Telp. 0265-2351868 | WA 0878 8555 4556 | BBM 5AE49B09

Kisah Inspiratif

Smart Family

Tafakur

Terbaru

Monday, 20 May 2019

Kisah Sedekah Di Bulan Ramadhan










Sebut saja namanya Pak Dain. Beliau termasuk pemangku jabatan pengayom dan pengayem masyarakat di wilayahku. Tapi bukan PNS, bukan pula pegawai honorer. Jabatan yang beliau emban benar-benar murni pengabdian kepada masyarakat. Masyarakatlah yang memilihnya untuk didaulat sebagai tempat bersandar dan berkeluh kesah manakala ada masalah.

Namun, sore itu aku benar-benar dibuat tersentak oleh penuturan beliau. Ternyata, saat warga berkeluh kesah kepadanya tentang beragam masalah, sejatinya ada bertumpuk masalah pribadi beliau yang justru lebih berat. Namun, beliau mencoba tetap tegar, tersenyum, dan bijak membantu menyelesaikan masalah warga.

“Serapat-rapatnya saya menyembunyikan masalah pribadi, ternyata tetap saja ada titik kulminasi ketidaksanggupan saya untuk menahan beban itu sendirian, Pak,” kesah beliau kepadaku sore itu. “Saya sudah curhat kepada Tuhan, tetapi sebagai manusia biasa rasanya belum plong jika belum curhat pula kepada sesama manusia.”

“Memangnya ada apa, Pak, sepertinya kok penting banget?” tanyaku kepada beliau.

“Sudah sangat lama sumber pencaharian saya macet, Pak. Namun, saya mencoba tetap bersabar sambil terus berusaha mencari rezeki sedapatnya. Yach, sekadar untuk makan saya dan keluarga dalam sehari. Namun, hari ini saya benar-benar kepepet. Ada kebutuhan yang sangat mendesak, sementara saya tidak mempunyai uang serupiah pun,” tuturnya dengan wajah yang tidak lagi menyisakan senyum.

Sungguh, penuturan yang di luar dugaan. Seketika saya tercekat dibuatnya. Pasalnya, setiap kali bersua beliau, tak sekalipun beliau berbicara tentang diri sendiri. Selalu saja yang beliau bincangkan adalah tentang masyarakat, umat, dan orang banyak. Namun, kali ini, beliau benar-benar terdesak sehingga terpaksa berbicara tentang masalah pribadinya.

“Apa yang bisa saya bantu, Pak?”

“Sebelumnya saya minta maaf, saya boleh pinjam uang Pak Irham? Sekali lagi saya mohon maaf, saya benar-benar kepepet,” ujarnya.

“Pak Dain tidak perlu meminta maaf. Sebagai sesama manusia kita kan memang ditakdirkan untuk saling menolong. Jika saya bisa dan mampu, tentu akan saya bantu. Berapa yang Bapak butuhkan?”

“Dua ratus ribu rupiah,” jawab Pak Dain singkat.

Seketika hati saya teriris. Bagaimana tidak, saat para warga berlomba menghamburkan uang untuk hal-hal yang bukan primer, ternyata tokoh pengayom dan pengayem mereka justru sedang terimpit masalah keuangan dasar yang teramat akut. Bahkan, semakin teriris sakit manakala mengingat beberapa hari sebelumnya beliau menyalamiku sambil berucap lirih, “Ini ada sedikit uang untuk Pak Irham sebagaibisyarah.”

Lohbisyarah apa ini?” ucapku saat itu, sembari menepis tangan Pak Dain yang hendak menyelipkan selembar amplop ke dalam saku bajuku.

“Ini tanda terima kasih saya dan para wali santri karena Pak Irham telah merelakan waktu, tenaga, dan pikiran untuk ngajari anak-anak kami mengaji.”

Demi melegakan hati dan tidak mengecewakan mereka, aku terima amplop itu. Entah berapa isinya, aku tidak tahu. Karena, sedari dulu aku memang diajari oleh almarhumal-Walid (bapak saya) untuk tidak melihat isi amplop dari siapa pun.

“Masukkan ke dalam lemari tanpa perlu kaulihat isinya!” pesan beliau saat itu. “Atau berikan kepada orang lain yang membutuhkan; istrimu, tetanggamu, atau siapa saja yang layak kauberi.”

Pak Dain masih duduk tertunduk di hadapanku.

“Sebentar, saya tanya istri saya dulu, ya, Pak. Soalnya, istri saya yang lebih tahu tentang kondisi keuangan kami, sebab dialah yang kebagian tugas memegang dan mengelola semua uang. Ibaratnya, bendahara rumah tangga,” jawabku sambil tersenyum kecil.

Aku segera undur diri dari hapadan Pak Dain. Aku temui istriku yang tengah sibuk di dapur.

“Masih ada uang, istriku?” tanyaku. “Itu Pak Dain sedang butuh bantuan kita.”

“Sebentar, saya lihat dulu, ya, Mas. Soalnya pengeluaran kemarin cukup banyak,” sahut istriku sambil berlalu menuju tempat ia menyimpan uang.

“Ini, Mas, tinggal ini,” ujar istriku seraya mengulurkan amplop kecil berwarna putih kepadaku. “Kalau tidak salah, ini amplop pemberian Pak Dain beberapa hari lalu,” imbuhnya.

Kami lalu membuka amplop tersebut. Ternyata isinya dua ratus lima puluh ribu rupiah.

“Ya, sudah, yang dua ratus ribu kasihkan Pak Dain, Mas,” kata istriku, mantap. Saya cukup lima puluh ribu saja. InsyaAllah, Allah akan menggantinya pada waktu yang lain.

Satu hal yang sampai detik ini masih menyesaki pikiranku, bagaimana harus membantu menstabilkan perekonomian Pak Dain, sehingga beliau benar-benar total dalam mengabdi kepada masyarakat, umat, dan orang banyak. Bahkan, sekelebatan muncul pula pikiran buruk, “Apa jadinya jika suatu ketika Pak Dain, sosok yang dituakan di wilayah kami, tidak kuat menanggung beban hidupnya lalu mengambil jalan pintas dengan melakukan kejahatan untuk mendapatkan uang?”

Ah, itu hanya kekhawatiranku yang berlebihan dan tidak beralasan! Andai aku dan seluruh warga berpadu membantunya, pastilah kekhawatiran burukku itu tidak akan muncul.

Ibnu Abbas berkata,

كَانَ رَسُولُ اللَّهِ صلى الله عليه وسلم أَجْوَدَ النَّاسِ، وَكَانَ أَجْوَدُ مَا يَكُونُ فِي رَمَضَانَ حِينَ يَلْقَاهُ جِبْرِيلُ، وَكَانَ يَلْقَاهُ فِي كُلِّ لَيْلَةٍ مِنْ رَمَضَانَ فَيُدَارِسُهُ الْقُرْآنَ، فََرَسُولُ اللَّهِ صلى الله عليه وسلم أَجْوَدُ بِالْخَيْرِ مِنَ الرِّيحِ الْمُرْسَلَةِ


“Sesungguhnya Rasulullah saw adalah orang yang paling dermawan, dan kedermawaan beliau akan bertambah pada bulan Ramadhan ketika bertemu dengan Jibril. Beliau bertemu dengan Jibril setiap malam Ramadhan untuk mempelajari Al-Qur'an, dan  Rasulullah saw lebih dermawan dari angin yang bertiup kencang.” (HR. Bukhari)

Dalam suatu hadits, Rasulullah Saw bersabda,

مَا نَقَصَتْ صَدَقَةٌ مِنْ مَالٍ وَمَا زَادَ اللهُ عَبْدًا بِعَفْوٍ إِلاَّ عِزًّا وَمَا تَوَاضَعَ أَحَدٌ لِلَّهِ إِلاَّ رَفَعَهُ اللهُ

“Tidak berkurang harta yang disedekahkan, dan Allah tidak akan menambahkan kepada seseorang yang suka memaafkan melainkan kemuliaan, dan tidaklah seseorang bertawadhu (berendah hati) karena Allah melainkan Allah akan mengangkat derajat orang tersebut.” (HR. Muslim)

Sunday, 19 May 2019

Menyikapi Harta Dunia


Harta  adalah salah satu perkara di dunia yang kita sering tertipu olehnya. Ketika melihat orang lain dengan kelimpahan harta, hati kita menimbun rasa dengki sehingga melupakan semua nikmat yang sudah Allah Subhanallahu Wata’ala berikan.

Padahal, sikap seorang muslim dalam perkara harta dan dunia, hendaklah dia selalu melihat orang yang berada di bawahnya. Betapa masih banyak orang yang hidup serba kekurangan. Bahkan untuk makan pun mereka kesulitan.

Seharusnya seorang muslim memperhatikan sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam dalam hal ini.
Suatu saat Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah menyampaikan nasehat kepada Abu Dzar. Abu Dzar berkata:“Kekasihku yakni Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam memerintah tujuh perkara padaku, (di antaranya): Beliau memerintahkanku agar mencintai orang miskin dan dekat dengan mereka, beliau memerintahkanku agar melihat orang yang berada di bawahku (dalam masalah harta dan dunia), juga supaya aku tidak memperhatikan orang yang berada di atasku” (HR. Ahmad)

Dari Abu Hurairah, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:“Jika salah seorang di antara kalian melihat orang yang memiliki kelebihan harta dan bentuk (rupa) [al kholq], maka lihatlah kepada orang yang berada di bawahnya.” (HR. Bukhari dan Muslim).

Dengan mengingat hal ini, akan membuat hati kita lebih tenang. Selain itu, ini juga akan membuat kita sadar bahwa masih banyak nikmat dariNya yang belum kita syukuri

Saturday, 18 May 2019

Shalat Tarawih Bersama







Assalamu'alaikum wr wb...

Sahabat, berikut adalah salah satu kegiatan rutin santri pada bulan Ramadhan, yaitu melaksanakan shalat tarawih berjamaah.



Thursday, 16 May 2019

Kisah Di Balik Sebuah Jendela Kereta









Hari itu, di kereta api terdapat seorang pemuda bersama ayahnya. Pemuda itu cukup dewasa, sekitar berusia 24 tahun.

Di dalam kereta, pemuda itu memandang keluar jendela kereta, lalu berkata pada Ayahnya, "Ayah lihat, pohon-pohon itu sedang berlarian"

Sepasang anak muda duduk berdekatan. Keduanya melihat pemuda 24 tahun tadi dengan kasihan. Bagaimana tidak, untuk seukuran seusianya, kelakuan pemuda itu tampak begitu kekanak kanakan.

Namun seolah tidak peduli, si pemuda tadi tiba-tiba berkata lagi dengan antusiasnya, "Ayah lihatlah, awan itu sepertinya sedang mengikuti kita"

Kedua pasangan muda itu tampak tak sabar, lalu berkata kepada sang Ayah dari pemuda itu, "Kenapa Anda tidak membawa putra Anda itu ke seorang dokter yang bagus ?"

Sang Ayah hanya tersenyum, lalu berkata, "Sudah saya bawa, dan sebenarnya kami ini baru saja pulang dari rumah sakit. Anak saya ini sebelumnya buta semenjak kecil, dan ia baru saja mendapatkan penglihatannya hari ini"

Kedua pasangan muda itu pun terdiam, ketika mendengar jawaban sang Ayah. Dalam hati kecil mereka, mereka bersyukur atas penglihatan yang telah diberikan kepada mereka selama ini. Dan mendo'akan kepada pemuda itu, mudah-mudahan ia selalu bergembira.

Rasulullah Saw bersabda: "Jauhkanlah dirimu dari berprasangka buruk, karena sesungguhnya prasangka itu adalah perkataan yang paling dusta." (HR. Bukhari)

Sahabat, setiap manusia di dunia ini memiliki ceritanya masing-masing. Jangan langsung kita men-judge seseorang sebelum kita mengenalnya dengan benar. Karena kebenaran boleh jadi mengejutkan kita. Selalu berprasangka baik kepada setiap orang, karena itu yang diajarkan nabimu, dan itulah cara yang baik untuk menjalani kehidupan... 

Monday, 13 May 2019

Buka Puasa Bersama







Berikut adalah momen buka puasa bersama santri di Yayasan Rumah Yatim Indonesia. Alhamdulillah, adik-adik menmpunyai semangat yang tinggi untuk melaksanakan kewajiban berpuasa. Mereka tampak menikmati menu buka puasa bersama dengan teman-teman.




Saturday, 11 May 2019

Kisah Kerinduan Bilal Terhadap Rasulullah













Laki-laki berkulit hitam itu bernama Bilal Bin Rabbah yang begitu sangat mencintai baginda Rasulullah SAW
Suatu ketika Rasulullah SAW yang telah wafat membuat bilal bin rabbah tak sanggup lagi mengumandangkan adzan. Bilal bin Rabbah kemudian meminta izin kepada Abu Bakar Siddiq Ra. :
“Wahai khalifah, wahai khalifah izinkan aku untuk tidak lagi mengumandangkan adzan.”
Bilal kemudian berucap lagi; “Izinkan aku untuk tidak lagi mengumandangkan adzan wahai Abu Bakar?”
Lalu Abu Bakar pun berkata kepada Bilal; “Tidak bisa wahai bilal, aku tidak mungkin menurunkan seseorang yang sudah ditinggikan oleh rasulullah Saw.” Abu Bakar pun berkata; “Apa alasanmu wahai Bilal?”
“Abu Bakar, setiap hari ketika masuk waktu shalat, aku datang ke rumah rasulullah dan aku katakan kepada rasulullah ‘Ya rasul waktu shalat’ atau rasul yang gantian datang ke rumahku dan mengatakan ‘Bilal waktu shalat’ dan kami pun bersama-sama menuju mesjid dan kemudian aku naik ke atas menara dan sebelum aku mengumandangkan adzan aku menatap dulu wajah Rasulullah Saw. dan aku melakukan itu sehari lima kali wahai khalifah dan itu berulang-ulang setiap hari, tapi kini sudah tidak ada lagi Rasulullah, bagaimana mungkin aku sanggup untuk mengumandangkan adzan tanpa ada Rasulullah di sisiku wahai Khalifah?”
Maka Bilal pun meletakkan pandangannya ke arah menara dan ke arah makam Rasulullah Saw. Melihat ke arah menara lagi, dan bilal pun berkata kepada Abu Bakar;
Berbulan-bulan lamanya Bilal bin Rabbah berada di Syam. Dan pada suatu malam bertemu dengan Rasulullah Saw. dalam mimpinya dan Rasulullah Saw. berucap pada Bilal;
Bilal pun sudah tidak mampu lagi membendung air matanya, maka Abu Bakar Siddiq pun mulai meneteskan air matanya dan mengizinkan Bilal bin Rabbah untuk tidak lagi mengumandangkan adzan, dan Bilal pun pergi ke Syam karena tidak sanggup lagi untuk berada di Madinah.
“Alangkah beringnya hatimu wahai Bilal, alangkah gersangnya hatimu wahai Bilal. Sudah lama engkau tidak mengunjungiku, sudah lama engkau tidak berjumpa denganku. Tidak kah ada rasa rindumu terhadapku wahai Bilal?



Begitu kata rasulullah, dan Bilal pun terbangun dari tidurnya dan berderailah air matanya. Kemudian dia mengangis dengan sangat keras dan seluruh saudara-saudara Bilal berkata kepada Bilal;
“Ada apa wahai Bilal, ada apa engkau ini wahai Bilal?”
Bilal pun berkata; “Wahai saudara-saudaraku, aku bermimpi bertemu dengan Rasulullah, dan Rasulullah katakan betepa gersangnya hatiku. Betapa matinya hatiku ini karena aku tidak lagi mengunjungi Rasulullah. Aku takut sekali wahai saudara-saudaraku kalau Rasulullah meninggalkanku.”
Maka saudara-saudara Bilal pun berkata kepadanya; “Sudah saatnya engkau ziaroh ke makam Rasulullah Saw.”
Bilal bin Rabbah pun mengambil untanya dan memacu untanya untuk bertemu Rasulullah Saw. dan sepanjang perjalanan ia menembus siang dan malam, ia menembus panas dan dingin. Tak terasa deraian air matanya terus bercucur, ia merasa begitu rindu kepada rasulullah Saw. dan ketika Bilal sudah sampai di Madinah, ia melihat bukit-bukit Madinah dan semakin berteteslah air matanya. Dan ketika memasuki pintu gerbang Madinah, maka Bilal bin Rabbah pun melihat di setiap sudut kota Madinah bilal melihat ada wajah Rasulullah Saw. di sana. Di setiap bangunan kota Madinah, ada wajah rasulullah di sana, ada kenangan rasulullah di kota Madinah, maka Bilal pun semakin kencang dalam menangisnya. Tak bisa lagi dibendung air matanya dan ketika ia sampai ke makam Rasulullah Saw. ia bersimpuh dengan suara yang parau dan lirih ia pun mengatakan;
“Assalamu alaika ya Rasulullah. Assalamu’alaika ya habiballah, assalamu’alaika ya nabiyallah.” Bilal tak sanggup membentung air matanya. Ia pun begitu rindu dengan Rasulullah Saw. Kemudian ada seseorang yang menepuk pundak Bilal dan berkata; “Engkau sudah kembali lagi disini wahai Bilal?” Bilal kemudian menoleh, dialah Abu Bakar. Bilal pun memeluk Abu Bakar dengan sangat kencang, sementara disisi Abu Bakar ada Umar, dan kemudian Bilal pun menangis. Bilal mengatakan;
Datanglah dua anak kecil mendatangi Bilal. Mereka adalah Sayidina Hasan Sayidina Husein dan memeluk Bilal dan kemudian mengatakan;
“Abu Bakar aku takut sekali Abu Bakar, Rasulullah mendatangiku di mimpiku Abu Bakar. Rasulullah mengatakan hatiku gersang, hatiku kering, hatiku telah mati karena aku tidak mengunjungi Rasulullah Saw. Aku takut Rasul meninggalkanku wahai Abu Bakar, Bilal pun terus mengangis, hingga ia pun menyeka air matanya dan Abu Bakar pun mencoba untuk menenangkannya. Abu Bakar pun mengatakan; “Bilal, air mata yang turun karena rindu Rasulullah Saw. tidak akan pernah ditinggal oleh rasulullah, dan kau adalah orang yang tidak pernah ditinggal oleh Rasulullah Saw.” Bilal pun kembali memeluk Abu Bakar As Siddiq Ra. “Betapa kau rindu kepada Rasulullah Wahai Abu Bakar.” Maka Abu Bakar pun berkata kepada Bilal; “Bilal kumandangkanlah adzan lagi. Adzanlah wahai Bilal.” Bilal pun menjawab; “Tidak Abu Bakar, aku tidak akan pernah sanggup melakukan itu.” “Wahai kakek Bilal, kami cucu-cucu Rasulullah. Kumandangkan adzan lagi wahai kakek Bilal. Betapa kami rindu mendengarkan suaramu wahai kakek Bilal.”
Laki-laki hitam ini pun mulai memecah barisan dan orang-orang melihat Bilal. Mulailah orang-orang melihat bilal mulai menangis, mulai menetes air mata mereka karena biasanya di sisi Bilal selalu ada Rasulullah Saw. Bilal mulai berjalan dan air matanya mulai menetes, kemudian ia mulai naik ke atas menara. Bilal mencoba melihat pandangannya ke bawah karena biasanya sebelum mengumandangkan adzan ada Rasulullah di sana, ada wajah Rasulullah di sana, tapi ia tidak melihat Rasulullah. Ia pun kemudian mengumandangkan adzan, maka bahunya pun bergoncang, ia tidak kuat sebenarnya. Ia pun mulai mengucapkan;
Bilal pun menatap wajah Hasan yang mirip dengan sangat Rasulullah, menatap Husein yang sangat mirip dengan Rasulullah. Bilal pun memeluk keduanya dan dari aroma keduanya tercium wangi Rasulullah Saw. dan pada akhirnya Bilal pun mengatakan; “Baik-baik aku akan mengumandangkan adzan.” Semua orang pun sudah berkumpul di dalam mesjid untuk bersama-sama melakukan shalat berjamaah dan untuk mendengarkan adzan dari Bilal bin Rabbah Ra. “Allahu Akbar, Allahu Akbar.” Dengan suara yang gemetar, lalu apa yang terjadi? Seluruh orang yang berada di mesjid pun bergemuruh tangisan mereka. Mereka merasa rindu dengan Rasulullah Saw. suara Bilal mengingatkan mereka kepada Rasulullah Saw. Lalu Bilal pun kembali melanjutkan adzannya; “Allahu Akbar, Allahu Akbar.” Dan seluruh ibu-ibu yang ada di kota Madinah datang berbondong-bondong menuju mesjid dan mengatakan; “Apakah Rasulullah hidup kembali? Apakah Rasulullah datang kembali? Apakah Rasulullah dibangkitkan kembali?” Suara adzan Bilal mengingatkan mereka kepada Rasulullah dan orang-orang mengatakan; “Tidak. Rasulullah tidak hidup lagi. Rasulullah tidak dibangkitkan lagi. Rasulullah sudah wafat. Ini hanya suara Bilal saja.”
Orang-orang yang ada di mesjid kembali menangis. Dan Bilal pun kembali melanjutkan adzannya; “Asyhadu anlaa ila ha ila Allah, Wa asyhadu anna Muhammadarasulullah.” Dan Bilal pun jatuh pingsan. Bilal pun jatuh pingsan. Bilal tidak kuat untuk mengucapkan nama Muhammad Saw. dan ketika Bilal tersadar dari pingsannya, ia pun mengatakan; “Lanjutkan adzannya, aku tidak mampu. Lanjutkan adzan aku tidak tahan, aku tidak bisa.” Kata Bilal.


Kisah kerinduan Bilal ini mendatangkan pembelajaran yang luar biasa untuk kita. Rasulullah pernah mengatakan kepada seluruh sahabat-sahabatnya;
“Aku merindukan para saudara-saudaraku.” Para sahabat pun mengatakan; “Kamilah saudara-saudaramu, maksudmu apa wahai Rasulullah?”
Para sahabat bertanya; “Siapa mereka wahai rasulullah?”
Rasulullah Saw. berkata; “Kalian adalah sahabat-sahabatku, tapi aku merindukan saudara-saudaraku.” Rasulullah Saw.;
Siapa itu? Kita. Kitalah yang ditunggu oleh Rasulullah Saw. di telaganya Rasul. Ketika Rasul sangat mencintai dan merindukan kita, lalu bagaimana dengan kita? Bagaimana dengan lisan ini? Bagaimana perkataan dan perbuatan ini? Apakah mengikuti perkataan dan perbuatan Rasulullah Saw.? Wahai Rasul Saw., saksikan kami. Ini adalah hamba-hamba Allah, umatmu yang merindukan perjumpaan di telagamu wahai Rasul. Tunggulah kami wahai Rasul. Inilah kisah rindu kami wahai Rasulullah Saw.
“Mereka adalah orang-orang yang tidak pernah melihatku, tidak pernah melihat wajahku, tapi mereka beriman kepadaku. Mereka patuh dan mereka mengikuti semua perkataan dan perbuatanku. Dan aku rindu untuk bertemu dengannya.”
Dan semoga Allah kumpulkan kelak kita semua Bersama Baginda Rasulullah Shalallahu Alaihi Wasallam di Syurga.
Masya Allah itu tadi adalah cuplikan dan kerinduan Bilal bin Rabah kepada Baginda Rasulullah Shalallahu Alaihi Wasallam yang begitu besar. Semoga sholawat dan salam senantiasa tercurahkan kepada Nabi Besar Muhammad Shalallahu Alihi Wasallam besrta keluarga dan para shabatnya Aamiin.. Aamiin yaa Robbal-Alamiin
Allahuma Sholi Ala Sayyidina Muhammad Wa Aali Sayyidina Muhammad.



Friday, 10 May 2019

Jangan Lewatkan Keberkahan Ramadhan


Sahabat begitu banyak keutamaan–keutamaan yang ditunjukan oleh bulan Ramadhan ini. Ramadhan memang hanya sebuah nama bulan, namun jika kita tahu, bulan tersebut memiliki keistimewaan dan kelebihan-kelebihan tertentu.

Pada bulan Ramadhan Allah memerintahkan umat Nya untuk berpuasa. Puasa wajib pada bulan ini merupakan rukun islam yang ke empat yang harus dijalankan oleh seluruh umat Islam. 

Seperti Firman Allah SWT, “Hai orang-orang yang beriman, diwajibkan atas kamu berpuasa sebagaimana diwajibkan atas orang-orang sebelum kamu agar kamu bertakwa” (QS. Al-Baqarah : 183)
Di dalamnya juga diturunkan Al-Qur’an sebagai petunjuk bagi umat manusia dan berisi tentang petunjuk dan pembeda antara yang benar dan yang salah.

Saat malam hari, kita disunatkan shalat tarawih, yakni shalat malam pada bulan Ramadhan. Hal ini mengikuti jejak Rasulullah SAW dan para sahabat. Rasulullah SAW bersabda, “Barangsiapa mendirikan shalat malam Ramadhan karena Iman dan mengharap (pahala dari Allah) niscaya diampuni dosa-dosanya yang telah lalu” (Hadits Mutafaq ‘alaih)

Selain itu dalam bulan barokah ini terdapat laelatul qadri (malam mulia), yakni malam yang lebih baik dari seribu bulan, atau sama dengan 83 tahun 4 bulan. Saat itulah pintu langit dibuka dan doa-doa dikabulkan, dan segala takdir terjadi pada tahun itu ditentukan.

Pada bulan ini, terjadi peristiwa besar yaitu perang badar, yang keesokan harinya Allah SWT membedakan antara yang haq dan yang bathil sehingga menanglah Islam dan kaum muslimin, serta hancurlah syirik dan kaum musyrikin.

Pada bulan ini pula terjadi pembebasan kota Makkah Al-Mukarramah. Allah SWT memenangkan rosul-Nya sehingga masuklah manusia ke dalam agama Allah dengan berbondong-bondong. Saat itu Rasulullah SAW menghancurkan syirik dan paganisme (keberhalaan) yang terdapat di kota Makkah dan Makkah pun menjadi negeri Islam.

Pada bulan Ramadhan surga juga dibuka, pintu-pintu neraka ditutup dan para syetan diikat.
Bulan Ramadhan juga bulan yang penuh berkah. Pada bulan ini Allah mengunjungi kita dengan menurunkan rahmat, manghapus dosa-dosa dan mengabulkan doa.

 “Ramdhan menghapus dosa antara satu Ramadhan dengan Ramadhan sebelumnya. Rasulullah SAW bersabda, “Salat lima waktu, salat Jumat ke salat Jumat berikutnya dan Ramadhan ke Ramadhan berikutnya menghapuskan dosa-dosa yang dilakukan diantaranya, jika dosa-dosa besar ditinggalkan,” (HR. Muslim).

Jadi hal-hal fardu yang dilakukan di bulan Ramadhan ini akan menghapuskan dosa-dosa kecil, dengan syarat dosa besar ditinggalkan. Dosa-dosa besar yakni perbuatan yang diancam dengan hukuman di dunia dan siksaan di akhirat. Misalnya, zina, mencuri, minum arak, mencaci kedua orang tua, memutuskan hubungan kekeluargaan, transaksi dengan riba, mengambil risywah (suap), bersaksi palsu dan memutuskan perkara dengan selain hukum Allah.

Lihatlah, begitu banyaknya keutamaan yang terdapat dalam bulan Ramadhan. Untuk itu jangan sampai kita tidak mendapatkan berkahnya. Mari berlomba-lomba meningkatkan amal kebaikan di bulan ini