Telp. 0265-2351868 | WA 0878 8555 4556 | BBM 5AE49B09

Kisah Inspiratif

Smart Family

Tafakur

Terbaru

Wednesday, 13 June 2018

Bingkisan Lebaran Untuk Santri




Sahabat, Alhamdulillah di penghujung ramadhan ini anak-anak santri mendapatkan kebahagiaan berupa parcel lebaran dari salah seorang donatur kami.

Terimakasih kepada seluruh donatur yang telah memberikan perhatian dan kasih sayangnya kepada kita semua. Semoga Allah SWT membalas semua kebaikan dan keikhlasannya. Aamiin...

Akhir Ramadhan Maksimalkan Amal Sholeh dengan SEDEKAH Terbaik kita



Monday, 11 June 2018

Ingatlah Akan Kematian


Dunia ini hanya sebatas tempat singgah. Bersifat sementara, yang walau dengan susah payah kita rengkuh, semua itu bisa jadi esok kemudian akan hilang. Hilang sebagaimana nasib dan takdir masing-masing insan. Hal ini mengingatkan pada diri kita bahwa roh ini, raga ini, yang mana sejatinya bukan milik kita, pasti akan kembali pada pemilik aslinya, yaitu Allah SWT.

Sahabat yang dirahmati Allah,pernahkah terbetik dalam benak, bagaimana kelak titah Allah kepada Malaikat Jibril untuk mengambil nyawa kita? Bisa jadi saat semangat muda masih menggelora, bisa jadi saat kita hanya bertemankan uang pensiunan.

Namun, sayangnya ketika disibukkan dengan segala aktivitas duniawi, kita terkadang lupa bahwasanya kematian itu dekat. Menguntit ke mana pun kaki ini melangkah, dan bahkan saat bertambahnya usia kita malah berpesta foya. Bukankah dengan bertambahnya usia, berarti jatah hidup di dunia telah berkurang?

Mari kita renungkan sejenak. Setiap yang bernyawa pasti akan mati. Setiap yang bernyawa pasti akan dimintai pertanggungjawaban di akhirat nanti. Hal ini sebagaimana firman Allah ‘‘Setiap yang bernyawa akan merasakan mati. Dan hanya pada hari Kiamat sajalah diberikan dengan sempurna balasanmu. Barang siapa dijauhkan dari neraka dan dimasukkan ke dalam surga, sungguh, dia memperoleh kemenangan. Kehidupan dunia hanyalah kesenangan yang memperdaya.’’(QS.Ali-Imran:185)

Lantas, apa dengan umur yang sampai saat ini, kita telah banyak melakukan amal kebaikan? Sementara pada detik kemudian sekalipun, kita tak bisa menjamin perihal iman. Akankah selalu terpatri di hati?

‘‘Wahai Dzat yang membolak-balikkan hati, teguhkanlah hatiku di atas agama-Mu.’’ (HR. Tirmidzi)

Terlepas kita berpulang pada-Nya kapan, semoga itu dalam keadaan husnul khatimah. Insya Allah. Aamiin yaa rabbal ‘alamin.

Friday, 8 June 2018

Hargai Setiap Detik Waktumu


Waktu demi waktu yang dilalui setiap orang dalam hidup ini akan terus berlalu. Waktu tidak akan pernah menunggu kesiapanmu, justru waktu yang harus kamu kendalikan agar banyak memberikan manfaat kehidupan.

Sebagaimana Firman Allah SWT: “Dan tiadalah kehidupan ini melainkan senda gurau dan main-main. Dan sesungguhnya akhirat itulah yang sebernarnya kehidupan, jika mereka mengetahui”.(Al Ankabut : 64)

Itu sebabnya jangan mudah ditipu oleh kesenangan dunia. Kaya itu boleh, bahagia itu penting, karir itu perlu, jabatan itu berguna, namun itu tidak menyebabkan kita lupa dengan tujuan hidup sesungguhnya yaitu ibadah kepada Allah SWT.

Jika kita seorang pedagang maka jadilah pedagang yang jujur dengan takarannya. Jika kita seorang penguasa maka gunakan tanda tanganmu untuk membuat perda syariah, untuk memihak kepada kepentingan rakayatmu. Jika engkau penulis maka cerdaskanlah pembaca tentang keagungan Tuhanmu dengan keindahan kata-katamu. Jika engkau seorang dokter maka jadilah dokter yang santun dan lembut dalam melayani pasienmu. Jika engkau seorang pelajar maka jadilah pelajar yang sungguh-sungguh menuntut ilmu sehingga kelak orang bisa menimba ilmu kepadamu. Itulah hakikat ibadah, luas maknanya, setiap aktivitas bisa bernilai ibadah ketika ditujukan untuk menolong agama Allah SWT.

Ajal manusia tidak seorang pun yang bisa mengetahui kapan akhirnya. Keterbatasan masa hidup yang kita sebut dengan umur ini memberi kesadaran bahwa setiap detik waktu yang dilalui mesti menjadi amal saleh untuk mengumpulkan bekal kehidupan akhirat yang abadi.

Kita mesti sadar bahwa kehidupan di dunia hanya sekali. Akhirat itulah yang abadi dan hakiki. Sehebat apapun orang, setinggi apapun jabatannya, sebanyak apapun harta yang dia miliki, maka tidak akan bisa membentenginya dari kematian, karena setiap orang akan merasakan mati.

Maka merugilah bagi manusia yang tidak mempersiapkan diri untuk kematiannya, dan kelak semua manusia akan menyesali masa hidupnya yang tidak dipergunakan untuk melakukan amal kebaikan yang banyak. Itu sebabnya Allah dan Rasul mengingatkan tentang begitu pentingnya waktu,

“Dua nikmat yang kebanyakan manusia tertipu denganya yaitu kesehatan dan waktu luang,” (HR Bukhari).

Semoga kita semua termasuk golongan orang yang mengharagi waktu dan memanfaatkannya di jalan yang benar. Aamiin

Buka Puasa Bersama




Assalamua'laikum wr wb,

Sahabat, inilah moment buka puasa bersama 381 yatim dhuafa penghafal Qur'an berserta pengurus di Rumah Yatim Indonesia. Alhamdulillah, semua santri menikmati makanan yang telah dihidangkan untuk berbuka dengan rasa syukur yang tak lupa mereka ucapkan. Terimakasih kepada seluruh donatur yang ikut berpartisipasi dalam mengikuti program INFAQ BUKA PUASA untuk 381 anak yatim dhuafa penghafal Qur'an. Dan terimakasih atas segala bentuk kasih sayang dan perhatiannya kepada kita semua. Semoga Allah Swt membalas semua kebaikan serta keikhlasannya. Aamiin...





Thursday, 7 June 2018

Ketika Rasulullah Mendapati Keindahan Malam Lailatul Qadar








Dalam sebuah kisah diceritakan bahwa Rasulullah Saw sedang duduk i’tikaf semalam suntuk pada hari-hari terakhir bulan suci Ramadhan. Para sahabat pun tidak sedikit yang mengikuti apa yang dilakukan Rasulullah.
Ketika Rasulullah berdiri shalat, para sahabat juga menunaikan shalat. Ketika beliau menegadahkan tangannya untuk berdoa, para sahabat pun serempak mengamininya.
Saat itu langit mendung tidak berbintang. Angin pun meniup tubuh-tubuh yang memenuhi masjid. Dalam riwayat tersebut malam itu adalah malam ke-27 dari bulan Ramadhan.
Disaat Rasulullah Saw dan para sahabat sujud, tiba-tiba hujan turun cukup deras. Masjid yang tidak beratap itu menjadi tergenang air hujan. Salah seorang sahabat ada yang ingin membatalkan shalatnya, ia bermaksud ingin berteduh dan lari dari shaf, namun niat itu digagalkan karena dia melihat Rasulullah Saw dan sahabat lainnya tetap sujud dengan khusuk tidak bergerak.
Air hujan pun semakin menggenangi masjid dan membasahi seluruh tubuh Rasulullah SAW dan para sahabatnya yang berada di dalam masjid tersebut, akan tetapi Rasulullah Saw dan para sahabat tetap sujud dan tidak beranjak sedikitpun dari tempatnya.
Beliau basah kuyup dalam sujud. Namun sama sekali tidak bergerak. seolah-olah beliau sedang asyik masuk kedalam suatu alam yang melupakan segala-galanya. Beliau sedang masuk kedalam suatu alam keindahan. Beliau sedang diliputi oleh cahaya Ilahi.
Beliau takut keindahan yang beliau saksikan ini akan hilang jika beliau bergerak dari sujudnya. Beliau takut cahaya itu akan hilang jika beliau mengangkat kepalanya. Beliau terpaku lama sekali di dalam sujudnya. Beberapa sahabat ada yang tidak kuat menggigil kedinginan. Ketika Rasulullah Saw mengangat kepala dan mengakhiri shalatnya, hujan pun berhenti seketika.
Anas bin Malik, sahabat Rasulullah Saw bangun dari tempat duduknya dan berlari ingin mengambil pakaian kering untuk Rasulullah SAW. Namun beliau pun mencegahnya dan berkata “Wahai anas bin Malik, janganlah engkau mengambilkan sesuatu untukku, biarkanlah kita sama-sama basah, nanti juga pakaian kita akan kering dengan sendirinya”.
Apa yang dilakukan Rasulullah Saw ini menunjukkan betapa banyak hikmah dan rahasia di balik malam seribu bulan. Semoga malam yang tersisa di bulan Ramadhan ini mampu kita manfaatkan untuk mendekatkan diri kepada Allah Swt.

Jangan Sia-Siakan Penghujung Ramadhan


Sahabat ,coba bayangkan adakah nilai kebaikan orang yang sibuk dengan hal-hal tak bermanfaat? dimanakah manfaat yang bisa dibagi oleh orang-orang yang sibuk dengan hal-hal yang tak bernilai? Tentu sulit kita dapatkan, yang seperti ini sudah pasti jatuh dalam pandangan manusia, dipersepsikan sebagai orang yang tidak berguna dan terlebih dalam pandangan Allah SWT.

Sebagaimana sabda Rasulullah SAW : “Jika engkau di waktu sore, maka janganlah engkau menunggu pagi, dan jika engkau di waktu pagi, maka janganlah engkau menunggu waktu sore dan pergunakanlah waktu sehatmu sebelum engkau mati,” (HR. Bukhari).

Ketahuilah, sesungguhnya hidup adalah rangkaian dari berbagai kesempatan yang silih berganti datang dan pergi. Hingga sampai batas umur yang ditakdirkan-Nya. Beruntunglah bagi setiap manusia yang terjaga diatas kesadaran. Yang hari-harinya diisi dengan taqarub kepada-Nya. Yang setiap lisan yang keluar dari bibirnya adalah bentuk dzikir kepada-Nya.

Tak ada waktu yang terlewatkan selain sembah sujud di hadapan-Nya. Hakikatnya ia paham bahwa hidupnya di dunia pada hakikatnya adalah sebuah penghambaan kepada Allah SWT. Saat kehidupannya digunakan untuk mengumpulkan bekal bagi akhiratnya. Sehingga ia selalu mengusahakan untuk mengambil yang bermanfaat bagi akhiratnya dan menjauhi segala bentuk kesia-siaan yang melalaikan dirinya.

Demikianlah manusia yang berakal sehat, dia sangat memperhatikan amal kebaikan sebagai persiapan menghadapi kematian setelah hidupnya kini. Tak ada waktu luangpun dari tidak taat kepada-Nya. Dan dia selalu berusaha mengoreksi diri terhadap amalan-amalannya selama ini yang telah ia kerjakan. Niscaya atas keasadaran itu ia mampu merengkuh sukses dan menempati tangga kemuliaan, baik di mata manusia karena keutamaan dan manfaat yang bisa ia bagi untuk orang lain, atau di sisi Allah Ta’ala karena baik dan banyaknya ketaatan.

Sebaliknya, celakalah bagi seseorang yang justru larut dalam kelalaian dan yang menyia-nyiakan kesempatan yang dimilikinya.

Dan saat itu, kita akan meminta Allah untuk mengulang masa untuk kembali kejalan-Nya atas setiap kelalaian yang kita perbuat. namun, semua itu sudah tak ada nilainya. hanya penyesalanlah yang akan kita rasakan. Dan saat itu terjadi, tak ada lagi tempat yang pantas bagi insan yang lalai selain sebuah tempat, neraka-Nya. Naudzbillah…

Ingatlah kembali setiap momentum hidup yang pernah kita lewati. Banyakah amalan-amalan kebaikan yang sudah kita torehkan? Atau akankah saat kita menghadap-Nya tak ada bekal yang kita bawa selain nilai-nilai kemaksiatan yang telah kita kerjakan?

Mungkin, hari ini kita masih merasa tenang. Mungkin pula hari ini kita masih merasa aman. Merasa bahwa hidup kita masih lama. Hidup kita masih panjang. Tapi ketahuilah, tak ada seorangpun yang menjamin sampai kapan ia atau seseorang akan hidup. Dan sesungguhnya, amat dekatlah kematian bagi setiap yang bernyawa.

Dimanakah kesadaran kita saat kini, saat Ramadhan sudah dipenghujung. Akankah kita lewati dan membiarkannya pergi dan berlalu begitu saja hingga hanya menyisakan kesia-siaan semata. Adakah raut kesedihan di wajah dan hati kini saat Ramadhan  akan berlalu? Ataukah justru raut kesenangan yang kita rasa? Andai semua insan mampu menyelami lautan cinta-Nya. tentu, takkan rela membiarkan hidup kita terkikis oleh balutan pengikaran kepada-Nya.

Hiduplah dengan ketaatan, rengkuhlah nilai ketaqwaan. Sisa ramadhan inilah momentum terbaik kita untuk kembali kepada-Nya. setiap waktu yang terlewat semoga menjadi pelajaran tuk meniti puncak keimanan kepada-Nya. ingatlah, semoga setiap waktu itu mampu memberikan perenungan yang mendalam, bahwa kita pernah lalai. Dan saat kini kita sadar. Mari kembali. Mari taat. Dan jangan kausia-siakan.

Semoga Allah memberikan hidayah kita semua untuk menjadi pribadi-pribadi yang bertaqwa. Hari ini, esok, lusa dan seterusnya semoga pakaian taqwalah yang akan mengisi sisa hari-hari kita di dunia. Aamiin.

Fastabiqul khoirot, kejar malam kemuliaan. Semoga Allah memuliakan hamba-hamba-Nya yang bermujahadah meniti jalan-Nya. Aamiin

Monday, 4 June 2018

Godaan Iblis Pada Bulan Ramadhan










Iblis pernah membuat pengakuan kepada Rasulullah SAW, bahwa ia merasa kesulitan dalam mengganggu seseorang yang berpuasa di bulan Ramadhan dengan ikhlas. 

Allah SWT telah memerintahkan seorang malaikat untuk menemui Iblis agar dia menghadap Rasulullah SAW untuk memberitahu segala rahasianya, baik yang disukai maupun yang dibencinya.


Maka malaikat pun menjumpai iblis dan berkata,
"Wahai iblis, Allah Yang Maha Mulia dan Maha Besar memberi perintah agar engkau menghadap Rasulullah SAW. Hendaklah engkau buka segala rahasiamu, engkau jawab dengan sebenar-benarnya dan apapun yang ditanya Rasulullah. Jika engkau berdusta walau hnaya satu perkataan, niscaya akan terputus semua anggota badanmu, uratmu, serta disiksa dengan azab yang amat keras."

Mendengar ucapan malaikat yang dahsyat itu, iblis sangat ketakutan.
Maka segeralah dia menghadap Nabi Muhammad SAW dengan menyamar sebagai seorang tua yang buta sebelah matanya dan berjanggut putih sepuluh helai, panjangnya seperti ekor lembu.



Iblis pun memberi salam. Namun sampai tiga kali tidak juga dijawab oleh Nabi.



"Ya Rasulullah SAW, mengapa engkau tidak menjawab salamku, bukankah salam itu sangat mulia di sisi Allah?" kata iblis.



"Hai seteru Allah, kenapa engkau menunjukkan kebaikanmu, janganlah engkau mencoba menipuku, sebagaimana kau tipu Nabi Adam a.s. Sebenarnya salam itu sangat mulia di sisi Allah, hanya saja aku diharamkan Allah membalas salammu," ujar Rasulullah SAW dengan meyakinkan.



"Ya Rasulullah SAW, janganlah engkau marah. Kedatanganku adalah diperintah Allah untuk memberitahu tipu dayaku terhadap umatmu," aku iblis kepada Nabi.

Beberapa saat kemudian Rasulullah SAW mengajukan beberapa pertanyaan.
Nabi berkata,



"Jika umatku berpuasa karena Allah SWT, bagaimana keadaanmu?"
Mendengar pertanyaan itu, tubuh iblis ketakutan.



Kemudian ia menjawab,
"Ya Rasulullah, inilah bencana yang paling besar bahayanya untukku," jawab iblis.



"Apa maksudmu?" tanya Rasulullah SAW.



"Apabila masuk bulan Ramadhan, maka memancarlah cahaya Arasy. Bagi orang yang berpuasa, Allah SWT akan mengampunkan segala dosa yang lalu dan digantikan dengan pahala yang amat besar, serta tidak dicatatkan dosanya selama dia berpuasa," jawab iblis.



"Lantas apa yang kau resahkan?" tanya Nabi SAW.


"Yang menghancurkan hatiku adalah malaikat dan semua isi alam yang siang malam mendoakan ampunan bagi orang yang berpuasa," jawab iblis lagi.


"Jika memang demikian, apa yang akan engkau lakukan kepada umatku?" tanya Rasulullah SAW.



"Umatmu itu ada tiga macam. Yang pertama adalah ulama yang memberi nasehat kepada manusia. Yang kedua, umat Anda yang sabar, syukur, dan ridha dengan karunia Allah SWT,"ujar iblis.



"Lalu siapakah yang ketiga dari umatku itu?" tanya Nabi SAW.



"Yang ketiga dari umatmu seperti Fir'aun. Terlampau sombong dengan harta dunia serta dihilangkan amal akhirat. Maka aku pun bersuka cita. Kemudian aku masuk ke dalam badannya, aku putarkan hatinya ke mana saja sesuai kehendakku. AKu membuat dia senang kepada dunia, umatmu yang ketiga itu akan melupakan ibadah, tidak mengeluarkan zakat," kata iblis.

"Lalu apa siasatmu dalam mengganggu golongan umatku yang ketiga itu?" tanya Nabi SAW.



"Aku menggodanya agar minta kaya dulu, setelah kaya ia akan sombong dan lupa beramal. Jika demikian, umatmu itu akan saling berebut harta, saling benci dan menghina kepada yang miskin. Jika demikian, tinggal menunggu kehancurannya," jelasiblis.

Setelah mengerti akan tipu daya iblis itu, Rasulullah SAW menganjurkan kepada umatnya agar menjalankan ibadah puasa dengan penuh harap dan ridha kepada Allah SWT. Semoga kita semua bisa menjadi hamba yang benar-benar ikhlas dan tulus dalam berpuasa.