Telp. 0265-2351868 | WA 0878 8555 4556 | BBM 5AE49B09

Kisah Inspiratif

Smart Family

Tafakur

Terbaru

Sunday, 28 May 2017

Infaq Buka Puasa Untuk Yatim Dhuafa Dan Penghafal Quran


Sahabat, Alhamdulillah tak ada kata yang patut kita ucap kecuali rasa syukur yang dalam atas karunia Allah SWT kita diberikan kesempatan untuk mengisi Ramadhan dengan berbagai Amal Sholeh.
Ramadhan Bulan Suci yang menggaransi TERHAPUS nya SEGALA DOSA yang pernah kita buat, juga menjanjikan berbagai bentuk HADIAH yang sangat spesial untuk kita yang benar-benar ingin berjuang mengisi Ramadhan dengan segala bentuk kebajikan yang kita mampu.

Salah satu kebajikan yang layak kita lakukan adalah memberikan BUKA PUASA kepada orang-orang yang berpuasa, adalah kiat memborong pahala puasa orang lain.

Di Rumah Yatim Indonesia ada 200 Shoimin secara rutin setiap hari, yang terdiri dari Santri Yatim Dhuafa, Santri Penghafal Quran, para Guru Pembimbing dan pengasuh, orang-orang yang beri'itikaf, Tarawih,Tahajjud dan Tadarus Al-Quran.

Bagi kita ingin ikut serta MEMBORONG PAHALA orang-orang hebat yang siap menghabiskan seluruh waktunya untuk mengisi Ramadhan dengan ibadah, silahkan ikutan berpartisipasi memberikan Hidangan BUKA PUASA dan SAHUR melalui Program Amal Sholeh Ramadhan.

Dengan Paket Infaq Buka Puasa + Sahur CUMA Rp.25.000,- per hari per orang.

Caranya : Transfer Infaq Buka Puasa ke rekening dibawah ini, lalu ketik konfirmasi dengan format :
"BISMILLAH, NAMA, telah mengirim Infaq Buka Puasa untuk.....orang, selama.......hari karena mengharap Ridho Allah SWT " kirim ke : 081394055565 (SMS) atau 087885554556 (WA)

Rekening Khusus Infaq Buka Puasa + Sahur Rumah Yatim Indonesia sebagai berikut :
》Bank BCA : 054 0766 100
》Bank MANDIRI : 13 10010 47 1011
》Bank MUAMALAT : 151 00191 38
》Syari’ah MANDIRI : 70 323 619 48
》Bank BNI : 0244 928 496
》BNI Syari’ah : 65 235 181 41
》Bank BRI : 01000 1055 2255 02
》Bank bjb : 001 777 8552 100
Atas nama Yayasan Rumah Yatim Indonesia

Tolong BANTU Share ya

Hormat Kami,
Wawan Ismawan
085777772310
(Ketua Harian Rumah Yatim Indonesia)

Pusat Kegiatan: Jl. Bandung Blok II No. 140 Perumnas Kotabaru, Cibeureum - Tasikmalaya 46196










Waktu Utama Untuk Bersedekah


Bersedekah adalah salah satu amalan yang Rasulullah ajarkan kepada kita. Meskipun sedekah bisa dilakukan kapan saja, ternyata ada waktu-waktu terbaik untuk bersedekah.

1. Waktu susah

Saat kita tengah merasa dalam kesulitan atau kepayahan merupakan salah satu waktu terbaik untuk bersedekah. Ya justru itu perjuangannya. Saat kita sedang merasa berat, Allah akan ringankan dengan membantu orang lain.

Allah SWT berfirman, 
“Tetapi dia tiada menempuh jalan yang mendaki lagi sukar. Tahukah kamu apakah jalan yang mendaki lagi sukar itu? (yaitu) melepaskan budak dari perbudakan, atau memberi makan pada hari kelaparan.” (QS. Al-Balad: 11-14).

2. Saat terjadinya peristiwa yang menakutkan seperti gerhana atau peperangan

Salah satu waktu terbaik buat sedekah itu pas gerhana, Sesuai dengan hadits berikut.

Dari 'Aisyah Radhiyallahu 'anha, Nabi shalallahu 'alaihi wasallam bersabda,

"Sesungguhnya matahari dan bulan adalah dua tanda diantara tanda-tanda kekuasaan Allah. Gerhana ini tidak terjadi karena kematian atau lahirnya seseorang. Jika melihat gerhana tersebut, maka berdo'alah kepada Allah, bertakbirlah, kerjakan shalat dan bersedekahlah." (HR Bukhari, Muslim)

3. Sepuluh hari pertama di bulan Dzulhijjah

“Tidak ada satu amal sholeh yang lebih dicintai oleh Allah melebihi amal sholeh yang dilakukan pada hari-hari ini (yaitu 10 hari pertama bulan Dzul Hijjah).” Para sahabat bertanya: “Tidak pula jihad di jalan Allah?” Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam menjawab: “Tidak pula jihad di jalan Allah, kecuali orang yang berangkat jihad dengan jiwa dan hartanya namun tidak ada yang kembali satupun.“ (HR. Abu Daud, At Tirmidzi, Ibnu Majah, dan Ahmad)

4. Bulan Ramadhan

Bulan Ramadhan memang memiliki begitu banyak kemuliaan. Dan memperbanyak bersedekah di bulan Ramadhan tentunya memiliki keistimewaan tersendiri.

“Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam adalah orang yang paling gemar melakukan kebaikan. Kedermawanan (kebaikan) yang beliau lakukan lebih lagi di bulan Ramadhan yaitu ketika Jibril ‘alaihis salam menemui beliau. Jibril ‘alaihis salam datang menemui beliau pada setiap malam di bulan Ramadhan (untuk membacakan Al Qur’an) hingga Al Qur’an selesai dibacakan untuk Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam. Apabila Jibril ‘alaihi salam datang menemuinya, tatkala itu beliau adalah orang yang lebih cepat dalam kebaikan dari angin yang berhembus.” (HR. Bukhari, Muslim)

5. Hari Jum'at

Banyak amalan yang dianjurkan di hari Jum'at. Salah satunya bersedekah.

“Hari yang baik saat terbitnya matahari adalah hari Jum’at. Hari tersebut adalah hari diciptakannya Adam, hari ketika Adam dimasukkan ke dalam surga dan hari ketika Adam dikeluarkan dari surga. Hari kiamat tidaklah terjadi kecuali pada hari Jum’at.” (HR. Muslim)

Itulah lima waktu utama untuk bersedekah. Semoga dapat memotivasi kita semua untuk rajin bersedekah.

Saturday, 27 May 2017

Membentuk Kepribadian Anak







Keluarga merupakan wadah utama dalam pembentukan kepribadian seorang anak. Pendidikan yang diterapkan dalam keluarga oleh orangtua terhadap anak-anaknya akan menjadi pola pikir anak ketika dewasa kelak, karena pada dasarnya sifat anak adalah meniru orangtuanya. Oleh karena itu sebelum anak hadir di tengah-tengah keluarga, sepasang suami istri harus sudah paham benar bagaimana tugasnya ketika menjadi orangtua, baik ayah maupun ibu. Hal ini dimaksudkan agar tidak terjadi disfungsi peran dalam mendidik anak.

Anak dengan masalah sulit mencerna suatu pelajaran tidak akan meresahkan orang lain karena masalah tersebut akan dapat diselesaikan dengan belajar lebih giat. Tetapi anak yang bermasalah dalam hal moral, etika, bahkan berani melanggar norma akan sangat mengganggu banyak orang. Jika kita amati lebih dalam, anak-anak dengan masalah tersebut seringkali memiliki masalah dalam keluarganya. Dalam mendidik anak, orangtua harus memperhatikan beberapa hal, diantaranya menjauhkan anak dari hal-hal negatif, menjauhkan anak dari sikap berlebihan, serta mendisiplinkan anak sedini mungkin.

a. Perhatian pertama yang ditekankan dalam mendidik anak adalah dalam hal akhlak/tingkah laku sehari-hari. Seorang anak akan tumbuh sesuai dengan perilaku yang dibiasakan oleh pengasuhnya, seperti sikap keras, pemarah, tergesa-gesa, kasar, rakus, dan suka membantah. Perilaku yang tertanam sejak kecil akan sulit dihilangkan dan akan menjadi tabiat yang melekat pada dirinya. Sehingga tidak heran jika dalam masyarakat banyak kita jumpai orang dewasa yang berprilaku menyimpang yang meresahkan masyarakat.

Sebagai orangtua kita harus membiasakan anak untuk berkata jujur, menjauhkan sifat malas, menanamkan sikap kasih sayang dengan saling membantu dan saling memberi, serta membuang jauh-jauh kata-kata kotor yang tidak pantas diucapkan.

b. Perhatian kedua yang tidak kalah pentingnya adalah menjauhkan anak dari sikap berlebihan seperti terlalu banyak makan, terlalu banyak tidur, terlalu banyak bicara, dan terlalu banyak bermain. Kadang, orangtua mengira dengan memberi kebebasan ia mengira telah memuliakan  anaknya. Padahal hal demikian akan menjadikan anak tidak mandiri.

c. Perhatian ketiga adalah mengenai kedisiplinan. Anak yang manja adalah akibat dari tidak adanya kedisiplinan dalam keluarga. Mengapa anak yang manja meresahkan orang lain? Karena ia akan berusaha mendapatkan apa yang ia inginkan dengan berbagai cara, termasuk cara yang salah.

Perilaku-perilaku kurang baik anak manja akan tampak ketika ia berkumpul dengan teman-temannya. Ia akan menampakkan sikap permusuhan kepada anak-anak lain jika ada sesuatu hal yang membuatnya tidak suka. Perilaku manja seorang anak biasanya disebabkan oleh kekhawatiran orangtua bahwa kekerasan akan mengakibatkan anak cengeng, atau disebabkan oleh ketidaktahuan orangtua akan perbedaan keras dengan tegas.

Dalam mendisiplinkan akan akan sebuah peraturan diperlukan ketegasan, bahkan hukuman diperbolehkan jika dibutuhkan yang tentu saja dalam pemberiannya hatus disesuaikan dengan tingkat perkembangan otak anak. Hukuman yang diberikan kepada anak dengan tujuan mendisiplinkan tidak melulu dalam bentuk bentakan dan pukulan karena hukuman seperti itu akan menyakiti hati anak.

Hukuman bisa dalam bentuk penangguhan permintaan atau dengan mengurangi jatah uang harian jika anak sudah mulai mendapatkan uang harian. Karena ketaatan yang lahir dari kekerasaan tidak akan berlangsung lama, selain itu hukuman yang berlebihan akan merusak hubungan anatara orangtua dan anak, yang pada akhirnya ketika bergaul di masyarakat anak akan menjadi pemalu, penakut, bahkan menjadi keras dan acuh. Ketiga hal tersebut, jika orangtua mampu melaksanakannya dengan baik insyaallah akan mampu melahirkan anak-anak berkualitas yang menyejukkan mata orangtua juga masyarakat serta yang akan mendoakan dan membawa orangtua ke Surga Allah swt.

Keutamaan Bulan Ramadhan


Telah diwajibkan kepada umat Islam untuk berpuasa sebulan penuh pada bulan Ramadhan. Bulan kesembilan pada penanggalan Hijriah ini memiliki banyak keutaaman bagi umat Islam, bahkan beberapa menyebutnya bulan seribu bulan.

Khusus pada bulan Ramadhan ini, amal kebaikan umat Islam akan dibalas dengan berkah pahala yang berlipat ganda, bahkan bila kita menjalani puasa dengan sempurna, ketika hari lebaran datang, kita akan bersih dari dosa seperti bayi yang baru lahir kembali. Maka kita sebagai umat muslim sudah seharusnya tidak melewatkan bulan Ramadhan dengan kegiatan yang sia-sia, agar lebih termotivasi menjalani bulan puasa dan lebih memahami makna bulan ramadhan itu sendiri, mari kita ketahui bersama apa saja keutamaan-keutamaan bulan Ramadhan, bulan penuh berkah.

1. Bulan Diturunkannya Al-Quran
Bulan Ramadhan merupakan bulan dimana kitab suci umat Islam (Al-Qur’an) pertamakali diturunkan. Sesuai dengan QS. Al-Baqarah 185 yang artinya:

“Beberapa hari yang ditentukan itu ialah bulan Ramadhan, bulan yang di dalamnya diturunkan (permulaan) Al-Quran sebagai petunjuk bagi manusia dan penjelasan-penjelasan mengenai petunjuk itu dan pembeda (antara yang hak dan yang batil).”

2. Amal Sholeh Yang Berlipat Ganda
Sebagai umat Islam yang menjalankan amalan sholeh dan kewajiban seorang muslim pada bulan ramadhan akan mendapatkan balasan berlipat ganda, sampai sebagai 70 kali lipat sebagaimana terdapat dalam Hadist:

Khutbah Rasululah saw pada akhir bulan Sa`ban “Hai manusia, bulan yang agung, bulan yang penuh berkah telah menaung. Bulan yang didalamnya ada suatu malam yang lebih baik dari seribu bulan. Bulan yang padanya Allah mewajibkan berpuasa. Qiyamullail disunnahkan. Barang siapa yang pada bulan itu mendekatkan diri kepada Allah dengan suatu kebaikan, nilainya seperti orang yang melakukan perbuatan yang diwajibkan pada bulan lainnya. Dan barang siapa yang melakukan suatu kewajiban pada bulan itu,nilainya sama dengan tujuh puluh kali lipat dari kewajiban yang dilakukannya pada bulan lainnya. Keutamaan sedekah adalah sedekah pada bulan Ramadhan (HR. Bukhori-Muslim).

3. Bulan Penuh Keberkahan
Pada bulan puasa seorang muslim berkesempatan untuk kembali ke jalan yang baik dan mendapat keberkahan yang nilainya sama dengan seribu bulan. Maka bila seorang muslim pada bulan puasa saja tidak juga memanfaatkan kesempatannya, bulan lain kemungkinan akan lebih buruk lagi. seperti hadits dibawah ini:

“Sesungguhnya telah datang kepadamu bulan yang penuh berkah. Allah mewajibkan kamu berpuasa, karena dibuka pintu- pintu surga, ditutup pintu-pintu neraka, dan dibelenggu syaitan- syaitan, serta akan dijumpai suatu malam yang nilainya lebih berharga dari seribu bulan. Barangsiapa yang tidak berhasil memperoleh kebaikannya, sungguh tiadalah ia akan mendapatkan itu untuk selama-lamanya.” (HR Ahmad, An-Nasa’l, dan Baihaqi).

4. Ramadhan Bulan Pengampunan Dosa
Pada bulan Ramadhan juga seorang muslim berkesempatan untuk meraih pahala sebanyak-banyaknya, bahkan ibadah yang sempurna pada bulan puasa akan menjadikan seorang muslim suci kembali bagaikan bayi yang baru lahir. Sesuai Hadist Shahih:

“Barangsiapa yang berpuasa Ramadhan karena iman dan ihtisab, maka akan diampuni dosa-dosanya yang lalu.” (HR. Bukhari)

“Shalat yang lima waktu, dari jumat ke jumat, dan Ramadhan ke Ramadhan, merupakan penghapus dosa di antara mereka, jika dia menjauhi dosa-dosa besar.” (HR. Muslim)

5. Pintu Surga Dibuka, Pintu Neraka Ditutup
Selebar-lebarnya pintu untuk kembali ke jalan yang lurus pada bulan Ramadhan dibuka bagi umat Islam. Sesuai Hadist dibawah ini:

“Jika datang Ramadhan, maka dibukalah pintu-pintu surga, ditutup pintu-pintu neraka dan syetan dibelenggu.” (HR. Muslim)

6. Bulan yang Mendidik untuk Mencapai Ketaqwaan
Menahan haus, lapar dan amarah merupakan jalan menuju sifat-sifat sabar yang taqwa. Itulah mengapa berpuasa sebulan penuh pada Ramadhan dapat membimbing umat Islam mencapai ketaqwaan. Sesuai surat dalam Al-Quran yang artinya:

“Hai orang-orang yang beriman diwajibkan atas kamu berpuasa sebagaimana telah diwajibkan atas orang-orang yang sebelum kamu agar kamu bertaqwa” (QS. Al Baqarah 183)

7. Terdapat Malam Lailatul Qadar
Malam 10 hari terakhir pada bulan Ramadhan merupakan waktu-waktu yang diantaranya terdapat malam Lailatul Qadar, dimana malam tersebut baik diisi doa-doa yang baik dan mukjizat dapat turun pada umat Islam pada malam Lailatul Qadar tersebut.

“Sesungguhnya Kami telah menurunkannya (Al Quran) pada lailatul qadar (malam kemuliaan). Dan tahukah kamu apakah malam kemuliaan itu? Malam kemuliaan itu lebih baik dari seribu bulan.”
 (QS. Al Qadr 1-3)

Friday, 26 May 2017

Seorang Tukang Sapu Yang Sukses








Ada seorang pengusaha sukses yang dulunya adalah seorang tukang sapu. Dia pergi ke Ibu Kota untuk mencari pekerjaan tanpa memilih-milih pekerjaan. Hal ini ia lakukan untuk bertahan hidup. Pekerjaan pertama yang ia dapat adalah menjadi buruh bangunan. Selang beberapa bulan ia akhirnya dapat tawaran untuk jadi tukang sapu di sebuah kantor.

Tawaran untuk jadi tukang sapu langsung diambilnya tanpa pikir panjang. Dengan anggapan bahwa menjadi tukang sapu akan lebih mudah dibanding jadi kuli bangunan. Dari tukang sapu kemudian diangkat menjadi office boy. Hal ini ia dapat lantaran kinerjanya yang sangat baik.

Dari office boy, ia kembali mendapat tawaran menjadi tenaga pemasar hingga karirnya menajak sampai menjadi penanggung jawab gudang. Selama bekerja di kantor, ia juga coba-coba mencari penghasilan tambahan. Pada saat libur kantor atau setiap hari Sabtu dan minggu ia berjualan pernak pernik aksesori seperti jepit rambut, kalung dan lain-lain di Stadion Gelora Bung Karno. Usahanya ini ia lakoni selama 4 tahun dengan modal 100 ribu rupiah.

Dari pengalaman jualan ini kemudian ia berpikir, bahwa usaha sendiri ternyata lebih menjanjikan daripada jadi karyawan dengan gaji pas-pasan. Lalu ia nekad mundur dari pekerjaan kantor dan menekuni jualan aksesorinya hingga memiliki kios.

Dua tahun kemudian ia membelu rumah di salah satu perumahan di Jakarta, hasil dari penjualan kios karena di tawar orang dengan harga mahal. Di tempat baru inilah perjalanan bisnis dimulai.

Saat itu, ia langsung membuka toko sembako. Menurutnya bisnis ini lumayan menjanjikan karena ke depan, Perumahan tempatnya bermukim itu bakal berkembang dan menjadi ramai. Demi meramaikan kawasan tempatnya tinggal, ia kemudian membangun sebanyak 10 rumah kontrakan yang di pasarkan dengan harga miring. Rumah kontrakan ini kebanyakan disewa oleh pedagang keliling, seperti penjual bakso,dan gorengan.

Seiring waktu berjalan, naluri usahanya semakin menjadi. Ia mulai tertarik dengan bisnis pembuatan sari kelapa. Dia tak pernah patah semangat, ia terus belajar untuk mengembangkan bisnisnya.

Dari sinilah dia mempunyai usaha yang sukses, karena tidak pernah putus asa serta selalu berusaha untuk memperbaiki kehidupannya. Di dunia ini tidak ada yang tidak mungkin selagi kita masih berusaha dan berdoa meminta kepada Allah SWT. Tukang sapu saja bisa menjadi sukses, kita juga pasti bisa....

Tuesday, 23 May 2017

Andai Pahala Di Tampakkan





Suatu hari, seorang ibu setengah baya sedang dilanda kelaparan, ia berusaha meminta bantuan kepada orang lain untuk mendapatkan kemurahan hatinya. Seharian ia berjalan, berpuluh orang telah dijumpainya. Jawaban yang di dapatkannya adalah sama, tak ada seorang pun yang memedulikan nasibnya.

Cemoohan dan cacian sering ia dapatkan sebagai jawaban dari mereka. Mulai dari yang menolak secara halus sampai dengan yang kasar telah diterima oleh Inah, ibu setengah baya yang sedang kelaparan. “maaf bu, saya nggak punya nasi…”

“wah, kalau pingin makan ya kerja sana, jangan minta-minta…”

“ayo, pergi sana. Jangan ganggu kami yang sedang bekerja…”

Dan masih banyak jawaban-jawaban yang cukup menyakitkan hati bu Inah. Tetapi rupanya bu Inah ‘pantang menyerah’ ia terus berjalan mencari seseorang yang mau membantunya untuk memberi sebungkus atau sepiring nasi untuk mengisi perutnya. Bu Inah sudah tidak bisa menahan rasa lapar nya, sampai-sampai ia jatuh terduduk di pinggiran sebuah toko. Bu Inah meringis menahan rasa lapar.di peganginya perutnya yang terasa sakit.

Sementara itu banyak sekali orang yang lalu lalang di depannya. Tetapi tetap saja tak ada seorangpun menaruh rasa iba kepadanya. Malam itu dilalui bu Inah dengan penuh rasa derita. Perut yang begitu lapar tidak bisa ia ajak untuk memejamkan mata. Malam terasa begitu lama baginya. Dingin, lapar, haus mewarnai tubuh yang rebah lunglai di trotoar kotor. Harapan untuk mendapatkan sebungkus nasi untuk mengisi perut tidak ia dapatkan sama sekali hari itu. Keesokan harinya, pagi-pagi sekali bu Inah kembali berjalan menyusuri lorong kecil dan jalan besar untuk mendapatkan sebungkus nasi bagi perutnya yang semakin tak tertahankan.

Pagi,.. siang,.. tak ia jumpai seorangpun yang mau menolong dirinya. Bahka jawaban dari mereka sangat menyakitkan hati. Saat hari sudah menjelang sore, bu Inah hampir putus asa. Dari kejauhan tampak seorang wanita muda yang sedang menggendong anak berusia enam bulan. Baju ibu muda itu begitu kotor, demikian juga pakaian yang dikenakan oleh anak yang digendong nya. Ibu Inah mendatangi wanita muda itu. Dengan terbata menahan rasa lapar ibu Inah memohon kepada wanita tersebut. “bu, tolong bu, saya sudah dua hari ini tidak makan. Saya lapar sekali …adakah sebungkus nasi untuk mengisi perut saya?”

Dengan agak heran ibu muda itu bertanya : “mengapa nggak beli saja bu, kan banyak di warung-warung kecil makanan yang murah-murah..” katanya. “ saya tidak punya uang bu .…” kata bu Inah.
Dipandanginya seluruh tubuh bu Inah oleh ibu muda ini, tak luput ia juga memandang anak yang berada dalam pelukannya. Tanpa terasa mata ibu muda ini tampak berkaca-kaca. Kemudian pandangannya menebar ke sekeliling tempat ia berdiri. Selanjutnya ia berjalan menuju sebuah warung kecil yang kebetulan berada tidak jauh dari dirinya. Ia membeli sebungkus nasi dengan uang kertas ribuan yang lusuh dan beberapa uang receh yang ada di genggamannya. Setelah ia dapatkan sebungkus nasi, maka dengan hati penuh iba ia serahkan nasi bungkus tersebut kepada ibu Inah yang menurut pengakuannya sudah dua hari tidak makan.

Tanpa menunggu lama, disantapnya nasi bungkus tersebut dengan lahap oleh ibu Inah. Wanita muda itu melihat ibu Inah dengan hati penuh rasa gembira. Pandangan matanya menunjukkan bahwa hatinya sangat bahagia karena mampu memberi sesuatu yang sedang dibutuhkan oleh orang yang sedang membutuhkan pertolongannya. Bahkan tanpa di minta oleh ibu Inah, wanita muda itu kembali ke warung tempat ia membeli nasi, kemudian ia tampak kembali ke tempat bu Inah sambil membawa segelas teh hangat.

Sambil minum teh hangat bu Inah memandang penuh kagum terhadap wanita muda yang menggendong anaknya itu. Setelah bu Inah selesai makan dan minum dengan lahap, dua orang tersebut terlibat dalam pembicaraan cukup menarik bagi siapa saja yang mendengarnya.

“…ibu siapa, dan dari mana, kok tampaknya bukan orang daerah sini?” kata wanita muda itu. “iya bu, nama saya Inah. Saya memang bukan penduduk sini, terus ibu ini siapa…? Apa pekerjaan ibu? 

Mengapa anak ibu yang kecil ini tidak ditinggal saja di rumah?” Tanya bu Inah.

“nama saya sumarni, pekerjaan saya pemulung bu…! Lebih baik anak saya dibawa saja, soalnya dirumah juga tidak ada yang menungguinya…” kata sumarni sambil menyeka keringat yang ada di keningnya. “mengapa ibu mau menolong saya?” kembali ibu Inah bertanya kepada sumarni.

“ah, sudahlah bu jangan dipersoalkan. Kebetulan saya ada uang sedikit yang cukup untuk membeli sebungkus nasi, sekadar menutup rasa lapar ibu” jawab sumarni singkat.

“baiklah bu, terima kasih atas pertolongan ibu…” jawab bu Inah singkat sambil berlalu meninggalkan sumarni yang masih memandangnya dengan penuh rasa iba.

Setelah sejenak memandang kearah anak kecil yang ada di gendongannya, sumarni berjalan perlahan untu meneruskan ‘pekerjaanya’ menyusuri kota Jakarta. Tak lama sumarni berjalan, tiba-tiba ia dihentikan oleh seorang wanita muda.

“bu,sebentar bu,…!” kata wanita muda itu

“ada apa mbak…?” jawab sumarni

“ tadi saya lihat ibu membelikan makan dan minum untuk ibu setengah baya, siapa ibu tadi?”

“oh,yang barusan tadi? Saya juga tidak tau .” kata sumarni.

“mengapa ibu mau menolongnya..? kan ibu juga perlu untuk membeli makanan untuk anak ibu”balas wanita muda itu.

“ah, ndak apa-apalah ! kasihan, dia sudah dua hari tidak makan. Kebetulan saya ada uang yang cukup untuk membeli nasi bungkus dan segelas teh. Mudah-mudahan nanti ada rezeki lagi buat anak saya…” katanya, sambil ia membetulkan posisi gendongan anaknya.

“baiklah bu. Oh ya, nama ibu siapa?” kembali wanita muda tersebut bertanya. “nama saya sumarni mbak..” jawab sumarni singkat.

“bu, karena ibu telah menolong orang lain yang sedang kelaparan, meskipun ibu juga sedang membutuhkan sesuap nasi untuk diri ibu dan anak ibu, maka terimalah ini sekedar rezeki buat ibu dan anak ibu…” kata wanita muda itu sambil mengeluarkan uang lima puluh ribuan yang cukup banyak dari tas hitamnya.

Sumarni terbelalak, memandang uang tersebut, ia tidak bisa berkata apa-apa. Terasa tersendat mulutnya untuk bicara.

“apa,..apa.. mbak..?! katanya agak tergagap. Sambil tersenyum, wanita muda itu mengulurkan tangannya kearah Sumarni sambil memberikan uang tersebut. “Terimalah…” katanya.

Maka meledaklah tangis Sumarni. Dirangkulnya rapat-rapat wanita itu. Cukup lama Sumarni menangis dipelukan wanita muda itu.

“Terimakasih, terima kasih… mbak…. ?! ya Allah… terima kasih…” Sumarnipun langsung tersungkur Sujud bersama anak yang ada dalam gendongannya, " Ya Allah....Maha benar Engakau ya Allah....betapa Janjimu tak pernah Engkau ingkari, ampuni aku Ya Allah....aku seringkali melupakanMU karena kesibukan Duniaku............ ", Hanya itu kalimat yang bisa diucapkan Sumarni sambil terus menangis dalam sujud syukurnya disamping wanita muda itu.

Sahabat Semua yang di sayang Allah SWT, kisah nyata diatas diangakat dalam sebuah acara “reality show”, di salah satu satu stasiun televisi swasta Indonesia. Ternyata dalam waktu dua hari, telah lebih dari SERATUS TIGA PULUH orang yang dimintai tolong oleh Bu Inah untuk menolong dirinya yang sedang ‘kelaparan’. Akhirnya Bu Sumarni-lah yang ‘terpilih’ secara alami karena ia menolong dengan penuh keikhlasan hati.

Apa yang terjadi ketika kita menonton acara ini, disetiap rumah termasuk di rumah kita, para penonton akan mengecam orang-orang yang tidak mau menolong Bu Inah. Ada yang mengatakan ‘wah sayang ya, ia tidak mau menolong…, wah bodoh sekali ya, ia tidak mau menolong Bu Inah…. Padahal yang menolong akan mendapat rezeki besar, kenapa nggak mau menolong’… dsb… dsb.

Termasuk juga anak-anak kita, ketika menonton adegan tersebut, mereka saling memberi komentar, kenapa banyak orang yang tidak mau menolongnya. Padahal satu bungkus nasi akan diganti oleh jutaan rupiah, yang nilainya mungkin lebih dari ‘seribu kali lipat’ dari harga nasi satu bungkus.

Sahabat Semua yang diberkahi Allah SWT, itulah indahnya perilaku dalam kehidupan. Sebuah keikhlasan hati akan mempunyai nilai yang sangat tinggi.”

“ Mengapa Bu Sumarni mendapat hadiah yang sangat besar ?“ karena ia melakukan tanpa pamrih. Ia lakukan karena di hatinya muncul rasa peduli yang sangat dalam terhadap sesama karena ia juga pernah merasakan penderitaan yang di alami bu Inah. Tidak ada sedikit pun di dalam hatinya, ketika memberi, ia berangan-angan untuk mendapatkan yang lebih banyak!”

Perasaan tulus secara spontan itulah nilai Bu Sumarni. Ia melakukan tindakan nyata dengan keikhlasan hati tanpa ingin dipuji tanpa berharap mendapat balasan . Itulah keistimewaannya… maka iapun mendapatkan suatu balasan yang jauh lebih besar tanpa diduga sebelumnya…”

Kejadian tersebut adalah suatu kejadian dari sebuah setting acara yang memberi motivasi kepada pemirsa agar selalu berbuat baik tanpa pamrih. Pasti akan mendapat balasan yang jauh lebih besar jika seseorang melakukan dengan sebuah keikhlasan hati tanpa ingin dipuji.

Kalaulah kejadian itu hanyalah sebuah ‘rekayasa’ hebat dari sang pencetus ide dan sang sutradara, maka bagaimana dengan kondisi kita yang hidup dalam ‘Reality Show’ sesungguhnya ini ? Dunia malaikat seluruhnya totalitas ‘menonton’ setiap perilaku kita. Mereka para Malaikat juga menyayangkan sikap kita yang acuh tak acuh jika ada orang lain minta pertolongan. Karena ditangan mereka ada amanah yang sangat besar dari Allah untuk mencatat sekaligus memberi balasan yang sangat istimewa, tetapi sayangnya kita tak memedulikan bahkan kadang tidak yakin akan adanya balasan itu.

Seluruh kita manusia di atas bumi ini sedang melakukan kehidupan nyata. Setiap perbuatan kita selalu dilihat oleh Sang Pencipta dan menyuruh Malaikat utusanNYA membawakan hadiah-hadiah (pahala) yang diminta ataupun yang tidak diminta oleh kita yang melakukan kebajikan dan amal shaleh dengan penuh ketulusan dan kepatuhan terhadap semua aturan hidup yang sudah ditetapkan oleh Allah SWT. . Setiap gerak hati selalu dipantau oleh sang Penulis scenario kehidupan. Sekecil apapun perbuatan yang kita lakukan pasti akan mendapat balasan. itulah kisah seorang Bu Sumarni, bagaimana dengan kita ?

Dzikir Yang Paling Disukai Allah


Sejenak marilah kita lafazhkan, subhaanallaahi wabihamdih (سُبْحَانَ اللَّهِوَبِحَمْدِهِ). Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam bersabda bahwa kalimat itu merupakan salah satu dari dua kalimat yang ringan diucapkan, namun berat timbangannya.

Dari Abu Hurairah, dia berucap, “Rasulullah shallallahu'alaihi wasallam telah bersabda,
“Dua kalimat yang ringan diucapkan, tetapi berat timbangannya dan disenangi oleh Allah Yang Maha Pengasih adalah subhaanallaahi wabihamdih dan subhaanallaahil-‘azhiim.”(HR. Muslim, No. 4860).

Dari Abu Hurairah, dari Nabi shallallahu 'alaihi wasallam, beliau bersabda:“Dua kalimat ringan dilisan, berat ditimbangan, dan disukai Ar-Rahman, yakni subhaanallahil ‘azhiim dan subhanallahi wabihamdih (كَلِمَتَانِ خَفِيفَتَانِ عَلَى اللِّسَانِ ثَقِيلَتَانِ فِي الْمِيزَانِ حَبِيبَتَانِإِلَى الرَّحْمَنِ سُبْحَانَ اللَّهِ الْعَظِيمِ سُبْحَانَ اللَّهِ وَبِحَمْدِهِ).”(HR.Bukhari, No. 5927 Bab Keutamaan Tasbih).

Hadits senada juga diriwayatkan Tirmidzi (3467), Ibnu Majah (3806), dan An-Nasa’i dalam ‘Amal al-Yaum wa al-Lailah.
Sungguh, betapa kalimat itu memang disukai oleh Allah SWT. Ucapkanlah subhaanallaahi wabihamdih (سُبْحَانَ اللَّهِ وَبِحَمْدِهِ)….

Dari Abu Dzar, dia berkata, “Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam pernah mengajukan tanya kepadaku, “Hai Abu Dzar, maukah engkau aku beritahukan tentang ucapan yang disenangi Allah?” Aku menjawab, “Ya, aku mau, ya Rasulullah. Beritahukanlah kepadaku tentang ucapan yang disenangi Allah.” Beliau shallallahu 'alaihi wasallam lantas bersabda, “Sesungguhnya ucapan yang paling disukai Allah adalah subhaanallahi wabihamdih.”(HR. Muslim, No. 4911).

Kalimat itu, sesungguhnya telah dipilihkan Allah Yang Maha Pengasih dan Penyayang untuk kita, hamba-hamba-Nya, pun teruntuk malaikat-malaikat-Nya.

Dari Abu Dzar bahwasanya Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam pernah ditanya seseorang, “Apakah ucapan dzikir yang paling afdhal, ya Rasulullah? ” Beliau shallallahu 'alaihi wasallam pun menjawab, “Yaitu ucapan dzikir yang dipilihkan Allah bagi para malaikat-Nya dan hamba-hamba-Nya, subhanaallahiwabihamdih.”(HR. Muslim, No. 4910).

Ucapkanlah subhaanallaahi wabihamdih (سُبْحَانَ اللَّهِوَبِحَمْدِهِ), sekali, sebanyak mungkin, semampu kita. Pada dasarnya, mengucapnya tak ada batasan. Jika pun ingin membatasi, ucapkanlah 100x dalam 24 jam. Allah haq, Muhammad haq.

Mari renungi sabda Sang Nabi shallallahu'alaihi wasallam:

Dari Abu Hurairah bahwa Rasulullah shallallahu'alaihi wasallam bersabda,

مَنْ قَالَسُبْحَانَ اللَّهِ وَبِحَمْدِهِ فِي يَوْمٍ مِائَةَ مَرَّةٍ حُطَّتْ خَطَايَاهُ وَإِنْكَانَتْ مِثْلَ زَبَدِ الْبَحْرِ

“Barangsiapa mengucap subhaanallaahi wabihamdih sehari seratus kali, maka kesalahan-kesalahannya akan terampuni walaupun sebanyak buih di lautan.”(HR. Bukhari, No. 5926).

Dari Abu Hurairah, dia berkata bahwa Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam bersabda, “Barangsiapa membaca subhaanallaahi wabihamdih seratus kali dalam sehari, maka dosanya akan dihapus, meskipun sebanyak buih lautan.”(HR. Muslim, No. 4857).

Dari Abu Hurairah, bahwa Rasulullah shallallahu 'alaihiwasallam bersabda,

مَنْ قَالَ سُبْحَانَ اللَّهِ وَبِحَمْدِهِ مِائَةَمَرَّةٍ غُفِرَتْ لَهُ ذُنُوبُهُ وَإِنْ كَانَتْ مِثْلَ زَبَدِ الْبَحْرِ

“Barangsiapa yang mengucap subhaanallahi wabihamdih seratus kali, maka akan diampuni baginya dosa-dosanya, meskipun seperti buih lautan.”(HR. Tirmidzi, No. 3466).

Dari Abu Hurairah RA, ia berkata bahwa Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam bersabda, “Barangsiapa mengucapkan, subhaanallahi wabihamdih seratus kali, maka diampunilah dosa-dosanya walau (banyaknya) seperti buih di lautan.”(HR. Ibnu Majah, No.3798).

Jumhur ulama menegaskan dosa dalam hadits tersebut adalah dosa-dosa kecil. Itulah bagian dari kasih sayang Allah SWT. Bukan berarti kita melalaikan diri dan memudahkan berbuat dosa kecil, tetapi Allah lebih tahu bahwa sekuat apapun kita takkan mampu tercegah dari dosa.

Dan, jika ingin menjadikan ucapan subhaanallaahi wabihamdih (سُبْحَانَ اللَّهِوَبِحَمْدِهِ) sebagai dzikir pagi dan sore hari, ucapkanlah pada pagi hari 100x, pada sore hari 100x.

Dari Abu Hurairah, dia berkata, “Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam bersabda,

“Barangsiapa kala pagi dan sore membaca subhaanallaahi wabihamdih sebanyak seratus kali, maka pada hari kiamat tiada orang lain yang melebihi pahalanya kecuali orang yang juga pernah mengucapkan bacaan seperti itu atau lebih dari itu.”(HR. Muslim, No. 4858).

Sekali lagi, secara umum, tak ada batasan mengucap subhaanallahi wabihamdih. Kita bisa berlomba membaca subhaanallaahi wabihamdih dengan para shahabat, tabi’in, tabi’ut tabi’in, para ulama, dan orang-orang muslim untuk menampakkan pahala di hadapan AllahSWT pada hari kiamat.

Wallahua’lam.