Telp. 0265-2351868 | WA 0878 8555 4556 | BBM 5AE49B09

Kisah Inspiratif

Smart Family

Tafakur

Terbaru

Wednesday, 4 December 2019

Kegiatan Makan Bersama







Agenda Sarapan Pagi bersama Ratusan Masyarakat Di Masjid Agung Tasikmalaya setelah mengikuti Shalat Shubuh Berjamaah.





Tuesday, 3 December 2019

Pelajaran Mahal Dari Sedekah










Kisah di bawah ini adalah kisah yang didapat dari milis alumni Jerman, atau warga Indonesia yg bermukim atau pernah bermukim di sana . Demikian layak untuk dibaca beberapa menit, dan direnungkan seumur hidup.

Saya adalah ibu dari tiga orang anak dan baru saja menyelesaikan kuliah saya. Kelas terakhir yang harus saya ambil adalah Sosiologi. Sang Dosen sangat inspiratif, dengan kualitas yang saya harapkan setiap orang memilikinya.

Tugas terakhir yang diberikan ke para siswanya diberi nama "Smiling." Seluruh siswa diminta untuk pergi ke luar dan memberikan senyumnya kepada tiga orang asing yang ditemuinya dan mendokumentasikan reaksi mereka. Setelah itu setiap siswa diminta untuk mempresentasikan didepan kelas. Saya adalah seorang yang periang, mudah bersahabat dan selalu tersenyum pada setiap orang. Jadi, saya pikir,tugas ini sangatlah mudah. Setelah menerima tugas tsb, saya bergegas menemui suami saya dan anak bungsu saya yang menunggu di taman di halaman kampus, untuk pergi kerestoran McDonald's yang berada di sekitar kampus.

Pagi itu udaranya sangat dingin dan kering. Sewaktu suami saya akan masuk dalam antrian, saya menyela dan meminta agar dia saja yang menemani si bungsu sambil mencari tempat duduk yang masih kosong.Ketika saya sedang dalam antrian, menunggu untuk dilayani, mendadak setiap orang di sekitar kami bergerak menyingkir, dan bahkan orang yang semula antri dibelakang saya ikut menyingkir keluar dari antrian.Suatu perasaan panik menguasai diri saya, ketika berbalik dan melihat mengapa mereka semua pada menyingkir ? Saat berbalik itulah saya membaui suatu "bau badan kotor" yang cukup menyengat, ternyata tepat di belakang saya berdiri dua orang lelaki tunawisma yang sangat dekil! Saya bingung, dan tidak mampu bergerak sama sekali.

Ketika saya menunduk, tanpa sengaja mata saya menatap laki-laki yang lebih pendek, yang berdiri lebih dekat dengan saya, dan ia sedang "tersenyum" kearah saya. Lelaki ini bermata biru, sorot matanya tajam, tapi juga memancarkan kasih sayang. Ia menatap kearah saya, seolah ia meminta agar saya dapat menerima 'kehadirannya' ditempat itu.Ia menyapa "Good day!" sambil tetap tersenyum dan sembari menghitung beberapa koin yang disiapkan untuk membayar makanan yang akan dipesan. Secara spontan saya membalas senyumnya, dan seketika teringat oleh saya 'tugas' yang diberikan oleh dosen saya. Lelaki kedua sedang memainkan tangannya dengan gerakan aneh berdiri di belakang temannya.

Saya segera menyadari bahwa lelaki kedua itu menderita defisiensi mental, dan lelaki dengan mata biru itu adalah "penolong"nya. Saya merasa sangat prihatin setelah mengetahui bahwa ternyata dalam antrian itu kini hanya tinggal saya bersama mereka,dan kami bertiga tiba2 saja sudah sampai didepan counter. Ketika wanita muda di counter menanyakan kepada saya apa yang ingin saya pesan, saya persilahkan kedua lelaki ini untuk memesan duluan. Lelaki bermata biru segera memesan "Kopi saja, satu cangkir Nona." Ternyata dari koin yang terkumpul hanya itulah yang mampu dibeli oleh mereka (sudah menjadi aturan direstoran disini, jika ingin duduk di dalam restoran dan menghangatkan tubuh, maka orang harus membeli sesuatu). Dan tampaknya kedua orang ini hanya ingin menghangatkan badan.

Tiba-tiba saja saya diserang oleh rasa iba yang membuat saya sempat terpaku beberapa saat, sambil mata saya mengikuti langkah mereka mencari tempat duduk yang jauh terpisah dari tamu-tamu lainnya, yang hampir semuanya sedang mengamati mereka.. Pada saat yang bersamaan, saya baru menyadari bahwa saat itu semua mata di restoran itu juga sedang tertuju ke diri saya, dan pasti juga melihat semua 'tindakan' saya. Saya baru tersadar setelah petugas di counter itu menyapa saya untuk ketiga kalinya menanyakan apa yang ingin saya pesan. Saya tersenyum dan minta diberikan dua paket makan pagi (diluar pesanan saya) dalam nampan terpisah.

Setelah membayar semua pesanan, saya minta bantuan petugas lain yang ada di counter itu untuk mengantarkan nampan pesanan saya ke meja/tempat duduk suami dan anak saya. Sementara saya membawa nampan lainnya berjalan melingkari sudut kearah meja yang telah dipilih kedua lelaki itu untuk beristirahat. Saya letakkan nampan berisi makanan itu di atas mejanya, dan meletakkan tangan saya di atas punggung telapak tangan dingin lelaki bemata biru itu, sambil saya berucap "makanan ini telah saya pesan untuk kalian berdua." Kembali mata biru itu menatap dalam ke arah saya, kini mata itu mulai basah berkaca-kaca dan dia hanya mampu berkata "Terima kasih banyak, nyonya."

Saya mencoba tetap menguasai diri saya, sambil menepuk bahunya saya berkata "Sesungguhnya bukan saya yang melakukan ini untuk kalian, Tuhan juga berada di sekitar sini dan telah membisikkan sesuatu ketelinga saya untuk menyampaikan makanan ini kepada kalian." Mendengar ucapan saya, si Mata Biru tidak kuasa menahan haru dan memeluk lelaki kedua sambil terisak-isak. Saat itu ingin sekali saya merengkuh kedua lelaki itu. Saya sudah tidak dapat menahan tangis ketika saya berjalan meninggalkan mereka dan bergabung dengan suami dan anak saya, yang tidak jauh dari tempat duduk mereka.

Ketika saya duduk suami saya mencoba meredakan tangis saya sambil tersenyum dan berkata "Sekarang saya tahu, kenapa Tuhan mengirimkan dirimu menjadi istriku, yang pasti, untuk memberikan 'keteduhan' bagi diriku dan anak-anakku! " Kami saling berpegangan tangan beberapa saat dan saat itu kami benar-benar bersyukur dan menyadari,bahwa hanya karena 'bisikanNYA' lah kami telah mampu memanfaatkan 'kesempatan' untuk dapat berbuat sesuatu bagi orang lain yang sedang sangat membutuhkan. Ketika kami sedang menyantap makanan, dimulai dari tamu yang akan meninggalkan restoran dan disusul oleh beberapa tamu lainnya, mereka satu persatu menghampiri meja kami, untuk sekedar ingin 'berjabat tangan' dengan kami.

Salah satu diantaranya, seorang bapak, memegangi tangan saya, dan berucap "Tanganmu ini telah memberikan pelajaran yang mahal bagi kami semua yang berada disini, jika suatu saat saya diberi kesempatan olehNYA, saya akan lakukan seperti yang telah kamu contohkan tadi kepada kami." Saya hanya bisa berucap "terimakasih" sambil tersenyum. Sebelum beranjak meninggalkan restoran saya sempatkan untuk melihat kearah kedua lelaki itu, dan seolah ada 'magnit' yang menghubungkan bathin kami, mereka langsung menoleh kearah kami sambil tersenyum, lalu melambai-lambaikkan tangannya kearah kami.

Dalam perjalanan pulang saya merenungkan kembali apa yang telah saya lakukan terhadap kedua orang tunawisma tadi, itu benar-benar 'tindakan' yang tidak pernah terpikir oleh saya. Pengalaman hari itu menunjukkan kepada saya betapa 'kasih sayang' Tuhan itu sangat HANGAT dan INDAH sekali! Saya kembali ke college, pada hari terakhir kuliah dengan 'cerita' ini ditangan saya. Saya menyerahkan 'paper' saya kepada dosen saya. Dan keesokan harinya, sebelum memulai kuliahnya saya dipanggil dosen saya ke depan kelas, ia melihat kepada saya dan berkata, "Bolehkah saya membagikan ceritamu ini kepada yang lain?" dengan senang hati saya mengiyakan.

Ketika akan memulai kuliahnya dia meminta perhatian dari kelas untuk membacakan paper saya. Ia mulai membaca, para siswapun mendengarkan dengan seksama cerita sang dosen, dan ruangan kuliah menjadi sunyi. Dengan cara dan gaya yang dimiliki sang dosen dalam membawakan ceritanya, membuat para siswa yang hadir di ruang kuliah itu seolah ikut melihat bagaimana sesungguhnya kejadian itu berlangsung, sehingga para siswi yang duduk di deretan belakang didekat saya diantaranya datang memeluk saya untuk mengungkapkan perasaan harunya.Diakhir pembacaan paper tersebut, sang dosen sengaja menutup ceritanya dengan mengutip salah satu kalimat yang saya tulis diakhir paper saya ."Tersenyumlah dengan 'HATImu', dan kau akan mengetahui betapa 'dahsyat' dampak yang ditimbulkan oleh senyummu itu."

Thursday, 28 November 2019

Kegiatan Belajar Berpidato






Assalamu'alaikum wr wb..

Sahabat, berikut adalah kegiatan belajar berpidato di depan umum. Kegiatan ini rutin dilaksanakan setiap minggunya untuk melatih kemampuan berpidato dan berbicara siswa di depan kelas.





Wednesday, 27 November 2019

Balasan Dari Sebuah Kebaikan






Pada suatu hari ada seorang pemabuk yang mengundang sekelompok sahabatnya. Mereka pun duduk, kemudian si pemabuk memanggil budaknya, lalu ia menyerahkan empat dirham kepada pembantunya dan menyuruhnya agar membeli buah-buahan untuk teman-temannya tersebut. Di tengah-tengah perjalanan, si pembantu melewati seseorang yang zuhud, yaitu Manshur bin Ammar. Beliau berkata, “Barangsiapa memberikan empat dirham kepadanya. Selanjutnya Manshur bin Ammar bertanya, “Doa apa yang Anda inginkan?” Lalu ia menjawab, “Pertama, saya mempunyai majikan yang bengis. Saya ingin dapat terlepas darinya. Kedua, saya ingin Allah Subhanahu wa Ta’ala menggantikan empat dirham untukku. Ketiga, saya ingin Allah Subhanahu wa Ta’ala menerima taubat majikan saya. Keempat, saya ingin Allah Subhanahu wa Ta’ala memberikan ampunan untukku. Ketiga, saya ingin Allah Subhanahu wa Ta’ala menerima taubat majikan saya. Keempat, saya ingin Allah Subhanahu wa Ta’ala memberikan ampunan untukku, untuk majikanku, untukmu, dan orang-orang yang hadir di sana.” Kemudian Manshur mendoakannya.
Pembantu itu pun berlalu dan kembali kepada majikannya yang gemar menghardiknya. Majikannya bertanya kepadanya, “Mengapa kamu terlambat dan mana buahnya?” Lantas ia menceritakan bahwa ia telah bertemu sang ahli zuhud bernama Manshur dan bagaimana ia telah memberikan empat dirham kepadanya sebagai imbalan empat doa. Maka, amarah sang majikan pun redam. Ia bertanya, “Apa yang engkau mohonkan kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala?” Ia menjawab, “Saya mohon untuk diriku agar saya dibebaskan dari perbudakan.” Lantas majikannya berkata, “Sungguh, saya telah memerdekakanmu. Kamu sekarang merdeka karena Allah Subhanahu wa Ta’ala. Apa doamu yang kedua?” Ia menjawab, “Saya memohon agar Allah Subhanahu wa Ta’ala menggantikan empat dirham buatku.” Majikannya berkata, “Bagimu empat dirham. Apa doamu yang ketiga?” Ia menjawab, “Saya memohon agar Allah Subhanahu wa Ta’ala menerima taubatmu.” Lantas si majikan menundukkan kepalanya, menangis, dan menyingkirkan gelas-gelas arak dengan kedua tangannya dan memecahkannya. Lalu ia berkata, “Saya bertaubat kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala. Saya tidak akan mengulanginya lagi selamanya. Lalu apa doamu yang keempat?” Ia menjawab, “Saya memohon agar Allah Subhanahu wa Ta’ala memberikan ampunan untukku, untukmu, dan orang-orang yang hadir di sini.” Sang majikan berkata, “Yang ini bukan wewenangku. Ini adalah wewenang Dzat Yang Maha Pengampun, Maha Penyayang.”
Ketika sang majikan tidur pada malam harinya, ia mendengar suara yang mengatakan, “Engkau telah melakukan apa yang menjadi wewenangmu. Sungguh, Allah Subhanahu wa Ta’ala telah memberikan ampunan kepadamu, si pelayan, Manshur bin Ammar, dan semua orang-orang yang hadir.”

Tuesday, 26 November 2019

Bakti Sosial Bersama Komunitas White Car Indonesia






Alhamdulillah, pada hari minggu 24 November 2019. telah di adakan agenda kegiatan Bakti Sosial oleh WCI Regional Tasikmalaya dalam rangka Anniversary White Car Indonesia yang ke 6.
Kegiatan tersebut dilaksanakan di Pesantren Tahfidz Yatim, Dhuafa Rumah Yatim Indonesia. Bakti sosial ini juga di selenggarakan serentak oleh seluruh regional seIndonesia.
Jazakallahu Khairan Katsiran, semoga bisa terus istiqomah untuk membantu sesama, dan semoga Allah SWT membalasnya, Aamiin





Wednesday, 20 November 2019

Kisah Seorang Pemuda Dengan Dua Kain





Ada sebuah kisah yang sangat menyentuh hati tentang keistiqomahan seorang sahabat Rasulullah dalam menjalankan agamanya.Namanya adalah Abdullah Dzul Bajadain (artinya: yang memiliki dua potong kain), itu merupakan nama pemberian Rasulullah. Namanya yang sebenarnya adalah Abdul Uza al Mazani. Ia berasal dari sebuah kabilah Mazaniah yang terletak di antara Mekah dan Madinah.
Ia telah ditinggalkan oleh kedua orangtuanya sejak masih kecil, karena itulah ia tinggal bersama pamannya. Sang paman adalah orang yang sangat kaya. Banyak harta yang telah dikeluarkannya untuk membiayai Abdul Uza. Ketika ia berumur 16 tahun, ia hidup bergelimang harta. Sampai-sampai ia hanya mau mengenakan pakaian buatan luar. Ia pun memiliki 2 ekor kuda yang selalu dipakainya bergantian. Tapi sayang sekali, ia dan kaum bangsanya masih menyembah berhala.
Suatu saat ketika ia sedang melakukan perjalanan, ia bertemu dengan para Muhajirin. Ia pun melakukan perbincangan dengan mereka dan setelah perbincangan itulah, akhirnya ia pun sadar dan memutuskan untuk memeluk agama Islam. Keadaannya pun berubah. Setiap kali melihat ada sahabat yang berhijrah dari Mekah dan Madinah, ia berlari dan mengikutinya seraya berkata, “Tunggulah aku sampai aku mendengar dari kalian Al Quran. Aku ingin menghapal satu ayat baru dari kalian.” Bayangkan bagaimana tekadnya untuk menuntut ilmu agama lebih dalam, di saat para sahabat merasa jiwanya terancam serta ketakutan akan adanya mata-mata kaum Quraisy. Dalam pikiran Abdul Uza saat itu hanyalah ingin mendekatkan diri kepada Allah saja.
Akhirnya ada seorang sahabat yang berkata, “Mengapa engkau menunggu di negerimu (Mekah) untuk pergi hijrah ke Madiah?”. Ia pun menjawab bahwa ia tidak akan berhijrah kecuali setelah ia mengambil tangan pamannya untuk menjemput sebuah hidayah.
Ia pun menetap dalam kabilahnya selama 3 tahun. Ia tetap berpegang teguh pada agama Islam walaupun seluruh kaumnya jauh dari ketaatan dan menyembah berhala. Selama 3 tahun lamanya ia memaksakan diri untuk tetap istiqomah. Apabila ia ingin beribadah kepada Allah maka ia akan pergi keluar dari kaumnya ke tengah-tengah padang pasir. Selama ini ia menyembunyikan keislamannya dari hadapan orang-orang.
Setiap hari ia pergi menemui pamannya seraya berkata’ “Wahai Pamanku, aku mendengar b ahwa ada seorang lelaki bernama Muhammad yang berkata ini dan itu”. Kemudian ia pun membacakan ayat-ayat al Quran di hadapan sang Paman. Namun pamannya malah mencercanya habis-habisan. Selama 3 tahun itu, ia mengalami masa yang berat. Akhirnya kesabarannya pun sampai pada puncaknya.
Ia pun menemui pamannya dan berkata, “ Wahai Paman, aku lebih memilih Rasulullah daripada Engkau. Aku tidak dapat berpisah dengannya. Aku memberitahumu bahwa tiada Tuhan selain Allah dan Muhammad adalah utusannya. Aku berhijrah kepadanya. Jika engkau mau pergi bersamaku, aku akan menjadi orang yang paling bahagia.”
Pamannya pun menjawab, “Jika kau mengabaikan semuanya selain Islam, maka aku akan mengharamkan semua yang menjadi milikmu.
Ia menjawab, “Wahai Paman, berbuatlah sesukamu, karena aku lebih memilih Allah dan Rasul-Nya.”
Pamannya pun melakukan hal yang tidak dapat dipercaya, “Kalau kau tetap memaksa, maka aku akan mengharamkanmu hingga baju yang melekat di badanmu itu.” Pamannya pun berdiri dan menggunting bajunya. Abdul Uza pun hampir seperti orang yang telanjang. Ia pun tetap keluar dengan kondisi seperti itu. Saat keluar ia menemukan selembar kain wol dan membaginya menjadi 2 bagian, lalu memakainya seperti kain ihram.
Ia pun kemudian berhijrah dan menemui Rasulullah untuk pertama kalinya. Sungguh tidak bisa dibayangkan betapa besar keistiqomahannya kepada Rasulullah sekalipun ia tidak pernah bertemu dengannya. Rasulullah pun bertanya, “Siapakah Anda?
“Aku adalah Abdul Uza”
Rasulullah pun kembali bertanya, “Mengapa kamu berpakaian seperti ini?
Ia menjawab, “Pamanku telah berbuat ini kepadaku. Aku telah memilih engkau, wahai Rasulullah dan bersabar selama 3 tahun lamanya, hingga aku bisa datang kepadamu dalam keadaan istiqomah (tetap) taat kepada Allah.”
Benarkah kau telah melakukan hal itu?”, kata Rasulullah.
“Benar wahai Rasulullah.”
Mulai hari ini engkau bukanlah Abdul Uza, engkau adalah Abdullah Dzul Bajadain. Allah telah mengganti 2 kain itu dengan tempat tinggal dan kain di dalam surga, yang dapat engkau pakai kapan pun engkau suka dan dapat kau gunakan kapan pun engkau suka.”
Semenjak saat itu ia ikut berjuang bersama Rasulullah, hingga syahid dalam perang Tabuk pada usia 23 tahun.

Tuesday, 19 November 2019

Seni Bela Diri






Assalamualaikum Sahabat,

inilah kegiatan beberapa santri putra yang mengikuti pelajaran tambahan seni bela diri, Semoga bisabermanfaat untuk agama dan bangsa ini

Aamiin Yaa Robbal Alamin