Telp. 0265-2351868 | WA 0878 8555 4556 | BBM 5AE49B09

Kisah Inspiratif

Smart Family

Tafakur

Terbaru

Friday, 20 July 2018

Janganlah Bersedih


Sahabat, tak ada manusia yang tidak luput dari rasa sedih. Sedih dengan berbagai perkara seperti Kematian, kemalangan, kehilangan, cacian dan makian, umpatan orang dan sebagainya.

Ada juga yang bersedih dengan rupa parasnya, bersedih dengan kejadiannya, bersedih mengenangkan nasibnya, sedih dengan cara hidupnya.

Tidak kurang juga yang sedih dengan dirinya yang lemah, keimanannya yang rendah, ibadahnya yang sedikit dan sebagainya.Ada waktu memang manusia akan merasakan kesedihan.

Allah SWT Berfirman:“Janganlah kamu bersedih, sesungguhnya Allah bersama kita.”
(QS.At-Taubah:40)

Bagaimana jika kita tetap merasa bersedih?
Artinya ada sesuatu yang salah didalam hati kita. Dalam ayat diatas, kita tidak perlu bersedih sebab Allah bersama kita. Jika kita masih juga bersedih, artinya kita belum merasakan dekatnya dengan Allah

Yang dimaksud bersedih bukanlah berarti menangis.
Menangis adalah bermaksud dalam rangka takut dan berharap kepada Allah,  supaya kita bebas dari api neraka.

Bersedih yang dilarang adalah kesedihan akibat ketidaksabaran, tidak menerima takdir, dan menunjukan kelemahan diri.

Para Nabi juga pernah  bersedih,bahkan Rasulullah SAW pun bersedih saat ditinggal oleh orang-orang dicintai dan dicintai beliau. Namun, para Nabi tidak berlebihan dalam bersedih.

Tetapi sindrom dari kalangan kita adalah, kita suka memanjangkan kesedihan. Seakan Allah tidak wujud dalam kehidupan kita.

Rasulullah saw pun berdoa untuk agar terhindar dari kesedihan:“Ya Allah, aku berlindung kepada-Mu dari kekufuran dan kefakiran; Ya Allah, aku berlindung kepada-Mu dari azab kubur. Tiada Tuhan kecuali Engkau.” (HR. Abu Dawud)

Sesungguhnya seorang mukmin itu tidak sepatutnya bersedih terlalu lama karena dia ada Allah di sisinya dan kesedihan bukanlah cara seorang hamba Allah mengabdikan diri kepadaNya.

Semoga kita termasuk hamba Allah yang tidak larut dalam kesedihan.
Aamiin

Wednesday, 18 July 2018

Tetaplah Berprasangka Baik


Sahabat, ingatlah satu prinsip ini agar kita tidak mudah berprasangka buruk pada sesama muslim, lebih baik berprasangka baik meski salah, daripada berprasangka buruk tapi benar.

Rasulullah shalallaahu 'alaihi wassalam bersabda, “Berhati-hatilah kalian dari tindakan berprasangka buruk, karena prasangka buruk adalah sedusta-dusta ucapan. Janganlah kalian saling mencari berita kejelekan orang lain, saling memata-matai, saling mendengki, saling membelakangi, dan saling membenci. Jadilah kalian hamba-hamba Allah yang bersaudara.”( HR.Bukhari dan Muslim) 

Rasulullah telah memperingatkan kita untuk mewaspadai prasangka buruk antar sesama muslim. Demikian juga para Sahabat dan ulama, menyuruh kita untuk menjauhi perkataan yang sekalipun benar tidak akan memberi pahala untuk kita, akan tetapi jika perkataan itu salah maka akan mengalirkan dosa pada kita, perkataan itulah adalah prasangka buruk pada saudara sesama muslim (Bakar bin Abdullah Al Muzani dalam kitab Tahdzib At Tahdzib). Astaghfirullah.

Lalu bagaimana jika dalam benak kita tersirat prasangka buruk pada saudara kita? Berusaha keraslah untuk tetap berprasangka baik padanya.

Misalkan kita melihat ia jarang sekali shalat Dhuha, daripada menganggapnya pemalas, cobalah berpikir “Oh, mungkin ia shalat Dhuha di tempat yang tidak terlihat oleh orang lain.”

Kalau terbersit di pikiran kita tentang saudara kita melakukan tindak korupsi di kantornya atau main dukun karena aneh bisa memiliki kendaraan mewah, cobalah katakan pada diri sendiri, “Mungkin ia baru saja mendapat warisan, atau dia memiliki usaha lain di luar pekerjaannya di kantor, atau sesuatu yang halal tapi saya tidak mengetahui sumber penghasilannya tersebut.”

Sahabat, zaman sekarang ini kita terbiasa disuapi oleh gosip-gosip murahan yang menggiring pikiran kita untuk senantiasa berprasangka buruk pada orang lain, maka mari berusaha mengalihkan prasangka buruk tersebut menjadi prasangka baik sekalipun prasangka baik tersebut jelas keliru, itulah usaha kita untuk menjaga diri dari kebinasaan di akhirat kelak. 


Tuesday, 17 July 2018

Membentuk Keluarga Bahagia







Tidak ada orang yang menginginkan kegagalan dalam kehidupan berumah tangga. Setiap orang pasti berlomba-lomba untuk mencapai keharmonisan di keluarganya. Sebab keluarga adalah kunci utama kebahagiaan seseorang. Keluarga bisa menjadi surga namun bisa juga menjadi neraka dunia.
Tahukah kamu, kebahagian keluarga tidak hanya bergantung pada materiil. Keluarga bahagia menurut islam adalah sebuah keluarga yang berjalan sesuai dengan akidah dan syariat agama, sehingga tercapai kehidupan yang barokah, sakinah, mawaddah, warahmah. Nah, dibawah ini beberapa tanda keluarga bahagia menurut islam:
  1. Istri yang shalehah
Laki-laki mana sih yang tidak ingin mendapatkan pasangan yang shalehah? Pastinya seorang wanita yang shalehah adalah idaman setiap lelaki. Rasulullah SAW pernah bersabda, “Dunia adalah harta dan sebaik-baiknya harta adalah wanita yang shalehah.” Dari hadist tersebut, telah jelas bahwa kedudukan wanita shalehah lebih mulia dibandingkan harta di dunia.
Seorang istri shalehah mampu menciptakan surga dalam kehidupan keluarganya. Ia patuh kepada suaminya, penyabar, taat kepada perintah Allah SWT, mendidik anak-anaknya dengan ajaran agama, senantiasa menjaga melindungi diri dari perbuatan maksiat, dan tidak mengumbar aib suaminya. Sungguh, suami manapun pasti akan jatuh cinta dengan istri yang shalehah. Oleh karena itu, apabila hendak mencari istri, carilah yang baik akhlaknya sebelum melihat rupa, harta, dan kedudukan wanita tersebut.
  1. Anak-anak yang berakhlakul karimah
Anak adalah salah satu elemen penting dari keluarga. Diriwayatkan oleh Dailami, dari Ibn Asaskir, Rasulullah SAW bersabda: “Ada empat kunci kebahagiaan bagi seseorang muslim, yaitu mempunyai isteri yang salehah, anak-anak yang baik, lingkungan yang baik dan pekerjaan yang tetap di negerinya sendiri.”
Selain memiliki istri shalehah, kriteria kebahagiaan keluarga juga diukur dari sifat sang anak. Bayangkan saja anda mempunyai anak yang bandel dan nakal, pasti ketenangan keluarga juga akan terusik. Sebaliknya, seorang anak yang dididik sesuai agama semenjak kecil,maka ia akan tumbuh menjadi generasi rabbani nan qurani. Akhlaknya pun akan baik. Kelak anak tersebut bisa menjadi kebanggaan orang tua di dunia, dan mereka juga merupakan penolong ayah ibunya di akhirat.
Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, ia berkata bahwa Rasulullah shallallahu‘alaihi wa sallam bersabda:
إِذَا مَاتَ الْإِنْسَانُ انْقَطَعَ عَمَلُهُ إِلَّا مِنْ ثَلَاثَةٍ مِنْ صَدَقَةٍ جَارِيَةٍ وَعِلْمٍ يُنْتَفَعُ بِهِ وَوَلَدٍ صَالِحٍ يَدْعُو لَهُ
“Jika seseorang meninggal dunia, maka terputuslah amalannya kecuali tiga perkara (yaitu): sedekah jariyah, ilmu yang dimanfaatkan, atau do’a anak yang sholeh” (HR. Muslim no. 1631)
  1. Keluarga yang barokah
Ciri ketiga keluarga bahagia menurut islam adalah keluarga yang barokah. Ingat, kebahagian bukan diukur dari harta yang melimpah ruah. Tetapi bagaimana kita memanfaatkan rezeki yang ada menjadi lebih berkah. Antara suami dan istri haruslah saling bahu-membahu. Tidak apa-apa walaupun kita tak kaya, yang penting harta kita diperoleh dengan cara yang halal. Kemudian jangan lupa untuk bersedekah dan senantiasa bersyukur. Dengan demikian, jiwa kita akan lebih tentram dan kebahagian bisa diperoleh.
Di samping harta, umur dan waktu kita juga seharusnya digunakan untuk hal-hal yang bermanfaat. Hidup di dunia memang menyenangkan, tapi jangan melupakan kehidupan di akhirat karena disitulah kita akan kekal selama-lamanya.
  1. Keluarga sakinah (Penuh Ketenangan)
Sakinah memiliki arti ketenangan, kedamaian, ketentraman, dan keamanan. Untuk mencapai keluarga sakinah yaitu keluarga yang penuh kedamaian, pasangan suami istri harus bisa menjalani hidupnya sesuai dengan prinsip keimanan, saling menyayangi satu sama lain, menerima kekurangan masing-masing, dan saling melengkapi.
  1. Keluarga mawaddah (Saling Mencintai)
Secara bahasa, mawaddah didefinisikan sebagai  rasa cinta. Keluarga yang mawaddah berarti keluarga yang kehidupannya diliputi dengan cinta dan penuh harapan. Apabila suami-istri bisa saling mencintai, maka insyaAllah rumah tangganya akan terasa lebih indah, harmonis, dan langgeng. 
Allah SWT berfirman dalam surat Ar-Rum ayat 21:
وَمِنْ آيَاتِهِ أَنْ خَلَقَ لَكُمْ مِنْ أَنْفُسِكُمْ أَزْوَاجًا لِتَسْكُنُوا إِلَيْهَا وَجَعَلَ بَيْنَكُمْ مَوَدَّةً وَرَحْمَةً ۚإِنَّ فِي ذَٰلِكَ لَآيَاتٍ لِقَوْمٍ يَتَفَكَّرُونَ
“Dan di antara tanda-tanda kekuasaan-Nya ialah Dia menciptakan untukmu istri-istri dari jenismu sendiri, supaya kamu cenderung dan merasa tenteram kepadanya, dan dijadikan-Nya di antaramu rasa kasih dan sayang. Sesungguhnya pada yang demikian itu benar-benar terdapat tanda-tanda bagi kaum yang berpikir. (Q.S. Ar-Rum: 21)
  1. Keluarga yang rahmah (Saling Menyayangi dan dirahmati Allah SWT)
Wa Rahmah merupakan kelanjutan dari mawaddah (cinta), dimana Wa berarti “dan”, Rahmah berarti “rahmat atau karunia atau anugerah Allah SWT”. Rahmah juga bisa didefinisakan sebagai kasih sayang.
Kebahagiaan keluarga akan semakin lengkap bilamana seorang suami memberikan kasih sayang kepada istrinya, menghargai, tidak membentak-bentak, dan menafkahi secara ikhlas. Begitupun dengan seorang istri, ia juga harus memberikan cinta tulus kepada suami dan anak-anaknya. Serta tak melupakan menjalankan perintah agama dan mengamalkan sunnah Rasulullah SAW agar kelak kehidupan rumah tangga memperoleh rahmat dari Allah SWT.

Monday, 16 July 2018

Seorang Pemabuk Yang Menjadi Ulama







Ini adalah sebuah kisah tentan Zadzan al-Kindi. Dia adalah seorang ulama besar dari kalangan tabiin. Dia meninggal pada 82 H. Ia bertobat berkat Ibn Mas'ud. Zadzan menceritakan kisahnya sebagai berikut,

"Ketika muda, aku adalah orang yang memiliki suara emas dan pandai menabuh gendang. Suatu hari aku tengah bersama teman-temanku. Saat itu kami mabuk dan aku bernyanyi untuk kami. Tiba-tiba Ibn Mas'ud menghampiri kami. Ia melemparkan tempat arak kami dan membanting gendang. Ia berkata, 'Kalau yang didengar dari suara bagusmu itu adalah lantunan ayat-ayat AL-Qur'an sudah dari dulu aku menjadi dirimu.' Kemudian ia berlalu. Aku bertanya kepada teman-temanku, 'Siapa dia?' Mereka menjawab,'Dia Ibn Mas'ud. Ia membangkitkan keinginan tobat di dalam hatiku. Maka, aku mengejarnya dan menangis sambil bersimpuh di kakinya. Aku menarik-narik bajunya, lalu ia menoleh, membangunkan aku dan menangis. Ia berkata, 'Selamat datang, wahai orang yang mencintai Allah! Duduklah!' Ia lantas masuk ke rumah dan membawakan kurma untukku." 

Ketika Dosa Menghambat Doa


Sahabat, bukannya Allah tak mampu mengabulkan doa kita, sangat mungkin Allah telah mengabulkan doa-doa kita, akan tetapi dosa dan maksiat kitalah yang menghambat terwujudnya pengabulan doa kita tersebut.

Jadi, ketika merasa doa-doa kita belum terkabul, alih-alih protes pada Allah, ada baiknya kita teliti diri sendiri terlebih dulu,adakah kesombongan dalam hati kita? Sehingga kita merasa lebih tinggi dan lebih baik dari orang lain, merasa diri kita suci dan banyak amalannya dibanding manusia lainnya?

Adakah kepura-puraan dari diri kita? Jangan-jangan segala amalan yang terlihat baik dari diri kita hanyalah pencitraan yang dibuat-buat agar orang  kagum pada diri kita? Bukan semata-mata ikhlas karena mengharap ridho Allah.

Atau jangan-jangan kita bersikap terlalu tergesa-gesa. Menyuruh-nyuruh Allah memberikan apa yang kita minta, dalam waktu singkat, tapi kemudian berhenti meminta pada Allah dan mengeluhkan bahwa Allah tak mampu mengabulkan keinginan kita. 

Tahukah Sahabat, banyak orang menjadi pengikut setan karena bersifat tergesa-gesa seperti ini? Mereka ingin segera sembuh dari penyakitnya, ingin segera kaya, ingin segera disukai orang lain, kemudian mendatangi dukun dan paranormal yang berkerjasama dengan jin untuk mengabulkan keinginannya tersebut, tanpa menyadari bahwa ia telah membeli neraka di akhirat kelak. Na'udzubillah min dzalik. 

Jangan sampai kita memiliki sifat tergesa-gesa dalam berdoa, karena hal tersebut termasuk penyebab doa kita tidak terkabulkan. 

Dalam Shahih Muslim, Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam bersabda, “Seorang hamba akan selalu dikabulkan doanya oleh Allah selagi ia tidak berdoa dengan sesuatu yang berdosa, memutus silaturahim, dan tergesa-gesa.”

Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam kembali bertutur, “Orang yang tergesa-gesa adalah mereka yang mengatakan , ‘Saya berdoa kepada Allah tapi tidak dikabulkan’, kemudian ia mengeluh karenanya dan berhenti untuk berdoa.”

Maka, mari perbanyak istighfar, sebanyak mungkin, lakukan rutin setiap harinya, agar doa-doa segera terkabulkan. Sadari setiap kali doa belum terkabul, bisa jadi disebabkan masih banyaknya tumpukan dosa yang harus kita bersihkan dengan taubat, meminta maaf pada sesama, dan beristighfar pada Allah.

Saturday, 14 July 2018

Membersihkan Hati


Sahabat, Sesungguhnya hati ibarat raja. Kebaikan seluruh diri kita bergantung kepada kebaikan hatinya. Jika hatinya baik, maka baik pula seluruh diri kita. Namun, jika hati kita jelek, maka demikian pula seluruh diri kita. Demikianlah yang Rosululloh Saw. ajarkan.

Rasulullah SAW bersabda:“Sesungguhnya hati ini berkarat seperti besi berkarat bila kena air”. Shahabat bertanya: “Ya Rasulallah, apa yang bisa memebersihkannya kembali?” Beliau menjawab: “Banyak-banyak mengingat kematian dan tilawah al Qur’an”. (HR. Baihaqi)


Kita seringkali merasa khawatir jika kendaraan kita kotor. Ada satu kotoran saja di kaca atau body kendaraan kita maka kita bergegas membersihkannya. Kita juga suka merasa risih jika ada noda pada pakaian kita sehingga bergegas kita mengganti dengan pakaian yang bersih dan mencuci pakaian yang terkena noda. Namun pertanyaannya, apakah kita sebergegas itu untuk membersihkan hati kita?

Padahal dalam satu hari saja betapa sering hati kita terkena noda. Bisa disebabkan oleh rasa iri dengki, atau cipratan noda kesombongan, atau noda buruk sangka, atau karena sebab-sebab lainnya. Jika noda-noda itu dibiarkan maka dalam satu hari saja betapa kumalnya hati kita ini. Dan, jika semakin dibiarkan maka noda-noda itu akan semakin tebal sehingga membuat hati sulit lagi untuk peka menangkap nasihat kebenaran dan kebaikan. 

Semoga kita selamat dari keadaan yang demikian.
Aamiin.

Kisah Taubatnya Seorang Pembunuh








Diriwayatkan dari Abu Sa'id al-Khudri bahwa Nabi Saw bersabda, "Seorang lelaki dari kaum sebelum kalian membunuh sembilan puluh sembilan orang. Ia lantas meminta kepada orang-orang untuk dipertemukan dengan orang yang paling berilmu. Ia pun disarankan untuk mendatangi seorang rahib. Ia mendatanginya dan menceritakan kepadanya bahwa ia telah membunuh sembilan puluh sembilan orang. Ia bertanya, 'Jika aku bertobat, apakah diterima?' Rahib itu menjawa, 'Tidak'. Lelaki itu marah dan membunuhnya sehingga korban di tangannya genap berjumlah seratus orang.

Ia kemudian meminta kembali kepada orang-orang untuk dipertemukan dengan orang yang paling berilmu. Ia pun disarankan untuk mendatangi seorang yang alim. Ia mendatang orang alim itu dan menceritakan kepadanya bahwa ia telah membunuh seratus orang. 'Jika aku bertobat, apakah diterima?' tanyanya. Orang alim itu menjawab, 'Ya. Siapa yang mampu menghalangi seseorang dari tobatnya? Pergilah ke tempat ini! Di sana ada orang-orang yang beribadah kepada Allah. Ikutlah bersama mereka! Jangan kembali ke kampung halamanmu adalah kampung kejahatan.'

Laki-laki itu pun bertolak menuju daerah yang ditunjukkan oleh orang alim tersebut. Di tengah perjalanan, malaikat maut mencabut nyawa lelaki itu. Maka bertengkarlah malaikat rahmat dan malaikat azab. Malaikat rahmat berkata, 'Orang yang bertobat datang dengan hati yang menghadap Allah.'

Malaikat azab berkata, 'Ia tidak pernah melakukan satu kebaikan pun!' Seorang malaikat dalam bentuk manusia mendatangi mereka. Kedua malaikat itu lantas memintanya untuk menengahi mereka. Ia berkata, 'Ukurlah jarak antara tempat mati lelaki itu dan tempat ia bertolak, serta jarak antara tempat ia mati dan tempat yang dituju. Diantara dua jarak itu mana yang paling dekat? ' Mereka lalu mengukurnya dan mendapati bahwa jarak ke tempat yang dituju adalah yang paling dekat. Maka, lelaki itu pun dijemput oleh malaikat rahmat."

Dalam riwayat lain, ".... kampung kebaikan lebih dekat satu jengkal. Maka, ia pun dijadikan sebagai salah seorang penduduknya."

Dalam riwayat lain, ".... Allah lalu memerintahkan kepada kampung kejahatan untuk menjauh dari tempat mati laki-laki itu, dan memerintahkan kepada kampung kebaikan untuk mendekat. Ia lalu berkata, 'Ukurlah kedua jarak itu!'

Mereka pun mendapati jarak ke kampung kebaikan lebih dekat satu jengkal. Akhirnya, laki-laki itu mendapat ampunan."