkan pemberian.

Rasulullah SAW bersabda, “Sedekahkanlah kurma-kurma ini kepada keluargamu.”
Lelaki itu pun pulang dengan wajah gembira. Betapa tidak? Bukannya dibebani hukuman, ia justru kembali ke rumah dengan sekeranjang penuh kurma.

 

Mengajarkan Puasa Pada Anak Sejak Dini

Cara mengajarkan puasa pada anak sangat dibutuhkan bagi para orangtua, yang ingin memperkenalkan sejak dini tentang puasa pada anaknya. Memang, anak kecil yang belum memasuki masa puber belum diwajibkan untuk menjalankan puasa Ramadan. Namun, tidak ada salahnya sebagai orangtua untuk mengenalkan puasa Ramadan kepada anak sejak dini.

Cara mengajarkan puasa pada anak sejak dini ini bertujuan agar saat menginjak masa puber dan sudah wajib menjalankan puasa Ramadan, anak sudah bisa menjalankan puasa dengan baik. Ya, memperkenalkan anak pada ibadah puasa bukanlah hal yang mudah. Namun ini merupakan salah satu tanggung jawab sebagai orangtua untuk mengajarkan anak berpuasa secara bertahap dan perlahan.

Lalu, bagaimana cara mengajarkan puasa pada anak yang tepat agar menjadi hal yang biasa untuk anak?

Menjelaskan Konsep Puasa pada Anak

Walaupun anak Kita mungkin belum mengerti, namun penting bagi orang tua untuk menjelaskan maksud dan manfaat dari puasa Ramadan ini.

Memberikan Contoh Berpuasa pada Anak

Setelah menjelaskan konsep berpuasa, Kita bisa juga mengajarkan anak untuk ikut puasa yang dimulai dengan memberikan contoh. Hal ini akan membuat anak Kita lebih mudah mempraktikkannya. Kita bisa memberikan contoh melalui diri Kita sendiri.

Mulailah Secara Bertahap

Kemudian Kita bisa melatih anak untuk berpuasa secara bertahap sesuai dengan kemampuan fisik anak. Awali saja dengan puasa yang hanya dilakukan sampai waktu Zuhur terlebih dahulu selama beberapa hari. Kemudian bisa melanjutkan berpuasa hingga waktu Asar.

Kalau anak Kita sudah merasa kuat, boleh mencoba berpuasa hingga waktu beduk Maghrib.

Melakukan Kegiatan Seru Saat Ngabuburit

Oleh karena itu, Kita perlu menyiapkan berbagai kegiatan seru untuk mengisi waktu berbuka agar anak Kita tetap semangat melanjutkan puasanya hingga Maghrib. 

Memberikan Penghargaan pada Anak

Saat Kita mengajarkan anak untuk ikut menjalankan ibadah puasa, jangan lupa juga untuk memberikannya apresiasi. Ya, hal ini tidak kalah pentingnya dari mengajarkan anak untuk berpuasa. Memberikan apresiasi pada anak juga menjadi salah satu hal yang tak kalah penting.

Tidak melulu hadiah, cukup dengan memberikan pujian dan mengatakan bahwa anak Kita adalah anak yang hebat


Wednesday, 14 April 2021

Suasana Buka Puasa Hari Pertama


 

Assalamu'alaikum wr wb...

Sahabat, inilah kegiatan buka puasa bersama di Yayasan Rumah Yatim Indonesia di hari pertama puasa.

Alhamdulillah, para santri bisa menikmati hidangan buka puasa yang enak berkat uluran kasih sayang dari para donatur dermawan.

Jazakumullah Khairan Katsiiran







Musuh Terbesar Itu Hawa Nafsu

Suatu ketika Umar bin Khattab memasuki rumah Rasulullah SAW. Dia melihat bekas-bekas lekukan di pipi Rasul disebabkan beliau berbaring di atas jerami. Dan dia melihat ruangan di rumah Rasulullah yang kosong dari perabotan. Sontak meneteslah air matanya melihat pemandangan yang menggugah perasaan, dimana seorang Rasul, seorang penguasa di seluruh Jazirah Arabia, memberikan contoh bagaimana seharusnya hidup yang baik.

Sekarang bagaimana dengan realita kehidupan umat manusia. Ternyata kenikmatan dan kesenangan hidup telah banyak memperbudak seabagian dari pemimpin, pejabat, penegak hokum, pengusaha, maupun masyarakat. Mereka tidak puas dengan harta kekayaan yang mereka miliki, sehingga banyakyang mengejarnya dengan cara-cara yang tidak halal. Untuk menutupi aibnya dan supaya lepas dari jeratan hukum mereka banyak melibatkan (berkolusi) dengan pejabat dan penegak hukum, sehingga tidak heran banyak kasus korupsi yang bebas dari jeratan hukum atau dipeti-eskan. Ini berarti mereka telah mengikuti hawa nafsunya untuk kepuasan dan kesenangan hidupnya. Mereka ini sebenarnya termasuk orang-orang yang menuhankan hawa nafsunya

Allah SWT Berfirman:“ Maka pernahkah kamu melihat orang yang menjadikan hawa nafsunya sebagai tuhannya…” (Q.S. Al Jaatsiyah (45) : 23).

Setan adalah iblis dengan peran dan fungsi baru sebagai penggoda manusia di bumu, setelah dia berhasil merayu Adam dan Hawa memakan buah terlarang, sehingga dikeluarkan dari surge. Setan, musuh yang terkutuk ini sangat pandai membisikkan berbagai kenikmatan dan kesenangan dunia. Akibatnya banyak di antara kita terjerumus, bukan nafsu setan yang kita taklukan, tapi justru kita yang ditundukkan olehnya.

Jika nafsu kita lawan maka dia tidak akan berkutik, sebaliknya bila nafsu ini diikuti, ia akan menyeret manusia untuk menuhankannya.

Rasulullah SAW Bersabda:“ Sesungguhnya setan itu bercokol di hati anak Adam. Apabila ia berdzikir, setan itu mundur mnjauh, bila ia lengah setan berbisi. “ (HR. Bukhari melalui Ibnu Abbas).

Semoga kita mampu mengendalikan musuh besar kita yaitu hawa nafsu yang ada pada diri kita.


Tuesday, 13 April 2021

Keberkahan Makan Sahur

Di bulan Ramadhan ada amalan sunnah yang bisa dijalani yaitu makan sahur. Amalan ini memiliki keutamaan karena dikatakan penuh berkah.

Rasulullah SAW Bersabda:“Makan sahurlah kalian karena dalam makan sahur terdapat keberkahan.” (HR. Bukhari no. 1923 dan Muslim no. 1095).

Yang dimaksud barokah adalah turunnya dan tetapnya kebaikan dari Allah pada sesuatu. Barokah bisa mendatangkan kebaikan dan pahala, bahkan bisa mendatangkan manfaat dunia dan akhirat. Namun patut diketahui bahwa barokah itu datangnya dari Allah yang hanya diperoleh jika seorang hamba mentaati-Nya.

Adapun keberkahan dalam makan sahur sebagai berikut:

Memenuhi perintah Rasul shallallahu ‘alaihi wa sallam.

Sebagaimana firman Allah SWT : “Dan barangsiapa mentaati Allah dan Rasul-Nya, maka sesungguhnya ia telah mendapat kemenangan yang besar.” (QS. Al Ahzab: 71).

Dengan makan sahur, keadaan fisik lebih kuat dalam menjalani puasa. Beda halnya dengan orang yang tidak makan sahur.

Waktu makan sahur adalah waktu yang diberkahi. Karena ketika itu, Allah turun ke langit dunia. 

Waktu sahur adalah waktu utama untuk beristighfar. 

Sebagaimana orang yang beristighfar saat itu dipuji oleh Allah dalam beberapa ayat, “Dan orang-orang yang meminta ampun di waktu sahur.”  (QS. Ali Imran: 17).

Semoga kita semua bias mendapatkan keberkahan di dalam makan sahur.

Aamiin ya robbal’alamin

Friday, 9 April 2021

Kisah Seorang Pemalas Dan Mudah Putus Asa



Pada suatu hari, Imam Abu Hanifah sedang berjalan-jalan. Ia melalui sebuah rumah yang jendelanya terbuka Tiba-tiba beliau mendengar suara orang yang sedang menangis ersedu-sedu dari dalam rumah itu.


"Aduhai alangkah malangnya nasibku, tiada seorang pun yang lebih malang daripada ku, sejak pagi belum ada makana atau segelas air pun masuk ke kerongkonganku, seuruh badanku menjadi lemah, manakah hati yang berbelas kasih, sudilah memberiku air walaupun setitik."


Mendengar keluhan tersebut, Abu Hanifah merasa kasihan. Beliaupun balik ke rumahnya dan mengambil bungkusan yang hendak diberikan kepada orang tersebut.


Sesampainya di sana, melalui jendela yang terbuka ia lemparkan bungkusan berisi uang kepada orang yang malang itu. Tanpa berbasa basi, Imam Abu Hanifah lalu pergi begitu saja melanjutkan perjalanannya.


Sementara itu, si malang pemalas merasa terkejut setelah menerima sebuah bungkusa dilempar dari jendela, yang ia tidak tahu siapa pemberinya. Ia pun membuka bungkusan itu dengan tergesa-gesa. Di dalamnya ia melihat sejumlah uang, dan secarik kertas yang berisi tulisan.


"Hai manusia, sungguh tidak wajar kamu mengeluh seperti itu, kamu tidak perlu mengeluh atas peruntungan nasib. Ingatlah pada kebaikan Allah Swt. Memohon lah terus kepada Allah, sungguh-sungguhlah dalam berdoa, janganlah berputus asa, dan sungguh-sungguhlah berusaha.


Keesokan harinya, Imam Abu Hanifah melewati rumah yang sam, dan suara keluhan kembali terdengar dari dalamnya. "Ya Allah Yang Maha Pemurah, sudilah kiranya memberi bungkusan seperti kemarin, sekadar untuk menenangkan hidupku yang melarat ini. Tuhan, jika tak engkau berikan maka lebih sengsara hidupku."


Mendengar keluhan itu, Abu Hanifah melemparkan lagi bungkusan berisi uang dan secarik kertas  berisi "Hai kawan, bukan begitu cara bermohon, bukan demikian cara berusaha Perbuatan demikian 'malas' namanya. Engkau telah putus asa pada kekuasaan Allah, sesungguhnya Allah tidak suka melihat orang pemalas dan putus asa, yang enggan bekerja untuk keselamatan dirinya."


Akhirnya si pemalas meras tersadar dan tertampar.