Telp. 0265-2351868 | WA 0878 8555 4556 | BBM 5AE49B09

Kisah Inspiratif

Smart Family

Tafakur

Terbaru

Saturday, 9 December 2017

Mengeluh, Gejala Penyakit Yang Tak Bersyukur










Allah Swt. berfirman dalam QS An-nahl : 18, artinya : “Dan jika kamu menghitung nikmat Allah, niscaya kamu tidak dapat menentukan jumlahnya.”

Ketika seseorang hanyut dalam keluhan, panca indranya pun tak mampu lagi memainkan peranannya untuk melihat, mendengar, mencium dan merasakan nikmat yang bertebaran diberikan oleh Allah Swt. Tak henti-hentinya, hatinya serta merta buta dari mengingat dan bersyukur atas nikmat Allah yang tiada terbatas. Ia kehilangan akal sehatnya dan jiwanya sakit karena tidak bisa melihat masalah dengan jernih. Hatinya panas, pikiran panas dan tak tenang. Itulah sifat manusia yang selalu mempunyai keinginan yang tidak terbatas dan tidak pernah puas atas pemberian Allah kecuali hamba-hamba yang bersyukur dan itu hanya sedikit.

Pada zaman Sayyidina Umar al-Khattab, ada seorang pemuda yang sering berdo’a di sisi Baitullah yang maksudnya: “Ya Allah! Masukkanlah aku dalam golongan yang sedikit. Doa beliau didengar oleh Sayyidina Umar ketika beliau (Umar) sedang melakukan tawaf di Ka’bah. Umar heran dengan permintaan pemuda tersebut. Selepas melakukan tawaf, Sayyidina Umar memanggil pemuda tersebut dan bertanya, “Mengapa engkau berdoa sedemikian rupa (Ya Allah! masukkanlah aku dalam golongan yang sedikit), apakah tidak ada permohonan lain yang engkau mohonkan kepada Allah?”

Pemuda itu menjawab, “Ya Amirul Mukminin! Aku membaca doa itu karena aku takut dengan penjelasan Allah dalam surah Al-A’raaf ayat 10, yang artinya: ‘Sesungguhnya Kami (Allah) telah menempatkan kamu sekalian di muka bumi dan Kami adakan bagimu di muka bumi (sumber/jalan) penghidupan. (Tetapi) amat sedikitlah kamu bersyukur’. Aku memohon agar Allah memasukkan aku dalam golongan yang sedikit, (lantaran) terlalu sedikit orang yang tahu bersyukur kepada Allah,” jelas pemuda tersebut.

Semoga kita menjadi hamba-hamba yang dikategorikan sedikit oleh Allah dalam ayat tersebut. Dengan selalu menjaga ikhlas dan sabar terhadap segala kejadian atau ketentuan yang diberikan oleh Allah. Dan berprasangka positif bahwa apa yang telah terjadi adalah yang terbaik menurut Allah, sehingga hanya rasa syukur saja yang terlintas di benak, terucap di bibir dan terlihat dari tindakan karena sesungguhnya jika kita bersyukur maka Allah akan menambah nikmat-Nya dan jika kita ingkar, sesunggunya azab Allah sangat pedih (QS Ibrahim:7).

Thursday, 7 December 2017

Bahaya Mencampuri Urusan Orang Lain








Berikut ini beberapa kisah yang mungkin pernah kita baca, yang bisa kita jadikan cermin.

Seorang saudara laki-lakinya bertanya saat kunjungan seminggu setelah ia melahirkan, ia bertanya, “Hadiah apa yang diberikan suamimu setelah engkau melahirkan?”

“Tidak ada,” jawabnya pendek.

Saudaranya bertanya lagi, “Masak sih? Apa engkau tidak berharga di sisinya? Aku bahkan sering memberi hadiah istriku walau tanpa alasan yang istimewa.”

Siang itu, ketika suaminya lelah pulang dari kantor menemukan istrinya merajuk di rumah, keduanya lalu  terlibat pertengkaran. Sebulan kemudian, mereka bercerai. Dari mana sumber masalah tersebut?

Di lain tempat, saat sedang arisan, seorang Ibu bertanya kepada tuan rumah, “Rumahmu ini apa tidak terlalu sempit? Bukankah anak-anakmu banyak?”

Rumah yang tadinya terasa lapang, sejak saat itu mulai dirasa sempit oleh penghuninya. Ketenangan pun hilang saat keluarga ini mulai terbelit hutang manakala mencoba membeli rumah yang lebih besar dengan cara kredit ke bank.

Kisah lain, seorang teman bertanya, “Berapa gajimu sebulan kerja di Toko si A?”

Sang teman menjawab, “Satu juta rupiah.”

Kata temannya lagi, “Cuma satu juta? Sedikit sekali ia menghargai keringatmu Apa cukup untuk memenuhi kebutuhan hidupmu?”

Sejak saat itu teman ini jadi membenci pekerjaannya. Ia lalu meminta kenaikan gaji pada pemilik toko. Sayangnya, pemilik toko menolak, malahan memberhentikannya. Kini ia malahan tidak berpenghasilan dan jadi pengangguran.

Kali lain, seseorang bertanya pada seorang kakek tua, “Berapa kali anakmu mengunjungimu dalam sebulan?”

Sang kakek menjawab, “Sebulan sekali.”

Orang yang tadi bertanya menimpali, “Wah, keterlaluan sekali anak-anakmu itu. Di usia senjamu ini seharusnya mereka lebih sering mengunjungimu.”

Hati sang kakek menjadi sempit, padahal tadinya ia amat rela terhadap anak-anaknya. Ia jadi sering menangis dan ini memperburuk kesehatan dan kondisi badannya.

Apa sebenarnya keuntungan yang kita dapat ketika bertanya seperti pertanyaan-pertanyaan tadi?

Mari menjaga diri dari mencampuri kehidupan orang lain, mengecilkan dunia mereka, menanamkan rasa tak rela pada apa yang mereka miliki, mengkritisi penghasilan, dan keluarga mereka, dll.

Kita bisa menjadi agen kerusakan di muka bumi dengan cara ini. Bila ada bom pemecah yang meledak, cobalah intropeksi diri, bisa jadi kitalah yang menekan tombolnya.

Peringatan Maulid Nabi Muhammad SAW bersama Gus Nur



04 Desember 2017, telah di adakan acara Peringatan Hari Besar Islam (PHBI) tepatnya memperingati Maulid Nabi Muhammad SAW di sebuah Masjid di Perum Tamara tepatnya berlokasi di Tamansari Kota Tasikmalaya.
Pimpinan pondok pesantren Tahfidz Al Karomah Palu, Sulawesi Tenggara, Sugi Nur Raharja, Gus Nur meminta umat muslim untuk meniru akhlak Nabi Muhammad SAW.
Ada dua akhlak nabi yang patut di teladani, pertama ketika pribadi nabi yang di dzalimi, maka Rosulullah tersenyum. Namun ketika agamanya yang dikotori maka Rosulullah menghunus pedang.
“Hati Rosulullah itu seperti lautan. Beratus-ratus orang bahkan beribu-ribu orang menyakiti dibalas oleh Rosulullah dengan kasih sayang, tidak memiliki rasa dendam,” katanya dalam peringatan maulid Nabi di Mesjid Perum Taman Abdi Negara (Tamara) Kelurahan Tamannya, Kecamatan Tamansari, Kota Tasikmalaya, Senin (4/12/2017).
Penceramah kelahiran Jogjakarta dan besar di Bangil Probolinggo itu sengaja datang dari Palu untuk menghadiri pengajian yang dilaksanakan oleh masyarakat Perum Tamara bersama, Pesantren Tahfidz Rumah Yatim Indonesia, Sekolah Bahasa Al-Quran dan Informatika (SAI) perum Kota Baru Kota Tasikmalaya.
Hadir dalam pengajian tersebut, Kabag Kesra Kota Tasikmalaya, H Nasihin yang mewakili Walikota Tasikmalaya, Camat Tamansari, Unsur Muspika dan Undangan lainnya.
Kata dia bagaimana mulianya ahlak Rosulullah saat di hajar habis habisan oleh penduduk Thoif, sampai harus merangkak ke luar gerbang. Dia sama sekali tidak marah apalagi sampai dendam. Padahal Jibril memberi isyarat untuk membalas apa yang sudah dilakukan penduduk Thoif kepada Nabi. Namun Rosulullah menolaknya.
Menurut, dai kondang tersebut, umat muslim kalau mau selamat di dunia dan akhirat, harus meneladani akhlak Rosulullah, dan selalu bertindak karena Allah.  Termasuk harus bisa sabar dalam menghadapi musbih dan bencana yang datang dari Allah.
“Di hati ini harus selalu ada Allah dan Rosulullah, maka hidup ini akan terasa tenang,” katanya.
Pengajian yang dimulai sejak pukul 13.00 itu tidak hanya diikuti oleh masyarakat Perum saja, tetapi juga dihadiri oleh ratusan santri dan santriwati dari Pondok Pesantren SAI Homeschooling, FPI Tamansari dan juga masyarakat lainnya di Tamansari.
Dalam kesempatan itu, Gus Nur yang berusia 43 tahun itu memberi cara jitu bagaimana hidup ini bisa lebih dengan keberkahan. Kuncinya kata dia menyerahkan sepenuhnya masalah kepada Allah dan tidak hanya curhat lewat Facebook yang biasa dilaksanakan umat muslim kebanyakan saat ini.
Kabag Kesra Kota Tasikmalaya, H Nasihin mengatakan, maulid Nabi dilaksanakan sebagi ungkapan rasa syukur atas lahirnya Nabi Muhammad. Apa yang dilakukan oleh Nabi dalam membangun peradaban yang berada harus diteladani oleh umat muslim di Tasikmalaya ini.
“Maulid Nabi ini untuk meneladani setiap pemikiran, ucapan dan tindakan Rosulullah yakni ahlak mulia yang rahmatan lilalamin,,” katanya.
Rosulullah kata dia bisa membangun tatanan kehidupan bernegara, menjunjung tinggi keadilan sosial, musyawarah mufakat, supremasi hukum, kebersamaan antar ummat menjadi harmoni. “Dan itu yang harus kita lakukan untuk membangun peradaban yang lebih beradab,” katanya.

Wednesday, 6 December 2017

Panen Kangkung



Saat kami membuka mata, juga di awali dengan membaca Bismillah untuk menyusuri pagi yang indah ini, ternyata alam sedang berbahagia karena kupu-kupu yang indah telah menyergap semua bunga yang telah mekar.
Hari ini , adalah hari dimana para Santri Rumah Yatim Indonesia memanen Sayuran Kangkung yang kami tanam sendiri,
Sahabat tau ? Kangkung itu apa? pasti sudah tidak asing lagi yaa , kangkung itu adalah sayuran yang insya allah halal dan bisa di makan, hari ini akan ada banyak sekali kangkung yang siap di panen oleh santri-santri. mau tau keseruan nya? coba lihat foto di atas







Monday, 4 December 2017

Syarat Untuk Mati


Manusia hanyalah pengendara di atas punggung usianya. Digulung hari demi hari, bulan, dan tahun tanpa terasa.

Nafas kita terus berjalan seiring jalannya waktu, setia menuntun kita ke pintu kematian...
Sebenarnya dunialah yang makin kita jauhi dan liang kuburlah yang makin kita dekati.

Satu hari berlalu, berarti satu hari pula berkurang umur kita.
Umur kita yang tersisa di hari ini sungguh tak ternilai harganya, sebab esok hari belum tentu jadi bagian dari diri kita.

Karena itu,

jika hari berlalu tapi tiada Kebaikan dan Kebajikan yang kita lakukan maka akan keringlah batin kita.
Jangan tertipu dengan usia muda, karena syarat untuk mati tidaklah harus tua.

Jangan terperdaya dengan badan sehat, karena syarat untuk mati tidak pula harus sakit.
Teruslah berbuat baik... berkata baik...!

Walau tak banyak orang yang mengenalimu, tapi kebaikan dan kebajikan yang kita lakukanlah yang akan menuntun kita pada kebahagiaan, dan akan dikenang oleh mereka yang kita tinggalkan.

Robbana Taqobbal Minna. Ya Alloh terimalah dari kami (amalan kami), aamiin.

Saturday, 2 December 2017

Hikmah Di Balik Ujian


Sahabat, ketahuilah Allah SWT akan menguji setiap hamba-Nya dengan berbagai musibah, dengan berbagai hal yang tidak mereka sukai, juga Allah akan menguji mereka dengan musuh mereka dari orang-orang kafir dan orang-orang munafiq. Ini semua membutuhkan kesabaran, tidak putus asa dari rahmat Allah dan tetap konsisten dalam beragama.

Hendaknya setiap orang tidak tergoyahkan dengan berbagai cobaan yang ada, tidak pasrah begitu saja terhadap cobaan tersebut, bahkan setiap hamba hendaklah tetap berusaha melewati ujian tersebut. Hendaknya setiap hamba bersabar terhadap masalah tersebut.

Sikap seperti di atas sangat berbeda dengan orang-orang yang ketika mendapat ujian merasa tidak sabar, marah, dan putus asa dari rahmat Allah. Sikap seperti ini malah akan membuat mereka mendapat musibah demi musibah.

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,
“Sesungguhnya jika Allah mencintai suatu kaum maka Dia akan menguji mereka. Barang siapa yang ridho (terhadap ujian tersebut) maka baginya ridho Allah dan barang siapa yang marah (terhadap ujian tersebut) maka baginya murka-Nya.” (HR. Tirmidzi dan Ibnu Majah)

Sungguh ada sesuatu yang tidak kita ketahui di balik musibah tersebut. Maka bersabarlah dan berusahalah ridho dengan taqdir ilahi. Sesungguhnya para Nabi dan orang sholeh dahulu juga telah mendapatkan musibah sebagaimana yang kita peroleh. Lalu kenapa kita harus bersedih, mengeluh dan marah? Bahkan orang sholeh dahulu -sesuai dengan tingkatan keimanan mereka-, mereka malah memperoleh ujian lebih berat. Cobalah kita perhatikan perkataan ulama berikut.

Al Manawi mengatakan, “Barangsiapa yang menyangka bahwa apabila seorang hamba ditimpa ujian yang berat, itu adalah suatu kehinaan; maka sungguh akalnya telah hilang dan hatinya telah buta (tertutupi). Betapa banyak orang sholih (ulama besar) yang mendapatkan berbagai ujian yang menyulitkan. Tidakkah kita melihat mengenai kisah disembelihnya Nabi Allah Yahya bin Zakariya, terbunuhnya tiga Khulafa’ur Rosyidin, terbunuhnya Al Husain, Ibnu Zubair dan Ibnu Jabir. Begitu juga tidakkah kita perhatikan kisah Abu Hanifah yang dipenjara sehingga mati di dalam buih, Imam Malik yang dibuat telanjang kemudian dicambuk dan tangannya ditarik sehingga lepaslah bahunya, begitu juga kisah Imam Ahmad yang disiksa hingga pingsan dan kulitnya disayat dalam keadaan hidup. … Dan masih banyak kisah lainnya.” (Faidhul Qodhir Syarh Al Jami’ Ash Shogir, 1/518, Asy Syamilah)

Semoga kita termasuk orang-orang yang bersabar ketika menghadapi musibah, baik dengan hati lisan atau pun anggota badan. Ya Allah, jadikanlah kami termasuk hamba-hamba-Mu yang selalu ridho dengan taqdir-Mu.

Wednesday, 29 November 2017

Ayat-Ayat Cinta


Kadang suatu saat kita merasa GERSANG, sepertinya gak ada yang peduli sama kita, gak ada yang sayang sama kita bahkan tak ada satupun orang disekitar kita yang mengatakan CINTA kepada kita.

ya, begitulah kita seringkali lupa bahwa masih ada Allah SWT yang selalu sayang sama kita dan seringkali mengatakan CINTANYA kepada kita namun kita tak menyadarinya, bahkan DIA telah mengirimkan 114 SURAT CINTA kepada kita, namun kita seringkali LUPA membacanya apalagi membalasnya.

Kita begitu SIBUK mencari CINTA selain dari Allah SWT, kita sibuk mengobral kata cinta demi sebuah kenikmatan sesa'at, bahkan kita juga sibuk MERUSAK CINTA sesama Muslim dengan cara menjatuhkan, menghujat, mencaci dan menuduh tanpa recek dan tabayun terlebih dahulu, sedikit sekali upaya kita untuk bisa JATUH CINTA hanya kepada Allah SWT.

Sudah sejauhmana CINTA kita kepada Allah SWT, kita semua berproses untuk menggapai CINTANYA, jangan MERUSAK HARAPAN orang-orang yang sedang ingin meraih cintanya dengan membenci dan mencaci, JATAH HIDUP kita begitu amat sangat TERBATAS jangan habiskan sia-sia hanya untuk mencaci dan membenci, belajarlah mencintai saudara-saudara kita maka Allah akan tumbuhkan RASA CINTA kita kepadaNYA.

Dimana AYAT-AYAT CINTA itu kita simpan ? di laci ? di Lemari ? atau sudah sampai di DADA kita ? Alhamdulillah, Aamiin