Telp. 0265-2351868 | WA 0878 8555 4556

Kisah Inspiratif

Smart Family

Tafakur

Terbaru

Tuesday, 20 September 2022

Kunci Rezeki

Rasulullah SAW bersabda, “Barang siapa memperbanyak istighfar, niscaya Allah memberikan jalan keluar bagi setiap kesedihannya, kelapangan untuk setiap kesempitannya dan rizki dari arah yang tidak disangka-sangka” H.R Ahmad.

Kabar kembira diberikan kepada orang yang senantiasa memperbanyak istighfar, salah satunya adalah Allah Yang Maha Memberi Rezeki, yang memiliki kekuatan akan memberikan rezeki dari arah yang tidak disangka-sangka.

Karena itu, sahabat yang mengharapkan limpahan rizki jangan lupa untuk memperbanyak istighfar baik secara lisan dan perbuatan. Siapa yang melakukan istighfar hanya sebatas lisan tanpa adanya perbuatan, hal tersebut merupakan pekerjaan para pendusta maka waspadalah.

Friday, 16 September 2022

Hati Kita Milik Siapa?

Sejatinya apapun yang ada di dunia ini adalah milik Allah. Termasuk diri kita, bahkan hati kita.

Hati memang selalu tau apa yang harus dan tidak harus kita pilih dalam hidup kita. Hati selalu bisa merasakan baik buruknya satu perbuatan. Termasuk dalam memilih pasangan.

Ibnu Qayyim mengatakan, ada sebuah hadist yang menerangkan tentang masalah asmara.

“Ruh-ruh itu ibarat barisan prajurit yang teratur, yang saling mengenal akan saling serasi dan yang tidak saling mengenal akan saling membenci.” [HR. Bukhari]

Memang benar, kita akan mencintai dan tertarik dengan sesuatu manakala sesuai dengan kita. Tidak hanya daya tarik karena penampilan, namun juga kesamaan dalam kebiasaan, tujuan, keinginan, dan perangai. Sesuai kata Ibnu Qayyim, Allah telah memutuskan bahwa di antara manusia ada keselarasan dan kecocokan.

Rasulullah bersabda: Seseorang tidak mencintai suatu kaum kecuali ia akan dihimpun bersama mereka (pada hari kiamat). [HR. Al-Hakim]

Jadi siapakah yang kita cintai maka kita akan dipertemukan dengannya pada hari kiamat kelak. Tentu akan jadi hal yang sangat membahagiakan.

Sahabat, bagaimana kabarnya hati hari ini?

Semoga hati kita tetap istiqamah dalam menjalankan perintah Allah, dan selalu Allah kuatkan hati kita untuk selalu taat di jalan yang benar.

Tentramkan Hati dengan Berzakat yuk 

“Sesungguhnya orang-orang yang beriman, mengerjakan amal saleh, mendirikan shalat dan menunaikan zakat, mereka mendapat pahala di sisi Tuhannya. Tidak ada kekhawatiran terhadap mereka dan tidak (pula) mereka bersedih hati.” (QS. Al Baqarah : 277

Wednesday, 14 September 2022

Orang Yang Diperbudak Harta

Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam bersabda: “Celakalah hamba dinar, celakalah hamba dirham, celakalah hamba khamisah dan khamilah (sejenis pakaian yang terbuat dari wool/sutera). Jika diberi ia senang, tetapi jika tidak diberi ia marah”.[HR. Bukhari]

Maksud dari “budak harta” adalah harta dan uang tersebut memperbudak dan memerintahkan manusia untuk mencari mereka (uang). Manusia yang tamak akan patuh saja dengan perintah harta atau uang tersebut. Uang akan “berkata”:

‘Carilah aku dan kerahkan semua tenaga kalian‘ (manusia tamak pun patuh pada uang)

Uang “berkata” lagi:

‘Carilah aku lagi, belum cukup, engkau perlu kerja sampai malam dan lembur sampai libur akhir pekan’ (manusia tamak pun patuh pada uang)

Uang “berkata” lagi:

‘Carilah aku, engkau perlu mengorbankan sedikit kehormatan dirimu, engkau harus mengorbankan sedikit prinsip hidupmu, agar bisa dapat uang di zaman ini’ (manusia tamak pun patuh pada uang)

Selama uang yang didapatkan tersebut belum dipakai dan hanya “dikoleksi” saja, misalnya berupa tanah atau tabungan yang mengendap lama, maka hakikatnya manusia telah diperbudak oleh harta dan menjadi budak harta, karena manusia patuh saja pada harta.

Manusia yang rakus dan tamak menjadi budak harta karena manusia harus menjaga harta tersebut, yang terkadang menjaga harta seperti seorang budak yang menjaga seorang raja atau menjaga majikannya. Perlu tenaga, perhatian dan konsentrasi yang benar-benar penuh untuk menjaga harta, bahkan untuk menjaga harta perlu mengorbankan segalanya.

“Tidaklah dua serigala lapar yang menghampiri seekor kambing lebih berbahaya baginya dari ambisi seseorang kepada harta dan kedudukan bagi agamanya” [HR Tirmidzi )

Inilah hakikat harta dan dunia yang bisa menipu manusia. Manusia yang tamak mengira bahwa merekalah raja dan tuan, tetapi sesungguhnya mereka telah diperbudak oleh harta dan dunia.


Tuesday, 23 August 2022

Semua Hanya Titipan

 

Sahabat,Jika kita merasa memiliki sesuatu, bisa harta kekayaan, pangkat jabatan, pasangan, anak-anak, rumah, kendaraan, dan lain sebagainya dari urusan dunia ini, maka yakinilah bahwa semua itu hanya titipan. Bahkan diri kita pun hanyalah titipan.

Kita tidak memiliki apa-apa jika Allah SWT tidak memberi kepada kita. Kita tidak punya apa-apa jika AllAh tidak menghendakinya. Selayaknya sebuah titipan, pasti ada saatnya titipan itu diambil kembali oleh sang pemilik. Itulah sebabnya orang-orang yang mendapat keberkahan sempurna serta petunjuk dari Allah sangat mengetahui hal ini, dan alih-alih merasa sedih telah kehilangan.

Mereka akan menghibur diri dengan mengucapkan “Innalillaahi wa inna ilaihi rojiun” yang bermakna “Sesungguhnya segala sesuatu berasal dari Allah dan akan kembali padaNya”. Mereka tahu bukan sedang kehilangan sesuatu, melainkan ada ‘titipan’ yang sudah harus dikembalikan.

Kesehatan, kekayaan, dan orang-orang yang kita cintai adalah berkah yang dipinjamkan Allah SWT, namun tak jarang manusia lupa berkah tersebut hanyalah titipan yang dapat diambil kapan pun. Dan, juga akan ada saatnya sang pemiliki mempertanyakan apa yang telah terjadi dengan titipannya. Maka, demikian pula dengan titipan Allah SWT kepada kita.

Rasululloh SAW bersabda : “Tidak akan bergeser dua telapak kaki seorang hamba pada hari kiamat sampai dia ditanya (dimintai pertanggungjawaban) tentang umurnya kemana dihabiskannya, tentang ilmunya bagaimana dia mengamalkannya, tentang hartanya; dari mana diperolehnya dan ke mana dibelanjakannya, serta tentang tubuhnya untuk apa digunakannya.”(HR. Tirmidzi)

Mata kita, digunakan untuk apa? Apakah untuk membaca dan merenungi tanda-tanda kebesaran Alloh Swt. sehingga makin kuat iman kita kepada-Nya, ataukah justru digunakan untuk bermaksiat? Lisan kita, digunakan untuk apa? Apakah basah dengan dzikir dan ucapan-ucapan yang Alloh ridhoi, ataukan sibuk dengan ucapan dusta dan sia-sia? Demikian juga dengan berbagai hal yang menurut kita adalah milik kita, untuk apakah digunakan, apakah untuk mendekat kepada Alloh atau malah menjauhi-Nya?

Maasyaa Allah, setiap segala sesuatu adalah milik Allah dan akan kembali kepada-Nya. Allah SWT berfirman,

Semoga Allah SWT, senantiasa memberikan hidayah-Nya kepada kita sehingga kita senantiasa menyadari bahwa segala kita yang miliki adalah titipan dari Allah SWT. yang pasti kelak akan dimintai pertanggungjawaban di hadapan-Nya. Semoga kita termasuk orang yang amanah dalam mengemban amanah tersebut untuk hanya dipergunakan pada urusan-urusan yang Allah ridhoi. Aamiin yaa Robbal ‘aalamiin.


Monday, 22 August 2022

Kebahagiaan Sederhana Membuat Makanan



Sahabat, setiap manusia mempunyai persepsi yang berbeda dalam mendefinisikan arti kebahagiaan. Beberapa orang ada yang menikmati kebahagiaan dengan bergelimangan kemewahan dan beberapa orang ada yang menikmati kebahagiaan dengan cara yang sederhana.

Berikut adalah contoh kebahagiaan sederhana yang dinikmati seluruh santri dengan penuh rasa syukur. Ketika mereka mengolah daging qurban dari Bapak/ Ibu donatur yang telah menitipkan qurbannya kepada kami. Kali ini mereka mengolah daging menjadi bakso. Seluruh santri saling membantu dalam pembuatan bakso ini. Ada yang bertugas menyiapkan adonan dan bumbu, ada yang bertugas memasak, dan ada yang bertugas membersihkan semua peralatannya. Alhamdulillah, sesederhana ini kebahagiaan yang bisa mereka dapatkan namun sangat bermakna.






Friday, 12 August 2022

Manusia Tempat Salah Dan Khilaf

 

Terkadang ketika kita melakukan kesalahan dan kehilafan, kita sering bergumam dalam hati “manusia adalah tempatnya salah dan khilaf, tidak ada manusia yang sempurna”. Kalimat tersebut mempunyai dua nilai dan makna, kalau tidak hati-hati dalam memaknainya, kalimat tersebut bisa-bisa menjadi jembatan yang akan menjebak kita pada kesalahan, kekhilafan yang tak berujung. 

Makna pertama, kalimat tersebut bisa bernilai posistif dan bermakna tauhid manakala dijadikan sebagai bentuk pengakuan kita sebagai manusia yang lemah, manusia yang cenderung berbuat salah, manusia tanpa daya dan upaya kecuali dengan pertolongan Alloh SWT.  Dengan pengakuan itu kita menjadikannya sebagai sarana bermuhasabah dalam menyelami kelemahan diri lalu kemudian memperbaikinya. Akan tetapi, pengakuan diri sebagai manusia yang lemah yang cenderung berbuat khilaf, bukan tidak mungkin akan menjadi bumerang karena tipu daya setan dalam menggelincirkan hati manusia.

Ketika siasat setan berhasil dalam menggelincirkan hati manusia, maka makna kalimat “manusia adalah tempatnya salah dan khilaf, tidak ada manusia yang sempurna” bisa menjadi makna negativ yang mengandung makna kelalaian, manakala kalimat tersebut dijadikan sebagai pembenaran dari sebuah kesalahan dan kekhilafan, bahkan pembenaran atas dosa dan maksiat. Kalimat tersebut bisa membuat kita terus berkilah dari kesalahan-kesalahan. Akibatnya, karena kita terus berkilah karena merasa ada pembenaran, kita tidak akan belajar dari sebuah kesalahan, kita tidak bermuhasabah dari kekhilafan, atau bahkan kita tidak akan menyesali sebuah perkara dosa dan maksiat. 

Setiap anak Adam pernah berbuat salah dan sebaik-baik yang berbuat salah adalah yang bertobat darikesalahannya.(HR. At Tirmidzi no. 2499)

Disinilah perlu kehati-hatian kita dalam merenungi setiap kesalahan dalam kehidupan kita. Tidak ada satu kesalahan, kehilafan, dosa dan maksiat yang dapat kita maklumi, wajarkan dan mahfumi, yang harusnya kita renungkan dari setiap kesalahan dan kekhilafan manusia adalah dengan menyesalinya, bermuhasaban kemudian melakukan perbaikan. Ibarat pepatah, “keledai pun tidak akan jatuh untuk yang kedua kalinya pada lubang yang sama”, maka agar kita tidak jatuh pada kesalahan yang sama, kekhilafan yang sama, dosa dan maksiat yang sama, maka jangan jadikan kalimat kalimat “manusia tempat salah dan khilaf” sebagai kalimat pemakluman, pewajaran dan pemahfuman apalagi pembenaran. 


Rasululloh juga bersabda, “Manusia tidak akan binasa sampai mereka membuat ‘udzur untuk dirinya sendiri” (Sunan Abu Dawud no. 4347, Shahih Al-Jami’ no. 5231). Pengertian Udzur bisa disamakan dengan membuat-buat alasan dan berkilah dari sebuah perkara, terlebih untuk menghindari perkara yang disyariatkan dan diperintahkan atau perkara yang ingin mengingkari sesuatu yang dilarang. Mari kita senantiasa untuk selalu waspada akan tipu daya setan yang halus, termasuk tipu daya yang menggelincirkan kalimat yang mengandung makna tauhid menjadi kalimat yang mengandung unsur kelalaian.

wallahualam bishawab.


Tuesday, 9 August 2022

Orang Paling Kaya Di Dunia

Kekayaan adalah hal yang didamba setiap orang. Namun, kekayaan seperti apakah yang dimaksud dalam syariat Islam? Orang paling kaya menurut Islam adalah orang yang bisa menerima apa adanya setiap rezeki yang diperolehnya. 

Tentang definisi kaya ini, Nabi SAW bersabda, dari Abu Hurairah, ia berkata bahwa Rasulullah SAW bersabda, "Yang namanya kaya bukanlah dengan memiliki banyak harta, tetapi yang namanya kaya adalah hati yang selalu merasa cukup (qanaah)." (HR Bukhari no 6446, Muslim no 1051, Tirmidzi no 2373, Ibnu Majah No 4137). 

Kaya hati dalam hadis ini yang dimaksud adalah tidak pernah tamak pada segala yang ada pada orang lain. Qanaah artinya adalah nrimo (menerima) dan rela dengan berapa pun yang diberikan oleh Allah Ta'ala. Berapa pun rezeki yang didapat, ia tidak mengeluh. Mendapatkan rezeki banyak, bersyukur; mendapatkan rezeki sedikit, bersabar dan tidak mengumpat.

Dalam hadis di atas terdapat pelajaran dari Ibnu Baththol. Ia berkata ketika menjelaskan hadis di atas, "Yang dimaksud kaya bukanlah dengan banyaknya perbendaharaan harta. Karena betapa banyak orang yang telah dianugerahi oleh Allah harta tetapi masih merasa tidak cukup (alias fakir). Ia ingin terus menambah dan menambah. Ia pun tidak ambil peduli dari manakah harta tersebut datang. Inilah orang yang fakir terhadap harta (tidak merasa cukup dengan harta). Sikapnya demikian karena niatan jelek dan kerakusannya untuk terus mengumpulkan harta. Padahal, hakikat kaya adalah kaya hati, yaitu seseorang yang merasa cukup dengan yang sedikit yang Allah beri. Ia pun tidak rakus untuk terus menambah."

Andaikan kita telah bisa mengamalkan hadis di atas, saat itulah kita bisa memiliki kesempatan besar untuk menjadi orang terkaya di dunia. Ujung-ujungnya, keberuntunganlah yang menanti kita, sebagaimana janji Rasulullah SAW, "Beruntunglah orang yang berislam, dikaruniai rezeki yang cukup, dan dia dijadikan menerima apa pun yang dikaruniakan Allah (kepadanya)." (HR Muslim).

Berdasarkan standar di atas, bisa jadi orang yang berpenghasilan hanya Rp 50 ribu sehari dikategorikan orang kaya, sedangkan orang yang berpenghasilan Rp 500 ribu sehari dikategorikan orang miskin. Mengapa? Karena orang pertama merasa cukup dengan uang sedikit yang peroleh, sementara orang kedua, ia merasa kurang terus walaupun uang yang didapatkannya cukup banyak secara nominal.

Logika apa yang bisa menerima orang yang berpenghasilan Rp 50 ribu sehari dianggap berkecukupan, padahal ia harus menafkahi istri dan anak-anaknya, ditambah lagi kebutuhan lain yang harus ia penuhi?

Begitulah Allah SWT berbuat kepada setiap hamba-Nya yang qanaah. Allah SWT menjadikan keberkahan pada rezekinya. Selain itu, ukuran kecukupan dalam kacamata Nabi SAW seperti disabdakannya, "Siapa yang melewati harinya dengan perasaan aman dalam rumahnya, sehat badannya, dan memiliki makanan untuk hari itu, maka seakan-akan ia telah memiliki dunia seisinya." (HR Tirmidzi, dinilai hasan oleh al-Albani). Wallahu a'lam.