Telp. 0265-2351868 | WA 0878 8555 4556 | BBM 5AE49B09

Kisah Inspiratif

Smart Family

Tafakur

Terbaru

Thursday, 18 October 2018

Tasik October Festival









Kegiatan para santri kali ini ikut meramaikan Tasikmalaya Oktober Festival pada hari Ahad, 14 Oktober 2018. Alhamdulillah bisa belajar banyak tentang keanekaragaman budaya di Tasikmalaya.

Semoga Tasikmalaya semakin maju dan diberkahi Allah SWT, Aamiin Ya Robbal Alamin









Mengetuk Janji Allah Dengan Do'a


Sahabat, doa merupakan senjata utama bagi mereka yang beriman. Secara istilah, doa adalah permohonan seorang hamba kepada Tuhannya. Doa merupakan aktifitas ibadah yang paling agung. Bahkan ia adalah mukhul ibadah atau inti dari ibadah. Doa juga bisa mengubah sesuatu yang tidak mungkin bagi menjadi mungin.

Rasulullah Shalallahu ’Alaihi Wa sallam Bersabda:“Tidak ada yang dapat menolak taqdir (ketentuan) Allah Ta’ala selain do’a. Dan Tidak ada yang dapat menambah (memperpanjang) umur seseorang selain (perbuatan) baik.”(HR Tirmidzi 2065)

Setiap doa akan dikabulkan oleh Allah SWT. Entah segera ataupun ditangguhkan. Mengenai kapan dikabulkan do’a adalah hak prerogatif Allah SWT selaku pemilik kehidupan. Bersabarlah jika sedang menunggu doa untuk dikabulkan. Teruslah berdoa, sebutkanlah semu permintaanmu di hadapanNya dan teruslah berusaha. Karena kita tidak pernah tau doa yang mana mana yang akan Allah kabulkan, dan kita juga tidak pernah tahu usaha kita yang mana yang Allah lihat.

Tiada lelah berdoa adalah bentuk penghambaan yang begitu murni, ikhlas dan patut dijadikan landasan kita dalam berbuat dan beramal dalam menjalankan tugas di bumi Allah ini.

Jangan pernah pesimis atas dikabulkannya doa. Setiap mukmin harus membangun jiwa optimis agar mampu meraih yang terbaik. Hanya saja kita perlu intropeksi diri dan muhasabah. Sudahkah kita memenuhi syarat agar doa kita dikabulkan? Berdoa kepada Allah harus disertai dengan upaya memenuhi seruan-seruan-Nya, terikat dengan syariat-Nya,dan mengikuti Rasul-Nya.

“Dan hendaklah kamu memenuhi seruan-Ku dan berimanlah kepada-Ku agar kamu mendapatkan petunjuk” (TQS al-Baqarah : 186).

Allah menjamin bagi orang-orang yang mau berdoa meminta kepadaNya untuk diperkenankan doanya.
Bahkan Allāh mengancam kepada orang-orang yang tak mau berdoa kepadaNya bahwa dia itulah orang yang sombong, dan baginya neraka Jahannam.

Maka siapa saja yang menginginkan kemulian di dunia dan di akhirat serta kembalinya kejayaan isalam dalam waktu dekat,maka ia tidak boleh merasa cukup dengan hanya berdoa untuk mewujudkan keinginannya itu. 

Melainkan ia harus berupaya berjuang bersama orang-orang yang tengah beraktivitas untuk mewujudkannya. Dia juga harus berdoa kepada Allah, memohon pertolongan untuk mewujudkan kembali perdaban islam dan mempercepat terwujudnya. Ia pun harus terus-menerus berdoa dengan ikhlas, dengan tetap berpegang pada kaidah kausalitas. Mari kita mengetuk janji Allah melaui doa dan kesungguhan ikhtiar. 

Wallahu a’lam bish-shawwab.

Wednesday, 17 October 2018

Ibumu Ibumu Ibumu















Ada secarik kertas pertanyaan yang ditujukan kepada Ustadz. Syafiq bin Riza Basalamah pada kajian "Bangkai Hidup", yang jawabannya mencabik-cabik relung hati terdalam ratusan jama'ah pagi itu... Semua tertunduk , berurai air mata, tersedu-sedu.

Pertanyaan tersebut berbunyi...
"Ustadz, bagaimana cara agar ana yang di Jakarta, tetap bisa bermuamalah dengan baik dengan orang tua ana yang berada di Bogor?"

Ustadzpun menjawabnya ringan dengan diselipi canda khasnya...
"Ya akhi... Bogor - Jakarta itu ada keretanya nggak ya? Ada kan. Masya Allah... Naik kereta kan bisa akhi...
Nggak kayak dulu harus naik unta... Lama sampainya..."

Jama'ah pun tertawa...

Berselang beberapa detik dari gemuruh tawa yang menggema di masjid, mendadak air muka ustadz berubah. Kepala beliau menjadi tertunduk... Matanya terlihat berkaca-kaca. Ustadz teringat sebuah kisah. Kisah nyata...

"Ana mau cerita sedikit tentang sebuah kisah dari Arab... Semoga antum bisa mengambil faidah..."

Beliau pun bercerita...

Ada sepasang suami istri, yang sudah hampir 21 tahun menikah, namun sang suami jarang sekali mengunjungi ibunya... Mereka bertemu pada saat hari-hari raya saja...
Hingga pada suatu malam, sang isteri bertanya, "Wahai suamiku, tak inginkah kau keluar malam ini bersama seorang wanita?"

Sang suami pun terkejut...

"Maksudmu wahai istriku? Seorang wanita? Aku tak mengerti..."

Sang isteri berkata, "Ibumu, wahai suamiku..."

Sang suami pun terdiam. Ia baru sadar, bahwa sudah lama sekali ia tak memiliki waktu khusus dengan sang Ibunda...

Ia pun segera menelepon ibundanya, hendak mengajak makan malam.

Ketika sang anak mengutarakan keinginannya kepada sang ibu, ibundanya terheran-heran...

"Ada apa gerangan anakku? Ada apa? Kenapa tiba-tiba mengajakku pergi?"

Sang anak menjawab, "Tidak ibu. Tidak ada apa-apa... Aku hanya ingin mengajak ibu makan malam. Berdua saja..."

Diseberang telepon, sang ibu sangat terharu... Karena setelah sekian lama, akhirnya ia memiliki waktu khusus bersama anak yang sangat ia cintai...

Sesampai di rumah sang ibu, terlihat beliau sudah berdiri di depan pintu rumah dengan pakaian yang begitu rapi dan senyum yang teramat tulus, untuk menyambut anak tercintanya. Sangat terlihat bahwa, sang Ibunda tak ingin terbuang waktunya barang sedetikpun.

Masuk ke dalam mobil, senyumnya masih terpajang di pipi beliau yang sudah di hiasi banyak kerutan itu. Sang ibunda berujar, "Nak, ibu sangat bahagia malam ini..."
Sang anak membalasnya, "Begitu juga aku ibu...", Sambil mencium tangan sang ibu. Lalu merekapun bergegas menuju sebuah restoran dan berbincang-bincang hingga larut malam. Terpampang sekali ada luapan kasih sayang dan rindu yang tak dimiliki, bahkan oleh isterinya sekalipun, hanya sang ibu.

Singkat cerita, tak lama dari pertemuan malam itu, sang ibunda pun meninggal dunia...
Ya... Pertemuan malam itu adalah rezeki terakhir mereka bisa berdua.
Sungguh suatu kenyataan yang tak bisa dibayangkan, namun semua ikhlas saat itu, semua ridho dan hanya berharap Allah jalla jalaluhu akan menempatkan sang ibunda tercinta di sisi-Nya.

Beberapa hari setelah kepergian sang ibunda, telepon genggam sang anak berdering...

"Mas, anda sekeluarga diundang oleh seseorang untuk makan malam nanti di restoran kami" ujar seorang pegawai restoran.
Ternyata restoran itu adalah tempat ia dan ibundanya makan malam saat itu.

"Oh begitu...
Kalau boleh tahu, siapa yang mengundang ya mas?" Ujarnya dengan keheranan.
"Seseorang mas," jawab pegawai tersebut.

Iapun datang untuk memenuhi undangan tersebut bersama isteri dan anak-anaknya. Lalu ia bertanya kepada salah seorang pegawai, "Maaf mas, sebenarnya siapa yang mengundang kami kesini? Mana ya orangnya?"

Pegawai itu menjawab, "Sebentar mas, saya tanyakan ke resepsionis".
Tak lama pegawai itu kembali untuk memberitahu nama orang yang mengundang ia sekeluarga. Ia bilang, orang yang mengundang ini sudah memesan sejak jauh-jauh hari...
Dan nama yang diucapkan oleh pegawai restoran itu adalah nama yang sangat tak asing di telinga sang kepala keluarga itu... Bahkan mengalir darahnya ditubuhnya...
Nama itu adalah nama sang ibunda tercinta...

Sahabat, kasih ibu sepanjang masa. Tak tergantikan oleh siapapun juga. Bukan harta yang ia mau, tapi waktu kita yang ia tunggu...

Maka itu, jika rambut ibumu sudah memutih, kerutan-kerutan sudah menghiasi tubuhnya, berkasih sayanglah kita kepadanya...
Jagalah ia selalu. Jangan lupa untuk menghubungi, meski jarak terlampau jauh. Dan do'akan agar beliau selalu dirahmati oleh Allah jalla jalaluhu selalu.

Tuesday, 16 October 2018

Berbuat Dosa Membuat Hilang Rasa Malu


Ketika dosa mulai merebak dalam diri, maka rasa malu serta merta hilang. Rasa malu itu dekat dengan keimanan, sedangkan dosa itu menggrogoti keimanan. Seiring lemahnya iman, memudar juga rasa malu. Orang yang sering berbuat maksiat maka semakin tipis pula rasa malunya. Dia tidak malu lagi jika tidak sholat, tidak puasa, tidak menutup aurat. dan sebagainya.

Betapa sedihnya jika melihat perempuan mengumbar aurat dimana-mana, berpakaian tapi lekuk tubuh terlihat, tipis, bahkan seksi. Seolah dia tidak merasa berdosa, karena terbiasa akhirnya kebablasan, sehingga rasa malupun sudah tidak ada lagi. Belum lagi yang gaul bebas, melakukan kemaksiatan tanpa merasa bersalah dan berdosa, tak ada rasa malu, sehingga iman pun bisa hilang dalam diri. Astaghfirullah.

“Sesungguhnya dari apa yang telah diikuti manusia dari kata-kata kenabian yang pertama adalah ‘jika engkau tidak malu maka perbuatlah sesukamu’.” (HR. Bukhari)

Janganlah sekali-kali mencoba perbuatan dosa. Jika sekali diperbuat. Maka rasa malu itu akan hilang. Dan keberanian untuk mengulangi perbuatan dosa menjadi-jadi. Sampai akhirnya orang itu kehilangan gairahnya untuk beramal shaleh.

Oleh karena itu, berdoalah kepada Allah agar Allah mengampuni dosa-dosa kita. Dan dekatkanlah diri kita kepada Allah dengan tunduk dan taat kepada Allah. Yuk taat kepada Allah dan perbanyaklah beramal sholeh, sehingga keimanan semakin meningkat dan jauh dari dosa. 

Wallahua’lam.

Monday, 15 October 2018

Kegiatan Belajar Santri








Sahabat, ada salah satu hadist yang mengatakan “Barang siapa menginginkan soal-soal yang berhubungan dengan dunia, wajiblah ia memiliki ilmunya ; dan barang siapa yang ingin (selamat dan berbahagia) di akhirat, wajiblah ia mengetahui ilmunya pula; dan barangsiapa yang menginginkan kedua-duanya, wajiblah ia memiliki ilmu kedua-duanya pula”. (HR. Bukhari dan Muslim)

Hadist diatas menjelaskan bahwa menuntut ilmu itu mempunyai peranan yang sangat penting bagi kehidupan di dunia dan akhirat kelak.

Dan inilah salah satu kegiatan belajar mengajar yang berlangsung di Pesantren Yatim Dhuafa dan Tahfidz. Doakan kami ya sahabat semoga kami bisa memanfaatkan ilmu yang kami dapat dengan sebaik-baiknya. Karena ilmu yang paling baik adalah ilmu yang bermanfaat. Aamiin...





Friday, 12 October 2018

Sedekah Melapangkan Hati


Pernahkah merasakan hati yang begitu lapang dan bahagia saat setelah memberi sebagian harta yang kita miliki? Itulah berkah dari sedekah. Melakukan kebaikan termasuk dalam perkara-perkara yang dapat mendatangkan kebahagian dan menghilangkan keresahan. Kebaikan yang dimaksudkan adalah seumpama sedekah, beramal soleh dan memberikan sesuatu yang baik kepada orang lain.

Rasulullah SAW bersabda:“Perumpamaan orang yang pelit dengan orang yang bersedekah seperti dua orang yang memiliki baju besi, yang bila dipakai menutupi dada hingga selangkangannya. Orang yang bersedekah, dikarenakan sedekahnya ia merasa bajunya lapang dan longgar di kulitnya. Sampai-sampai ujung jarinya tidak terlihat dan baju besinya tidak meninggalkan bekas pada kulitnya. Sedangkan orang yang pelit, dikarenakan pelitnya ia merasakan setiap lingkar baju besinya merekat erat di kulitnya. Ia berusaha melonggarkannya namun tidak bisa” (HR. Bukhari no. 1443)

Ini merupakan salah satu permisalan yang disampaikan oleh Nabi Muhammad SAW terkait orang yang bakhil dan yang gemar bersedekah. Nabi Muhammad SAW mempermisalkan keduanya seperti dua orang yang hendak memakai baju besi guna melindungi diri dari serangan senjata musuh. Keduanya berusaha memakai baju besi tersebut dengan cara memasukkannya dari atas kepalanya dan menurunkannya ke sekujur tubuhnya.

Orang yang gemar bersedekah akan dengan mudah memakai baju besi tersebut sehingga mampu menutupi sekujur tubuhnya. Sedangkan, orang yang bakhil akan merasa kesusahan memakai baju besi tersebut. Seolah-olah tangannya terikat di lehernya. Setiap kali hendak memasukkan baju besi tersebut ke tubuhnya, maka baju besi tersebut tetap saja hanya sampai di lehernya, sedangkan bagian tubuh yang lain masih terbuka.

Semoga kita termasuk hamba Allah yang ahli sedekahyang selalu menyisihkan sebagian hartanya dijalan Allah.

Wednesday, 10 October 2018

Kehidupan Dunia Ibarat Bunga Yang Dipetik


Sahabat, kehidupan dunia diibaratkan sebagai bunga. Pertanyaaannya, apakah hubungan antara dunia dan bunga sehingga bunga dijadikan sebagai sample kehidupan dunia? 

Ketika suatu tanaman yang hendak mengeluarkan buahnya, biasanya diawali dengan kemunculan bunga. Kadang kala bunga itu terlihat indah dan di saat lain terlihat begitu sangat menawan. Bahkan terkadang tidak sedikit orang yang memandangnya berhasrat untuk memetiknya dan dibawanya pergi. Namun tahukah kita sekiranya bunga tadi benar-benar dipetik sebelum berubah menjadi buah? Ternyata tidak akan berapa lama kemudian akan segera layu dan pada akhirnya akan dicampakan oleh sang pemetiknya.

Dan gambaran dunia pun dapat dipastikan sebagaimana kisah bunga di atas. Kehidupan dunia itu terlihat begitu indah menawan di mata siapa saja yang melihat dan memandangnya. Tahta, jabatan, wanita, keturunan, harta, benda, dan seterusnya. Keseluruhannya itu nampak begitu menggoda dan membuai normalnya jiwa manusia tergoda dan berhasrat untuk menggapai dan menikmatinya. Akan tetapi sungguh, segala yang terlihat indah di mata itu sejatinya akan jauh lebih indah jika ditunggu sebentar saja nanti ketika datang kampung kekelan di akhirat. 

Adapun orang-orang yang terlena dan tergoda sehingga tak dapat menahan kecuali memetik dan menikmatinya, sungguh cepat ataupun lambat segala sesuatu yang dinikmatinya itu akan layu dan nampak suram dan bencana yang sangat mencekam. Demikianlah Allah menguji hamba-hamba-Nya agar dapat terlihat mana di antara mereka yang benar-benar jujur dan taat mematuhi segala titah-Nya, dan mana di antara mereka yang terburu-buru menikmati keindahan sebelum datang waktunya.

Rasulullah Shallallahu’alaihi Wasallam bersabda:"bahwa dunia itu laksana surga bagi orang kafir, dan penjara bagi orang mukmin." (HR Muslim). 

Kenapa? Karena di dunia itu dipenuhi aturan-aturan yang sama sekali tak boleh diterjang. Ada halal haram, ada perintah dan larangan. Kerap kali untuk menjalankan suatu perintah, harus meninggalkan beberapa perkara yang nampak indah dan di saat tertentu harus menelan rasa pahit. Seluruh perintah ini hanya akan dilaksanakn oleh orang-orang mukmin karena meraka bersabar dan yakin bahwa kehidupan sebenarnya yang terdapat berbagai kenikmatan hanya akan ada di akhirat, di dunia bukanlah tempat berfoya-foya dan leyeh-leyeh.

Semoga Allah Subhanahu wa Ta’ala memberikan kita kekuatan untuk terus istiqamah menjalankan segala bentuk titah-Nya dan menjauhi sejauh-jauhnya apa yang menjadi larangannya. 

Wallahua’lam.