Telp. 0265-2351868 | WA 0878 8555 4556 | BBM 5AE49B09

Kisah Inspiratif

Smart Family

Tafakur

Terbaru

Saturday, 24 February 2018

Kunjungan Santri Ke Panti Jompo


Sahabat, janganlah menjadikan kekurangan sebagai alasan untuk tidak berbagi. Berbagi itu sejatinya tergantung pada niat dan keinginan. Berbagi bukan hanyak milik si kaya yang punya segalanya. Karena tidak ada batasan minimum maupun maksimum dalam berbagi. Berbagi pun tak melulu soal materi, kita bisa berbagi kebahagiaan dengan cara lain.

Dan inilah potret kegiatan santri Rumah Yatim Indonesia yang pada kali ini berkunjung ke salah satu panti jompo yang berada di Tasikmalaya, yaitu Panti Jompo Welas Asih. Para lansia disana sangat berbahagia ketika menyambut kedatangan kami, sebaliknya kami pun turut bahagia. Rasanya seperti pulang ke rumah, bertemu dengan orang tua. Ketika sampai disana anak-anak mempunyai inisiatif untuk membantu membersihkan rumah panti tersebut dan memberikan beberapa pakaian yang telah dikumpulkan dari para donatur. Dan tentu mengajak nenek dan kakek berbicara dan bercerita seperti layaknya keluarga.

Semoga dari kunjungan ini bisa mengurangi rasa rindu nenek dan kakek terhadap keluarganya serta mengajarkan anak-anak apa dan bagaimana rasanya berbagi. Serta mengajarkan arti sebuah keikhlasan dari membantu sesama.





Thursday, 22 February 2018

Lunakkan Hati Yang Keras Dengan Al-Quran








Kisah berikut ini adalah kisah tentang seseorang yang memiliki hati yang keras, mudah membunuh, zalim, dan sifat-sifat kejam lainnya, kisah ini adalah kisah Hajjaj bin Yusuf.
Hajjaj adalah gubernur Irak di zaman pemerintahan Khalifah Abdul Malik bin Marwan, sebelumnya ia adalah gubernur Madinah. Hajjaj dikenal sebagai pemimpin zalim dan sangat mudah menumpahkan darah rakyatnya. Imam adz-Dzahabi mengatakan, “Dia orang yang sangat zalim, tiran, amibisius, perfeksionis, nista, dan kejam. Di sisi lain ia adalah seorang yang pemberani, ahli strategi dan rekayasa, fasih dan pandai bernegosiasi, serta sangat menghormati Alquran.” Ada yang mengatakan, Hajjaj telah membunuh kurang lebih 3000 jiwa di antara nyawa yang ia hilangkan adalah seorang sahabat yang mulia Abdullah bin Zubair dan seorang tabi’in Said bin Jubair. Hajjaj wafat pada tahun 95 H.
Dengan rekam jejak yang kelam itu, sangat jarang kita mendengarkan kisah yang baik dari perjalanan kehidupan Hajjaj bin Yusuf. Namun siapa sangka, ternyata ia sangat mudah tersentuh ketika mendengar ayat-ayat Alquran.
Diriwayatkan dari Abu Sa’id, ia berkata, “Hajjaj pernah berkhutbah di hadapan kami, dia berkata, ‘Wahai anak Adam, sekarang kamu dapat makan, tapi besok kamu akan dimakan’. Kemudian dia membaca ayat, “Tiap-tiap yang berjiwa akan merasakan mati.” (QS. Ali Imran: 185). Kemudian ia menangis hingga air matanya membasahi surbannya. Inilah bahasa Alquran, inilah kalamullah, yang mampu menghancurkan gunung yang kokoh, karena takut dan tunduk kepada Allah.
لَوْ أَنْزَلْنَا هَٰذَا الْقُرْآنَ عَلَىٰ جَبَلٍ لَرَأَيْتَهُ خَاشِعًا مُتَصَدِّعًا مِنْ خَشْيَةِ اللَّهِ
Seandainya Alquran ini Kami turunkan kepada gunung, pasti kamu akan melihatnya tunduk terpecah belah disebabkan takut kepada Allah. (QS. Al-Hasyr: 21)

Wednesday, 21 February 2018

Bingkisan Dari Donatur







Terimakasih untuk salah satu donatur yang telah mengunjungi anak-anak santri Rumah Yatim Indonesia, dengan memberikan kebahagiaan serta kasih sayangnya kepada kita semua.

Alhamdulillah, kami mendapatkan beberapa buku tulis, buku bacaan, beberapa karung beras serta pakaian dari donatur tersebut. Anak-anak pun menerimanya dengan hati yang riang gembira, tentu mereka sangat berantusias ketika membuka bingkisan-bingkisan. Semoga apa yang didapat menjadi sesuatu yang sangat bermanfaat untuk anak-anak. Dan dengan senyum mereka akan menjadi pahala yang tiada hentinya mengalir untuk para donatur. Aamiin~

Insyaallah...




Do'a Yang Menembus Langit


Siapa yang tak pernah berdoa di atas bumi ini? Jika ada makhluk yang tak pernah berdoa, maka ia termasuk orang yang sombong. Karena telah menganggap dirinya bisa hidup tanpa tergantung Allah SWT.

Kita selalu mengeluh kesana sini, takut akan hal buruk terjadi, ada permasalahan yang tak kunjung padam, ada penyakit yang tak kunjung sembuh, keinginan memiliki keturunan, dan lain sebagainya semua permasalahan kita,apakah yang harusnya pertama kali kita lakukan?

Kebanyakan manusia mengeluh kesana kemari lebih dahulu, curhat ke teman, meminta bantuan ke orang lain lebih dahulu atau bahkan yang lagi kekinian adalah dengan pasang status di facebook berharap ada yang mengasihani. Bahkan, yang paling terparah adalah meminta bantuan orang kafir dengan jalan yang haram, naudzubillahi min dzaliik.

Sesungguhnya hal yang pertama kali seharusnya dilakukan seorang yang mengimani Allah dan RasulNya adalah BERDOA.

Sungguh, wahai umat islam, “doa ini adalah senjata orang mukmin, tiang bagi agama, dan cahaya dari langit.”(HR. Hakim)

“Dan apabila hamba-hamba-Ku bertanya kepadamu tentang Aku, maka (jawablah), bahwasanya Aku adalah dekat. Aku mengabulkan permohonan orang yang berdo’a apabila ia memohon kepada-Ku, maka hendaklah mereka itu memenuhi (segala perintah-Ku) dan hendaklah mereka beriman kepada-Ku, agar mereka selalu berada dalam kebenaran.(QS.Al-Baqarah : 186)

Berdoa itu perlu kesungguhan dalam hati serta keyakinan akan dikabulkannya doa tersebut. Kalau dalam bahasa jawanya “harus ngeyel” terus meminta pada Allah siang, malam, dan setiap waktu yang diijabahnya doa, bukan hanya doa yang sesekali terucap lalu lalai kembali dengan kehidupan dunia yang fana.

Alangkah banyak kisah di muka bumi ini bertebaran tentang dimakbulkannya doa dari hamba-hamba yang beriman. Mulai dari kisah para nabi, sahabat, tabi’in, bahkan umat islam di akhir zaman sekarang ini. Mulai dari persoalan umat hingga persoalan cita-cita pribadi, mintalah pada Allah ya Mujiib (yang Maha pengabul doa).

Doa yang sampai pada langit sidratul muntaha pun bukanlah doa yang sembarangan. Allah pun menyuruh kita untuk berdoa sesuai dengan tata caranya, bukan hanya sembari lewat status di twitter dan facebook. Berdoa lah yang khusyuk dari hati yang terdalam dengan tata cara yang diajarkan oleh islam. Bagaimanakah tata cara berdoa yang benar agar doa kita dikabulkan Allah?

Makanlah dari makanan yang halal dan dengan sumber yang halal. Jauhi yang haram baik zhahir maupun sumbernya.

Mengangkat kedua tangannya saat berdoa

Diawali dengan bismillah, shalawat untuk Rasulullah Salallahu ‘alayhi wassalam, serta pujilah Allah sebanyak-banyaknya dengan asma’ul husnaNya.

Ikhlaskan hati, khusyuk dan tenang.

Merendahkan diri di hadapan Allah sambil meminta ampun atas segala dosa.

Yakin doa kita dikabulkan Allah serta jangan tergesa-gesa dengan mengatakan “kenapa doaku belum dikabulkan Allah?”

Berdoalah di waktu mustajab, seperti di antara adzan dan iqamah, saat hujan turun, saat sujud, dan sebagainya.

Tidak berdoa untuk keburukan dan keluar dari syariat islam.

Berdoalah dengan suara lirih, tidak dibuat bersajak, dan menangislah meminta padaNya.

Nabi Muhammad Shallallâhu ‘alaihi wa sallam bersabda,

لا يلج النار رجل بكى من خشية الله حتى يعود اللبن في الضرع

“Tidak akan masuk neraka seseorang yang menangis karena merasa takut kepada Allah sampai susu [yang telah diperah] bisa masuk kembali ke tempat keluarnya.”(HR. Tirmidzi).

Sungguh, Allah lah yang maha berkuasa atas segala sesuatu. Doa adalah senjata mukmin, maka janganlah pernah putus berdoa dengan tata cara yang benar.

Wallahu’alam bishawab

Tuesday, 20 February 2018

Rasa Syukur Seorang Kakek Penjual Amplop











Setiap menuju ke Masjid Salman ITB untuk shalat Jumat saya selalu melihat seorang Kakek tua yang duduk terpekur di depan dagangannya. Dia menjual kertas amplop yang sudah dibungkus di dalam plastik. Sepintas barang jualannya itu terasa “aneh” di antara pedagang lain yang memenuhi pasar kaget di seputaran Jalan Ganesha setiap hari Jumat. Pedagang di pasar kaget umumnya berjualan makanan, pakaian, DVD bajakan, barang mainan anak, sepatu dan barang-barang asesoris lainnya. Tentu agak aneh dia “nyempil” sendiri menjual amplop, barang yang tidak terlalu dibutuhkan pada zaman yang serba elektronis seperti saat ini. Masa kejayaan pengiriman surat secara konvensional sudah berlalu, namun Kakek itu tetap menjual amplop. Mungkin Kakek itu tidak mengikuti perkembangan zaman, apalagi perkembangan teknologi informasi yang serba cepat dan instan, sehingga dia pikir masih ada orang yang membutuhkan amplop untuk berkirim surat.

Kehadiran Kakek tua dengan dagangannya yang tidak laku-laku itu menimbulkan rasa iba. Siapa sih yang mau membeli amplopnya itu? Tidak satupun orang yang lewat menuju masjid tertarik untuk membelinya. Lalu lalang orang yang bergegas menuju masjid Salman seolah tidak mempedulikan kehadiran Kakek tua itu.

Kemarin ketika hendak shalat Jumat di Salman saya melihat Kakek tua itu lagi sedang duduk terpekur. Saya sudah berjanji akan membeli amplopnya itu usai shalat, meskipun sebenarnya saya tidak terlalu membutuhkan benda tersebut. Yach, sekedar ingin membantu Kakek itu melariskan dagangannya. Seusai shalat Jumat dan hendak kembali ke kantor, saya menghampiri Kakek tadi. Saya tanya berapa harga amplopnya dalam satu bungkus plastik itu. “Seribu”, jawabnya dengan suara lirih. Oh Tuhan, harga sebungkus amplop yang isinnya sepuluh lembar itu hanya seribu rupiah? Uang sebesar itu hanya cukup untuk membeli dua gorengan bala-bala pada pedagang gorengan di dekatnya. Uang seribu rupiah yang tidak terlalu berarti bagi kita, tetapi bagi Kakek tua itu sangatlah berarti. Saya tercekat dan berusaha menahan air mata keharuan mendengar harga yang sangat murah itu. “Saya beli ya pak, sepuluh bungkus”, kata saya.

Kakek itu terlihat gembira karena saya membeli amplopnya dalam jumlah banyak. Dia memasukkan sepuluh bungkus amplop yang isinya sepuluh lembar per bungkusnya ke dalam bekas kotak amplop. Tangannya terlihat bergetar ketika memasukkan bungkusan amplop ke dalam kotak.

Saya bertanya kembali kenapa dia menjual amplop semurah itu. Padahal kalau kita membeli amplop di warung tidak mungkin dapat seratus rupiah satu. Dengan uang seribu mungkin hanya dapat lima buah amplop. Kakek itu menunjukkan kepada saya lembar kwitansi pembelian amplop di toko grosir. Tertulis di kwitansi itu nota pembelian 10 bungkus amplop surat senilai Rp7500. “Kakek cuma ambil sedikit”, lirihnya. Jadi, dia hanya mengambil keuntungan Rp250 untuk satu bungkus amplop yang isinya 10 lembar itu. Saya jadi terharu mendengar jawaban jujur si Kakek tua. Jika pedagang nakal ‘menipu’ harga dengan menaikkan harga jual sehingga keuntungan berlipat-lipat, Kakek tua itu hanya mengambil keuntungan yang tidak seberapa. Andaipun terjual sepuluh bungkus amplop saja keuntungannya tidak sampai untuk membeli nasi bungkus di pinggir jalan. Siapalah orang yang mau membeli amplop banyak-banyak pada zaman sekarang? Dalam sehari belum tentu laku sepuluh bungkus saja, apalagi untuk dua puluh bungkus amplop agar dapat membeli nasi.

Setelah selesai saya bayar Rp10.000 untuk sepuluh bungkus amplop, saya kembali menuju kantor. Tidak lupa saya selipkan sedikit uang lebih buat Kakek tua itu untuk membeli makan siang. Si Kakek tua menerima uang itu dengan tangan bergetar sambil mengucapkan terima kasih dengan suara hampir menangis. Saya segera bergegas pergi meninggalkannya karena mata ini sudah tidak tahan untuk meluruhkan air mata. Sambil berjalan saya teringat status seorang teman di fesbuk yang bunyinya begini: “Kakek-Kakek tua menjajakan barang dagangan yang tak laku-laku, ibu-ibu tua yang duduk tepekur di depan warungnya yang selalu sepi. Carilah alasan-alasan untuk membeli barang-barang dari mereka, meski kita tidak membutuhkannya saat ini. Jangan selalu beli barang di mal-mal dan toko-toko yang nyaman dan lengkap….”.

Si Kakek tua penjual amplop adalah salah satu dari mereka, yaitu para pedagang kaki lima yang barangnya tidak laku-laku. Cara paling mudah dan sederhana untuk membantu mereka adalah bukan memberi mereka uang, tetapi belilah jualan mereka atau pakailah jasa mereka. Meskipun barang-barang yang dijual oleh mereka sedikit lebih mahal daripada harga di mal dan toko, tetapi dengan membeli dagangan mereka insya Allah lebih banyak barokahnya, karena secara tidak langsung kita telah membantu kelangsungan usaha dan hidup mereka.

Dalam pandangan saya Kakek tua itu lebih terhormat daripada pengemis yang berkeliaran di masjid Salman, meminta-minta kepada orang yang lewat. Para pengemis itu mengerahkan anak-anak untuk memancing iba para pejalan kaki. Tetapi si Kakek tua tidak mau mengemis, ia tetap kukuh berjualan amplop yang keuntungannya tidak seberapa itu.

Di kantor saya amati lagi bungkusan amplop yang saya beli dari si Kakek tua tadi. Mungkin benar saya tidak terlalu membutuhkan amplop surat itu saat ini, tetapi uang sepuluh ribu yang saya keluarkan tadi sangat dibutuhkan si Kakek tua.

Kotak amplop yang berisi 10 bungkus amplop tadi saya simpan di sudut meja kerja. Siapa tahu nanti saya akan memerlukannya. Mungkin pada hari Jumat pekan-pekan selanjutnya saya akan melihat si Kakek tua berjualan kembali di sana, duduk melamun di depan dagangannya yang tak laku-laku.

Mari kita bersyukur telah diberikan kemampuan dan nikmat yang lebih daripada kakek ini. Tentu saja syukur ini akan jadi sekedar basa-basi bila tanpa tindakan nyata.

Monday, 19 February 2018

Setoran Hafalan Al-Qur'an








Assalamualaikum wr wb...

Sahabat, inilah salah satu agenda di Rumah Yatim Indonesia yaitu setoran hafalan Qur'an. Kegiatan ini bertujuan untuk melahirkan generasi Qur'an serta menjadikan anak-anak santri menjadi pribadi yang shaleh dan shalehah.

Bukan hanya dituntut untuk menghafal Al-Qur'an saja, anak-anak pun diharapkan bisa mengamalkannya dalam kehidupan sehari-hari. Karena pedoman hidup yang sesungguhnya berasal dari Al-Qur'an. Semoga kelak anak-anak santri disini bisa menjadi hafidz Qur'an. Aamiin....



Saturday, 17 February 2018

Rasulullah Sangat Rindu Terhadap Umat Akhir Zaman











Suatu ketika berkumpullah Nabi sallallahu ‘alaihi wasallam bersama sahabat-sahabatnya yang mulia. Di sana hadir pula sahabat paling setia, Abu Bakar ash-Shiddiq.

“Wahai Abu Bakar, aku begitu rindu hendak bertemu dengan ikhwanku (saudara-saudaraku).”
Kemudian terucap dari mulut baginda yang sangat mulia:
Suasana di majelis itu hening sejenak. Semua yang hadir diam seolah sedang memikirkan sesuatu. Lebih-lebih lagi sayidina Abu Bakar, itulah pertama kali dia mendengar orang yang sangat dikasihinya melontarkan pengakuan demikian.
“Apakah maksudmu berkata demikian, wahai Rasulullah? Bukankah kami ini saudara-saudaramu?”Abu Bakar bertanya melepaskan gumpalan teka-teki yang mulai memenuhi pikiran.
Rasulullah menggeleng-gelangkan kepalanya perlahan-lahan sambil tersenyum. Kemudian Baginda bersabda,“
“Tidak, wahai Abu Bakar. Kamu semua adalah sahabat-sahabatku tetapi bukan saudara-saudaraku.” Suara Rasulullah bernada rendah. “Kami juga saudaramu, wahai Rasulullah,” kata seorang sahabat yang lain pula.
“Saudara-saudaraku adalah mereka yang belum pernah melihatku tetapi mereka beriman denganku dan mereka mencintai aku melebihi anak dan orang tua mereka. Mereka itu adalah saudara-saudaraku dan mereka bersama denganku. Beruntunglah mereka yang melihatku dan beriman kepadaku dan beruntung juga mereka yang beriman kepadaku sedangkan mereka tidak pernah melihatku.”
(Ibn Asakir 30/137, dan dalam Kanzul Ummal, 14/48.) Dari Abu Hurairah, bahwa Rosulullah shollallahu 'alaihi wasallam pernah mendatangi pekuburan lalu bersabda: "Semoga keselamatan terlimpahkah atas kalian penghuni kuburan kaum mukminin, dan sesungguhnya insya Allah kami akan bertemu kalian, " sungguh aku sangat gembira seandainya kita dapat melihat saudara-saudara kita." Para Sahabat bertanya, 'Tidakkah kami semua saudara-saudaramu wahai Rasulullah? Beliau menjawab dengan bersabda: "Kamu semua adalah sahabatku, sedangkan
Beliau bersabda lagi: ''Maka mereka datang dalam keadaan muka dan kaki mereka putih bercahaya karena bekas wudlu.
saudara-saudara kita ialah mereka yang belum berwujud." Sahabat bertanya lagi, ''Bagaimana engkau dapat mengenali mereka yang belum berwujud dari kalangan umatmu wahai Rasulullah? ' Beliau menjawab dengan bersabda: "Apa pendapat kalian, seandainya seorang lelaki mempunyai seekor kuda yang berbulu putih didahi serta di kakinya, dan kuda itu berada di tengah-tengah sekelompok kuda yang hitam legam. Apakah dia akan mengenali kudanya itu? '' Para Sahabat menjawab, ''Sudah tentu wahai Rasulullah.'' Aku mendahului mereka ke telaga. Ingatlah! Ada golongan lelaki yang dihalangi
Dari Ibnu Abbas Radhiallahu ‘anhu, diriwayatkan suatu ketika selepas shalat shubuh, seperti biasa Rosulullah Shollallahu 'alaihi wasallam duduk menghadap para sahabat. Kemudian beliau bertanya,
dari datang ke telagaku sebagaimana dihalaunya unta-unta sesat'. Aku memanggil mereka, 'Kemarilah kamu semua'. Maka dikatakan, 'Sesungguhnya mereka telah menukar ajaranmu selepas kamu wafat'. Maka aku bersabda: "Pergilah jauh-jauh dari sini." (HR. Muslim No. 367). Siapa Manusia Yang Paling Menakjubkan Imannya Menurut Rosulullah Saw? Sahabatku, Berbahagialan kita ummat Nabi Muhammad karena kita yang beriman kepada Allah dan Rasul-Nya adalah orang yang paling menakjubkan imannya menurut Rasulullah Saw. “Wahai manusia siapakah makhluk Tuhan yang imannya paling menakjubkan?”. “Malikat, ya Rasul,” jawab sahabat.
Lalu Nabi Shallallahu alaihi wasallam terdiam sejenak, kemudian dengan lembut beliau bersabda,
“Bagaimana malaikat tidak beriman, sedangkan mereka pelaksana perintah Tuhan?”Tukas Rasulullah. “Kalau begitu, para Nabi ya Rasulullah” para sahabat kembali menjawab “Bagaimana nabi tidak beriman, sedangkan wahyu dari langit turun kepada mereka?” kembali ujar Rasul. “Kalau begitu para sahabat-sahabatmu, ya Rosul”. “Bagaimana sahabat-sahabatku tidak beriman, sedang mereka menyaksikan apa yang mereka saksikan. Mereka bertemu langsung denganku, melihatku, mendengar kata-kataku, dan juga menyaksikan dengan mata kepala sendiri tanda-tanda kerosulanku.” Ujar Rasulullah. “Yang paling menakjubkan imannya,” ujar Rasul
“Berbahagialah orang yang pernah melihatku dan beriman kepadaku” Nabi Shallallahu alaihi wasallam mengucapkan itu satu kali.
“adalah kaum yang datang sesudah kalian semua. Mereka beriman kepadaku, tanpa pernah melihatku. Mereka membenarkanku tanpa pernah menyaksikanku. Mereka menemukan tulisan dan beriman kepadaku. Mereka mengamalkan apa-apa yang ada dalam tulisan itu. Mereka membela aku seperti kalian membelaku. Alangkah inginnya aku berjumpa dengan saudara-saudaraku itu.” Kemudian, Nabi Shallallahu alaihi wasallam meneruskan dengan membaca surat Al-Baqarah ayat 3, “Mereka yang beriman kepada yang gaib, mendirikan shalat, dan menginfakan sebagian dari apa yang Kami berikan kepada mereka.” Lalu Nabi Shallallahu alaihi wasallam bersabda,


Berbahagialah orang yang beriman kepadaku padahal tidak pernah melihatku.”
Nabi Shollallahu 'alaihi wasallam mengucapkan kalimat kedua itu hingga 7 kali.
(HR. Musnad Ahmad juz 4 hal 106 hadis no 17017. Hadis ini juga diriwayatkan oleh Ad Darimi dalam Sunan Ad Darimi juz 2 hal 398 hadis no 2744)
Semoga kita semua, orangtua kita dan anak-anak keturunan kita semua termasuk ke dalam golongan orang-orang sholeh, orang-orang yang menakjubkan imannya menurut Rosulullah saw dan kelak bisa mendapatkan syafaatnya serta berkumpul dengan Rosulullah Saw di Surga.
Aamiin Yaa Rabbal Alamiin.
Wallahu a'lam