Telp. 0265-2351868 | WA 0878 8555 4556 | BBM 5AE49B09

Kisah Inspiratif

Smart Family

Tafakur

Terbaru

Wednesday, 25 April 2018

Menjadi Pasangan Yang Bahagia






Pernikahan akan  langgeng dan barakah ketika pasutri memiliki perasaan cinta dan kesetiaan yang besar kepada pasangannya. Bahkan terkadang dominasi kesetiaan saja bisa mewujudkan rumah tangga tetap kokoh meski terkadang salah satu pasangan perlu memendam, ketidaksukaan pada pasangannya. Simak kisah inspiratif yang di zaman kini mungkin Anda sulit menemuinya. Sebuah cerita nyata sosok suami yang sangat menjaga perasaan istri dan berupaya sekuat tenaga agar istrinya merasa bahagia.
Ibnul Qoyyim rahimahullah berkata: “Dan diceritakan seorang laki-laki menikahi seorang perempuan. Ketika masuk menemui si laki-laki, perempuan itu menyatakan memiliki penyakit cacar. Si laki-laki berkata, “Mataku sakit sekali”. Kemudian ia berkata lagi: “Aku sudah tak bisa melihat.” Setelah 20 tahun, perempuan itupun meninggal tanpa menyadari bahwa suaminya itu sebenarnya bisa melihat. Lalu ada yang bertanya kepada si laki-laki itu tentang perbuatannya tersebut, ia berkata: “Aku tidak suka kalau sampai ia menjadi sedih karena aku melihat penyakitnya. Kemudian dikatakan padanya, masa-masa itu telah berlalu”” (Madarijus Salikin, 2/326).
Syaikh Doktor Muhammad bin Luthfi Ash-Shabbagh rahimahullah berkata, seorang kawan bercerita kepadaku tentang syaikhnya yang mengutarakan rahasia hidupnya. Syaikh itu berkata, “Aku telah menjalani kehidupan bersama istriku selama 40 tahun, dan aku tidak pernah melihat  satu pun hari yang menyenangkan. Sesungguhnya sejak pertama kali aku masuk menemuinya, aku telah menyadari bahwa sama sekali tidak cocok untukku. Hanya saja ia adalah putri pamanku, dan akupun yakin bahwa tidak akan ada orang yang dapat menerimanya. Lalu aku berusaha dan memohon balasan kebaikan dari Allah. Allah pun mengaruniakanku anak-anak yang penuh bakti dan shalih darinya. Ketidaksukaanku padanya membantuku menyibukan diri dengan ilmu. Hasilnya adalah sekian banyak karangan yang aku harapkan dapat menjadi ilmu yang bermanfaat dan tergolong sebagai shadaqah jariyah. Hubunganku yang buruk dengannya memberikan kesempatan untuk  membina hubungan sosial yang produktif dengan orang banyak. Kalau saja aku menikah dengan orang lain, mungkin hal-hal itu semua sama sekali tidak dapat aku wujudkan” (Nazharat fil Usrah al-Muslimah, hal. 196)
Kisah ketiga sebagaimana perkataan Syaikh Ash-Shabbagh, Seorang kawan yang lain bercerita kepadaku, ia berkata “Sejak hari pertama pernikahan kami, aku benar-benar tidak menemukan kecenderungan ataupun rasa suka terhadap istriku. Namun aku berjanji kepada Allah akan bersabar bersamanya dan tidak akan mendzaliminya, serta ridha dengan apa yang telah Allah peruntukan bagiku. Kemudian aku mendapatkan kebaikan yang berlimpah berupa harta, anak, keamanan dan taufik”. (Nazharat fil Usrah al-Muslimah, hal. 196).
Subhanallah….
Sungguh mengagumkan perilaku mereka  dalam merajut tali kasih diantara pasutri. Mereka begitu lembut dan menghargai perasaan pasangan meskipun harus mengorbankan perasaannya sendiri. Tujuannya tidak lain demi membuat istrinya bahagia.
Merekalah tipikal suami setia yang  menyayangi pasangan hanya mengharap ridha-Nya, sungguh mulia dan mempesona akhlak mereka.
Rasulullah Shalallahu’alaihi Wasallam berwasiat :
إِنَّ مِنْ خِيَارِكُمْ أَحْسَنَكُمْ أَخْلاَقًا
Sesungguhnya orang yang paling baik diantara kalian adalah yang paling bagus akhlaknya” (Shahih: Diriwayatkan oleh Bukhari dalam shahihnya no. 3559, Imam Muslim dalam shahinya no. 9987, dan Imam At-Tirmidzi dalam sunannya no. 1975);
Syariat Islam juga melarang para suami untuk berbuat zalim kepada istrinya bahkan diperintahkan mempergauli dengan baik. Sebagaimana firman Allah :
وَعَا شِرُوْهُنَّ بِالْمَعْرُوْفِ
Dan bergaulah dengan mulia secara patuh” (QS. An-Nisa : 19).
Dan sebagai kisah penutup, kiranya cerita ini mampu menggugah keimanan kita untuk lebih memperhatikan pasangan meskipun begitu banyak perbedaan diantara keduanya.
Ibnul Arabi menyebutkan dengan sanadnya dan berkata: “Istrinya berperangai jelek, tidak menjalankan kewajibannya sebagai istri dan selalu menyakiti suaminya dengan lidahnya. Orang-orang banyak yang heran dan mencela sikap sabarnya terhadap sang istri. Abu Muhammad selalu berkata, “Aku telah diberikan Allah berbagai macam nikmat berupa kesehatan, ilmu dan budak-budak yang kumiliki. Mungkin sikap jelek istriku terhadapku disebabkan hukuman Allah  kepadaku karena dosa-dosaku, aku takut jika ia kuceraikan akan turun ujian kepadaku lebih berat daripada ujian perangai istriku yang jelek.” (Ahkam Al-Qur’an, I/363).



Tuesday, 24 April 2018

Katakanlah Kebenaran Walau Pahit


Berkatalah yang benar walau itu pahit. Kebenaran tetap diterapkan walau ada celaan dan ada yang tidak suka. Inilah prinsip yang diajarkan dalam Islam oleh Nabi kita shallallahu ‘alaihi wa sallam. Nasehat ini beliau sampaikan pada sahabat mulia Abu Dzarr. Dalam tulisan kali ini akan diajarkan tiga contoh penerapan bagaimana kita mesti menerapkan kebenaran meski banyak yang berkomentar.

عَنْ أَبِى ذَرٍّ قَالَ أَمَرَنِى خَلِيلِى -صلى الله عليه وسلم- بِسَبْعٍ أَمَرَنِى بِحُبِّ الْمَسَاكِينِ وَالدُّنُوِّ مِنْهُمْ وَأَمَرَنِى أَنْ أَنْظُرَ إِلَى مَنْ هُوَ دُونِى وَلاَ أَنْظُرَ إِلَى مَنْ هُوَ فَوْقِى وَأَمَرَنِى أَنْ أَصِلَ الرَّحِمَ وَإِنْ أَدْبَرَتْ وَأَمَرَنِى أَنْ لاَ أَسْأَلَ أَحَداً شَيْئاً وَأَمَرَنِى أَنْ أَقُولَ بِالْحَقِّ وَإِنْ كَانَ مُرًّا وَأَمَرَنِى أَنْ لاَ أَخَافَ فِى اللَّهِ لَوْمَةَ لاَئِمٍ وَأَمَرَنِى أَنْ أُكْثِرَ مِنْ قَوْلِ لاَ حَوْلَ وَلاَ قُوَّةَ إِلاَّ بِاللَّهِ فَإِنَّهُنَّ مِنْ كَنْزٍ تَحْتَ الْعَرْشِ

Dari Abu Dzaar, ia berkata, “Kekasihku Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam memerintahkan tujuh hal padaku: (1) mencintai orang miskin dan dekat dengan mereka, (2) beliau memerintah agar melihat pada orang di bawahku (dalam hal harta) dan janganlah lihat pada orang yang berada di atasku, (3) beliau memerintahkan padaku untuk menyambung tali silaturahim (hubungan kerabat) walau kerabat tersebut bersikap kasar, (4) beliau memerintahkan padaku agar tidak meminta-minta pada seorang pun, (5) beliau memerintahkan untuk mengatakan yang benar walau itu pahit, (6) beliau memerintahkan padaku agar tidak takut terhadap celaan saat berdakwa di jalan Allah, (7) beliau memerintahkan agar memperbanyak ucapan “laa hawla wa laa quwwata illa billah” (tidak ada daya dan upaya kecuali dengan pertolongan Allah), karena kalimat tersebut termasuk simpanan di bawah ‘Arsy.” (HR. Ahmad 5: 159. Syaikh Syu’aib Al Arnauth mengatakan bahwa hadits ini shahih, namun sanad hadits ini hasan karena adanya Salaam Abul Mundzir)

Syaikh Muhammad bin Sholih Al ‘Utsaimin memberikan contoh mengenai hadits “Berkata yang benar walaupun pahit” yaitu dalam hal orang awam yang biasa berkomentar sinis atau tidak suka terhadap ajaran Rasul shallallahu ‘alaihi wa sallam. Beliau membawakan tiga contoh ketika menjelaskan hadits dalam Riyadhus Sholihin karya Imam Nawawi.

Contoh pertama:
Meluruskan shaf dalam shalat jama’ah. Kata Syaikh Ibnu ‘Utsaimin banyak orang awam yang mengingkari hal ini. Ketika disuruh maju atau mundur sedikit supaya lurus, ada yang mengingkari. Ada pun yang marah gara-gara disuruh meluruskan shaf. Namun meskipun demikian, imam harus tetap mengajarkan ajaran Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam ini pada para jama’ah. Ia harus sabar meladeni mereka yang bersikap tidak baik.

Contoh kedua:
Sebagian jama’ah mengingkari adanya sujud sahwi sesudah salam. Sampai-sampai ada yang menganggap bahwa sujud sahwi sesudah salam adalah ajaran yang baru. Padahal jika ditilik pada hadits, ada yang menyebutkan bahwa sujud sahwi sesudah salam, ada yang menyebutkan sebelum salam. Jika ada penambahan dalam shalat atau ada ragu-ragu tetapi bisa dikuatkan, maka sujud sahwi yang ada adalah sesudah salam. Tetap imam saat lupa seperti ini melakukan sujud sahwi (sebanyak dua kali sujud) sesudah salam, tidak perlu ia takut akan celaan meskipun itu terasa pahit. 

Contoh ketiga:
Sebagian orang merasa aneh jika ada yang mau jujur dalam jual beli. Tatkala si penjual barang menyampaikan ada sesuatu yang aib (cacat) dalam barang dagangan, seperti ini dianggap aneh. Sampai dikata, “Wah itu kan cacat sedikit, yang lain pasti masih senang dengan barang itu.” Padahal seharusnya setiap orang itu bertakwa pada Allah di mana pun, dengan bersikap jujur dalam jual beli. Ia mesti berbuat adil dengan menjelaskan kenyataan cacat yang ada pada barang yang akan dijual. Jika memang sikap jujur seperti ini dianggap aneh, maka sampaikanlah bahwa ajaran seperti ini dari Islam. Sehingga nantinya mereka pun tahu dan bisa menerapkannya. 

Demikian penjelasan Syaikh Ibnu ‘Utsaimin yang kami bahasakan secara bebas dan ringkaskan dari kitab Syarh Riyadhus Sholihin, 2: 428-430.

Semoga Allah meneguhkan kita selalu di atas kebenaran dan diberi taufik berkata yang benar walau itu pahit. Hanya Allah yang memberi taufik.

Speech Bahasa Asing










Assalamu'alaikum wr wb,

Sahabat, pada hari Jumat 24 April 2018 merupakan hari yang sangat luar biasa dan menegangkan untuk semua santri Rumah Yatim Indonesia. Sekaligus memberikan edukasi serta pengalaman baru untuk mereka. Dimana pada hari tersebut adik-adik kita melaksanakan kegiatan Speech atau pidato bahasa asing di depan umum secara terbuka. Kegiatan speech contest ini digelar di Taman Kota Tasikmalaya.

Sahabat, apakah penting mengajarkan anak untuk berbicara di depan umum? ya tentu saja penting. Karena dengan melatih mereka berbicara di depan umum akan meningkatkan rasa percaya diri serta keberanian. Selain itu mereka akan mempunyai rasa tanggung jawab terhadap apa yang disampaikan dan mampu meningkatkan kemampuan berbicara mereka.

Semoga kegiatan ini bermanfaat untuk adik-adik kita dalam mengembangkan ilmu serta meningkatkan kemampuan mereka. Aamiin....





Monday, 23 April 2018

Kebaikan Kecil Seorang Ayah






Ketika sore sepulang kerja seorang suami melihat isteri yang tertidur pulas karena kecapekan bekerja seharian di rumah. Sang suami mencium kening isterinya dan bertanya, 
"Bunda, udah shalat Ashar belum?"
Isterinya terbangun dengan hati berbunga-bunga menjawab pertanyaan suami, "sudah yah."
Isterinya beranjak dari tempat tidur mengambil piring yang tertutup, sore itu isterinya memasak kesukaan sang suami.
"Lihat nih, aku memasak khusus kesukaan ayah." Piring itu dibukanya, ada sepotong kepala ayam yang terhidang untuk dirinya.
Sang suami memakannya dengan lahap dan menghabiskan. Isterinya bertanya, "Ayah, kenapa suka makan kepala ayam padahal aku sama anak-anak paling tidak suka ama kepala ayam."
Suaminya menjawab, "Itulah sebabnya karena kalian tidak suka maka ayah suka makan kepala ayam supaya isteriku dan anak-anakku mendapatkan bagian yang terenak."
Mendengar jawaban sang suami, terlihat butir-butir mutiara mulai menuruni pipinya. Jawaban itu menyentak kesadarannya yang paling dalam. Tidak pernah dipikirkan olehnya ternyata sepotong kepala ayam begitu indahnya sebagai wujud kasih sayang yang tulus kecintaan suami terhadap dirinya dan anak-anak. "Makasih ya ayah atas cinta dan kasih sayangmu." ucap sang isteri. Suaminya menjawab dengan senyuman, pertanda kebahagiaan hadir didalam dirinya.
Kita seringkali mengabaikan sesuatu yang kecil yang dilakukan oleh sosok ayah kita, namun memiliki makna yang begitu besar, di dalamnya terdapat kasih sayang, cinta, pengorbanan dan tanggungjawab. Semoga cerita diatas kita bisa mengambil hikmah dengan mencintai setulus hati ayah kita yang telah berkorban untuk anak dan isterinya.

Saturday, 21 April 2018

Sedekah Di Kala Susah


Sedekah di saat lapang merupakan hal biasa, meski banyak juga yang tidak mau  melakukannya. Sedekah di saat sempit itu baru luar biasa. Mampukah kita melakukan sedekah di saat sempit?. Hanya orang-orang yang diberi keteguhan iman yang kuat yang mampu melakukannya. Semoga kita termasuk di dalamnya.

Pernahkah kita mengalami pada suatu saat dimintai sumbangan untuk keperluan umat, dan pada saat itu kita hanya memberikan uang ala kadarnya, yang penting sudah nyumbang.
Padahal uang yang dikeluarkan untuk sedekah itu tidak seberapa jumlahnya dibandingkan uang yang kita keluarkan untuk hura-hura, kumpul dengan teman makan di restoran, beli baju mewah di mall ekslusif, beli sepatu bermerk dari luar negeri, beli parfum dengan harga ratusan ribu rupiah.

Pernahkan kita merenungkan hal ini? Betapa beratnya kita mengeluarkan uang banyak untuk bersedekah dan betapa ringannya kita menghambur-hamburkan uang hanya untuk hal-hal yang sifatnya komsumtif dan duniawi semata.

Perintah Bersedekah Dalam Al Qur'an :“Dan bersegeralah kamu kepada ampunan dari Tuhanmu dan kepada surga yang luasnya seluas langit dan bumi, yang disediakan untuk orang-orang yang bertakwa. (Yaitu) orang-orang yag menafkahkan (hartanya), baik di waktu lapang maupun di waktu sempit, dan orang-orang yang menahan amarahnya dan memaafkan (kesalahan) orang, Allah menyukai orang-orang yang berbuat baik. Dan (juga) orang-orang yang apabila mengerjakan perbuatan keji atau menganiaya diri sendiri, mereka ingat akan Allah, lalu memohon ampun terhadap dosa-dosa mereka dan siapa lagi yang dapat mengampuni dosa selain daripada Allah? Dan mereka tidak meneruskan perbuatan kejinya itu, sedang mereka mengetahui. Mereka itu balasannya ialah ampunan dari Tuhan mereka dan surga yang mengalir di bawahnya sungai-sungai, sedang mereka kekal di dalamnya, dan itulah sebaik-baik pahala orang yang beramal.” (QS Ali Imron: 133-136).

Anjuran mulia dari Allah swt ini bermakna, bahwa dalam kondisi sesulit apapun, manusia masih bisa memberikan sesuatu di jalan Allah. Meski cuma sedikit, yang terpenting adalah pemberian itu diberikan dengan keikhlasan dan hanya mengharap ridho ilahi. Namun terkadang, kita sangat sulit memberikan sedikit apa yang kita punya dalam kondisi lapang, apalagi dalam kondisi sempit dengan berbagai pertimbangan.

Dan orang yang berkesempitan rizki, Allah sendiri yang memerintahkan agar bersedekah sebagaimana firmannya :"Dan orang yang disempitkan rezekinya hendaklah memberi nafkah dari harta yang diberikan Allah kepadanya. Allah tidak memikulkan beban kepada seseorang melainkan (sekedar) apa yang Allah berikan kepadanya. Allah kelak akan memberikan kelapangan sesudah kesempitan.” (QS At Thalaq : 7)

Makna rizki sedikit tidak hanya kekurangan duit namun ketika sakit, jodoh sulit, kemalasan untuk bangkit, turun iman jadi sholat sunnahnya sedikit,  kesehatan, anak itu juga merupakan rizki. 

Rasulullah SAW pun mengingatkan kita untuk jangan segan bersedekah, meski hanya berkemampuan dengan sebutir kurma. Ketika bangkrut mampunya sebutir kurma maka sedekahlah. 

“Jauhkanlah dirimu dari api neraka walaupun dengan (bersedekah) sebutir kurma.” (HR Muttafaq alaih).

Semoga kita senantiasa menjadi umat yang selalu ingat bersedekah baik dalam kondisi lapang maupun sulit. Jika kita sudah tidak memiliki apapun untuk diberikan, bersedekahlah dengan doa. Sesungguhnya Allah swt senantiasa memberi kemudahan bagi kita untuk beramal shalih dengan keikhalasan dan hanya berharap ridho darinya.

Kegiatan Memanah Akhwat








Panahan adalah salah satu olahraga yang disukai oleh Rasulullah saw. Bahkan olahraga ini menjadi salah satu anjuran yang disunahkan oleh Rasulullah saw. Panahan pun bisa dijadikan salah satu kegiatan yang sifatnya mendidik karakter anak.

Panahan merupakan olahraga yang melatih disiplin, fokus, dan konsentrasi, juga smoothness. Memanah bisa melatih mental karena hal terpenting adalah mengontrol emosi. Sejatinya, panahan adalah olahraga yang mengajarkan sebuah prinsip bahwa keberhasilan seorang harus didahului oleh upaya dan usaha dan juga mengajarkan proses untuk mencapai apa yang diidamkan.

Dan ini dia salah satu kegiatan yang disukai juga oleh santri di Rumah Yatim Indonesia, yaitu memanah. Mereka selalu menjadi pribadi yang riang ketika memegang busur panah dan harus melesatkannya tepat pada targetnya.

Bukankah memanah adalah anjuran Rasul? Mari kita lestarikan memanah!




Friday, 20 April 2018

Kisah Segelas Susu





Untuk membiayai pendidikannya, seorang anak miskin menjual barang dari pintu ke pintu. Suatu hari, anak laki-laki ini benar-benar lapar tapi tidak punya uang untuk membeli makanan. Dia memutuskan untuk meminta sesuatu untuk dimakan ketika ia mengetuk pintu di rumah berikutnya.
Seorang wanita muda yang cantik membuka pintu tersebut, dan anak itu kehilangan keberaniannya. Akhirnya dia hanya meminta untuk diberi segelas air, ia terlalu malu untuk meminta makanan. Wanita muda tersebut membawakannya segelas susu, yang segera diminum dengan rakus oleh anak itu.
Anak itu bertanya berapa banyak dia berhutang. Tetapi wanita tersebut hanya tersenyum dan berkata bahwa ibunya telah mengajarinya untuk bersikap baik kepada orang lain. Dan ia tidak pernah mengharapkan imbalan apapun.
Anak itu meninggalkan rumah wanita tersebut dengan perut penuh dan hati yang penuh kekuatan baru untuk terus melanjutkan pendidikan dan terus bekerja keras. Namun setiap kali ia merasa ingin berhenti, ia teringat pada wanita itu. Seseorang yang telah menanamkan keyakinan baru dan ketabahan di dalam dirinya.
Bertahun-tahun kemudian, di sebuah kota besar, seorang ahli bedah ternama Dr. Kelly dipanggil untuk berkonsultasi dengan seorang wanita paruh baya yang menderita penyakit langka. Ketika wanita tersebut mengatakan kepadanya nama kota kecil di mana dia tinggal, Dr. Kelly merasa memori samar muncul dalam pikirannya. Kemudian, secara tiba-tiba Dokter itu tersadar. Dia adalah wanita yang telah memberinya segelas susu bertahun-tahun yang lalu.
Kemudian dokter melanjutkan konsultasi dengan menyediakan wanita itu perawatan yang terbaik dan memastikan dia mendapatkan perhatian khusus. Bahkan, ia mengerahkan seluruh kemampuannya sebagai seorang dokter untuk menyelamatkan hidup wanita tersebut.
Setelah lama dirawat di rumah sakit dengan melalui berbagai perawatan, wanita itu akhirnya siap untuk kembali ke rumah. Wanita itu sangat khawatir karena akan membutuhkan waktu bertahun-tahun untuk menyelesaikan pembayaran biaya perawatannya selama di rumah sakit. Penyakit serius yang dideritanya dan lamanya ia tinggal di rumah sakit telah menghasilkan tagihan yang cukup besar. Namun, ketika dia menerima surat tagihan, ia menemukan bahwa Dr. Kelly telah membayar seluruh tagihannya dan menulis catatan kecil untuknya.
Dr. Kelly menulis catatan seperti ini : “Sudah dibayar lunas dengan segelas susu”.
Pesan Moral : Teruslah berbuat kebaikan di dalam hidup anda. Bantulah orang lain walaupun anda hanya dapat memberikan bantuan kecil. Karena bantuan kecil yang anda berikan sangat berarti bagi orang lain. Percayalah, ketika suatu saat anda mengalami kesulitan, akan datang bantuan dari orang lain. Itulah balasan dari bantuan kecil yang anda berikan di masa lalu.