Telp. 0265-2351868 | WA 0878 8555 4556 | BBM 5AE49B09

Kisah Inspiratif

Smart Family

Tafakur

Terbaru

Thursday, 22 June 2017

Ukuran Kesalehan







Kadang kita merasa bahwa Allah begitu dekat dengan kita karena terkabulnya berbagai permintaan duniawi kita, Tanpa sadar, kadang kala dalam kebahagiaan yang kita nikmati ada investasi doa dari orang-orang IKHLAS disekitar kita, yang tidak pernah kita ketahui sebelumnya.
kisah kali ini, semoga membawa kita lebih rendah hati dan tidah meremehkan peran orang-orang disekitar kita.
Hiduplah dua orang pemuda bersaudara yang tekun menuntut ilmu. Sehari-hari, mereka bekrja sebagai buruh di pabrik dan hidup dalam kemiskinan. Tidak jarang, mereka harus berjalan kaki untuk sampai ke kediaman guru, tempat mereka mengaji. Namun, keterbatasan tersebut tidak mematahkan semangat mereka untuk terus menuntut ilmu.
Pada suatu hari, sang kakak berdoa memohon rezeki agar bisa membeli kendaraan yang bisa dipakai untuk pergi mengaji. Allah pun mengabulkan doanya. Allah memberinya kelapangan rezeki sehingga ia bisa membeli kendaraan yang mewah. Sekarang, mereka bisa berangkat ke pabrik dan mengaji dengan kendaraan.
Sang kakak kemudian kembali berdoa memohon istri yang sempurna. Lagi-lagi, Allah Swt. Mengabulkannya. Sang kakak kembali berdoa memohon agar dikaruniakan rumah yang nyaman, pekerjaan yang layak, dan berbagai kemudahan duniawi yang lain. Allah mengabulkan semua permohonannya sehingga kehidupan sang kakak sedikit demi sedikit berubah menjadi lebih baik.
Namun, kesenangan duniawi tersebut menyebabkan sang kakak menjadi semakin sibuk. Pekerjaan dan berbagai urusan dunia menghabisan sebagian besar waktunya. Sedikit demi sedikit, sang kakak mulai meninggalkan aktivitasnya menuntut ilmu dan pergi mengaji bersama sang adik, seperti yang dulu sering mereka lakukan. Sementara itu, kehidupan sang adik tidak mengalami perubahan. Hidupnya tetap seperti semula, penuh kesederhanaan. Ia tinggal di rumah peninggalan kedua orangtuanya yang dulu mereka tempati berdua. Meskipun demikian, sang adik tetap rajin menuntut ilmu dan mengikuti pengajian.
Melihat kehidupan sang adik yang demikian, sang kakak kemudian merenung. Mengapa kehidupan adiknya tidak kunjung berubah dari hari ke hari? Padahal ia tahu betul bahwa adiknya sangat rajin bekerja dan berusaha. Juga tidak pernah bosan berdoa seperti dirinya. Lalu, kenapa rahmat Allah seperti enggan menyapa kehidupan adiknya.
Sang kakak kemudian teringat bahwa adiknya selalu membawa dan membaca selembar kertas ketika berdoa. Itu menandakan bahwa adiknya tidak pernah hafal dengan untaian bacaan doa. Mengingat hal tersebut, sang kakak kemudian mendatangai adiknya dan menasihatinya agar rajin-rajin berdoa dan membersihkan hati. Sang adik sangat terharu dan merasa bersyukur memiliki seorang kakak yang sangat perhatian dan begitu menyayanginya. Sang adik sangat berterima kasih kepada sang kakak dan berjanji akan menuruti nasihat sang kakak.
Saatnya tiba, sang adik meninggal dunia. Sang kakak sangat sedih. Sedih, bukan hanya karena kepergian sang adik untuk selama-lamanya. Namun, yang lebih membuat ia bersedih adalah karena sampai akhir hayatnya, adiknya masih hidup dalam kemiskinan. Setelah prosesi pemakaman sang adik selesai, sang kakak bersama keluarga kecilnya membereskan rumah sang adik. Pada saat membereskan rumah, sang kakak menemukan selembar kertas yang terlipat dalam sajadah yang biasa digunakan oleh adiknya untuk shalat. Kertas tersebut berisi tulisan doa yang biasa dibaca secara berulang-ulang oleh adiknya.
Pada secarik kertas itu tertulis:
” Ya Allah, tiada sesuatu pun yang luput dari pengetahuan-Mu. Ampunilah aku dan kakakku, kabulkanlah segala doa kakakku, bersihkanlah hatiku, dan berikanlah kemuliaan hidup untuk kakakku di dunia dan akhirat.”

Membaca untaian doa di secarik kertas tersebut, sang kakak menangis sesenggukan. Air matanya mengalir deras. Ia tidak pernah menduga sebelumnya, ternyata adiknya tidak pernah sekali pun berdoa untuk memenuhi nafsu dunia. Sebaliknya, sang adik mendoakan kebahagiaan untuk kehidupannya di dunia dan di akhirat, padahal ia sendiri selama ini tidak pernah sedikit pun menyebut nama adiknya dalam untaian doa-doanya.
"Apakah kamu tidak memperhatikan orang yang menganggap dirinya suci. Sebenarnya Allah mensucikan siapa yang dikehendaki-Nya dan mereka tidak dianiaya sedikitpun". (QS. An-Nisaa’(4):49).

Monday, 19 June 2017

Takut Sombong








Pada masa Rasulullah saw, Di Madinah Para sahabat biasa menghadiri majelis ilmu yang diselenggarakan dan diisi langsung oleh Rasulullah saw Setiap hari Kamis.
Di satu hari Kamis saat majelis sudah dibuka, Kaum Muslimin yang ingin mendapat siraman hidayah bersegera untuk menempati tempat terbaik. Dalam majelis itu, tidak dibeda-bedakan mana tempat untuk pejabat dan mana untuk rakyat. Barang siapa yang cepat, ia yang lebih dulu dapat tempat. Semua dalam keadaan haus akan tuntunan. Mereka ingin semua yang disampaikan Rasulullah bisa menjadi pengantar menuju keridhaan Allah dan surga-Nya.
Ketika majelis tengah berlangsung, tiba-tiba ada seseorang yang baru saja datang. Ia melihat ke sana kemari, mencari tempat di mana ia bisa menyelipkan dirinya. Namun, semua tempat terisi semua. Sampai dia menemukan satu tempat duduk, di mana di sampingnya ada seorang miskin dengan pakaian yang sudah rombeng dan pudar.
Orang yang baru datang itu terlihat ragu-ragu untuk duduk di situ. Memang, pakaian dia jauh berbeda dengan orang miskin itu. Dia memakai pakaian yang berbahan mahal. Potonganannya pun bukan potongan sembarangan. Ditambah lagi, wangi-wangian yang ia pakai melengkapi seluruh kemewahan penampilannya.
Namun, tidak ada pilihan lain. Ia ingin sekali mendengar uraian bimbingan Rasulullah. Dengan sangat terpaksa, ia pun duduk di samping si fakir. Sambil mendengarkan ceramah Rasulullah, berulang kali ia melipat-lipat pakaiannya supaya tidak menyentuh pakaian orang miskin disammpingnya. Karena hal itu berlangsung terus-menerus, akhirnya Rasulullah mengetahui dan menegurnya.
“Mengapa kau terus-menerus menarik kain bajumu? Apakah kau takut pakaianmu kotor terkena pakaian saudaramu yang fakir?”
Orang kaya itu tersentak dan menyadari perbuatan salahnya. Ia merasa menyesal telah khilaf. Tanpa terasa, ternyata perbuatannya sudah menunjukkan sikapnya yang merendahkan orang lain.
Kemudian ia berkata, “Ya Rasulullah, aku bertobat kepada Allah atas kesalahanku ini. Sebagai penebus dosaku, aku akan memberikan separuh hartaku kepada saudara yang di sampingku ini.” Demikian kata si kaya sambil menunjuk kepada si fakir yang duduk disampingnya itu.
Rasulullah bertanya kepada si fakir, “Apakah kamu bersedia menerima hibahnya, ya Abdallah?”
Si fakir menjawab dengan tegas. “Tidak. Aku tidak mau hartanya!”
Rasulullah memandang sejenak orang miskin itu, lalu bertanya, “Mengapa kau tidak mau menerima separuh hartanya?”.
Orang miskin itu menjawab, “Aku takut menjadi sombong karena harta, seperti orang ini.”
Harta bisa menjadi alat untuk beribadah, tapi juga bisa menjadi dosa manakala kita tidak sanggup mengunakannya dengan baik sebagai bukti KESYUKURAN kita, atau kita jadikan sebagai Pemuas Gaya Hidup dan Kesombongan kita.
Sahabat, berhati-hatilah dengan harta yang DITITIPKAN Allah kepada kita.

Wednesday, 14 June 2017

Penggembala Kambing Yang Jujur







Khalifah Umar bin Khattab merupakan sosok pemimpin setelah meninggalnya Rasulullah Muhammad SAW yang sangat disegani. Ini karena Umar terkenal sangat teguh menjaga amanah dan tidak mau menyimpang.
Kala itu, Umar sedang mengadakan perjalanan ke suatu tempat. di tengah perjalanan, dia bertemu dengan seorang anak penggembala kambing.
Anak ini hidup sebatang kara karena kedua orang tuanya telah meninggal dunia. Dia pun hidup mengandalkan upah yang diperolehnya dengan menggembala kambing.
Melihat si anak itu, Umar kemudian ingin menguji apakah anak ini dapat bersikap jujur dan amanah. Maka, didekatilah si anak ini.
“Banyak sekali kambing yang kau pelihara. Semuanya bagus dan gemuk-gemuk. Juallah kepadaku barang satu ekor saja,” kata Khalifah Umar kepada si anak gembala.
“Saya bukan pemilik kambing-kambing ini. Saya hanya menggembalakan kambing-kambing ini dan memungut upah darinya,” kata anak gembala.
“jika kau jual pada ku, Katakan saja kepada majikanmu, kalau salah satu kambingnya dimakan serigala,” ucap Khalifah Umar.
Anak gembala itu terdiam. Sejenak kemudian, dia lalu berkata, “Di mana Allah? Di mana Allah? Jika tuan menyuruh saya berbohong, di mana Allah? Bukankah Allah Maha Melihat? Apakah tuan mau menjeruskan saya ke dalam neraka karena telah berbohong?”
Mendengar jawaban itu, Khalifah Umar menitikkan air mata. Dipeluknya anak gembala itu, lalu dia meminta agar si anak gembala itu mengantarkannya kepada sang majikan.
Setelah bertemu dengan majikan si anak gembala, Khalifah Umar kemudian menawar harga anak itu. Kesepakatan terjadi, dan si anak gembala ini dimerdekakan oleh Khalifah Umar.
Selain itu, Khalifah Umar juga membeli semua kambing yang digembalakan si anak tadi. Kambing-kambing itu kemudian diberikan kepada si anak gembala, dan menjadi hak penuh miliknya, sebagai hadiah atas kejujuran dan amanah si anak tadi.
Dari cerita diatas menunjukan bahwa kejujuran adalah nilai yang peling tinggi yang harus di pegang oleh kita semua. Walau ada kesempatan untuk menjual kambingnya tanpa sepengetahuan dari majikanya tetapi Allah maha tahu atas segala apa yang kita kerjakan didunia.

Tuesday, 6 June 2017

Meraih Sukses Dengan Menyantuni Anak Yatim







Lulus dari SMA Ahmad mencoba mengadu nasib ke Ibu Kota. Di kota ini ia diterima di sebuah pabrik garmen sebagai teknisi listrik. Pekerjaan ini ia lakoni selama 12 tahun, mulai dari karyawan biasa hingga kepala bagian.

Karena pabriknya bangkrut, Ahmad terpaksa berpindah-pindah kerja. Di perusahaan terakhir, Ahmad juga melihat akan mengalami hal yang sama. Hingga suatu hari bosnya berkata, “Ahmad, kamu ini sebenarnya orang pintar dan tidak pantas jadi karyawan.”

Ketika tempat kerjanya bangkrut, Ia mendapat pesangon Rp 1 juta dan tambahan dari bosnya Rp 1 juta. “Saya sadar jika uang segitu jika dibelanjakan akan habis dalam hitungan hari,” kenang Ahmad. Ia kemudian berfikir, uang Rp 1 juta itu ia gunakan untuk membayar uang muka motor sebagai modal usaha.

Dengan motor itu ia menawarkan jasa servis ke perusahaan-perusahaan garmen. Karena kegigihan dan layanan yang memuaskan, dalam waktu tidak lama ia sudah mempunyai 6 pelanggan pabrik garmen dengan total jumlah mesin jahit sekitar 200 biji. Penghasilan dari jasa servis itu cukup lumayan dan bisa untuk menopang hidupnya di Jakarta.

Suatu hari rekan kerjanya menawari kerja sama membuka usaha konveksi. Ahmad menyambut suka cita tawaran itu dan menaruh harapan besar dari usaha baru ini. Dengan modal Rp 50 juta, ia mulai membuka usaha konveksi dengan membeli mesin jahit dan bahan produksi. Mesin jahit tersebut tidak semua dijadikan alat produksi. Jika ada yang butuh, mesin itu dijual kembali.

Tidak lama, usahanya menuai sukses. Produknya mampu menembus Amerika. Namun di saat ia menikmati kesuksesan, sesuai kesepakatan awal, temannya akan menarik modal tersebut. “Saya sudah siap mandiri, bagaimana dengan Pak Ahmad? Kapan kira-kira Pak Ahmad siap?” ungkap sang rekan kala itu.

Tentu saja itu menjadi pukulan berat baginya. Apalagi saat itu pesanannya mulai ada tanda-tanda menurun setelah tragedi runtuhnya menara WTC di Amerika tahun 2001. Tragedi itu secara langsung berimbas pada kegiatan perekonomian negeri Paman Sam, tidak terkecuali produk garmen.

Namun sang rekan masih berbaik hati dengan memberi kesempatan Ahmad selama tiga bulan lagi. Kesempatan tersebut ia manfaatkan untuk mencari keuntungan sebanyak-banyak sebagai modal ketika sang rekan betul-betul memutus kerjasama.

Kerja keras Ahmad membuahkan hasil. Ia berhasil memperoleh keuntungan Rp 7 juta. Uang tersebut ia gunakan membeli mesin jahit sebanyak 10 buah. Ia pun dengan berani mengontrak rumah sebagai tempat usaha sebesar Rp 5 juta pertahun. “Alhamdulillah, kontraknya tidak dibayar dimuka,” kenangnya.

Seiring dengan waktu, usaha konveksi dan jual beli mesin jahitnya mulai berkembang. Karena merasa cukup modal, akhirnya tahun 2005 ia mendirikan CV sendiri sebagai. Dengan bendera ini, ia mulai bermain pada skala yang lebih besar.

Tahun 2007, ada sebuah pabrik garmen mengalami pailit. Pabrik tersebut banyak masalah dan sang pemilik kabur sebelum menyelesaikan urusan dengan karyawannya. Tidak ada perusahaan atau pemilik modal yang mau mengambil alih.

Dengan niat ingin menolong, Ia menawarkan diri untuk membelinya. Meskipun ia sendiri tidak mempunyai uang sebanyak itu. Ia hanya mempunyai uang Rp 25 juta dan sisanya dibayar dengan cara mencicil.

Di luar dugaan tawaran Ahmad disetujui oleh pihak menejemen. Dan hebatnya, dalam tempo satu bulan pembayaran bisa lunas.

Kini, usaha Ahmad terus berkembang. Jumlah karyawannya 8 orang. Omsetnya sudah mencapai ratusan juta rupiah tiap bulannya.

Ketika ditanya, ia enggan menyebutkan secara pasti. Tapi yang jelas setiap bulannya Dia mampu mengangsur ratusan juta. “Nggak tahu ya berapa omsetnya, yang jelas tiap bulan saya membayar kewajiban kepada rekan bisnis Rp 400 juta,” jelasnya.

Sedekah Kulkas ...

Keberhasilan Ahmad dalam berbisnis ternyata dilandasi oleh semangatnya yang merasa tidak pernah rugi dalam berbisnis. 

Menurutnya, perkataan rugi berarti tidak yakin bahwa rezeki datangnya dari Allah atau ber-su’uzhan (berburuk sangka) kepada Allah. Baginya, berbisnis atau berdagang harus berprinsip selalu untung.

“Untung tidak diartikan secara materi (uang) semata, namun karena berdagang adalah diniatkan sebagai ibadah maka keuntungan tersebut bisa berupa pahala, hubungan silaturahim maupun kemudahan lainnya,” jelasnya.

Selain itu, Ahmad juga punya keyakinan bahwa dalam menjalankan bisnis tidak boleh melupakan zakat dan sedekah. Ini yang ia buktikan.

Suatu saat pada bulan Ramadhan, ia membaca di koran ada panti asuhan anak membutuhkan alat rumah tangga. Ahmad langsung teringat pada kulkasnya. Ia kemudian mensedekahkan kulkas tersebut kepada panti asuhan itu.

Setelah kejadian tersebut Ahmad banyak mendapat kemudahan dalam bisnisnya. Antara lain, ia mendapat order yang tidak terduga sebelumnya. Beberapa relasinya yang mempunyai hutang kepadanya, membayar dengan tunai. “Padahal saya sudah lupa utang mereka,” terangnya.

Sejak itu ia semakin yakin bahwa zakat, infak, dan sedekah pasti akan diganti oleh Allah dengan yang lebih banyak lagi.

Setelah kejadian itu, ia pun dengan senang hati meminjamkan rumahnya ke sebuah panti asuhan untuk beberapa tahun. “Kita harus yakin dengan janji Allah, bukan sekedar di akhirat, di dunia kita sudah bisa merasakan. Apalagi dengan menyantuni anak yatim, doa-doa mereka akan menjadi kekuatan bagi kita. Jadi jangan ragu untuk berbagi,” saran bapak empat anak ini.

Kedermawanan Ahmad tidak sekedar menjadi donatur sebuah panti asuhan saja, namun sudah beberapa tahun ini dirinya beserta istri juga tengah mengasuh beberapa anak yatim dan dhuafa.

Setidaknya ada 40 anak asuh yang mereka santuni. Sebagian besar mereka masih tinggal bersama keluarganya. “Supaya mereka tidak terpisah atau tercabut dari kasih sayang keluarganya,” jelas Ahmad.

Selain itu, ia pun selalu berusaha melaksanakan ibadah sebaik mungkin. Dari hasil usahanya itu, ia bersama istrinya bisa menunaikan haji ke Baitullah. “Dengan banyak bersedekah, insya Allah usaha kita akan dilancarkan oleh Allah,” pungkasnya.

Tuesday, 30 May 2017

Dua Taubat Yang Terlambat


Allah SWT Maha Pengampun,Allah Maha Penerima taubat.Sebesar apapun dosa dan kesalahan yang dilakukan seorang hamba, selagi ia mau bertaubat dengan sungguh-sungguh, menyesali dosa dan kesalahanya, berjanji untuk tidak mengulangi lagi perbuatanya, niscaya Allah akan mengampuni semua dosa yang pernah dilakukan.

Dari Anas ra.ia berkata : Aku mendengar Rasulullah shollallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: “Allah Subhanahu wa ta’alah berfirman, ‘Wahai anak Adam (manusia), selama engkau masih mau berdo’a dan mengharapkan ampunan-Ku, pasti aku akan mengampuni dosa yang telah engkau perbuat dan Aku tidak menghiraukan sedikit banyaknya dosamu. Wahai anak Adam, sekiranya dosa kau setinggi langit, kemudian engkau memohon ampun kepada-Ku, tentu Aku akan mengampuni dosa-dosamu. Wahai anak Adam, sekiranya engkau datang membawa dosa seisi bumi kepada-Ku, kemudian engkau mohon ampun kepada-Ku dan tidak menyekutukan Aku dengan apapun, pasti Aku memberi ampunan sebanyak itu pula’,” (HR.Tirmidzi ia berkata Hadits hasan shahih).

Begitulah besarnya kasih sayang Allah terhadap hamba hamba-Nya. Pintu taubat selalu dibuka bagi hamba-Nya yang ingin menyucikan diri dengan mengharap ampunan-Nya.

Namun ada waktu dimana pintu taubat itu ditutup. Ada saat, dimana ampunan sudah tidak diberikan. Iman dan amal seseorang tak lagi berguna. Saat itu manusia benar benar dalam kerugian yang besar.

Kapankah waktu itu tiba?

Pertama; ketika matahari telah terbit dari arah terbenamnya. Rasulullah shollallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Tidak akan terjadi kiamat sehingga matahari terbit dari tempat terbenamnya, apabila ia telah terbit dari barat dan semua manusia melihat hal itu maka semua akan beriman, dan itulah waktu yang tidak ada gunanya iman seseorang yang belum pernah beriman sebelumnya itu,” (HR. Bukhari dan Muslim).

Dari Abu Musa Abdullah bin Qois Al-Asy’ari dari Nabi Shollallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Sesungguhnya Allah Ta’ala senantiasa membentangkan Tangan-Nya pada malam hari agar orang yang berbuat kejahatan di siang hari bertaubat dan membentangkan tangan-Nya di siang hari agar orang yang berbuat kejahatan dimalam hari bertaubat; sampai saat matahari terbit dari tempat tenggelamnya,” (HR. Muslim).

Ketika matahari telah terbit dari arah tenggelamnya (arah barat), ini merupakan di antara tanda atau isyarat akan segera terjadinya kiamat. Yakni hancurnya dunia serta berakhirnya seluruh kehidupan. Maka, mulai pada saat itu pintu taubat ditutup, iman dan amal seseorang (yang belum beriman dan beramal sebelumnya) tidak lagi berguna.

Allah Subhanahu wata’alah berfirman,"Pada hari datangnya sebagian ayat Tuhanmu tidaklah bermanfaat lagi iman seseorang bagi dirinya sendiri yang belum beriman sebelum itu,atau dia ( belum ) mengusahakan kebaikan dalam masa imanya…” ( Al-An’am (6) : 158 ).

Kedua; Ketika sakaratul maut. Allah Subhanahu wata’alah berfirman yang artinya, “Dan tidaklah taubat itu diterima Allah dari orang-orang yang mengerjakan kejahatan (yang) hingga apabila datang ajal kepada seseorang diantara mereka, (barulah) ia mengatakan, ‘Sesungguhnya aku bertaubat sekarang…’” ( An-Nisa’ (4) : 18 ).

Dari Abu Abdurrahman Abdullah Ibn Umar Ibn Al-Khattab dari Nabi Sholallahu alaihi Wasalam, beliau bersabda, “Sesungguhnya Allah menerima taubat seorang hamba selama nyawanya belum sampai pada kerongkonganya,” (HR. At-Tirmidzi dan ia betkata: Hadits hasan).

Dalam Al-Qur’an juga diceritakan bagaimana Allah menolak taubatnya Fir’aun saat sakaratul maut. “Dan kami memungkinkan Bani Israil melintasi laut, lalu mereka diikuti oleh Fir’aun dan bala tentaranya, karena hendak menganiaya dan menindas (mereka); hingga bila Fir’aun itu telah hampir tenggelam berkatalah dia; ‘Saya percaya bahwa tidak ada ada Tuhan melainkan Tuhan yang dipercayai oleh bani Israil, dan saya termasuk orang orang yang berserah diri (kepada Allah).’ Apakah sekarang (baru kamu percaya) padahal sesungguhnya kamu telah durhaka sejak dahulu, dan kamu termasuk orang-orang yang berbuat kerusakan,” (QS. Yunus(10) : 90-91).

Nah, itulah waktu ketika taubat tidak lagi diterima, saat ampunan sudah tidak diberikan, rintihan dan penyesalan tak ada lagi gunanya.
Sekarang, matahari belum pernah terbit dari arah barat dan itu artinya pintu taubat masih terbuka lebar. Namun, siapakah yang dapat menjamin kalau besok pagi kita masih dapat melihat matahari terbit dari timur? Tidak ada seorang pun yang dapat mempridiksi kapan kematian ini tiba. Tidak ada yang tahu kapan datangnya ajal. Kita tidak tahu kapan saat nyawa ini sampai di kerongkongan.

Karena itulah, selagi nyawa masih di kandung raga, sebelum nyawa sampai di kerongkongan, bersegeralah menuju ampunan Allah.

Allah berfirman; “Dan bersegeralah kamu kepada ampunan dari Tuhanmu dan kepada surga yang luasnya seluas langit dan bumi yang disediakan untuk orang orang yang bertaqwa,” (Ali Imran : 133).

Tergesa-gesa adalah perbuatan setan, namun kata Nabi ada lima hal yang justru kita diperintahkan untuk menyegerakannya. Lima hal itu adalah; Menjamu tamu, mengurus jenazah, menikahkan anak perempuan, membayar utang, dan yang kelima bertaubat. Maka bersegeralah menuju ampunan Allah. Bertaubatlah sebelum taubat itu terlambat.

Monday, 29 May 2017

Antara Jabatan Dan Kejujuran






Sahabat, betapa banyak kita yang sangat tergiur bahkan berebut menduduki amanah Kepemimpinan, salah ? Ya gak sih, masalahnya begitu banyak yang harus dikorbankan hanya sekedar untuk pesta kepemimpinan itu.

Kalo belum jadi pemimpin saja sudah terlalu banyak yang dikorbankan dan yang jadi korban, bagaimana nanti kalo sudah jadi Pemimpin beneran ? Gak kebayang daya rusak dan kezalimannya.
Kasus kisah dibawah ini adalah salah satu kasus diantara 'RIBUAN' kasuh serupa yang sedang terjadi di negeri kita tercinta ini ? Sepertinya kita sama-sama tau dan sama-sama bungkam,
astaghfirullah, beginilah nasib hidup kita dibawah naungan 'PENJAJAHAN' Sistem Iblis.

Tidak rindukah kita, kalo Ajaran Allah SWT ini TEGAK ? di Bumi yang saat ini kaki kita berpijak ?
Yuk, Kita tegakkan mulai dari diri dan keluarga kita, kalo bukan kita, mau nunggu siapa lagi yang akan memperjuangkan AJARAN ALLAH ini ? lalu kapan lagi kita akan ' DICATAT' oleh Allah sebagai PEJUANGNYA ?

-------------
Selayaknya Pak Uban dinobatkan sebagai PNS (Pegawai Negeri Sipil) teladan. Hampir seluruh hidupnya, jiwa raganya, waktunya, pikirannya, bahkan kepentingan keluarganya dipersembahkan demi menunaikan tugas negara. Tak jarang dia membawa pekerjaan ke rumah, mengorbankan waktu istirahat demi melayani rakyat.

Selaku abdi negara, Pak Uban benar-benar jujur dan bersih. Hanya gaji bulanan yang dimakannya, uang yang diragukan saja dia tolak apalagi korupsi. Anak-anak dan Istrinya hidup dengan amat sederhana. Benda berharga di rumahnya hanya sepeda motor butut, itu pun kreditan.

Sikap yang terlalu bersih adalah satu-satunya karakter yang membuatnya kurang disenangi sebagian orang. “Dia orang baik, sayangnya tidak mau bekerja sama!” komentar teman-temannya sekantor.
Pak Uban mengabdi di sebuah kota kecil. Jauh dari publikasi hingga puluhan tahun pengabdiannya tak kunjung diberi penghargaan. Kendati demikian, dia tetap ikhlas mengabdi. “Ganjaran itu dari Allah,” ujarnya tersenyum.

Berdasarkan golongan kepegawaian, pengalaman kerja, prestasi, dan kualitas, Pak Uban berhak menduduki jabatan bergengsi di kantor itu. Jabatan itu posisi tertinggi secara administrasi kantor, hanya kepala kantor yang di atasnya.

Di sini dia membayar mahal untuk kejujurannya. Kepala kantor tidak mau memproses berkasnya ke Jakarta, malah orang yang tidak layak secara golongan kepegawaian dan tidak memenuhi syarat yang dia ajukan untuk naik jabatan.

Mudah ditebak! Orang yang tak berhak, tak cakap, dan tak berkualitas itu yang dilantik karena dia dapat diajak bekerja sama memainkan proyek-proyek. Pak Uban pun tercampak sebagai pegawai biasa.

Hal itu menjadi pukulan hebat bagi Pak Uban. Dia dilanda rasa sedih mendalam memikirkan betapa rusaknya birokrasi di negeri ini, pikirannya tertuju pada masa depan generasi sesudahnya. Akibatnya, dia tidak bisa tidur, kesehatannya pun menurun hingga sakit-sakitan. Dan tidak lama kemudian, pria baik itu meninggal dunia.

Walau sempat hidup susah, dia meninggal dalam KEJUJURAN. Hanya Sikap JUJUR Inilah warisan satu-satunya yang paling berharga untuk keluarganya dan mungkin juga untuk kita semua.
Bahagia itu adalah pilihan, dan kebahagiaan dipilih dengan setia berperilaku jujur dan bersih. Boleh saja kehilangan jabatan, asal tidak kehilangan kebahagiaan.

KEBELET KAYA itu boleh-boleh saja asal tidak menghalalkan segala cara,
sebenarnya mudah kok kalau INGIN CEPAT KAYA, gak harus jadi Pejabat duluan lalu Korupsi,

Caranya ?
Kalau menurut Tunggu Desem, DEKATI ORANG KAYA maka kita akan KETULARAN KAYA, itu teorinya
tapi mana ada orang kaya mau dideketi ORANG KERE, yang ada malah kabur takut dimintai sumbangan, dikasihi promosi atau minjem duit, He He He.....

Nah, dari pada deket sama orang kaya susah, mendingan DEKATI YANG MAHA KAYA sekalian gak usah tanggung-tanggung, pasti segala mudah dan dijamin kita PASTI KAYA !, gak percaya ? Yuk kita buktikan Sama-sama !

Sunday, 28 May 2017

Infaq Buka Puasa Untuk Yatim Dhuafa Dan Penghafal Quran


Sahabat, Alhamdulillah tak ada kata yang patut kita ucap kecuali rasa syukur yang dalam atas karunia Allah SWT kita diberikan kesempatan untuk mengisi Ramadhan dengan berbagai Amal Sholeh.
Ramadhan Bulan Suci yang menggaransi TERHAPUS nya SEGALA DOSA yang pernah kita buat, juga menjanjikan berbagai bentuk HADIAH yang sangat spesial untuk kita yang benar-benar ingin berjuang mengisi Ramadhan dengan segala bentuk kebajikan yang kita mampu.

Salah satu kebajikan yang layak kita lakukan adalah memberikan BUKA PUASA kepada orang-orang yang berpuasa, adalah kiat memborong pahala puasa orang lain.

Di Rumah Yatim Indonesia ada 200 Shoimin secara rutin setiap hari, yang terdiri dari Santri Yatim Dhuafa, Santri Penghafal Quran, para Guru Pembimbing dan pengasuh, orang-orang yang beri'itikaf, Tarawih,Tahajjud dan Tadarus Al-Quran.

Bagi kita ingin ikut serta MEMBORONG PAHALA orang-orang hebat yang siap menghabiskan seluruh waktunya untuk mengisi Ramadhan dengan ibadah, silahkan ikutan berpartisipasi memberikan Hidangan BUKA PUASA dan SAHUR melalui Program Amal Sholeh Ramadhan.

Dengan Paket Infaq Buka Puasa + Sahur CUMA Rp.25.000,- per hari per orang.

Caranya : Transfer Infaq Buka Puasa ke rekening dibawah ini, lalu ketik konfirmasi dengan format :
"BISMILLAH, NAMA, telah mengirim Infaq Buka Puasa untuk.....orang, selama.......hari karena mengharap Ridho Allah SWT " kirim ke : 081394055565 (SMS) atau 087885554556 (WA)

Rekening Khusus Infaq Buka Puasa + Sahur Rumah Yatim Indonesia sebagai berikut :
》Bank BCA : 054 0766 100
》Bank MANDIRI : 13 10010 47 1011
》Bank MUAMALAT : 151 00191 38
》Syari’ah MANDIRI : 70 323 619 48
》Bank BNI : 0244 928 496
》BNI Syari’ah : 65 235 181 41
》Bank BRI : 01000 1055 2255 02
》Bank bjb : 001 777 8552 100
Atas nama Yayasan Rumah Yatim Indonesia

Tolong BANTU Share ya

Hormat Kami,
Wawan Ismawan
085777772310
(Ketua Harian Rumah Yatim Indonesia)

Pusat Kegiatan: Jl. Bandung Blok II No. 140 Perumnas Kotabaru, Cibeureum - Tasikmalaya 46196