Telp. 0265-2351868 | WA 0878 8555 4556 | BBM 5AE49B09

Kisah Inspiratif

Smart Family

Tafakur

Terbaru

Monday, 18 November 2019

Kunci Pembuka Kesulitan Hidup


Ternyata masalah hidup bagai air,tiada henti terus mengalir.
Meski sudah memeras fikir,solusi tak kunjung hadir.
Saat solusi buntu,jangan berfikir melulu
Istighfar adalah solusi jitu... 

Dari Ibnu Abbas radhiallahu’anhu, ia berkata, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda:“Barangsiapa senantiasa beristighfar, niscaya Allah menjadikan untuk setiap kesedihannya kelapangan dan untuk setiap kesempitannya jalan keluar, dan akan diberi-Nya rezeki dari arah yang tiada disangka-sangka.”_ (HR. Abu Daud).


Diantara keutamaan lainnya istighfar. Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman menjelaskan tentang seruan Nabi Nuh ‘alaihis salam ketika ia berdakwah kepada kaumnya,

فَقُلْتُ اسْتَغْفِرُوا رَبَّكُمْ إِنَّهُ كَانَ غَفَّارًا. يُرْسِلِ السَّمَاءَ عَلَيْكُمْ مِدْرَارًا. وَيُمْدِدْكُمْ بِأَمْوَالٍ وَبَنِينَ وَيَجْعَلْ لَكُمْ جَنَّاتٍ وَيَجْعَلْ لَكُمْ أَنْهَارًا.

“Maka saya 'Nabi Nuh' berkata (kepada mereka), ‘Beristighfarlah Mohonlah ampunan kepada Rabb kalian (karena) sesungguhnya Dia Maha Pengampun. Niscaya Dia akan menurunkan hujan yang lebat dari langit atas kalian. Dan Dia akan melipatkangandakan harta dan anak-anak kalian, mengadakan kebun-kebun atas kalian, serta mengadakan sungai-sungai untuk kalian.”(Al Qur'an Surah Nuh: 10-12)

 Ayat di atas menunujukkan bahwa istighfar adalah sebab turunnya rezeki dari langit, dilapangkannya harta dan keturunan, serta dibukakannya berbagai kebaikan untuk hamba sehingga, terhadap masalah apapun yang dihadapi oleh seorang hamba, jalan keluar akan dihamparkan untuknya.


Semoga kita termasuk orang yang beruntung karena banyaknya amal istighfar kita. Ingat Nabi saja yang sudah di jamin surga tidak kurang dalam sehari beliau beristighfar 100 kali paling sedikit 70 kali. Karena keutamaan istighfar ini sangat luar biasa insyaa Allah dunia akhirat bahagia.


Saturday, 16 November 2019

Kisah Seseorang Berbaik Sangka Kepada Allah






Diriwayatkan dari Ibnu Mas’ud, ia pun berkisah :
Suatu hari, datang seorang wanita dari Anshor bersama 10 putranya untuk menghadap Rasulullah saw. Wanita itupun berkata, “Ya Rasulullah, mereka adalah anak-anakku. Kupersembahkan semuanya untukmu. Ajaklah mereka berjihad dijalan Allah swt.”
Singkat cerita, mereka semua ikut berperang bersama Rasulullah saw hingga 9 orang syahid di jalan Allah. Dan hebatnya, seorang ibu ini lebih berbahagia mendengar kabar anak-anaknya yang gugur daripada anaknya yang masih tersisa.
Tersisalah satu anak yang paling bungsu yang masih hidup. Namun sayangnya, kehidupan anak ini mulai melenceng dan banyak melakukan dosa.
Hingga suatu hari, si bungsu ini tertimpa penyakit yang parah. Sang ibu tak kuasa melihatnya, ia begitu kasihan dan sedih melihat anak terakhirnya ini.
Lalu sang anak bertanya, “Duhai ibuku, semua saudaraku lebih baik dariku tapi ibu tidak menangisi mereka. Tapi kenapa engkau menangisi putramu yang pendosa ini?
Sang ibu menjawab, “Karena itulah aku menangis.”
Wanita ini tak pernah mengkhawatirkan putrnya yang syahid karena mereka pasti mendapat kenikmatan di sisi Allah, tapi ia begitu mengkhawatirkan putranya yang pendosa ini.
Pada akhir-akhir nafasnya, anak ini berkata, “Duhai ibuku, andai aku berbuat salah atau melanggar hakmu, sementara ditanganmu ada api yang menyala-nyala, apakah kau akan melemparkannya kepadaku?”
“Tidak mungkin wahai anakku.” jawab sang ibu.
“Bukankah kau tau bahwa yang Menciptakanku lebih penyayang daripada yang melahirkanku?” tanya sang anak, lalu ia pun menghembuskan nafas terakhirnya.
Mendengar kisah ini, Rasulullah saw berkata kepada wanita Anshor ini, “Kabar gembira untukmu, sungguh anakmu telah diampuni oleh Allah karena berbaik sangka kepada tuhannya.”

Kisah yang begitu mengharukan ini sesuai dengan Firman Allah dalam Hadist Qudsi-Nya,
“Aku seperti yang disangkakan hamba-Ku yang mukmin”
Baik sangka kita kepada Allah menentukan nasib kita di Hari Akhir. Jangan pernah berputus asa dari rahmat dan kasih sayang. Kembalilah walau sebesar apapun dosa yang pernah kita lakukan.
Namun prasangka (husnu dzon) kepada Allah yang disebutkan dalam berbagai riwayat itu harus disertai dengan amal soleh dan menjaga syariat-Nya. Dan jika berbaik sangka kepada Allah namun meremehkan perbuatan dosa, maka husnudzon itu tak akan ada manfaatnya.

Thursday, 14 November 2019

Sempatkan Waktumu


Sampai kapan kita akan menuruti dunia. Sampai menjadi kaya?! 

Apakah yakin setelah kaya itu kita bisa tenang, dapat beribadah dengan khusyuk, sibuk dengan ibadah lantaran semua telah cukup?! 

Belum tentu. 

Rasulullah shallallahu alaihi wasallam bersabda:“Seandainya seorang anak Adam memiliki selembah emas, niscaya ia akan menginginkan lembah kedua. 
Tidak ada yang bisa memenuhi mulutnya kecuali tanah dan Allah menerima taubat orang yang mau bertaubat.” (HR. Bukhari: 6436, Muslim: 1034)

Hitung saja berapa nilainya jika satu lembah emas dirupiahkan. Masih kurang?! 
Ya, karena itulah tabiat buruk manusia. 
Tidak ada yang dapat menghentikan ambisi buruk itu selain tanah liang lahat. 
Saat semua telah terputus karena sebab yang namanya kematian.
Oleh karenanya, jangan terlalu ambisius terhadap dunia. Ia tidak akan ada habisnya. 
Tak perlu menunggu kaya dulu untuk menjadi hamba Allah yang taat. 

Cukup sekarang sungguh-sungguh ibadah bagaimana pun keadaannya, belum tentu juga setelah menjadi kaya kita bisa menjadi orang baik. 
Bisa jadi sebaliknya, hartalah yang akan mengantarkan kita ke gerbang neraka

Wednesday, 13 November 2019

Penyuluhan Kesehatan Dari Puskesmas








Assalamu'alaikum wr wb..

Sahabat, berikut adalah kegiatan Penyuluhan kesehatan dengan tema "Bahaya terlalu sering makan mie instant" bersama pemateri dari Kepala Puskesmas Kec. Cibereum.




Taati Suami Surga Bagimu


Di antara keutamaan istri yang taat pada suami adalah akan dijamin masuk surga. Ini menunjukkan kewajiban besar istri pada suami adalah mentaati perintahnya.

Hadits dari ‘Abdurrahman bin ‘Auf, ia berkata bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:“Jika seorang wanita selalu menjaga shalat lima waktu, juga berpuasa sebulan (di bulan Ramadhan), serta betul-betul menjaga kemaluannya (dari perbuatan zina) dan benar-benar taat pada suaminya, maka dikatakan pada wanita yang memiliki sifat mulia ini, “Masuklah dalam surga melalui pintu mana saja yang engkau suka.” (HR. Ahmad 1: 191 dan Ibnu Hibban)

Dengan ketaatan seorang istri, maka akan langgeng dan terus harmonis hubungan kedua pasangan. Hal ini akan sangat membantu untuk kehidupan dunia dan akhirat.

Islam pun memuji istri yang taat pada suaminya. Bahkan istri yang taat suami itulah yang dianggap wanita terbaik.

Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, dia berkata :Pernah ditanyakan kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, “Siapakah wanita yang paling baik?” Jawab beliau, “Yaitu yang paling menyenangkan jika dilihat suaminya, mentaati suami jika diperintah, dan tidak menyelisihi suami pada diri dan hartanya sehingga membuat suami benci” (HR. An-Nasai no. 3231 dan Ahmad 2: 251)

Sebagian istri saat ini melupakan keutamaan taat pada suami. Sampai-sampai menganggap ia harus lebih daripada suami sehingga dialah yang mesti ditaati karena karirnya lebih tinggi dan titelnya lebih mentereng. Wallahul musta’an.

Hanya Allah yang memberi taufik dan hidayah.

Tuesday, 12 November 2019

Jauhi Prasangka Buruk








Para sahabat Rasulullah adalah manusia biasa. Tidak terjaga dari melakukan perbuatan dosa (maksum). Terkadang mereka melakukan kesalahan dan kekhilafan sebagaimana umat Islam pada umumnya. Sebagian dari mereka juga pernah ada yang berprasangka buruk atau protes terhadap apa yang dilakukan Rasulullah.  Kejadian itu tidak hanya terjadi sekali. Sebagaimana manusia biasa, prasangka buruk sebagian sahabat itu terjadi ketika keputusan Rasulullah dianggap tidak adil atau ‘tidak menguntungkan’ kelompok atau sukunya. Mereka lantas melayangkan nota protes kepada Rasulullah. Namun setelah Rasulullah menjelaskan apa maksud dan tujuannya, mereka bisa menerimanya dengan baik. Bahkan menyesali aksi protesnya. Merujuk buku Akhlak Rasul Menurut Al-Bukhari dan Muslim (Abdul Mun’im al-Hasyimi, 2018), pada saat perang Hunain Rasulullah memberikan unta untuk al-Aqra’ bin Habis dan Uyainah. Masing-masing 100 ekor unta. Ternyata, keputusan Rasulullah itu dianggap tidak adil bagi sebagian sahabat.

Mereka bahkan menuduh Rasulullah kalau pemberian itu tidak dilandasi untuk mendapatkan ridha Allah.  Usai perang, ada seorang sahabat yang mendatangi Rasulullah. Dia protes karena Rasulullah hanya memberi unta kepada al-Aqra’ bin Habis dan Uyainah. Sementara Ju’ail bin Saraqah tidak dikasih unta barang seekor pun.  Rasulullah lantas menjelaskan mengapa dia melakukan itu. Kata Rasulullah, Ju’ail bin Saraqah sudah mantap dan kokoh keislamannya sehingga tidak perlu diberi harta benda. Sementara Uyainah dan al-Aqra diberi unta –masing-masing 100 ekor- agar keislaman mereka menjadi kuat. Karena mereka termasuk al-muallafah qulububum (orang yang dilunakkan hatinya), sementara Ju’ail bin Saraqah tidak. Begitu pun setelah perang Hawazin, Rasulullah memberikan ghanimah hanya kepada kaum Muhajir dan al-muallafah qulububum, sementara kaum Anshar tidak mendapatkan bagian. Tentu saja hal ini memicu prasangka buruk dan gelombang protes dari kaum Anshar. Bahkan, Hassan bin Tsabit membuat syair kritikan untuk Rasulullah karena kebijakan Rasulullah itu dianggap tidak adil, berat sebelah, dan lebih mengutamakan kaumnya sendiri. Sa’ad bin Ubadah dari kaum Anshar lalu menghadap Rasulullah dan memberi tahu tentang hal itu. Rasulullah lantas menyuruh Sa’ad bin Ubadah untuk mengumpulkan kaumnya di dalam satu tempat.

Setelah semuanya berkumpul, Rasulullah berdiri di hadapan mereka dan menyampaikan khutbah tentang kebijakannya itu. Mengapa kaum Muhajirin dan al-muallafah qulububum yang mendapatkan bagian, sementara kaum Anshar tidak? “Wahai kaum Anshar, tidakkah kamu merelakan sedikit harta yang bisa aku gunakan untuk menarik suatu kaum supaya masuk Islam. (Ketahuilah) saya sangat yakin dengan keislaman kalian (sehingga tidak perlu mendapatkan bagian itu)?” kata Rasulullah dalam khutbahnya. “Wahai kaum Anshar tidakkah kamu rela, orang-orang pulang bersama kambing dan unta sedangkan kalian pulang bersama Rasulullah?” “Demi Dzat yang Muhammad berada di dalam kekuasaan-Nya, kalau tidak ada (takdir untuk) hijrah, tentu saya (ingin) menjadi orang Anshar. Kalau seandainya orang-orang melewati satu jalan dan orang Anshar melewati jalan lain, tentu saya akan melewati jalan yang dilewati oleh kaum Anshar.”  Di akhir khutbahnya, Rasulullah mendoakan agar kaum Anshar, anak-anak, dan cucu-cucunya mendapatkan kasih sayang dari Allah. Kaum Anshar menyimak dengan seksama setiap kata yang keluar dari mulut Rasulullah. Mereka membetulkan semua yang disampaikan Rasulullah. Rela atas kebijakan Rasulullah dalam pembagian ghanimah tersebut. Setelah mendengarkan khutbah Rasulullah, mereka menangis tersedu-sedu hingga air matanya membasahi jenggotnya.

Nikmat Tuhan Manakah Yang Kamu Dustakan?


Allah SWT berfirman:فَبِأَيِّ آلاءِ رَبِّكُمَا تُكَذِّبَانِ
Artinya “Maka Nikmat Tuhan-mu yang manakah yang ”Kamu Dustakan’?”

Kalimat ini diulang-ulang sebanyak 31x oleh Allah Subhanahu Wa Ta’ala. 
Apa gerangan makna kalimat tersebut ?

Setelah Allah menguraikan beberapa nikmat yang dianugerahkan kepada kita, lalu Allah bertanya :
“Maka Nikmat Tuhan-mu yang manakah yang Kamu Dustakan’?

“Menarik untuk diperhatikan bahwa Allah menggunakan kata “DUSTA”, bukan kata “INGKAR”.

Hal ini menunjukkan bahwa Nikmat yang Allah berikan kepada manusia itu tidak bisa diingkari.
Yang sering dilakukan manusia adalah ‘Men-Dustakan’-Nya

Dusta berarti ‘Menyembunyikan Kebenaran’. 
Manusia sebenarnya tahu bahwa mereka telah ‘Diberi Nikmat’ oleh Allah, tapi mereka ‘menyembunyikan Kebenaran itu, sehingga mereka…
MENDUSTAKANNYA…. 

Bukankah kalau kita mendapat rezeki banyak, kita katakan bahwa itu karena hasil dari ‘Kerja Keras’ kita…???

Kalau kita berhasil meraih gelar Sarjana S1, S2, bahkan S3, itu karena ‘Otak Kita’ yang cerdas…???

Kalau kita sehat, jarang sakit, itu karena ‘kepiawaian kita’, kita ‘Pandai Menjaga’ Pola Makan dan Rajin ber-Olah Raga, dan sebagainya.

Semua nikmat yang kita peroleh seakan-akan hanya karena usaha kita, tanpa sadar, kita telah melupakan Peranan Allah. 
Kita sepelekan kehadiran Allah pada semua keberhasilan yang kita raih.
kita dustakan bahwa sesungguhnya nikmat itu semuanya datang dari Allah.

“Maka Nikmat Tuhan-mu yang manakah yang Kamu dustakan…?”

Kita telah bergelimang kenikmatan : Harta, Pasangan Hidup, Anak-anak yang telah kita miliki.

Tidak patutkah kita Bersyukur kepada-Nya?
Ucapkan Alhamdulillah,berhentilah mengeluh, apalagi membanggakan diri dan Jalani Hidup ini dengan ikhlas, tawadhu sebagai bagian dari ”Rasa Syukur” kita.