Telp. 0265-2351868 | WA 0878 8555 4556 | BBM 5AE49B09

Kisah Inspiratif

Smart Family

Tafakur

Terbaru

Wednesday, 22 March 2017

Tips Mudah Untuk Mendapatkan Ketenangan Hati


Pertama, Jangan tergantung terhadap orang lain, bersikaplah mandiri dan percaya akan kemampuan yang kita miliki.

Kedua, Jangan berburuk sangka, berfikirlah positif akan membawa pada suatu yang bermanfaat.

Ketiga, Jangan mengingat penyesalan yang tidak pantas disesali di masa lalu, hidup itu mudah, buatlah dalam suatu perbuatan kita dengan keputusan dan jadikan masa lalu menjadi sebuah pelajaran untuk menjadi yang lebih baik.

Keempat, Jangan pernah menyimpan dendam di hati, dendam itu di ibaratkan sebagai racun dalam hati kita, jauhi itu.

Kelima, Jauhi sifat terburu-buru, aset dalam kehidupan bukan harta tapi waktu. Maka pergunakan waktu dengan baik.

Keenam, Jangan khawatir dengan hari esok, ketuklah pintu dan pintu pun akan terbuka, ingatlah DIA, TUHAN pun akan ingat pada kita.

“Orang-orang yang beriman dan hati mereka menjadi tenteram dengan berzikir (mengingat) Allah. Ingatlah, hanya dengan mengingat Allah hati menjadi tenteram” | surah ar-Ra’du, 13: 28

Tuesday, 21 March 2017

Riya Yang Membinasakan Pahala






Pada suatu waktu sahur, seorang abid membaca Al-Quran, surah "Thoha", di dirumahnya yang berdekatan dengan jalan raya. Selesai membaca, dia merasa sangat mengantuk, lalu tertidur. Dalam tidurnya itu dia bermimpi melihat seorang lelaki turun dari langit membawa senaskhah Al-Quran. 

Lelaki itu datang menemuinya dan segera membuka kitab suci itu di depannya. dibukanya surat "Thoha" dan dibukanya halaman demi halaman untuk dilihat oleh abid. abid melihat setiap kalimat surat itu dicatatkan sepuluh kebaikan sebagai pahala bacaannya kecuali satu kalimat saja yang catatannya dihapuskan. Lalu katanya, "Demi Allah, sesungguhnya telahku baca seluruh surat ini tanpa meninggalkan satu kalimat pun". 

"Tetapi kenapakah catatan pahala untuk kalimat ini dihapuskan?" Lelaki itu berkata.

"Benarlah seperti katamu itu. Engkau memang tidak meninggalkan kalimah itu dalam bacaanmu tadi. bahkan , untuk kalimat itu telah kami catatkan pahalanya, tetapi tiba-tiba kami mendengar suara yang menyeru dari arah 'Arasy : 'hapuskan catatan itu dan gugurkan pahala untuk kalimat itu'. Maka sebab itulah kami segera menghapuskannya". 

Abid pun menangis dalam mimpinya itu dan berkata, "Kenapakah kenapa itu bisa terjadi?".

"Karena engkau sendiri. Ketika membaca surat itu tadi, seorang hamba Allah melewati jalan di depan rumah mu. Engkau sadar akan hal itu, lalu engkau meninggikan suara bacaanmu supaya didengar oleh hamba Allah itu. Kalimat yang tidak ada catatan pahala itulah yang telah engkau baca dengan suara tinggi itu".

Si abid terbangun dari tidurnya. "Astaghfirullaahal-'Azhim! Sungguh licin virus riya' menyusup masuk ke dalam kalbu ku dan sungguh besar kecelakaannya. Dalam sekelip mata saja ibadahku dimusnahkannya. Benarlah kata alim ulama', serangan penyakit riya' atau ujub, bisa membinasakan amal ibadah seseorang hamba Allah selama tujuh puluh tahun".

Riya, disebutkan dalam hadits Rasulullah bahwa di hari Kiamat kelak akan ada orang orang yang semasa hidupnya mati dalam perang untuk membela agama tapi ditolak amalnya oleh Allah, ada juga seorang Ustadz yang telah mengajarkan ilmunya tapi Allah tidak menerima amalnya sebagai seorang Ahli Ilmu, ada juga orang yang selalu membaca Al-Qur'an namun apa yang telah dilakukannya menjadi sia-sia dihadapan Allah. Ada apa mereka? Mereka adalah orang-orang yang melakukan amal ibadah, akan tetapi semuanya dilakukan agar mendapat pujian dari orang lain (riya) Riya adalah merupakan sebuah aktifitas hati yang sangat berbahaya namun kedatangannya sering tidak disadari oleh seseorang, bahkan penyakit hati ini sering menjadi dasar bagi seseorang dalam menjalankan amal ibadah, yang diburu bukan ridlo Allah melainkan pujian dari sesamanya.

Mestinya dalam melakukan ibadah hanya ada satu tujuan yaitu pengabdian terhadap Allah yang telah memberikan segalanya kepada kita sekalian, dan bukan dengan tujuan lain. Melakukan ibadah dengan riya akan membuat seseorang terjerumus dalam kemusyrikan tanpa disadarinya. 

Syafa'at Al Qur'an Di Dalam Kubur


Dari Sa’id bin Sulaim ra, Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam bersabda: “Tiada penolong yg lebih utama derajatnya di sisi Allah pada hari Kiamat daripada Al-Qur’an. Bukan nabi, bukan malaikat dan bukan pula yang lainnya.” (Abdul Malik bin Habib-Syarah Ihya).

Bazzar meriwayatkan dalam kitab La’aali Masnunah bahwa jika seseorang meninggal dunia, ketika orang - orang sibuk dgn kain kafan dan persiapan pengebumian di rumahnya, tiba -tiba seseorang yang sangat tampan berdiri di kepala mayat. Ketika kain kafan mulai dipakaikan, dia berada di antara dada dan kain kafan.

Setelah dikuburkan dan orang - orang mulai meninggalkannya, datanglah 2 malaikat. Yaitu Malaikat Munkar dan Nakir yang berusaha memisahkan orang tampan itu dari mayat agar memudahkan tanya jawab.

Tetapi si tampan itu berkata: ”Ia adalah sahabat karibku. Dalam keadaan bagaimanapun aku tidak akan meninggalkannya. Jika kalian ditugaskan utk bertanya kepadanya, lakukanlah pekerjaan kalian. Aku tidak akan berpisah dari orang ini sehingga ia dimasukkan ke dalam syurga.”

Lalu ia berpaling kepada sahabatnya dan berkata,”Aku adalah Al quran yang terkadang kamu baca dengan suara keras dan terkadang dengan suara perlahan.

Jangan khawatir setelah menghadapi pertanyaan Munkar dan Nakir ini, engkau tidak akan mengalami kesulitan.”

Setelah para malaikat itu selesai memberi pertanyaan, ia menghamparkan tempat tidur dan permadani sutera yang penuh dengan kasturi dari Mala’il A’la. (Himpunan Fadhilah Amal : 609)

Allahu Akbar, selalu saja ada getaran haru selepas membaca hadits ini. Getaran penuh pengharapan sekaligus kekhawatiran. Getaran harap karena tentu saja mengharapkan Al-Quran yang kita baca dapat menjadi pembela kita di hari yang tidak ada pembela. Sekaligus getaran takut, kalau-kalau Al-Quran akan menuntut kita.

Semoga Al qur’an menjadi “teman” bagi kita ketika tidak ada sesuatupun di dunia ini yang dapat menemani kita. Aamiin.

"Bacalah Al-Qur'an, karena sesungguhnya dia akan datang pada hari kiamat memberikan syafaat bagi para pembacanya." (HR. Muslim)

Mari Membaca ,menghafal Al qur’an.serta mengamalkannya.

Monday, 20 March 2017

Kisah Keajaiban Tawakal





Ada sebuah kisah yang menarik dari seorang yang bernama Hatim Al-Asham.Suatu kali Hatim ingin menunaikan ibadah haji ke Baitullah.Ia pun mengumpulkan anak-anaknya dan berkata : "Saya akan pergi untuk menunaikan ibadah haji ke Baitullah." Anak-anaknya berkata : "Siapa yang akan memenuhi kebutuhan kami ?"Akan tetapi, salah seorang puterinya berkata dengan penuh keyakinan : "Wahai ayah, silahkan ayah pergi dan sempurnakanlah ibadah haji ayah.Karena saya yakin, ayah bukan pemberi rezeki."

Hatim pun pergi,selang beberapa hari makanan di rumah habis.Lalu seluruh keluarga datang kepada gadis bertakwa itu, dengan melontarkan cacian dan celaan.Kemudian gadis itu menyepi dan menautkan permohonannya kepada Rabbnya yang telah berfirman : 
"Barangsiapa yang bertakwa kepada Allah,Dia akan menjadikan jalan keluar baginya dan memberinya rezeki dari arah yang tiada disangka-sangka...
( QS, Ath-Thalaq (65) : 2 - 3 ).

Demi Allah yang tidak ada Tuhan selain Dia, Dia tidak akan mengabaikan seorang yang bertakwa.Wujudkanlah takwa dan serahkan segala urusan kepada Raja.

Allah memenuhi permohonan si gadis.Pada saat yang bersamaan, pemimpin negeri itu sedang meninjau kondisi rakyatnya, ketika sampai di depan rumah Hatim, ia begitu didera rasa haus, yang hampir-hampir membunuhnya.Ia berkata kepada salah satu pengawalnya : "Carikan aku segelas air dingin." Maka pengawal itu masuk ke rumah terdekat, yaitu rumah Hatim.Para penghuni rumah pun segera menyediakan gelas yang bersih dan air yang dingin.

Sang Raja meminum air yang disediakan, ia bertanya : "Rumah siapa ini ?"Mereka menjawab : "Milik Hatim Al-Asham." Raja bertanya lagi : "Ia seorang yang shaleh ?" Mereka menjawab : "Benar". Raja berkata : "Segala puji hanya milik Allah yang telah memberi kami minum dari rumah orang shaleh.Dimana dia sekarang, agar kita memberi salam kepadanya ?" Mereka menjawab : "Dia pergi untuk menunaikan ibadah haji ke Baitullah." Raja berkata :" Kalau demikian, demi Allah, kita wajib mencukupi kebutuhan anggota keluarganya ketika dia tidak ada."

Kemudian sang raja mengeluarkan sekantong uang emas dan melemparkannya ke rumah Hatim Al Asham.Akan tetapi Allah yang Maha Memberi Rezeki hendak memberikan tambahan rezeki yang lain, Dia gerakkan hati sang raja.Raja menoleh ke arah para prajuritnya dan berkata : " Barangsiapa yang mencintaiku, hendaklah ia melakukan seperti tindakanku tadi ".Maka, masing-masing prajurit melemparkan semua harta yang mereka bawa, sebagai bentuk basa-basi kepada sang raja.

Akhirnya rumah si gadis penuh dengan emas.Si gadis masuk ke kamarnya sambil menangis haru, saudara-saudaranya keluar mendengar tangisannya." Kita telah menjadi manusia yang paling kaya.Seorang makhluk telah memandang ke arah kita sekali pandang, sehingga kita pun menjadi kaya, lantas bagaimana jika Sang Khalik yang memandang ke arah kita.

Saudara-saudaraku, inilah hakikat tawakal.Inilah keutamaan tawakal.Kita memohon kepada Allah agar menjadikan kita termasuk orang-orang yang bertawakal dan benar.Kita juga memohon kepada Allah agar mengaruniakan kepada kita manisnya tawakal kepadaNya dan kesejukan yakin kepada Allah serta nikmatnya kepercayaan kepadaNya.Sesungguhnya Dia-lah yang berhak untuk itu.Amin..Amin..Yaa Rabb.

Dan akhirnya semoga kisah tawakal kepada Allah ini dapat bermanfaat dan kita semuanya bisa mengambil pelajarannya aamiin.

Waspada!Ujub Penghancur Segala Amal Kebaikan


Larangan sombong di Muka Bumi, Seseorang yang kagum dengan diri sendiri (ujub) menandakan lemah akalnya. Ketika seseorang kagum pada diri sendiri, gila hormat dan cinta popularitas maka semua itu akan membinasakan dirinya sendiri. Imam Ibnu Abdul Barr Rahimahullah pernah berkata dalam kitabnya Jami’ul Bayanil ‘Ilmi wa Fadhlihi;

العجب يهدم المحاسن كلها
“Ujub itu menghancurkan segala kebaikan.”

Bahkan dikatakan ada beberapa diantara para pengumpul dan perawi hadits yang rusak dan hilang hafalan hadits-haditsnya karena ada sifat ujub di dalam diri mereka dan hal ini tentu saja merupakan musibah besar bagi diri dan agama seseorang.

Sebagaimana disebutkan dalam biografi seorang perawi hadits Ahmad bin Kamil Al-Baghdadi. Imam Daruquthni mengatakan bahwa ia adalah seorang yang memiliki banyak catatan dan hafalan hadits bahkan ia lebih fasih menyampaikan hadits secara hafalan daripada melihat catatan. Namun semua itu sirna dan rusak karena sifat ujubnya.

Tentang Ahmad bin Kamil Al-Baghdadi ini, Imam Ad-Dzahabi menceritakan di dalam kitab beliau Siyar A’lamin Nubala; “Ia adalah seorang yang memiliki keluasan ilmu, namun ilmu yang ia miliki sirna dengan sifat ujubnya”

Semoga kita dihindarkan dari sifat ujub dan berbangga pada diri sendiri karena hal itu akan melenyapkan semua amal kebaikan kita.

Saturday, 18 March 2017

Pelajaran Berharga Dibalik Berbaik Sangka





Dikisahkan pada suatu malam, seorang sultan bernama Murad ar-Rabi (1623-1640) sedang ditimpa rasa gundah dan gelisah yang sangat hebat. Kepala sipir yang ada di sisinya sedari tadi memperhatikan kegelisahan sultannya memberi saran seraya berkata, “Barangkali sangat diperlukan jika tuan hendak turun melihat rakyat lagi!”

“Masuk akal juga saran kepala sipir ini, jangan-jangan ada peristiwa penuh hikmah yang akan terjadi di balik kegelisahanku.” Batin sultan yang memiliki kebiasaan menyambangi rakyatnya. Kemudian kepala sipir diminta untuk menemaninya.

Sepertinya kebiasaan sebelumnya, sultan sangat suka menyamar tatkala sedang turun melihat keadaan rakyat. Dalam perjalanan yang sudah lumayan jauh dan hampir sampai pada sebuah perkampungan, di tengah-tengah jalan perbatasan kampung ia melihat seorang tergeletak yang sudah tidak bernyawa. Namun mirisnya satu orang pun yang berlalu lalang di sekelilingnya tidak ada yang mengurus.

Kemudian sultan menanyakan mengenai seseorang yang tergeletak kepada beberapa orang yang ada di sekitar itu. Namun sebaliknya mereka menjawab dengan sinis. “Biarkan saja. dia orang fasik, peminum khamar, dan penzina!”

“Wahai sipir, tolonglah orang itu dengan atas nama umat Nabi Muhammad Saw, antarkan jenazah ini ke keluarganya sekarang!” ujar Murad ar-Rabi iba.

Lalu jenazah itu dibopong oleh sipir dan diantar oleh beberapa orang ke alamat yang dimaksud. Istrinya yang telah menunggu di rumah menyambut dengan isak tangis yang penuh ketegaran dan ketabahan melihat suaminya sudah meninggal tanpa ada seorang yang mengurusnya.

Sestelah itu, semua pengantar bergegas pergi meninggalkan rumahnya dan dalam hatinya tidak ada keinginan untuk mengurus jenazah. Sang istri bertanya: “Mengapa kalian tidak ikut serta meninggalkan kami seperti orang-orang itu, wahai wali Allah?”

Murad ar-Rabi terhenyak kaget tatkala disebutkan wali Allah seraya bertanya: “Bagaimana engkau bisa menyebut kami wali Allah sedangkan orang-orang di luar sana menganggap buruk dan jelek pada jenazah suamimu ini?”

Kemudian sang istri menceritakan awal mula sebelum suami meninggalkan selamanya. “Tidakkah engkau takut wahai suamiku, jikalau engkau terus melakukan amalanmu ini maka suatu saat engkau meninggal di tengah jalan dan saat itu juga tak ada satu orang pun yang peduli mengurus jenazahmu apalagi menshalatkanmu?”

Dijawablah oleh suamiku, “Wahai istriku, Allah Swt Maha Kuasa atas segala ciptaan-Nya. Janganlah engkau khawatir jika itu akan terjadi, yang akan mengurus jenazahku nanti adalah wali Allah dan penguasa di negeri ini. Bahkan para ulamanya pun yang akan menshalatkanku.”

Sang istri pun memperjelas mengenai amalan-amalan yang telah dilakukan oleh suaminya semasa hidup. Amalan tersebut yakni:

Suamiku memiliki kebiasaan membeli botol-botol minuman khamar, lalu dibawanya pulang dan kemudian ia pecahkan dan membuangnya barang haram tersebut di selokan tanpa meminum maupun mencicipinya sedikitpun.
Suamiku pergi ke rumah perempuan “nakal” seraya meminta untuk tidak membukakan pintu bagi umat Nabi Muhammad Saw karena dosa pezina termasuk dosa besar. Dan membayarkan kompensasi seharga laki-laki hidung belang.
Setelah mendengar cerita dari istri yang shalihah, Murad ar-Rabi yang berdiri terisak-isak berderai air mata seraya berkata, “Demi Allah, saya adalah sultan di negeri ini. Dan besuk akan saya perintahkan para ulama di negeri ini untuk menshalatkan suamimu itu.”

Subhanallah, kisah Murad ar-Rabi yang menggugah, memberikan tauladan hasanah. Hendaknya seorang muslim tidak liar dalam mempersangkakan orang lain di luar kita. Berbaik sangka kepada Allah SWT merupakan kenikmatan yang paling agung.

Abu Hurairah RA meriwayatkan sabda Rasulullah SAW tentang kemuliaan berprasangka baik kepada sang Khalik. ”Sesungguhnya Allah azza wa jalla berfirman, Aku menurut prasangka hamba-Ku. Aku bersamanya saat ia mengingat-Ku. Jika ia mengingatku dalam kesendirian, Aku akan mengingatnya dalam kesendirian-Ku. Jika ia mengingat-Ku dalam keramaian, Aku akan mengingatnya dalam keramaian yang lebih baik daripada keramaiannya. Jika ia mendekat kepada-Ku sejengkal, Aku akan mendekat kepadanya sehasta. Jika ia mendekat kepada-Ku sehasta, Aku akan mendekat kepadanya se depa. Jika ia datang kepada-Ku dengan berjalan, Aku akan datang kepadanya dengan berlari.” (HR Bukhari dan Muslim).

Karena prasangka baik terdapat hikmah yang menarik. Berbaik sangka mendekatkan kita pada yang Maha Esa. Sebaliknya, berprasangka buruk membuat kita terpuruk. Berburuk sangka menyebabkan setan berkuasa di hati kita.

Wallahu A’lam.

Sabar Menghadapi Musibah


Dalam hidup ini kita tidak luput dari bencana atau musibah. Bencana terkadang terjadi dengan tiba-tiba. Menghadapi cobaan tersebut memang butuh kesabaran. Ada yang dengan ikhlas, ada pula yang melakukan pelarian-pelarian yang tidak semestinya. Yang pasti kecewa dan putus asa tidak akan pernah menyelesaikan masalah. Yakinlah bahwa Allah yang menggenggam segalanya.

“dan orang-orang yang sabar dalam kesempitan, penderitaan dan dalam peperangan. Mereka itulah orang yang benar (imannya). Dan mereka itulah orang-orang yang bertakwa.” (QS. Al-Baqarah: 177)

Jika kita mengembalikan setiap permasalahan yang menimpa kita kepada Allah, akan terasa ringan menghadapinya. Allah sengaja membuat peristiwa kehidupan manusia berpasang-pasangan. Ada yang menyenangkan, ada yang menyengsarakan. Dari situlah Allah akan mengetahui konsistensi keimanan hamba-Nya.

أَمْ حَسِبْتُمْ أَنْ تَدْخُلُوا الْجَنَّةَ وَلَمَّا يَعْلَمِ اللَّهُ الَّذِينَ جَاهَدُوا مِنْكُمْ وَيَعْلَمَ الصَّابِرِينَ

Apakah kamu mengira bahwa kamu akan masuk surga, padahal belum nyata bagi Allah orang-orang yang berjihad diantaramu dan belum nyata orang-orang yang sabar. (Al-Imran: 142)

Sebagai contoh, Nabi Ayub as, adalah seorang utusan Allah yang memiliki kesabaran luar biasa. Ia dianugrahi kekayaan berlimpah dan kedudukan terhormat tetap bersabar ketika Allah mengujinya dengan kemiskinan dan penyakit.Ia bahkan sempat menjadi orang yang terasing dilingkungannya. Berkat kesabarannya, Allah memulihkan keadaanya.

Orang yang sabar adalah orang yang memiliki kemampuan menghadapi ujian yang diberikan Allah dengan sikap benar, yaiut tetap berusaha bangkit dan tawakal. Rasulullah saw., menyebut sabar sebagai bagian dari iman. (HR. Abu Na'im)

Untuk menjadi muslim yang memiliki sifat sabar, kita harus mencari ilmu dan berdoa.