Telp. 0265-2351868 | WA 0878 8555 4556 | BBM 5AE49B09

Kisah Inspiratif

Smart Family

Tafakur

Terbaru

Saturday, 22 September 2018

World Cleanup Day









Assalamu'alaikum wr wb,
Sahabat, Alhamdulillah adik-adik kita telah diberikan kesempatan yang berharga dengan mendapatkan edukasi yang bermanfaat dalam kegiatan yang bertajuk WORLD CLEANUP DAY. Bersama RSBS (Rumah Sampah Berbasis Sekolah), adik-adik kita diajarkan untuk bisa memanfaatkan barang bekas khususnya yang berbahan plastik untuk menjadi kerajinan ataupun barang yang bisa dimanfaatkan untuk kehidupan sehari-hari.
Kegiatan ini dimulai dengan pembekalan materi tentang pemanfaatan barang bekas plastik, lalu dilanjutkan dengan mengumpulkan barang-barang bekas di sekitar lingkungan pesantren, dan diakhiri dengan pembuatan barang bekas plastik menjadi kerajinan. Alhamdulillah sebagian besar adik-adik kita bisa membuat kerajinannya dengan baik.









Jangan Pernah Lukai Hati Ibumu


Apa yang telah kita perbuat bagi sang ibu? Meski kita merasa telah memberikan segala kebutuhannya, itu belum cukup untuk membalas perjuangannya membesarkan kita.

Ya, mulai dari ia mengandung, melahirkan, menyusui hingga mendidik kita hingga kini, semua itu membutuhkan perjuangan yang ekstra. Dan kita tak akan mungkin mampu melakukan hal yang sama pada ibu.

Meski kita tak akan mungkin mampu membalas semua kebaikan yang ibu berikan pada kita, setidaknya kita jangan sampai menyusahkannya. Ya, memang banyak sekali di antara kita yang masih melukai hati sang ibu. Ia lupa bahwa ibunya memiliki jasa besar padanya.

Satu hal yang jangan sampai kita lupa ialah jasa ibu kita. Dari situ, akan menimbulkan rasa bahwa menghormati ibu menjadi suatu kewajiban bagi kita. Dan hal yang paling penting ialah jangan sampai kita termasuk orang-orang yang durhaka pada ibu. Sebab hal inilah yang dilarang oleh Allah Subhanahu wa Ta’ala dan Rasul-Nya.

Dalam sebuah hadis Rasulullah SAW bersabda, “Sesungguhnya Allah Ta’ala mengharamkan kalian berbuat durhaka kepada ibu-ibu kalian, mengubur anak perempuan hidup-hidup, menolak kewajiban dan menuntut sesuatu yang bukan menjadi haknya. Allah juga membenci jika kalian menyebarkan kabar burung (desas-desus), banyak bertanya, dan menyia-nyiakan harta,” (Hadis shahih, riwayat Bukhari, no. 1407; Muslim, no. 593, Al-Maktabah Asy-Syamilah).

Ibnu Hajar memberi penjelasan sebagai berikut, “Dalam hadis ini disebutkan ‘sikap durhaka’ terhadap ibu, karena perbuatan itu lebih mudah dilakukan terhadap seorang ibu. Sebab, ibu adalah wanita yang lemah. Selain itu, hadis ini juga memberi penekanan, bahwa berbuat baik kepada ibu harus lebih didahulukan daripada berbuat baik kepada seorang ayah, baik itu melalui tutur kata yang lembut, atau limpahan cinta kasih yang mendalam,”

Jika kita mengaku beriman kepada Allah, maka jangan biarkan diri kita termasuk orang-orang yang durhaka kepada ibu. Sebab, ridha Allah tergantung dari ridha ibu juga. Maka, membahagiakan ibu adalah langkah penting yang harus dilakukan seorang anak pada ibunya.


Friday, 21 September 2018

Sedekah Vs Logika Hitungan Matematika










Saya menduga ia berasal dari kelas sosial terpandang dan mapan. Karena penampilannya rapih, menarik dan wajah yang tampan. Namun tidak seperti yang saya duga, Mas Ajy berasal dari keluarga yang pas-pasan. Jauh dari mapan. Sungguh kontras kenyataan hidup yang dialaminya dengan sikap hidup yang dijalaninya. Sangat jelas saya lihat dan saya pahami dari beberapa kali perbincangan yang kami bangun.


Satu kali kami bicara tentang penghasilan sebagai guru. Bertukar informasi dan memperbandingkan nasib kami satu dengan yang lain, satu sekolah dengan sekolah lainnya. Kami bercerita tentang dapur kami masing-masing. Hampir tidak ada perbedaan mencolok. Kami sama-sama bernasib "guru" yang katanya pahlawan tanpa tanda jasa. Yang membedakan sangat mencolok antara saya dan Mas Ajy adalah sikap hidupnya yang amat berbudi. Darinya saya tahu hakikat nilai di balik materi.

Penghasilannya sebulan sebagai guru kontrak tidak logis untuk membiayai seorang isteri dan dua orang putra-putrinya. Dia juga masih memiliki tanggungan seorang adik yang harus dihantarkannya hingga selesai SMA. Sering pula Mas Ajy menggenapi belanja kedua ibu bapaknya yang tak lagi berpenghasilan. Menurutnya, hitungan matematika gajinya barulah bisa mencukupi untuk hidup sederhana apabila gajinya dikalikan 3 kali dari jumlah yang diterimanya.

"Tapi, hidup kita tidak seluruhnya matematika dan angka-angka. Ada dimensi non matematis dan di luar angka-angka logis."

"Maksud Mas Ajy gimana, aku nggak ngerti?"


"Ya, kalau kita hanya tertuju pada gaji, kita akan menjadi orang pelit. Individualis. Bahkan bisa jadi tamak, loba. Karena berapapun sebenarnya nilai gaji setiap orang, dia tidak akan pernah merasa cukup. Lalu dia akan berkata, bagaimana mau sedekah, untuk kita saja kurang."

"Kenyataannya memang begitu kan Mas?", kata saya mengiayakan. "Mana mungkin dengan gaji sebesar itu, kita bisa hidup tenang, bisa sedekah. Bisa berbagi." Saya mencoba menegaskan pernyataan awalnya.

"Ya, karena kita masih menggunakan pola pikir matematis. Cobalah keluar dari medium itu. Oke, sakarang jawab pertanyaan saya. Kita punya uang sepuluh ribu. Makan bakso enam ribu. Es campur tiga ribu. Yang seribu kita berikan pada pengemis, berapa sisa uang kita?"

"Tidak ada. Habis." jawab saya spontan.

"Tapi saya jawab masih ada. Kita masih memiliki sisa seribu rupiah. Dan seribu rupiah itu abadi. Bahkan memancing rezeki yang tidak terduga."

Saya mencoba mencerna lebih dalam penjelasannya. Saya agak tercenung pada jawaban pasti yang dilontarkannya. Bagaimana mungkin masih tersisa uang seribu rupiah? Dari mana sisanya?

"Mas, bagaimana bisa. Uang yang terakhir seribu rupiah itu, kan sudah diberikan pada pengemis ", saya tak sabar untuk mendapat jawabannya.

"Ya memang habis, karena kita masih memakai logika matematis. Tapi cobalah tinggalkan pola pikir itu dan beralihlah pada logika sedekah. Uang yang seribu itu dinikmati pengemis. Jangan salah, bisa jadi puluhan lontaran doa keberkahan untuk kita keluar dari mulut pengemis itu atas pemberian kita. Itu baru satu pengemis. Bagaimana jika kita memberikannya lebih. Itu dicatat malaikat dan didengar Allah. Itu menjadi sedekah kita pada Allah dan menjadi penolong di akhirat. Sesungguhnya yang seribu itulah milik kita. Yang abadi. Sementara nilai bakso dan es campur itu, ujung-ujungnya masuk WC."

Subhanallah. Saya hanya terpaku mendapat jawaban yang dilontarkannya. Sebegitu dalam penghayatannya atas sedekah melalui contoh kecil yang hidup di tengah-tengah kita yang sering terlupakan. Sedekah memang berat. Sedekah menurutnya hanya sanggup dilakukan oleh orang yang telah merasa cukup, bukan orang kaya. Orang yang berlimpah harta tapi tidak mau sedekah, hakikatnya sebagai orang miskin sebab ia merasa masih kurang serta sayang untuk memberi dan berbagi.

Penekanan arti keberkahan sedekah diutarakannya lebih panjang melalui pola hubungan anak dan orang tua. Dalam obrolannya, Mas Ajy seperti ingin menggarisbawahi, bahwa berapapun nilai yang kita keluarkan untuk mencukupi kebutuhan orang tua, belum bisa membayar lunas jasa-jasanya. Air susunya, dekapannya, buaiannya, kecupan sayangnya dan sejagat haru biru perasaanya. Tetapi di saat bersamaan, semakin banyak nilai yang dibayar untuk itu, Allah akan menggantinya berlipat-lipat.

“Terus, gimana caranya Mas, agar bisa menyeimbangkan nilai metematis dengan dimensi sedekah itu?”.

“Pertama, ingat, sedekah tidak akan membuat orang jadi miskin, tapi sebaliknya menjadikan ia kaya. Kedua, jangan terikat dengan keterbatasan gaji, tapi percayalah pada keluasan rizki. Ketiga, lihatlah ke bawah, jangan lihat ke atas. Dan yang terakhir, padukanlah nilai qona’ah, ridha dan syukur”. Saya semakin tertegun

Dalam hati kecil, saya meraba semua garis hidup yang telah saya habiskan. Terlalu jauh jarak saya dengan Mas Ajy. Terlalu kerdil selama ini pandangan saya tentang materi. Ada keterbungkaman yang lama saya rasakan di dada. Seolah-oleh semua penjelasan yang dilontarkannya menutup rapat egoisme kecongkakan saya dan membukakan perlahan-lahan kesadaran batin yang telah lama diabaikan. Ya Allah saya mendapatkan satu untai mutiara melalui pertemuan ini. Saya ingin segera pulang dan mencari butir-butir mutiara lain yang masih berserak dan belum sempat saya kumpulkan.

Wednesday, 19 September 2018

Belajar Bahasa Asing











Sahabat, berikut adalah potret kegiatan belajar mengajar bahasa asing yang sedang berlangsung hari ini di Rumah Yatim Indonesia. Bahasa asing yang sedang dipelajari adalah Bahasa Arab dan Bahasa Inggris. Doakan kami ya sahabat, semoga semua ilmu yang kami pelajari bisa bermanfaat untuk semua dan bisa diaplikasikan dalam kehidupan sehari-hari. Aamiin....








Kehidupan Dunia Hanyalah Tipu Daya



Sahabat, dunia Bagaikan fatamorgana.Ia adalah kehidupan yang tidak abadi, kebahagiaan yang menipu, dan kesenangan yang semu. Namun, sangat disayangkan masih saja banyak yang tertipu. Apakah mereka ini tidak tahu, atau pura-pura tidak tahu akan hakikat dunia yang sebenarnya? Dunia ini fana, dan kenikmatan di dalamnya juga sementara. 


Inilah dunia yang banyak membuat orang teperdaya. Ia tak lain sekadar permainan yang hasilnya hanya kecapekan dan kelalaian belaka. Dunia menyibukkan orang dari hal-hal yang bermanfaat untuk kehidupan akhirat. Dunia tak lebih dari sebuah tanaman yang tumbuh subur di musim hujan, yang tidak seberapa lama kemudian layu dan mengering di musim kemarau. Dan akhirnya bak anai-anai yang beterbangan ditiup angin. Sungguh, betapa cepatnya tanaman itu binasa.

Dunia ini Tak ubahnya seperti sebuah ruang ujian. Di mana engkau tidak lebih dari seorang peserta ujian yang hanya diberi waktu terbatas untuk mengerjakan soal-soal ujian itu. Begitu pula manusia di dunia ini, ia selalu menghadapi ujian, semenjak baligh sampai meninggal dunia. Peserta ujian akan menggunakan waktu dengan sebaik-baiknya, terlebih jika masa ujian sudah dekat. Sedangkan manusia masih saja berleha-leha dan lalai, padahal ia tidak tahu kapan waktu ajalnya tiba. Bisa lusa, besok, ataupun nanti.

Para peserta ujian masih punya kesempatan untuk mengulangi ujiannya jika gagal di ujian pertama itu. Sedangkan ujian hidup ini cuma sekali, tidak ada kesempatan kedua. Jika manusia gagal di ujian yang hanya sekali itu, berarti ia gagal untuk selama-lamanya. Oleh karena itu, gunakanlah waktu dengan sebaik-baiknya, karena penyesalan di hari esok tiada guna. Peserta ujian bisa beralasan kenapa gagal ujian. Sedangkan kita, apa yang akan kita ajukan? 

Al-Qur`an sudah diturunkan, Rasul sudah diutuskan, halal dan haram sudah dijelaskan, dan jalan yang menuju ke surga maupun ke neraka juga sudah ditunjukkan. Bahkan engkau sendiri pun sudah dibekali dengan akal pikiran,bukankah itu untuk membedakan antara kebenaran dan kebatilan?

Rasulullah SAW Bersabda:“Ada kecintaan apa aku dengan dunia? Aku di dunia ini tak lain, kecuali seperti seorang pengendara yang mencari teteduhan di bawah pohon untuk beristirahat sejenak, lalu meninggalkannya.” (HR. At-Tirmidzi No. 2377)

Sahabat,berusahalah agar hasil dari ujianmu di dunia ini baik dan memuaskan. Jadikanlah iman kepada Allah dan amal saleh sebagai bekalmu selalu. Hiduplah di dunia ini seolah-olah engkau dalam perjalanan yang jauh dan jadikanlah ia sebagai ladang untuk akhiratmu.

Monday, 17 September 2018

Belajar Sedekah Dari Istri Rasulullah








Sosok wanita yang pernikahannya Allah firmankan dalam Al-Quran. Tak lain dan tak bukan ialah Zainab Binti Jahsy. Seorang wanita salihah yang dinikahi Rasulullah saw. selepas menyandang status janda pasca bercerai dengan Zaid bin Haritsah, Sang Budak Rasulullah.

Zainab termasuk wanita pertama yang memeluk Islam. Allah pun telah menerangi hati ayah dan keluarganya sehingga memeluk Islam. Dia hijrah ke Madinah bersama keluarganya. Zainab termasuk wanita yang taat dalam beragama, wara’, dermawan, dan baik. Selain itu, dia juga dikenal mulia dan cantik, serta termasuk wanita terpandang di Makkah.

Zainab radhiyallahu ‘anha adalah seorang wanita shalihah, bertakwa dan tulus imannya. Hal itu dinyatakan sendiri oleh Sayyidah Aisyah tatkala berkata, “Aku tidak melihat seorangpun yang lebih baik diennya dari Zainab, lebih bertakwa kepada Allah, dan paling jujur perkataannya, paling banyak menyambung silaturrahim, dan paling banyak shadaqah, paling bersungguh-sungguh dalam beramal dengan jalan shadaqah dan taqarrub kepada Allah subhanahu wata’ala (dalam As-Samthuts Tsamin no. 110, al-Istii’ab (IV/1851) dan al-Ishabah (VIII/93).

Beliau radhiyallahu ‘anha adalah seorang wanita yang mulia dan baik. Beliau bekerja dengan kedua tangannya, beliau menyamak kulit dan menyedekahkannya di jalan Allah yakni beliau bagi-bagikan kepada orangorang miskin. Tatkala Aisyah mendengar berita wafatnya Zainab beliau berkata, “Telah pergi wanita yang mulia dan rajin beribadah, menyantuni para yatim dan para janda.”
Masyaallah, sungguh sejatinya kisah Zainab Binti Jahsy ini penuh dengan nilai inspirasi dan motivasi, khususnya untuk para istri. Sosok salihah nan tangguh sungguh layak untuk diteladani. Dia berdaya upaya menyamak kulit untuk mencari pos sedekah mandiri. Meski Rasulullah dengan baik menafkahi, tetapi ia rela bersusah payah mencari kepingan dirham untuk bisa disumbangkan sebagai upaya sedekah mandiri.

Pelajaran berarti untuk para istri di masa kini. Walau kewajiban utama istri adalah taat kepada suami. Namun, ketaatan kepada Allah di atas segalanya. Jika suami meridhoi istri untuk mencari pos sedekah mandiri tanpa mengabaikan kewajibannya sebagai manajer rumah tangga dan sekolah pertama bagi buah hatinya, mengapa tidak untuk lebih produktif seperti halnya Zainab Binti Jahsy. Adanya mencari pendapatan tambahan semata untuk dapat dibelanjakan di jalan Allah.

Seorang istri pun hamba Allah yang berupaya mempersembahkan amal terbaik di hadapan Sang Pencipta. Adanya menempa diri dengan iman, ilmu agama juga takwa. Ia berupaya hidup ada dalam keridhoan Allah subhanahu wata’ala juga suaminya. Hal demikian dilakukan demi meraih surga.

Wahai para istri, marilah kita jadikan para sohabiah zaman Rasulullah untuk potret ideal dalam menjalani hidup. Mereka merupakan sosok yang berislam secara kaffah. Lisannya mulia untuk mengemban dakwah. Sikapnya senantiasa terikat kepada hukum syara. Karena mereka begitu menyadari bahwa akhiratlah kehidupan sejati, sementara dunia hanyalah fana. Wallahu’alam bishowab.

“Sesungguhnya orang-orang yang bersedekah baik laki-laki maupun perempuan dan meminjamkan kepada Allah dengan pinjaman yang baik, niscaya akan dilipatgandakan (pahalanya) kepada mereka dan bagi mereka pahala yang banyak“. (QS. Al-Hadid: 18)


Friday, 14 September 2018

Wakaf Gedung Pendidikan Yatim Dhuafa


Alhamdulillah, tak ada kata yang patut kita ucapkan kecuali rasa syukur yang sedalam-dalamya kepada Allah yang telah mengaitkan hati kita menjadi hamba yang senantiasa ingin memberikan manfaat kepada banyak orang. 

Serta terima kasih yang sebesar besarnya atas kebersamaan kita selama ini bersama Rumah Yatim Indonesia untuk merealisasikan berbagai macam Program- Program Amal Sholeh, dan Alhamdulillah begitu banyak yang sudah kita realisasikan. Semoga kita diberi kemampuan mengantar anak-anak yang kita cintai dalam naungan pendidikan yang diridhoi Allah SWT, Aamiin

Ada 381 santri Generasi Mandiri Yatim Dhuafa kita yang sedang mendapatkan pembinaan di Kampus Pusat Rumah Yatim Indonesia, saat ini belum ada fasilitas (GEDUNG) khusus untuk kenyamanan belajar para santri, dan masih menggunakan fasilitas seadanya.

Untuk itu pada kesempatan ini kami mengajak kepada sahabat semua untuk dapat membantu kami dalam menyelesaikan pembangunan Gedung untuk belajar para santri Yatim, Dhuafa dan penghafal qur'an, supaya lebih nyaman untuk mencari ilmu.

Berapapun nilai Amal Sholeh kita yang telah kita investasikan untuk program mulai kita ini kelak pastilah Allah SWT tidak akan ingkar janji, 

"Dan apa saja yang kamu infaqkan di jalan Allah, niscaya akan dibalas dengan cukup kepadamu, dan kamu tidak akan dianiaya (dirugikan)” (Qs Al-Anfaal 60).

Inilah fasilitas sarana pendidikan yang kita bangun bersama, sedikit demi sedikit, disini bukan hanya membangun fisiknya tapi manusia yang ada didalamnya yang akan menjadi Generasi Sholeh Penerus segala bentuk AMAL SHOLEH kita,

Selama Bumi ini belum digulung oleh Allah Swt, maka Gedung yang kita bangun ini akan mengalirkan Pahala yang tak berputus hingga kita beristirahat di Alam Barzah bahkan akan menemui kita lagi nanti di Akhirat sebagai bekal untuk SELAMAT dari jilatan Neraka, 

INGIN TERLIBAT DALAM INVESTASI MULIA INI ? 

Silahkan ikutan Program Wakaf Pembangunan Gedung Pendidikan Rumah Yatim Indonesia, paket wakaf mulai Rp. 100.000,-

Caranya ? 

Transfer dana wakaf kita ke rekening dibawah ini, Setelah Transfer silahkan Konfirmasi dengan format sebagai berikut :

" Bismillah, Nama, Niat Wakaf untuk Pembangunan Gedung Pendidikan Yatim, Dhuafa dan Penghafal Qur'an Rp................. karena Allah SWT untuk Kemuliaan Islam dan Kaum Muslimin " lalu kirim ke WA 087885554556

Wawan Ismawan 
Ketua Harian Rumah Yatim Indonesia 
Hp 085777772310

Alamat Pusat Kegiatan: Jl Bandung Blok II No 140 Perumnas Kotabaru Cibeureum Tasikmalaya Tlp 0265-2351868