Telp. 0265-2351868 | WA 0878 8555 4556 | BBM 5AE49B09

Kisah Inspiratif

Smart Family

Tafakur

Terbaru

Friday, 24 November 2017

Ada Hak Orang Lain Pada Harta Kita


Sahabat, sejatinya rezeki yang kita miliki merupakan nikmat dan titipan dari Allah subhanahu wata'ala. Tidak ada yang perlu kita sombongkan, apalagi sampai harus menggenggam erat dan enggan berbagi terhadap yang membutuhkan.

Bukanlah akhlak seorang muslim yang baik, jika terhadap harta kita kikir. Setiap muslim bahkan diwajibkan untuk menyucikan hartanya dengan bersedekah, zakat, infaq, dan lainnya.

Kewajiban bersedekah ini tertulis di banyak hadits. Salah satunya hadits riwayat Abu Daud berikut ini;
Dari Jabir bin Abdullah bahwa Nabi shallallahu 'alaihi wasallam memerintahkan dari setiap buah yang berjumlah sepuluh wasaq kurma diambil satu tandan dan digantungkan di masjid untuk orang-orang miskin. (HR Abu Daud)

Ancaman terhadap orang yang kikir ini juga Rasulullah terangkan secara jelas.
Dari Abu Hurairah bahwa Rasulullah shallallahu wa'alaihi wa sallam bersabda: "Tidaklah pemilik barang simpanan yang tidak menunaikan haknya kecuali Allah menjadikannya pada Hari Kiamat dipanaskan barang simpanan tersebut dalam neraka jahannam, lalu dibakar dengannya dahinya, lambung dan punggungnya, hingga Allah memberikan keputusan diantara para hambaNya pada hari yang kadarnya adalah lima puluh ribu tahun menurut perhitungan kalian, kemudian ia akan melihat jalannya, ke Surga atau ke Neraka. Dan tidaklah pemilik kambing yang tidak menunaikan haknya melainkan kambing tersebut akan datang pada Hari Kiamat lebih banyak daripada dahulunya dan pemiliknya di dudukkan di hadapannya pada tanah terbuka yang datar, kambing tersebut menanduknya dengan tanduknya dan menginjaknya dengan sepatu-sepatunya, tidak ada padanya kambing yang bertanduk bengkok serta yang tidak bertanduk. Setiap kali kambing yang terakhir selesai maka kambing yang pertama dikembalikan lagi, hingga Allah memberikan keputusan diantara para hambaNya pada hari yang kadarnya adalah lima puluh ribu tahun menurut perhitungan kalian. Kemudian ia akan melihat jalannya, ke Surga atau ke Neraka. Dan tidaklah pemilik unta yang tidak menunaikan haknya melainkan unta tersebut akan datang pada Hari Kiamat lebih banyak daripada dahulunya dan orang tersebut didudukkan di hadapannya pada tanah terbuka yang datar, unta tersebut menginjaknya dengan sepatunya. Setiap kali unta yang terakhir selesai maka unta yang pertama dikembalikan kepadanya hingga Allah ta'ala memberikan keputusan diantara para hambaNya pada hari kadarnya adalah lima puluh ribu tahun menurut perhitungan kalian. Kemudian ia akan melihat jalannya, ke Surga atau ke Neraka." (HR Abu Daud)

Atau di dalam riwayat lain, Rasulullah menjelaskan tentang orang-orang yang merugi. Yakni orang-orang yang memiliki harta melimpah namun masih menghitung-hitung untuk berbagi.

Dari Abu Dzarr ia berkata; Aku tiba di dekat Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam ketika beliau sedang duduk di bawah naungan Ka'bah. Ketika beliau melihatku, beliau bersabda: "Demi Tuhannya Ka'bah, mereka itu adalah orang-orang yang merugi." Lalu kudekati beliau, seraya aku duduk dan bertanya kepada beliau, "Wahai Rasulullah, siapakah mereka?" beliau menjawab: "Mereka adalah orang-orang memiliki harta yag melimpah. Kecuali mereka (yang menghitung-hitung amal kebaikan mereka dengan) mengatakan; Sebegini, sebegini, sebegini (sambil beliau memberi isyarat ke muka dan ke belakang, ke kanan dan ke kiri). Tetapi mereka ini jumlahnya hanya sedikit. Tidak seorang pun pemilik unta, pemilik sapi, dan pemilik kambing yang tidak membayar zakat ternaknya, melainkan pada hari kiamat kelak hewan-hewan ternaknya yang paling besar dan gemuk datang kepadanya menanduk dengan tanduknya dan menginjak-nginjak orang itu dengan kukunya. Setiap yang terakhir selesai menginjak-injaknya, yang pertama datang pula kembali. Demikianlah siksa itu berlaku sehingga perkaranya diputuskan." (HR Muslim)

Kita tidak mau harta yang kita kumpulkan justru membawa keburukan bagi kita di akhirat kelak, Padahal tidak sepeserpun harta itu dibawa mati .

Jadi, mumpung masih ada kesempatan berbagi, kenapa tidak dimanfaatin?

Tuesday, 21 November 2017

Rezeki Yang Mengalir






Al-Habib Muhammad bin Alwi Al-Miliki Al-Hasani berkata: “Alkisah ada seorang Fakir Miskin melewati jalan Madinah. Di sepanjang jalan, dia sering melihat orang-orang makan Daging. Diapun merasa sedih karena jarang sekali bisa makan Daging.
.
Dia pulang ke rumahnya dengan hati mendongkol. Sesampai di rumah, istrinya menyuguhkan kedelai rebus. Dengan hati terpaksa, dia memakan Kedelai itu seraya membuang kupasan Kulitnya ke luar jendela.
.
Dia sangat bosan dengan Kedelai. Dia bilang kpada istrinya "Bagaimana hidup kita ini..? Orang-orang makan Daging, kita masih makan Kedelai"
.
Tak lama kemudian, dia keluar ke jalan di pinggir rumahnya. Alangkah Terkejut, dia melihat seorang Lelaki Tua duduk di bawah jendela rumahnya sambil memungut Kulit-Kulit Kedelai yang tadi ia buang dan memakannya seraya bergumam:
.
"Segala Puji bagi Allah Subhanahu wa Ta’ala yang telah memberiku Rezeki tanpa harus mengeluarkan Tenaga."
.
Mendengar Ucapan Lelaki Tua itu, dia menitikkan Air Mata, seraya bergumam: "Sejak Detik ini, aku Rela dengan apapun yang Engkau berikan, ya Allah.."
.
Rejeki itu yang penting mengalir. Besar Kecil yang penting ada Alirannya. Jangan harap mengalir seperti banjir. Kalau tak bisa berenang bisa tenggelam..
.
Sampai kapan engkau Sibuk dengan Kelezatan. Sedangkan engkau akan di tanya tentang semua yang kau lakukan.
.
Kalam Sayyidina Ali bin Abi Thalib radhiyallahu ‘ana, "Barang Siapa perhatiannya hanya pada apa yang masuk ke perutnya, maka nilai seseorang itu tidak lebih dari apa yang keluar dari perutnya."

Thursday, 16 November 2017

Manfaat Sedekah


Sahabat, sedekah yang kita berikan bukan hanya akan membahagiakan dan membantu orang yang membutuhkan, tapi sedekah juga akan memberi manfaat bagi orang yang memberi.

Setidaknya, ada 4 manfaat yang akan didapatkan oleh orang yang bersedekah.

Pertama, panjang umur. 
Hal ini sebagaimana sabda Rasulullah SAW, "Sesungguhnya sedekah orang muslim dapat menambah (memperpanjang) umurnya, dapat menunda kematian yang su'ul khatimah, Allah akan menghilangkan sifat sombong, kefakiran dan sifat berbangga kepada diri sendiri," (HR. At-Tabhrani)

Kedua, menyembuhkan penyakit.
Rasulullah bersabda, "Bentengilah hartamu dengan zakat, obati orang-orang sakit dengan bersedekah dan siapkan doa untuk menghadapi datangnya bencana," (HR. At-Thabrani)

Ketiga,tolak balamusibah.
Hal ini diungkapkan dalam hadits yang diriwayatkan oleh Baihaqi, "Bersegeralah bersedekah, sebab bala bencana tidak pernah mendahului sedekah."

Keempat, memperbanyak rezeki.
Allah SWT berfirman, "Perumpamaan orang yang menginfakkan hartanya di jalan Allah seperti sebutir biji yang menumbuhkan 70 tangkai, pada setiap tangkainya terdapat 100 biji. Allah melipatgandakan bagi siapa saja yang Dia kehendaki dan Allah Maha Luas lagi Maha Mengetahui."(QS.Al Baqarah:261)

Sahabat, mari menjadi Muslim yang dermawan dengan senantiasa peduli dan berbagi kepada sesama.

Tenang Saja, Rezeki Sudah Diatur Allah Swt











Imam Zahid adalah seorang hamba yang dikenal shalih dan takwa. Pada suatu hari setelah beliau membaca Al-quran, Imam Zahid termenung. Pikirannya tertuju pada ayat 75-79 surat al An-am yang berkisah tentang usaha Nabi Ibrahin untuk mencapai keyakinan terhadap ketuhanan Allah Swt. Saat ituy, ia merasakan ada sesuatu yang mengganjal bathinnya. Selama ini, ia tahu Allah Swt. adalah Tuhan Yang Maha Pengasih dan selalu memberikan rezeki kepada siapapun dan dimanapun, baik bagi orang yang beriman ataupun kafir. Selama makhluk itu hidup, rahmat dan karunia-Nya akan tetap mengalir.

Bagi Imam Zahid, pandangan pengetahuan tersebut baru sebatas percaya. Ia belum yakin sepenuhnya terhadap pandangan tersebut. Bermula dari kisah Nabi Ibrahim as. ia ingin mencari keyakinan sekaligus ingin membuktikan bahwa Allah Swt. benar-benar membagikan rezeki dimana pun makhluk itu bertempat tinggal.

Selanjutnya, Imam Zahid mencari tempat yang jauh dari keramaian manusia. Dan, tempat yang dipilihnya adalah gunung. Sesampainya ditempat tujuan, Imam Zahid duduk dimulut gua. Tempat itu persis dengan apa yang ia inginkan, yaitu tempat yang benar-benar sepi dan tampaknya tidak satupun manusia yang berada ditempat itu sebelumnya.

Beberapa hari kemudian dugaan Imam Zahid meleset, karena dari kejauhan terlihat nampak serombongan kafilah dagang yang melintas ditempat itu dan mendekati tempatnya berada. Rombongan kafilah itu sedang tersesat hingga sampai ketempat beliau mengasingkan diri. Mereka merupakan kelompok pedagang yang berkeliling mengarungi padang pasir dengan mengendarai unta. Mereka berdagang dari kota satu ke kota yang lainnya.

Terdengar teriakan pemimpin kafilah itu agar semuanya berhenti sebentar di depan gua. Sepertinya pemimpin kafilah itu mengetahui keberadaan Imam Zahid yang duduk diam di depan gua.

"Wahai tuan, tolong tunjukkan kepada kami jalan ke kota terdekat agar kafilah kami tidak tersesat," kata pemimpin kafilah itu kepada Imam Zahid, 

"Sudah berhari-hari kami berada dikawasan ini dan belum juga menemukan jalan untuk ke kota."
Imam Zahid diam tidak menjawab. Pandangannya tidak beralih sedikitpun ke pemimpin kafilah. Pandanagannya tetap ke depan, tak menghiraukan keberdaan siapapun disekelilingnya. Sekali lagi pemimpin kafilah itu mengulangi pertanyaannya. Akan tetapi, Imam Zahid tak bergeming. Ia tak menjawab, walaupuin berulang kalinya.

"Sepertinya orang ini sangat kelaparean, sampai-sampai ia tidak kuat untuk berbicara. Beri ia makan dan minuman," perintah pemimpin kafilah kepada anak buahnya.

Seorang pekerja kafilah itu meletekkan makanan dan minuman di depan Imam Zahid, dan berkata, "Makanlah tuan."

Imam zahid tetap diam dan tidak bereaksi, meskipun orang itu mengulangi perkataannya. Orang itu mendekatkan makanan ke wajah Imam Zahid.

"Mungkin badannya sangat lemah karena menahan lapar yang luar biasa, sampai tidak bisa menggunakan tangannya. Mungkin suapkan saja ke mulutnya, barangkali ia baru mau memakannya," usul pemimpin kafilah.

Orang itu melaksanakan semua yang dikatakan pemimpin kafilah. Namun, mulut Imam Zahid tetap terkunci, tak mau membukanya.

"Buka paksa saja mulutnya, ia mungkin sangat lemah untuk membuka mulutnya sendiri," kata pemimpin kafilah itu.

Orang itu mencoba untuk membuka mulut Imam Zahid, tetapi mulut itu tetap tak mau membuka untuk mengunyah makanan.

"Allahu akbar, pakailah pisau untuk membuka mulutnya!" Perintah pemimpin kafilah.

Ketika salah seorang kafilah membuka bungkusan untuk mengambil pisau, secara tiba-tiba Imam Zahid tertawa keras. Orang-orang yang ada ditempat itu terkejut bukan main.

"Ternyata, kamu tidak lemah atau kelaparan, tidak seperti yang kami sangka," kata pemimpin kafilah.

"Tidak tuan-tuan," kata Imam zahid, "Aku tidak kelaparan, sebagaimana yang kalian perkirakan. Sebelumnya aku mohon maaf bila merepotkan kalian semua. Ketahuilah tujuanku berda disini dan seperti tak nmenghiraukankeberadaan kalian hanyalah untuk mencari tahu dan meyakinkan diri tentang cara Allah SWt. memberikan rezeki kepada segenap makhluk-Nya. Ternyata ditempat terpencil dan dunyi inipun Allah swt. tetap memperhatikanku dan mengirimkan rezeki-Nya melalui perantaraan kalian. Karena itu dimanapun kita berada pasti diberikan rezeki oleh allah Swt; Tuhan tidak akan pernah menelantarkan makhluk-Nya."

Pemimpin dan anggota kafilah dapat memahaminya. Imam zahid dan rombongan kafilah pedagang itupun makan bersama-sama. sesudah menyantap makanan, ia dan rombongan kafilah yang tersesat itu pergi menuju ke kota. Kini Imam Zahid telah yakin dan semakin bertambah keimanan dan ketakwaannya kepada Allah Swt.

Monday, 13 November 2017

Tak Ada Kebaikan Yang Sia-Sia


Ada cerita tentang seorang petani Skotlandia yang mendengar tangis seorang anak kecil yang terperosok ke dalam lumpur. Tanpa menunggu lama, si petani tersebut langsung menolong dengan mengeluarkan anak tersebut dari dalam lumpur.

Keesokan harinya ayah si anak datang untuk menyatakan terima kasih pada sang petani. Dia adalah orang kaya dan menawarkan berbagai hal pada si petani, namun petani tersebut menolaknya.


Akhirnya orang kaya itu memutuskan untuk menyekolahkan anak si petani dan menanggung semua biayanya. Anak Petani tersebut disekolahkan di universitas St. Mary's Hospital Medical School di London.
Si anak petani memanfaatkan kesempatan itu dengan belajar sungguh-sungguh. Anak itu bernama Sir Alexander Fleming dan dialah yang menemukan obat Penisilin , satu jenis turunan Anti Biotik yang sangat terkenal dan manjur waktu itu.

Bertahun-tahun kemudian anak si orang kaya diserang penyakit Pneumonia dan obat yang mampu menyelamatkan nyawanya adalah obat Penisilin.

Tahukan anda bahwa Anak orang kaya tersebut ternyata bernama Sir Winston Churchill ( Perdana Menteri Inggris pada wktu Perang Dunia ke 2 ! ).

Disini kita melihat bagaimana amal kebaikan itu bisa kembali kepada mereka yang sudah memberikan kebaikan.

Sebagaimana benih yang ditaburkan akan menghasilkan buah. Yakinlah bahwa setiap perbuatan baik yang kita lakukan akan membawa kebaikan bagi kita sendiri. Setiap hari merupakan kesempatan untuk berbuat baik.

Marilah kita menjadi penebar kebaikkan bagi banyak orang, dan menolong mereka yang membutuhkan Jadi janganlah ditunda lagi kesempatan untuk berbuat Kebajikan karena hal seperti itu belum akan terulang lagi.

Hari ini kalau ada orang yang membutuhkan uluran tangan anda, bantulah karena saat itu Amal dan Kebajikan yang anda buat pastilah akan tercatat dengan Tinta Emas baik Didunia maupun di Alam Sana.

Motifasilah diri anda agar dimampukan utk berbuat baik kepada siapapun juga hari ini. Percayalah bahwa sebagian dari rejeki dan kepandaian kita adalah juga ada bagian dari orang yang berkekurangan.

Rendahkan hati kita, agar tangan kita mampu terulur untuk menolong orang lain. Kalau harta kita tak punya, maka berbagilah ilmu yang kita punya utk teman2 dan org lain yang membutuhkan. Kalau harta dan kepandaian pun tak kita miliki, maka berbagilah Nasihat dan Senyuman... 

Ketika Shalawat Meringankan Beban Hutang








Kisah ini merupakan penggalan ceramah Syeikh Husna Syarif, ulama besar di Mesir.


Ada seorang yang terbelit hutang, hidup dalam tumpukan hutang di tengah kubangan kemiskinan.


Dia dulunya kaya raya, lalu jatuh bangkrut, sehingga mempunyai hutang yang teramat besar.


Setiap hari, rumahnya penuh orang yang menagih hutang, hingga pada suatu hari ia pergi ke tempat salah seorang saudagar kaya.


Sudah bukan cerita baru, kedatangannya untuk meminjam uang pula. Ia meminjam uang sebanyak 500 dinar. Saking terkenalnya orang ini banyak hutang sampai-sampai saudagar ini bertanya: 


"kira-kira kapan anda akan melunasi pinjaman ini?"
"Minggu depan tuan", jawabnya singkat.


Pada akhirnya ia pulang dengan 500 dinar digenggamannya. Jumlah segitu ia bayarkan kepada orang-orang yang setiap hari datang menagih hutang dan dari 500 dinar yang ia peroleh itu tidak tersisa sama sekali.


Hari demi hari ia bertambah sulit dan terpuruk kondisi ekonominya hingga tempo pembayaran hutangnya pun telah tiba. Saudagar itupun mendatangi rumah si miskin itu dan mengatakan: "tempo hutang anda telah tiba".


Si miskin dengan suara lirih menjawab: "Demi Allah saya sudah tak punya apa-apa".


Saudagar tsb merasa geram kepada si miskin dan mengadukannya ke pengadilan. Setibanya di pengadilan, hakim bertanya: "mengapa anda tidak membayar hutang anda?"


Lagi-lagi si miskin menjawab: "Demi Allah saya tak punya apa-apa tuan".


Karena merasa ini adalah kesalahan si miskin, maka hakim memvonisnya dengan hukuman penjara sampai ia bisa melunasi hutangnya.


Kemudian si miskin bangkit dan berkata: "Wahai tuan hakim, berilah saya waktu untuk hari ini saja. Saya hendak pulang ke rumah untuk berjumpa keluarga dan mengabarkan hukuman ini sekalian berpamitan dengan mereka, baru kemudian saya akan kembali untuk dipenjara".


Hakim menyahuti si miskin dengan mengatakan: "bagaimana mungkin, apa jaminanmu bakal kembali besok, sementara aku telah memvonismu hukuman penjara?"


Lelaki itu terdiam, tapi seolah mendapat ilham di benaknya, lalu berkata lirih: "Rasulullah ﷺ jaminanku, wahai tuan hakim, bersaksilah untukku jika besok aku tidak datang maka aku bukanlah termasuk umat Rasulullah ﷺ".


Si hakim tersentak diam dan tersentuh hatinya, ia sadar betapa agungnya Rasulullah ﷺ.


Kemudian si hakim menunda hukuman penjara untuknya hingga esok hari. Sesampainya di rumah, si miskin menghabarkan kondisinya kepada sang istri, bahwa besok dia akan dipenjara. 


Lalu istrinya bertanya: "wahai suamiku lantas mengapa sekarang engkau bebas?"


Aku menaruh nama Rasulullah ﷺ sebagai jaminanku", begitu jawab suaminya.


Mata istrinya pun berkaca-kaca dan air matanya menetes sembari berkata pada suaminya: "Selama Rasulullah masih menjadi jaminan bagimu maka mari kita bershalawat".


Dan mereka pun bershalawat kepada Rasulullah saw dengan rasa cinta yang dalam.


Sampai akhirnya mereka tertidur, dalam tidurnya bermimpi melihat Rasulullah ﷺ memanggilnya: "Hai fulan jika besok telah terbit fajar maka pergilah ke tempat ulama fulan dan sampaikan kepadanya bahwa aku menitipkan salam untuknya dan suruh ia menyelesaikan hutang2mu. Jika ulama itu tidak percaya, sampaikan 2 bukti ini".


Kemudian si miskin itu bertanya: "Apa 2 bukti itu wahai Rasulullah?


Rasul ﷺ menjawab: "katakan padanya bahwa di malam pertama ia sudah membaca shalawat untukku 1000 x dan di malam terakhir dia telah ragu dalam jumlah bilangan shalawat yang dibacanya. Sampaikan padanya bahwa ia telah menyempurnakan shalawatnya".


Seketika si miskin terbangun dan pada pagi harinya ia pergi menuju si ulama fulan dan berjumpa dengannya. Tanpa buang waktu si miskin menyampaikan apa yang ia lihat dalam mimpinya.


Wahai tuan ulama??, Rasulullah saw telah menitipkan salam untuk anda dan meminta anda agar menyelesaikan hutang-hutangku.


Sang ulama bertanya: "Apa bukti dari kebenaran mimpimu itu tentang yang anda sampaikan?


Si miskin itu menyampaikan kedua bukti sebagaimana yang dikatakan Rasulallah ﷺ dalam mimpinya. 


"Di malam pertama anda telah bershalawat kepada Rasulullah saw sebanyak 1000 x dan di malam kedua anda ragu dengan jumlah bilangan shalawat yang telah anda baca. Rasulullah saw mengatakan bahwa hitungan shalawat anda telah sempurna, dan shalawat anda telah diterima oleh Rasulallah ﷺ ".


Mendengar hal itu spontan ulama itu menangis karena berita gembira shalawatnya diterima Rasulallah ﷺ.


Ulama tersebut memberi uang 500 dinar dari baitul mal (untuk melunasi hutang si miskin) dan 2500 dinar dari harta pribadinya untuk si miskin sebagai tanda terima kasih atas berita gembira yang disampaikan.


Tidak berapa lama kemudian si miskin bergegas pergi ke hakim untuk menyelesaikan perkaranya. Sesampainya di tempat hakim, tiba-tiba si hakim bergerak kearah si miskin seolah ia rindu ingin melihatnya dan memanggilnya seraya berucap :


"Kemarilah, berkat anda aku mimpi berjumpa Rasulullah ﷺ. Rasulullah saw telah berpesan kepadaku bahwa jika aku menyelesaikan hutangmu maka kelak Rasulullah saw akan menyelesaikan perkaraku di akhirat. Ini uang 500 dinar untuk melunasi hutang-hutang anda".


Belum sampai selesai dia bicara, tiba-tiba pintu ada yang mengetuk. Ketika dibuka, ternyata saudagar penagih hutang yang datang. Dia langsung memeluk si miskin dan menciumnya sembari berucap:


"Berkat anda saya mimpi berjumpa Rasulullah ﷺ Beliau berkata padaku jika aku merelakan hutangmu maka kelak di hari kiamat Rasulullah saw akan merelakan segala tanggunganku dan ini uang 500 dinar hadiah untuk anda dan hutang anda saya anggap sdh lunas".

Subhanallah, kisah ini adalah sekelumit bukti betapa Rasulullah ﷺ selalu memperhatikan urusan umatnya. Shalawat dan cinta kepada Nabi bisa menghilangkan kegundahan dan keresahan bahkan bencana.


Friday, 10 November 2017

Riya Membinasakan Pahala









Pada suatu waktu sahur, seorang abid membaca Al-Quran, surah "Thoha", di dirumahnya yang berdekatan dengan jalan raya. Selesai membaca, dia merasa sangat mengantuk, lalu tertidur. Dalam tidurnya itu dia bermimpi melihat seorang lelaki turun dari langit membawa senaskhah Al-Quran.

Lelaki itu datang menemuinya dan segera membuka kitab suci itu di depannya. dibukanya surat "Thoha" dan dibukanya halaman demi halaman untuk dilihat oleh abid. abid melihat setiap kalimat surat itu dicatatkan sepuluh kebaikan sebagai pahala bacaannya kecuali satu kalimat saja yang catatannya dihapuskan.

Lalu katanya, "Demi Allah, sesungguhnya telahku baca seluruh surat ini tanpa meninggalkan satu kalimat pun". "Tetapi kenapakah catatan pahala untuk kalimat ini dihapuskan?" Lelaki itu berkata. "Benarlah seperti katamu itu. Engkau memang tidak meninggalkan kalimah itu dalam bacaanmu tadi. bahkan , untuk kalimat itu telah kami catatkan pahalanya, tetapi tiba-tiba kami mendengar suara yang menyeru dari arah 'Arasy : 'hapuskan catatan itu dan gugurkan pahala untuk kalimat itu'. Maka sebab itulah kami segera menghapuskannya".

Abid pun menangis dalam mimpinya itu dan berkata, "Kenapakah kenapa itu bisa terjadi?".

"karena engkau sendiri. Ketika membaca surat itu tadi, seorang hamba Allah melewati jalan di depan rumah mu. Engkau sadar akan hal itu, lalu engkau meninggikan suara bacaanmu supaya didengar oleh hamba Allah itu. Kalimat yang tidak ada catatan pahala itulah yang telah engkau baca dengan suara tinggi itu". Si abid terbangun dari tidurnya. 

"Astaghfirullaahal-'Azhim! Sungguh licin virus riya' menyusup masuk ke dalam kalbu ku dan sungguh besar kecelakaannya. Dalam sekelip mata saja ibadahku dimusnahkannya. Benarlah kata alim ulama', serangan penyakit riya' atau ujub, bisa membinasakan amal ibadah seseorang hamba Allah selama tujuh puluh tahun".