Telp. 0265-2351868 | WA 0878 8555 4556 | BBM 5AE49B09

Kisah Inspiratif

Smart Family

Tafakur

Terbaru

Tuesday, 23 May 2017

Andai Pahala Di Tampakkan





Suatu hari, seorang ibu setengah baya sedang dilanda kelaparan, ia berusaha meminta bantuan kepada orang lain untuk mendapatkan kemurahan hatinya. Seharian ia berjalan, berpuluh orang telah dijumpainya. Jawaban yang di dapatkannya adalah sama, tak ada seorang pun yang memedulikan nasibnya.

Cemoohan dan cacian sering ia dapatkan sebagai jawaban dari mereka. Mulai dari yang menolak secara halus sampai dengan yang kasar telah diterima oleh Inah, ibu setengah baya yang sedang kelaparan. “maaf bu, saya nggak punya nasi…”

“wah, kalau pingin makan ya kerja sana, jangan minta-minta…”

“ayo, pergi sana. Jangan ganggu kami yang sedang bekerja…”

Dan masih banyak jawaban-jawaban yang cukup menyakitkan hati bu Inah. Tetapi rupanya bu Inah ‘pantang menyerah’ ia terus berjalan mencari seseorang yang mau membantunya untuk memberi sebungkus atau sepiring nasi untuk mengisi perutnya. Bu Inah sudah tidak bisa menahan rasa lapar nya, sampai-sampai ia jatuh terduduk di pinggiran sebuah toko. Bu Inah meringis menahan rasa lapar.di peganginya perutnya yang terasa sakit.

Sementara itu banyak sekali orang yang lalu lalang di depannya. Tetapi tetap saja tak ada seorangpun menaruh rasa iba kepadanya. Malam itu dilalui bu Inah dengan penuh rasa derita. Perut yang begitu lapar tidak bisa ia ajak untuk memejamkan mata. Malam terasa begitu lama baginya. Dingin, lapar, haus mewarnai tubuh yang rebah lunglai di trotoar kotor. Harapan untuk mendapatkan sebungkus nasi untuk mengisi perut tidak ia dapatkan sama sekali hari itu. Keesokan harinya, pagi-pagi sekali bu Inah kembali berjalan menyusuri lorong kecil dan jalan besar untuk mendapatkan sebungkus nasi bagi perutnya yang semakin tak tertahankan.

Pagi,.. siang,.. tak ia jumpai seorangpun yang mau menolong dirinya. Bahka jawaban dari mereka sangat menyakitkan hati. Saat hari sudah menjelang sore, bu Inah hampir putus asa. Dari kejauhan tampak seorang wanita muda yang sedang menggendong anak berusia enam bulan. Baju ibu muda itu begitu kotor, demikian juga pakaian yang dikenakan oleh anak yang digendong nya. Ibu Inah mendatangi wanita muda itu. Dengan terbata menahan rasa lapar ibu Inah memohon kepada wanita tersebut. “bu, tolong bu, saya sudah dua hari ini tidak makan. Saya lapar sekali …adakah sebungkus nasi untuk mengisi perut saya?”

Dengan agak heran ibu muda itu bertanya : “mengapa nggak beli saja bu, kan banyak di warung-warung kecil makanan yang murah-murah..” katanya. “ saya tidak punya uang bu .…” kata bu Inah.
Dipandanginya seluruh tubuh bu Inah oleh ibu muda ini, tak luput ia juga memandang anak yang berada dalam pelukannya. Tanpa terasa mata ibu muda ini tampak berkaca-kaca. Kemudian pandangannya menebar ke sekeliling tempat ia berdiri. Selanjutnya ia berjalan menuju sebuah warung kecil yang kebetulan berada tidak jauh dari dirinya. Ia membeli sebungkus nasi dengan uang kertas ribuan yang lusuh dan beberapa uang receh yang ada di genggamannya. Setelah ia dapatkan sebungkus nasi, maka dengan hati penuh iba ia serahkan nasi bungkus tersebut kepada ibu Inah yang menurut pengakuannya sudah dua hari tidak makan.

Tanpa menunggu lama, disantapnya nasi bungkus tersebut dengan lahap oleh ibu Inah. Wanita muda itu melihat ibu Inah dengan hati penuh rasa gembira. Pandangan matanya menunjukkan bahwa hatinya sangat bahagia karena mampu memberi sesuatu yang sedang dibutuhkan oleh orang yang sedang membutuhkan pertolongannya. Bahkan tanpa di minta oleh ibu Inah, wanita muda itu kembali ke warung tempat ia membeli nasi, kemudian ia tampak kembali ke tempat bu Inah sambil membawa segelas teh hangat.

Sambil minum teh hangat bu Inah memandang penuh kagum terhadap wanita muda yang menggendong anaknya itu. Setelah bu Inah selesai makan dan minum dengan lahap, dua orang tersebut terlibat dalam pembicaraan cukup menarik bagi siapa saja yang mendengarnya.

“…ibu siapa, dan dari mana, kok tampaknya bukan orang daerah sini?” kata wanita muda itu. “iya bu, nama saya Inah. Saya memang bukan penduduk sini, terus ibu ini siapa…? Apa pekerjaan ibu? 

Mengapa anak ibu yang kecil ini tidak ditinggal saja di rumah?” Tanya bu Inah.

“nama saya sumarni, pekerjaan saya pemulung bu…! Lebih baik anak saya dibawa saja, soalnya dirumah juga tidak ada yang menungguinya…” kata sumarni sambil menyeka keringat yang ada di keningnya. “mengapa ibu mau menolong saya?” kembali ibu Inah bertanya kepada sumarni.

“ah, sudahlah bu jangan dipersoalkan. Kebetulan saya ada uang sedikit yang cukup untuk membeli sebungkus nasi, sekadar menutup rasa lapar ibu” jawab sumarni singkat.

“baiklah bu, terima kasih atas pertolongan ibu…” jawab bu Inah singkat sambil berlalu meninggalkan sumarni yang masih memandangnya dengan penuh rasa iba.

Setelah sejenak memandang kearah anak kecil yang ada di gendongannya, sumarni berjalan perlahan untu meneruskan ‘pekerjaanya’ menyusuri kota Jakarta. Tak lama sumarni berjalan, tiba-tiba ia dihentikan oleh seorang wanita muda.

“bu,sebentar bu,…!” kata wanita muda itu

“ada apa mbak…?” jawab sumarni

“ tadi saya lihat ibu membelikan makan dan minum untuk ibu setengah baya, siapa ibu tadi?”

“oh,yang barusan tadi? Saya juga tidak tau .” kata sumarni.

“mengapa ibu mau menolongnya..? kan ibu juga perlu untuk membeli makanan untuk anak ibu”balas wanita muda itu.

“ah, ndak apa-apalah ! kasihan, dia sudah dua hari tidak makan. Kebetulan saya ada uang yang cukup untuk membeli nasi bungkus dan segelas teh. Mudah-mudahan nanti ada rezeki lagi buat anak saya…” katanya, sambil ia membetulkan posisi gendongan anaknya.

“baiklah bu. Oh ya, nama ibu siapa?” kembali wanita muda tersebut bertanya. “nama saya sumarni mbak..” jawab sumarni singkat.

“bu, karena ibu telah menolong orang lain yang sedang kelaparan, meskipun ibu juga sedang membutuhkan sesuap nasi untuk diri ibu dan anak ibu, maka terimalah ini sekedar rezeki buat ibu dan anak ibu…” kata wanita muda itu sambil mengeluarkan uang lima puluh ribuan yang cukup banyak dari tas hitamnya.

Sumarni terbelalak, memandang uang tersebut, ia tidak bisa berkata apa-apa. Terasa tersendat mulutnya untuk bicara.

“apa,..apa.. mbak..?! katanya agak tergagap. Sambil tersenyum, wanita muda itu mengulurkan tangannya kearah Sumarni sambil memberikan uang tersebut. “Terimalah…” katanya.

Maka meledaklah tangis Sumarni. Dirangkulnya rapat-rapat wanita itu. Cukup lama Sumarni menangis dipelukan wanita muda itu.

“Terimakasih, terima kasih… mbak…. ?! ya Allah… terima kasih…” Sumarnipun langsung tersungkur Sujud bersama anak yang ada dalam gendongannya, " Ya Allah....Maha benar Engakau ya Allah....betapa Janjimu tak pernah Engkau ingkari, ampuni aku Ya Allah....aku seringkali melupakanMU karena kesibukan Duniaku............ ", Hanya itu kalimat yang bisa diucapkan Sumarni sambil terus menangis dalam sujud syukurnya disamping wanita muda itu.

Sahabat Semua yang di sayang Allah SWT, kisah nyata diatas diangakat dalam sebuah acara “reality show”, di salah satu satu stasiun televisi swasta Indonesia. Ternyata dalam waktu dua hari, telah lebih dari SERATUS TIGA PULUH orang yang dimintai tolong oleh Bu Inah untuk menolong dirinya yang sedang ‘kelaparan’. Akhirnya Bu Sumarni-lah yang ‘terpilih’ secara alami karena ia menolong dengan penuh keikhlasan hati.

Apa yang terjadi ketika kita menonton acara ini, disetiap rumah termasuk di rumah kita, para penonton akan mengecam orang-orang yang tidak mau menolong Bu Inah. Ada yang mengatakan ‘wah sayang ya, ia tidak mau menolong…, wah bodoh sekali ya, ia tidak mau menolong Bu Inah…. Padahal yang menolong akan mendapat rezeki besar, kenapa nggak mau menolong’… dsb… dsb.

Termasuk juga anak-anak kita, ketika menonton adegan tersebut, mereka saling memberi komentar, kenapa banyak orang yang tidak mau menolongnya. Padahal satu bungkus nasi akan diganti oleh jutaan rupiah, yang nilainya mungkin lebih dari ‘seribu kali lipat’ dari harga nasi satu bungkus.

Sahabat Semua yang diberkahi Allah SWT, itulah indahnya perilaku dalam kehidupan. Sebuah keikhlasan hati akan mempunyai nilai yang sangat tinggi.”

“ Mengapa Bu Sumarni mendapat hadiah yang sangat besar ?“ karena ia melakukan tanpa pamrih. Ia lakukan karena di hatinya muncul rasa peduli yang sangat dalam terhadap sesama karena ia juga pernah merasakan penderitaan yang di alami bu Inah. Tidak ada sedikit pun di dalam hatinya, ketika memberi, ia berangan-angan untuk mendapatkan yang lebih banyak!”

Perasaan tulus secara spontan itulah nilai Bu Sumarni. Ia melakukan tindakan nyata dengan keikhlasan hati tanpa ingin dipuji tanpa berharap mendapat balasan . Itulah keistimewaannya… maka iapun mendapatkan suatu balasan yang jauh lebih besar tanpa diduga sebelumnya…”

Kejadian tersebut adalah suatu kejadian dari sebuah setting acara yang memberi motivasi kepada pemirsa agar selalu berbuat baik tanpa pamrih. Pasti akan mendapat balasan yang jauh lebih besar jika seseorang melakukan dengan sebuah keikhlasan hati tanpa ingin dipuji.

Kalaulah kejadian itu hanyalah sebuah ‘rekayasa’ hebat dari sang pencetus ide dan sang sutradara, maka bagaimana dengan kondisi kita yang hidup dalam ‘Reality Show’ sesungguhnya ini ? Dunia malaikat seluruhnya totalitas ‘menonton’ setiap perilaku kita. Mereka para Malaikat juga menyayangkan sikap kita yang acuh tak acuh jika ada orang lain minta pertolongan. Karena ditangan mereka ada amanah yang sangat besar dari Allah untuk mencatat sekaligus memberi balasan yang sangat istimewa, tetapi sayangnya kita tak memedulikan bahkan kadang tidak yakin akan adanya balasan itu.

Seluruh kita manusia di atas bumi ini sedang melakukan kehidupan nyata. Setiap perbuatan kita selalu dilihat oleh Sang Pencipta dan menyuruh Malaikat utusanNYA membawakan hadiah-hadiah (pahala) yang diminta ataupun yang tidak diminta oleh kita yang melakukan kebajikan dan amal shaleh dengan penuh ketulusan dan kepatuhan terhadap semua aturan hidup yang sudah ditetapkan oleh Allah SWT. . Setiap gerak hati selalu dipantau oleh sang Penulis scenario kehidupan. Sekecil apapun perbuatan yang kita lakukan pasti akan mendapat balasan. itulah kisah seorang Bu Sumarni, bagaimana dengan kita ?

Dzikir Yang Paling Disukai Allah


Sejenak marilah kita lafazhkan, subhaanallaahi wabihamdih (سُبْحَانَ اللَّهِوَبِحَمْدِهِ). Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam bersabda bahwa kalimat itu merupakan salah satu dari dua kalimat yang ringan diucapkan, namun berat timbangannya.

Dari Abu Hurairah, dia berucap, “Rasulullah shallallahu'alaihi wasallam telah bersabda,
“Dua kalimat yang ringan diucapkan, tetapi berat timbangannya dan disenangi oleh Allah Yang Maha Pengasih adalah subhaanallaahi wabihamdih dan subhaanallaahil-‘azhiim.”(HR. Muslim, No. 4860).

Dari Abu Hurairah, dari Nabi shallallahu 'alaihi wasallam, beliau bersabda:“Dua kalimat ringan dilisan, berat ditimbangan, dan disukai Ar-Rahman, yakni subhaanallahil ‘azhiim dan subhanallahi wabihamdih (كَلِمَتَانِ خَفِيفَتَانِ عَلَى اللِّسَانِ ثَقِيلَتَانِ فِي الْمِيزَانِ حَبِيبَتَانِإِلَى الرَّحْمَنِ سُبْحَانَ اللَّهِ الْعَظِيمِ سُبْحَانَ اللَّهِ وَبِحَمْدِهِ).”(HR.Bukhari, No. 5927 Bab Keutamaan Tasbih).

Hadits senada juga diriwayatkan Tirmidzi (3467), Ibnu Majah (3806), dan An-Nasa’i dalam ‘Amal al-Yaum wa al-Lailah.
Sungguh, betapa kalimat itu memang disukai oleh Allah SWT. Ucapkanlah subhaanallaahi wabihamdih (سُبْحَانَ اللَّهِ وَبِحَمْدِهِ)….

Dari Abu Dzar, dia berkata, “Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam pernah mengajukan tanya kepadaku, “Hai Abu Dzar, maukah engkau aku beritahukan tentang ucapan yang disenangi Allah?” Aku menjawab, “Ya, aku mau, ya Rasulullah. Beritahukanlah kepadaku tentang ucapan yang disenangi Allah.” Beliau shallallahu 'alaihi wasallam lantas bersabda, “Sesungguhnya ucapan yang paling disukai Allah adalah subhaanallahi wabihamdih.”(HR. Muslim, No. 4911).

Kalimat itu, sesungguhnya telah dipilihkan Allah Yang Maha Pengasih dan Penyayang untuk kita, hamba-hamba-Nya, pun teruntuk malaikat-malaikat-Nya.

Dari Abu Dzar bahwasanya Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam pernah ditanya seseorang, “Apakah ucapan dzikir yang paling afdhal, ya Rasulullah? ” Beliau shallallahu 'alaihi wasallam pun menjawab, “Yaitu ucapan dzikir yang dipilihkan Allah bagi para malaikat-Nya dan hamba-hamba-Nya, subhanaallahiwabihamdih.”(HR. Muslim, No. 4910).

Ucapkanlah subhaanallaahi wabihamdih (سُبْحَانَ اللَّهِوَبِحَمْدِهِ), sekali, sebanyak mungkin, semampu kita. Pada dasarnya, mengucapnya tak ada batasan. Jika pun ingin membatasi, ucapkanlah 100x dalam 24 jam. Allah haq, Muhammad haq.

Mari renungi sabda Sang Nabi shallallahu'alaihi wasallam:

Dari Abu Hurairah bahwa Rasulullah shallallahu'alaihi wasallam bersabda,

مَنْ قَالَسُبْحَانَ اللَّهِ وَبِحَمْدِهِ فِي يَوْمٍ مِائَةَ مَرَّةٍ حُطَّتْ خَطَايَاهُ وَإِنْكَانَتْ مِثْلَ زَبَدِ الْبَحْرِ

“Barangsiapa mengucap subhaanallaahi wabihamdih sehari seratus kali, maka kesalahan-kesalahannya akan terampuni walaupun sebanyak buih di lautan.”(HR. Bukhari, No. 5926).

Dari Abu Hurairah, dia berkata bahwa Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam bersabda, “Barangsiapa membaca subhaanallaahi wabihamdih seratus kali dalam sehari, maka dosanya akan dihapus, meskipun sebanyak buih lautan.”(HR. Muslim, No. 4857).

Dari Abu Hurairah, bahwa Rasulullah shallallahu 'alaihiwasallam bersabda,

مَنْ قَالَ سُبْحَانَ اللَّهِ وَبِحَمْدِهِ مِائَةَمَرَّةٍ غُفِرَتْ لَهُ ذُنُوبُهُ وَإِنْ كَانَتْ مِثْلَ زَبَدِ الْبَحْرِ

“Barangsiapa yang mengucap subhaanallahi wabihamdih seratus kali, maka akan diampuni baginya dosa-dosanya, meskipun seperti buih lautan.”(HR. Tirmidzi, No. 3466).

Dari Abu Hurairah RA, ia berkata bahwa Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam bersabda, “Barangsiapa mengucapkan, subhaanallahi wabihamdih seratus kali, maka diampunilah dosa-dosanya walau (banyaknya) seperti buih di lautan.”(HR. Ibnu Majah, No.3798).

Jumhur ulama menegaskan dosa dalam hadits tersebut adalah dosa-dosa kecil. Itulah bagian dari kasih sayang Allah SWT. Bukan berarti kita melalaikan diri dan memudahkan berbuat dosa kecil, tetapi Allah lebih tahu bahwa sekuat apapun kita takkan mampu tercegah dari dosa.

Dan, jika ingin menjadikan ucapan subhaanallaahi wabihamdih (سُبْحَانَ اللَّهِوَبِحَمْدِهِ) sebagai dzikir pagi dan sore hari, ucapkanlah pada pagi hari 100x, pada sore hari 100x.

Dari Abu Hurairah, dia berkata, “Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam bersabda,

“Barangsiapa kala pagi dan sore membaca subhaanallaahi wabihamdih sebanyak seratus kali, maka pada hari kiamat tiada orang lain yang melebihi pahalanya kecuali orang yang juga pernah mengucapkan bacaan seperti itu atau lebih dari itu.”(HR. Muslim, No. 4858).

Sekali lagi, secara umum, tak ada batasan mengucap subhaanallahi wabihamdih. Kita bisa berlomba membaca subhaanallaahi wabihamdih dengan para shahabat, tabi’in, tabi’ut tabi’in, para ulama, dan orang-orang muslim untuk menampakkan pahala di hadapan AllahSWT pada hari kiamat.

Wallahua’lam.

Saturday, 20 May 2017

Di Potong Tangan Karena Memberi Sedekah





Dikisahkan bahwa semasa berlakunya kekurangan makanan dalam kalangan Bani Israel, maka lalulah seorang fakir menghampiri rumah seorang kaya dengan berkata, "Sedekahlah kamu kepadaku dengan sepotong roti dengan ikhlas kerana Allah S.W.T."

Setelah fakir miskin itu berkata demikian maka keluarlah anak gadis orang kaya, lalu memberikan roti yang masih panas kepadanya. Sebaik saja gadis itu memberikan roti tersebut maka keluarlah bapak gadis tersebut yang bakhil itu terus memotong tangan kanan anak gadisnya sehingga putus. Semenjak dari peristiwa itu maka Allah S.W.T pun mengubah kehidupan orang kaya itu dengan menarik kembali harta kekayaannya sehingga dia menjadi seorang yang fakir miskin dan akhirnya dia meninggal dunia dalam keadaan yang paling hina.

Anak gadis itu menjadi pengemis dan meminta-minta dari satu rumah ke rumah. Maka pada suatu hari anak gadis itu menghampiri rumah seorang kaya sambil meminta sedekah, maka keluarlah seorang ibu dari rumah tersebut. Ibu tersebut sangat kagum dengan kecantikannya dan mempelawa anak gadis itu masuk ke rumahnya. Ibu itu sangat tertarik dengan gadis tersebut dan dia berhajat untuk mengawinkan anaknya dengan gadis tersebut. Maka setelah perkawinan itu selesai, maka si ibu itu pun memberikan pakaian dan perhiasan bagi menggantikan pakaiannya.

Pada suatu malam apabila sudah dihidang makanan malam, maka si suami hendak makan bersamanya. Oleh karena anak gadis itu kudung tangannya dan suaminya juga tidak tahu bahwa dia itu kudung, manakala ibunya juga telah merahasiakan tentang tangan gadis tersebut. Maka apabila suaminya menyuruh dia makan, lalu dia makan dengan tangan kiri. Apabila suaminya melihat keadaan isterinya itu dia pun berkata, "Aku mendapat tahu bahwa orang fakir tidak tahu dalam tatacara harian, oleh itu makanlah dengan tangan kanan dan bukan dengan tangan kiri."

Setelah si suami berkata demikian, maka isterinya itu tetap makan dengan tangan kiri, walaupun suaminya berulang kali memberitahunya. Dengan tiba-tiba terdengar suara dari sebelah pintu, "Keluarkanlah tangan kananmu itu wahai hamba Allah, sesungguhnya kamu telah mendermakan sepotong roti dengan ikhlas karena Ku, maka tidak ada halangan bagi-Ku memberikan kembali akan tangan kananmu itu."

Setelah gadis itu mendengar suara tersebut, maka dia pun mengeluarkan tangan kanannya, dan dia mendapati tangan kanannya berada dalam keadaan asalnya, dan dia pun makan bersama suaminya dengan menggunakan tangan kanan. Hendaklah kita sentiasa menghormati tetamu kita, walaupun dia fakir miskin apabila dia telah datang ke rumah kita maka sesungguhnya dia adalah tetamu kita. Rasulullah S.A.W telah bersabda yang bermaksud, "Barangsiapa menghormati tetamu, maka sesungguhnya dia telah menghormatiku, dan barangsiapa menghormatiku, maka sesungguhnya dia telah memuliakan Allah S.W.T. Dan barangsiapa telah menjadi kemarahan tetamu, dia telah menjadi kemarahanku. Dan barangsiapa menjadikan kemarahanku, sesungguhnya dia telah menjadikan murka Allah S.W.T."

Sabda Rasulullah S.A.W yang bermaksud, "Sesungguhnya tetamu itu apabila dia datang ke rumah seseorang mukmin itu, maka dia masuk bersama dengan seribu berkah dan seribu rahmat."

Friday, 19 May 2017

Tiga Sahabat







Dery, Ahmad dan Andra adalah tiga sahabat yang lekat semenjak mereka kuliah di jurusan arsitektur di sebuah perguruan tinggi di Kota Bandung. Setelah mereka bekerja pun, kekompakan itu masih terlihat dengan bekerjasama dalam pekerjaan paruh waktu atau kerja sampingan walau mereka bekerja di perusahaan yang berbeda. Mereka juga punya hobi sama dalam olahraga yaitu tenis lapangan, sehingga lapangan tenis bila hari minggu menjadi ramai dengan canda-canda mereka. Tiga serangkai yang sangat disukai di lingkungannya dengan gayanya yang ringan, bertanggung jawab dan sangat kooperatif dalam segala hal kebaikan. Diantara mereka bertiga, Ahmad memang kalau dilihat dari penampilan yang paling ketinggalan dari aspek kehidupan ekonominya. Dari raket yang digunakan, kaos yang dikenakan, sepatu yang dipakai sampai datang ke lapangan dengan bersepeda motor terlihat berbeda dengan kedua temannya yang sudah bermobil.

Suatu hari di lapangan tenis itu pada pertengahan tahun 2004, Andra membawa selembar kertas print out tentang sebuah lowongan untuk tenaga arsitektur dari sebuah perusahaan nasional ternama. Mereka bertiga antusias membacanya, bahkan tatkala giliran mereka untuk main pun sampai harus dipanggil, diingatkan, dan mereka tergelak oleh kelakuannya sendiri berlari mengambil raket dan bermain mencari peluh.

Beres bermain mereka berkumpul lagi, ketiganya sepakat untuk ikut tes mencoba mencari pekerjaan yang lebih baik. Pada minggu pertama mereka testing, lapangan tenis sepi dari canda mereka bertiga, mereka diberi pekerjaan rumah untuk mendisain tata letak sebuah permukiman mewah termasuk model rumah yang akan dibangun secara lengkap. Mereka dipaksa begadang selama empat hari tak diberi waktu untuk bersantai.

Ketiganya lulus saringan pertama, dari 200 peserta, menciut menjadi 50 orang saja. Tapi ketiganya dibuat geleng-geleng kepala, mereka disuruh memperbaiki desainnya dengan nyaris mengganti seluruhnya, ’….ngerjain!!!’ keluh mereka bertiga. Tahap kedua pun mereka lulus dan dilanjutkan dengan tahap ke tiga dengan tugas yang nyaris sama, perombakan total.

Pada minggu persiapan menghadapi saringan tahap ke empat Dery dan Andra memutuskan tidak mengikutinya……’gila, penerimaan karyawan, apa perploncoan….!!!’ seru mereka berdua dengan mengolok-olok Ahmad sebagai pekerja rodi. Sementara Ahmad meski merasa berat masih penasaran mengikuti saringan lanjutannya.

Hampir satu tahun sudah Ahmad tidak kelihatan bermain tenis di tempat biasa. Sampai pada hari minggu saat Dery dan Andra bermain tenis ada mobil terrano king road berhenti parkir di sekitar lapangan tenis, mobil yang tidak familiar bagi para pemain tenis disitu, dengan kaca filmnya yang gelap menambah misterius siapa yang ada di dalamnya.

Semua menanti siapa yang akan turun dari mobil mentereng itu dan mau apa dia datang ke tempat tenis. Dengan berkacamata hitam dan seperti sengaja menengahkan wajahnya dengan sedikit mengulum senyum yang menahan tawa, sosok mesterius itu memasuki lapangan. ’Geloooo…… Ahmad….maneh!!! (gila….. Ahmad….. kamu!!!)’, teriak Dery menyambut temannya dengan salam komando, sementara Andra bengong setengah tak percaya, dan kawan kawan lainnya tersenyum senang melihat Ahmad datang. Dengan berseloroh Andra bertanya, ’Lu bawa mobil bagus begitu, lu nyolong mobil di mana Mad???’. Gelak tawa pun berderai.

Ahmad pun akhirnya menjadi pendongeng kisah perjalanan yang menghilang selama satu tahun itu. Dia menceritakan bahwa saringan yang dia ikuti sampai 6 tahapan. Pada tahap keenam, dia datang dengan puncak kelesuan yang sangat, dia sudah memutuskan mundur bila ada tahapan berikutnya. Ketika gambar-gambar kerjanya mulai diserahkan, dia mulai resah bakal dicoret-coret lagi. Namun betapa pucat dirinya tatkala sang penguji itu bukan mencorat-coret, malah melemparkan gulungan gambar hasil kerja 3 hari 3 malam itu ke meja seolah mencampakannya.

Dan sang penguji yang seperti algojo itu mengajak Ahmad menemui Presiden Direktur perusahaan. Semakin membingungkan baginya, ada apa lagi, begitu pikirnya tak bisa menduga. Setelah dipertemukan dengan Presdir dan dipersilakan duduk, Presdir itu bilang, ’Kamu diterima, ini kontrak kamu silakan dibaca, kalo setuju teken’. Ahmad membacanya dan terbelalak dengan gaji hampir 10 kali lipat dari yang biasa diterima di kantor lamanya.

Ketika Ahmad membaca draft perjanjian, Sang Presdir menjelaskan filosofi ujian saringannya. ’Sebenarnya para peserta yang lolos ke saringan kedua yang jumlahnya 50 orang secara skill semua telah memadai’, serunya dengan tangan tak henti membuka buka berbagai proposal dan menandatangani beberapa surat. ’Tahapan selanjutnya hanyalah ujian kesabaran, karena perusaan besar seperti ini membutuhkan personel yang tahan uji, punya daya tahan stress yang bagus karena mereka akan bekerja dalam tekanan, ditarget waktu.

Begitu banyak orang hebat ilmunya datang dan pergi di perusahaan ini karena mereka tidak punya kesabaran dalam menjalankan pekerjaannya’, Presdir itu panjang lebar menjelaskan. ’Tugas kamu nanti adalah menjadi konsultan saya untuk memberi masukan apakah sebuah kawasan layak dikembangkan, temanya seperti apa, keunggulan apa yang harus ditonjolkan, dan konsep desainnya bagaimana’, imbuh sang Presdir memberi arahan sekaligus berharap Ahmad memahami misi kepemimpinannya.

’Lalu…. mobil itu?’ tanya Andra. ’Konsep pertamaku untuk sebuah komplek perumahan di Bali sangat memuaskan bos, setelah launching, pemesan sudah berbaris,….terus melihat gue ngantor naik bis kota, eh diberi mobil…..dikasih ndra, bukan dipinjemin?’ jelas Ahmad puas liat temennya bengong. ’trus sampe hampir setahun ini, kemana aja lu nggak nongol’ tanya Dery. ’Gue di ajak jalan jalan ke eropa, untuk memperluas wawasan arsitekturku, great trip,… dan ini oleh-oleh buat kalian yang tidak sabaran, cukup ini saja’, cerita Ahmad bangga sambil memberikan gantungan kunci dengan tertawa setengah mengolok-olok. ’Makanya sabaaar jadi orang, buahnya bakal manis…’, imbuh Ahmad kepada dua temannya seolah telah menjadi pemenang kehidupan.

Sabar memang salah satu kunci penting untuk sukses, Seseorang memerlukan kesabaran untuk sukses karena jalan kompetisi adalah jalan panjang dengan banyak energi yang harus diperas, sesuatu yang tidak bisa dijalani oleh orang-orang yang tidak memiliki daya tahan. Seseorang memerlukan kesabaran untuk sukses karena perencanaan membutuhkan ketelitian yang harus tersusun berbasis kebutuhan waktu dan keharmonisan antar elemen, sesuatu yang tidak bisa dilakoni oleh orang yang tergesa-gesa.

Kesabaran adalah tahan uji dalam menanggung tanggung jawab yang berat. Kesabaran adalah tidak tergesa gesa dalam bekerja dan telaten.

Kesabaran yang baik adalah kesabaran yang disandarkan kepada kesadaran bahwa tugas kita adalah berusaha, dan Allah yang menentukan. Kasadaran akan prinsip berserah diri dalam segala lingkup kehidupan adalah ibadah, akan memberi energi yang besar untuk terus berusaha, telaten menyusun kerincian, beramal untuk kesempurnaan dan tak putus asa manakala mendapat kegagalan.

Dengan kesabaran yang berdimensi ibadah ini, segala hasil akan memiliki nilai baginya, ketika sukses dia menggapai keberhasilan ganda dalam dimensi duniawi-ukhrawi, saat dia gagal, boleh jadi sesungguhnya dia telah menggapai kesuksesan hakiki yang bersifat ukhrawi, kerena keiklasannya untuk mendapat ridha-Nya dengan pahala tanpa batas. Bangunlah kesabaran, karena hanya orang-orang yang sabar saja yang usahanya akan berbuah manis.

” Orang-orang yang sabar disempurnakan pahalanya tanpa batas ” (Az zumar: 10).

Mempersiapkan Diri Bagi Remaja


Masa remaja merupakan masa di mana mereka mencari jati dirinya. Rasa penasaran begitu besar. Semangat yang tinggi, dimiliki pada masa ini. Ketika semangat itu bersatu dengan rasa penasarannya, maka ia akan terus berusaha memenuhi rasa penasarannya tersebut.

Rasa penasaran seorang remaja, bisa ke arah positif, bisa pula negatif. Hal positif meliputi, rasa penasaran terhadap sesuatu yang belum ia capai. Di mana pencapaian itu harus ia peroleh agar ia mendapatkan hasil baik, entah itu dalam dunia pendidikan maupun karirnya.

Tetapi, masalahnya ialah ketika ia memiliki rasa penasaran dalam hal negatif. Seperti mendekati lawan jenis, meminum khamar, menggunakan obat-obatan terlarang dan hal buruk lainnya. Pengaruh pergaulan sangat lekat dalam diri tiap remaja. Rasa penasaran itu muncul jika ada hal yang menunjukkan pada dirinya tentang hal buruk itu.

Sebagai seorang remaja, kita harus bersikap lebih cerdas. Kita harus lebih pandai dalam memilah dan memilih sesuatu. Kita harus menahan diri dari penasaran yang negatif. Sebelum mencoba sesuatu, kita harus teliti terlebih dahulu, apakah itu mengandung kebaikan ataukah sebaliknya. Jangan sampai kita menyesal di kemudian hari, hanya karena salah dalam menyikapi rasa penasaran itu.

Kita harus tahu bahwa masa muda itu merupakan masa penentuan. Di mana, masa muda ini menjadi salah satu pertanyaan yang akan ditanyakan di alam kubur. Sebagaimana tercantum dalam sabda Rasulullah Saw, “Tidak akan bergeser kedua kaki anak Adam di hari kiamat dari sisi Rabb-Nya, hingga dia ditanya tentang lima perkara (yaitu): tentang umurnya untuk apa ia habiskan, tentang masa mudanya untuk apa ia gunakan, tentang hartanya dari mana ia dapatkan, dan dalam hal apa (hartanya tersebut) ia belanjakan serta apa saja yang telah ia amalkan dari ilmu yang dimilikinya,” (HR. At-Tirmidzi no. 2416, Ath-Thabrani dalam Al-Mu’jam al-Kabir, jilid 10, hal 8, no. 9772 dan hadis ini telah dihasankan oleh Syaikh Albani dalam Silsilah al-Ahadits ash-Shahihah no. 946).

Oleh sebab itulah, selagi masih muda, gunakanlah kesempatan itu dengan hal-hal baik. Jadilah pemuda yang penuh dengan kreativitas dan mampu membuat bangga keluarga. Jangan abaikan masa muda. Sebab, masa muda bukanlah waktu untuk bersenang-senang. Melainkan, masa di mana kita harus berjuang demi masa tua yang lebih baik. Dengan begitu, insyaAllah kita pun akan mudah menjawab pertanyaan di alam kubur dengan hal-hal yang baik, sehingga menyelamatkan diri kita dari siksa kubur. Wallahu ‘alam.

Wednesday, 17 May 2017

Membentengi Hati Dari Sifat Iri









Pada zaman Rasulullah ada sahabat yang bernama Saad bin Abi Waqqash. Ia dijamin masuk surga oleh Rasulullah karena hatinya merdeka dari rasa iri dan dengki.

Suatu ketika, dalam sebuah majelis Rasulullah saw berkata pada sahabatnya, "Di pintu ini akan masuk seorang ahli surga."

Sahabat yang bernama Abdullah bin Amr berkata, "Tidak ada seorang pun di antara kita yang tidak ingin masuk surga."

Tak lama kemudian, masuklah seseorang melalui pintu yang telah diisyaratkan. Sahabat tersebut bernama Saad bin Abi Waqqash. Kejadian itu terulang hingga tiga kali. Abdullah bin Amr penasaran. Apa keistimewaan Saad hingga dikatakan sebagai ahli surga? Abdullah mencari jalan agar bisa menginap di rumah Saad untuk mengetahui sehebat apa ibadahnya.

"Saya berjanji kepada ayah saya untuk tidak pulang selama tiga hari hari karena telah membuat beliau murka. Bolehkah saya menginap di rumahmu sampai tiga hari agar janji saya terpenuhi?" tanya Abdullah beralasan.

Saad mempersilakan dengan senang hati. Selama tiga hari di rumah Saad, Abdullah bin Amr tidak melihat kelebihan ibadah yang dilakukan Saad. Semua biasa-biasa saja. Ia tidur dan shalat seperti kaum muslimin pada umumnya.

Abdullah pun lantas membuka rahasia, "Aku dan ayahku sebenarnya tidak ada apa-apa. Aku hanya ingin mengetahui bagaimana ibadah yang engkau lakukan hingga Rasulullah saw tiga kali menyebutkan bahwa ada seorang penghuni surga dalam majelisnya. Aku ingin mendapat kedudukan sepertimu. Namun, selama tiga hari ini aku tidak mendapatimu berbuat sesuatu yang istimewa. Apa rahasianya?"

Semula Saad menjawabnya, "Tidak ada yang lebih baik daripada yang kamu lihat."

Sesaat kemudian Abdullah berpamitan. Namun, langkahnya terhenti ketika Saad memanggilnya, "Sahabatku, aku tidak memiliki rasa dengki. Aku tidak pernah berbuat jahat dan berkata buruk kepada siapa pun."

Abdullah bin Amr pun puas. Itulah yang menjadikan Saad dirindukan oleh surga.

Dari Abdullah bin Amr bin Ash ra, Rasulullah saw, pernah ditanya, "Siapakah orang yang paling utama?" Beliau menjawab, "Setiap orang yang bersi hatinya dan benar ucapannya." Para sahabat berkata, "Orang yang benar ucapannya telah kami pahami maksudnya. Lantas apakah yang dimaksud dengan orang yang bersih hatinya?" Rasulullah menjawab, "Dia adalah orang yang bertakwa (takut) kepada Allah, yang suci hatinya, tidak ada dosa dan kedurhakaan di dalamnya serta tidak ada pula dendam dan hasad." (HR. Ibnu Majah dan Thabrani)

Rasulullah saw mengingatkan, "Janganlah kalian saling hasad (iri), janganlah kalian saling membenci, janganlah kalian saling membelakangi (saling mendiamkan). Jadilah kalian bersaudara, wahai hamba Allah." (HR. Bukhari dan Muslim)

Tuesday, 16 May 2017

Halal Untukku Haram Untukmu








Cerita dari : Ulama Abu Abdurrahman Abdullah Bin Al-Mubarak Al Hanzhali Al Marwazi 
Ulama terkenal di Makkah.

Suatu ketika, setelah selesai menjalani salah satu ritual haji, ia beristirahat dan tertidur.
Dalam tidurnya ia bermimpi melihat dua malaikat yg turun dari langit. Ia mendengar percakapan mereka :

“Berapa banyak yg datang tahun ini?” tanya malaikat kepada malaikat lainnya.

“Tujuh ratus ribu,” jawab malaikat lainnya.

“Berapa banyak mereka yg ibadah hajinya diterima?”

“Tidak satupun”

Percakapan ini membuat Abdullah gemetar.

“Apa..?”  ia menangis dalam mimpinya. 

“Semua orang-orang ini telah datang dari belahan bumi yg jauh, dengan kesulitan yg besar dan keletihan di sepanjang perjalanan, berkelana menyusuri padang pasir yang luas, dan semua usaha mereka menjadi sia-sia?”

Sambil gemetar, ia melanjutkan mendengar cerita kedua malaikat itu.

"Namun ada seseorang, yg meskipun tidak datang menunaikan ibadah haji, tetapi ibadah hajinya diterima dan seluruh dosanya telah diampuni. Berkat dia seluruh haji mereka diterima oleh Allah.”

“Kok bisa”

“Itu Kehendak Allah”

“Siapa orang tersebut?”

“Sa’id bin Muhafah tukang sol sepatu di kota Damsyiq Damaskus”

Mendengar ucapan itu, ulama itu langsung terbangun, Sepulang haji, ia tidak langsung pulang kerumah, tapi langsung menuju kota Damaskus, Siria. Sampai disana ia langsung mencari tukang sol sepatu yang disebut Malaikat dalam mimpinya. Hampir semua tukang sol sepatu ditanya, apa memang ada tukang sol sepatu yg namanya Sa’id bin Muhafah.

“Ada, di tepi kota” Jawab salah seorang sol sepatu sambil menunjukkan arahnya.

Sesampai disana ulama itu menemukan tukang sepatu yg berpakaian lusuh,

“Benarkah anda bernama Sa’id bin Muhafah?” tanya Ulama itu

“Betul, siapa tuan?”

“Aku Abdullah bin Mubarak”

Said pun terharu, "bapak adalah ulama terkenal, ada apa mendatangi saya?”

Sejenak Ulama itu kebingungan, dari mana ia memulai pertanyaanya, akhirnya ia pun menceritakan perihal mimpinya.

“Saya ingin tahu, adakah sesuatu yang telah anda perbuat, sehingga anda berhak mendapatkan pahala haji mabrur?”

“Wah saya sendiri tidak tahu!”

“Coba ceritakan bagaimana kehidupan anda selama ini."

Maka Sa’id bin Muhafah bercerita.
“Setiap tahun, setiap musim haji, aku selalu mendengar :
Labbaika Allahumma labbaika. Labbaika la syarika laka labbaika. Innal hamda wanni’mata laka wal mulka. laa syarika laka.
Ya Allah, aku datang karena panggilanMu. 
Tiada sekutu bagiMu. 
Segala ni’mat dan puji adalah kepunyaanMu dan kekuasaanMu. Tiada sekutu bagiMu.
Setiap kali aku mendengar itu, aku selalu menangis
Ya allah aku rindu Mekah. 
Ya Allah aku rindu melihat kabah. 
Ijinkan aku datang…..
Ijinkan aku datang ya Allah..

Oleh karena itu, sejak puluhan tahun yang lalu setiap hari saya menyisihkan uang dari hasil kerja saya, sebagai tukang sol sepatu.

Sedikit demi sedikit saya kumpulkan. Akhirnya pada tahun ini, saya punya 350 dirham, cukup untuk saya berhaji.

“Saya sudah siap berhaji”

“Tapi anda batal berangkat haji”

“Benar”

“Apa yang terjadi?”

“Istri saya hamil, dan sering ngidam. 

Waktu saya hendak berangkat . hari itu dia ngidam berat”

“Suami ku, engkau mencium bau masakan yang nikmat ini?

“ya sayang”

“Cobalah kau cari, siapa yang masak sehingga baunya nikmat begini. Mintalah sedikit untukku”

"Ustadz, sayapun mencari sumber bau masakan itu.  Ternyata berasal dari gubuk yang hampir runtuh. Disitu ada seorang janda dan enam anaknya. Saya bilang padanya bahwa istri saya ingin masakan yang ia masak, meskipun sedikit. Janda itu diam saja memandang saya, sehingga saya mengulangi perkataan saya. Akhirnya dengan perlahan ia mengatakan :

“tidak boleh tuan”

“Dijual berapapun akan saya beli”

“Makanan itu tidak dijual, tuan” katanya sambil berlinang mata.

Akhirnya saya tanya kenapa?

Sambil menangis, janda itu berkata “daging ini halal untuk kami dan haram untuk tuan” katanya.

Dalam hati saya: Bagaimana ada makanan yang halal untuk dia, tetapi haram untuk saya, padahal kita sama-sama muslim?

Karena itu saya mendesaknya lagi “Kenapa?”

“Sudah beberapa hari ini kami tidak makan. Dirumah tidak ada makanan. Hari ini kami melihat keledai mati, lalu kami ambil sebagian dagingnya untuk dimasak. Bagi kami daging ini adalah halal, karena andai kami tak memakannya kami akan mati kelaparan. Namun bagi Tuan, daging ini haram".

Mendengar ucapan tersebut spontan saya menangis, lalu saya pulang.
Saya ceritakan kejadian itu pada istriku, diapun menangis, kami akhirnya memasak makanan dan mendatangi rumah janda itu.

“Ini masakan untuk mu”

Uang peruntukan Haji sebesar 350 dirham pun saya berikan pada mereka.

”Pakailah uang ini untuk mu sekeluarga.
Gunakan untuk usaha, agar engkau tidak kelaparan lagi”

Ya Allah……… disinilah Hajiku
Ya Allah……… disinilah Mekahku.
Mendengar cerita tersebut Abdullah bin Mubarak
tak bisa menahan air mata.

Kisah ini memberi hikmah, bahwa membantu orang disekitar kita bisa jadi sama nilainya dengan pergi Haji di mata Allah.
Buat yang akan naik haji .... 
atau yang sudah berhaji...
Saudaraku ............Ingat ...
Ada dua yang tidak kekal dalam diri manusia ! 
Yakni : Masa Muda dan Kekuatan Fisiknya.
Jangan Lupa ... Ada dua juga yang akan bermanfaat bagi semua orang 
Yakni : Budi Pekerti yang luhur serta Jiwa yang ikhlas memaafkan.
Perhatikan .. Ada dua pula yang akan mengangkat derajat kemulian manusia 
Yakni : Rendah hati dan suka meringankan beban hidup orang lain.
Dan ada dua yang akan menolak datangnya bencana 
Yakni : Sedekah serta menjalin hubungan silaturrahim. Semoga kita menjadi orang orang yang dimuliakan Allah SWT Aamiiin.