Telp. 0265-2351868 | WA 0878 8555 4556 | BBM 5AE49B09

Kisah Inspiratif

Smart Family

Tafakur

Terbaru

Friday, 22 September 2017

Mengapa Harus Bersabar?


Allah SWT berfirman,
"Sesungguhnya hanya orang-orang yang bersabar yang dicukupkan pahala mereka tanpa batas." (QS. Az-Zumar: 10)

Rasulullah saw juga bersabda,
"Besarnya pahala itu sesuai dengan besarnya cobaan dan kuatnya kesabaran." (HR. Tirmizi)

Firman Allah dan hadits Nabi di atas adalah penjelasan singkat tentang manfaat sabar, yaitu agar dikaruniai pahala oleh Allah SWT. Manfaat yang lain adalah mendapatkan ridha dari-Nya, sebagaimana haits Nabi berikut.

"Sesungguhnya apabila Allah mencintai suatu kaum, ia menguji mereka. Barangsiapa rela dengan ujian itu, ia mendapatkan ridha-Nya, dan barangsiapa tidak rela, ia mendapatkan kebencian-Nya." (HR. Tirmidzi)

Orang yang sabar juga akan mendapatkan kesuksesan, baik di dunia maupun di akhirat. Oleh sebab itu, sabar merupakan modal utama untuk menjalani kehidupan sehari-hari dan meraih sesuatu yang dicita-citakan.

Tuesday, 19 September 2017

Seorang Nenek Dan Amal Sholeh








Pada suatu hari ada seorang nenek tua yang memiliki 3 orang anak. Anak pertama bernama Harben, Harben adalah anak yang paling disenangi oleh si nenek tersebut. setiap hari dia selalu diperhatikan oleh si nenek tersebut. dan anak yang kedua bernama Anis, Anis merupakan anak yang juga disenangi oleh si nenek tersebut. akan tetapi, Anis masih kalah dengan Harben soal dicintai sang nenek. Dan yang terakhir anak yang selalu di benci oleh sang nenek yaitu Amsol. Amsol adalah anak yang setiap hari selalu di benci dan tidak di sukai oleh sang nenek.

Suatu hari sang nenek sedang menghadapi suatu masalah dan harus membuatnya berada di pengadilan. Dan waktu itu juga sang nenek yang ketakutan akan proses penyidangan tersebut akhirnya sang nenek meminta bantuan kepada seluruh anaknya. Sang nenek menyuruh anak yang paling di sayanginya yaitu harben. Dia pun berkata, “wahai harben, maukah engkau menemaniku di persidangan nanti ?”, kemudian harben pun menjawab,”wahai ibuku, bukanya aku tak mau, tapi aku tak bisa menemanimu ibu”. Sang nenek itu pun kecewa kepada Harben.

Kemudian ia meminta tolong kepada anaknya yang kedua yang juga di senangi yaitu Anis. Nenek pun berkata,”wahai anakku tersayang  Anis, maukah engkau menemaniku di persidangan nanti ?”. dan sang anak pun menjawab, “oh, ibuku tercinta bukanya aku tak mau untuk menemanimu, akan tetapi kau akan ku temani , tetapi hanya sampai diluar pesidangan saja. Soalnya saya takut dengan bapak hakim”. Dan untuk kesekian kalinya sang nenek itu kecewa dengan anaknya. “terus saya akan pergi bersama siapa kelak dipersidangan ?”, tanya si nenek dalam hati.

Kemudian datanglah anak yang paling dibenci oleh sang nenek yaitu Amsol. Dengan gagah berani  Amsol berkata pada sang ibunya, “wahai ibuku tercinta, meskipun engkau membenciku, aku akan tetap di sampingmu terus dan aku akan selalu menjagamu dari segala rintangan apapun, dan aku akan menemanimu di persidangan nanti hingga persidangan selesai”. Dengan perasaan kaget dan terkejut terhadap anaknya yang berani yang meski selalu di bencinya, akhirnya sang nenek pun pergi ke persidangan dengan Amsol yang menemaninya hingga tuntas permasalahannya.

Kesimpulan yang dapat diambil yaitu sang nenek yang menghadapi persidangan adalah seseorang  yang mati dan akan dipersidangkan amal dan perbuatannya oleh Allah swt. Dan harben adalah singkatan dari harta benda, harta benda yang disukai oleh siapapun orang itu akan tetapi jikalau kita meninggal harta benda tidak akan menemani kita di akhirat kelak. Dan yang kedua adalah anis atau anak istri, anak istri juga disukai oleh siapapun orang itu akan tetapi jikalau kita meninggal anak istri hanya akan menemani kita hanya sampai liang kubur maka anak istri akan kembali pulang. Kemudian yang terakhir adalah amsol yaitu amal sholeh, yang selalu di terakhirkan di urusan duniawi ini dan yang selalu diabaikan tidak pernah dicarinya akan tetapi jikalau kita meninggal maka amal sholehlah yang akan selalu menemani kita di akhirat kelak dan akan selalu terus menemani.”

Dan ayat tentang perintah amal shaleh :

SURAT AL-BAQARAH (2) Ayat 62

إِنَّ الَّذِينَ آمَنُواْ وَالَّذِينَ هَادُواْ وَالنَّصَارَى وَالصَّابِئِينَ مَنْ آمَنَ بِاللَّهِ وَالْيَوْمِ الآخِرِ وَعَمِلَ صَالِحاً فَلَهُمْ أَجْرُهُمْ عِندَ رَبِّهِمْ وَلاَ خَوْفٌ عَلَيْهِمْ وَلاَ هُمْ يَحْزَنُونَ

[Sesungguhnya orang-orang beriman, orang-orang Yahudi, orang-orang Nasrani dan orang-orang Shabiin, siapa saja di antara mereka yang benar-benar beriman kepada Allah, hari kemudian dan beramal saleh, mereka akan menerima pahala dari Tuhan mereka, tidak ada kekhawatiran terhadap mereka, dan tidak (pula) mereka bersedih hati.]

Friday, 15 September 2017

Bukan Alasan Tidak Bersedekah












Saudaraku, meski berada dalam keadaan miskin dan serba kekurangan, bukan berarti kita boleh berhenti melakukan kebaikan terhadap sesama. Membantu orang lain adalah kewajiban dalam situasi apa pun. Allah SWT memberikan pahala 10 hingga 700 kali lipat banyaknya untuk setiap kebaikan yang kita kerjakan. Allah berfirman,

"Barangsiapa datang dengan (membawa) satu kebaikan maka baginya (pahala) sepuluh kali lipat." (QS. Al-An'am: 160).

Ada sebuah kisah menarik tentang sedekah. Dalam perjalanan menuju Mekah untuk beribadah haji, Abdullah bin Mubarak, ulama masyhur pada abad ke 12, singgah di Kota Kufah, Irak. Di tempat tersebut, ia melihat seorang wanita sedang mencabuti bulu itik di tempat sampah. Ulama itu tahu bahwa itik tersebut sudah mati dan menjadi bangkai. Ia kemudian bertanya kepada seorang wanita, "Apakah itik ini bangkai? Atau, ia sudah disembelih?"

Wanita itu menjawab dengan tegas bahwa hewan tersebut adalah bangkai namun ia tetap mengambilnya untuk dimakan bersama keluarganya. Karena tak ingin hal itu menimbulkan kemudaratan kepada wanita tersebut dan keluarganya, Ibnu Mubarak bertanya, "Bukankah Nabi mengharamkan bangkai bagi kita?" Wanita itu tetap pada pendiriannya. Ia bahkan membentak Ibnu Mubarak dan menyuruhnya meninggalkan dirinya."Sudah, pergi saja kau dari sini!" hardik wanita itu.

Ibnu Mubarak bertahan dan terus bertanya kepada wanita itu, hingga akhirnya wanita tersebut membuka rahasia. "Aku mempunyai anak-anak yang masih kecil. Mereka sudah tiga hari tidak makan. Aku terpaksa memberi mereka bangkai ini," wanita itu bertutur. Mendengar jawaban tersebut, Ibnu Mubarak mengambil makanan dan pakaian miliknya yang ia angkut di punggung keledainya. Ia kembali kepada wanita itu dan berkata, "Ini uang, pakaian, dan makanan. Ambillah berikut keledai dan segala yang ada padanya!"

Ibnu Mubarak akhirnya tinggal di kota itu karena bekalnya tidak cukup untuk mengantarkannya ke Mekah hingga musim haji berakhir. Akhirnya, ketika orang-orang yang menunaikan haji pulang kembali ke negeri mereka, Ibnu Mubarak ikut pulang. Setibanya di kampung halaman, orang-orang datang kepadanya sambil mengucapkan selamat karena telah menunaikan haji. Ibnu Mubarak menjawab dengan jujur, "Tahun ini aku tidak jadi naik haji."

Seorang perempuan yang hadir di antara orang-orang itu berkata, "Subhanallah, bukankah aku menitipkan uangku kepadamu, lalu aku ambil kembali di Arafah?" Orang lain yang juga ada di tempat tersebut berkata, "Bukankah Anda yang memberi munum saya di sana?" "Bukankah Anda yang membelikanku ini dan itu?" terdengar suar dari orang yang berbeda.

Ibnu Mubarak bingung. "Aku tidak mengerti apa yang kalian katakan, sebab aku tidak jadi naik haji tahun ini," ujarnya. Orang-orang yang merasa bertemu dengan Ibnu Mubarak di Tanah Suci tentu bingung, sebab mereka yakin tidak salah orang. Malam harinya, saat sedang terlelap tidur, Ibnu Mubarak bermimpi mendengar suara gaib menyapanya. "Hai Abdullah! Sesungguhnya Allah telah menerima sedekahmu dan mengutus seorang malaikat yang menyerupaimu untuk melaksanakan haji sebagai ganti bagi dirimu.

Subhanallah. Kisah di atas membuktikan bahwa orang yang bersedekah tidak perlu khawatir kehilangan atau kekurangan. Sebab, Allah telah menciptakan ganti yang lebih baik. Oleh karena itu, sebuah hadits menyatakan bahwa sedekah sejatinya tidak sedikitpun mengurangi harta pelakunya, tapi justru menambahnya hingga berkali-kali lipat.

Thursday, 14 September 2017

Kisah Kesabaran Nabi Ayub







Jika ingin mengetahui bagaimana seharusnya kita bersabar, contoh yang paling tepat untuk kita teladani adalah Nabi Ayub as. Beliau dikenal sebagai sosok manusia yang paling sabar, bahkan bisa dikatakan kesabaran beliau berada di titik paling puncak. Itu sebabnya, wajar kalau banyak orang yang menisbatkan sifat sabar kepada Nabi Ayub as. Beliau menjadi simbol sekaligus teladan dalam hal kesabaran.

"Sesungguhnya Kami dapati dia (Ayub) seorang yang sabar. Dialah sebaik-baik hamba Sesungguhnya dia amat taat (kepada Tuhannya)." (QS. Shad: 44)

Nabi Ayub adalah orang yang hatinya selalu ingat kepada Allah. Ia senantiasa berzikir, bersyukur, dan bersabar terhadap apa yang Allah berikan kepadanya. Kesabarannya mendatangkan keselamatan dan pujian dari Allah.

Nabi Ayub adalah hamba yang saleh. Namun, Allah mengujinya dengan harta, keluarga, dan penyakit. Hartanya musnah hingga ia menjadi orang fakir. Padahal, sebelumnya ia adalah orang yang kaya raya. Ia ditinggal oleh istri dan keluarganya sehingga ia tak memiliki teman untuk menjalani sisa hidupnya. Ia juga menderita penyakit kulit yang sangat parah. Meski diberi cobaan sedemikian rupa, Nabi Ayub bersabar menghadapi semua itu dan tetap bersyukur kepada Allah.

Sakit yang diderita Nabi Ayub berlangsung sangat lama. Waktu itu, Nabi Ayub merasakan tiga penderitaan sekaligus, yaitu rasa sakit, kesedihan, dan kesendirian. Saat mendapat cobaan tersebut, setan berbisik ditelinganya, "Wahai Ayub, penyakit dan penderitaan yang kau rasakan itu karena ulahku. Kalau kau mau berhenti bersabar satu hari saja, penyakitmu akan hilang."

Dalam keadaan yang sangat memprihatinkan itu, orang-orang di sekitar Nabi Ayub juga menggunjingkannya. Mereka berkata bahwa jika memang Allah mencintai Nabi Ayub, mengapa ia mendapat penderitaan yang begitu hebat. Karena kurang sabar dalam merawat suaminya, istri Nabi Ayub akhirnya jugapergi meninggalkannya. Nabi Ayub lalu bersumpah, jika istrinya kembali, ia akan menghukumnya dengan seratus kali pukulan.

Bisikan setan terus berputar-putar di kepala Nabi Ayub, namun ia sanggup menepisnya. "Keluarlah, hai setan!" ujarnya, "Sungguh, aku tidak akan berhenti bersabar, bersyukur dan beribadah." Karena keteguhan hati Nabi Ayub, setelah lama-lama putus asa. Bisikan-bisikan jahat yang ia dengungkan di kepala dan hati insan pilihan itu pun mereka hentikan. Nabi Ayub tentu arah kepada setan karena berani mengganggunya. Ia lalu merenungkan keadaanya. Boleh jadi setan berani menggodanya dengan memanfaatkan kesendirian, penderitaan, dan penyakitnya.

Pada suatu hari yang cerah, Nabi Ayub berdoa kepada Allah swt. Ia mengadu kepada Allah karena terus menerus diganggu oleh setan. Peristiwa ini direkam dalam ayat berikut: 

"Dan ingatlah akan hamba Kami Ayyub ketika dia menyeru Tuhannya, "Sesungguhnya aku diganggu setan dengan penderitaan dan bencana.(Allah berfirman), "Hentakkanlah kakimu; inilah air yang sejuk untuk mandi dan untuk minum.Dan Kami anugerahi dia (dengan mengumpulkan kembali) keluarganya dan Kami lipat-gandakan jumlah mereka sebagai rahmat dari Kami dan pelajaran bagi orang-orang yang berpikiran sehat. an ambillah seikat (rumput) dengan tanganmu, lalu pukullah dengan itu dan janganlah engkau melanggar sumpah. Sesungguhnya Kami dapati dia (Ayyub) seorang yang sabar. Dialah sebaik-baik hamba. Sungguh, dia sangat taat (kepada Allah)."

Allah memerintahkan Nabi Ayub mandi di sebuah mata air di gunung dan meminum airnya. Ia melaksanakan perintah itu. Tak lama kemudian, ia sembuh dari penyakitnya. Allah pun memberinya limpahan kasih sayang sehingga ia kembali mendapatkan kekayaan yang berlimpah dan kemuliaan yang sangat tinggi.

Untuk memenuhi sumpahnya dan agar tidak menyakiti istrinya, Nabi Ayub diperintahkan oleh Allah untuk mengumpulkan seikat tangkai bunga Raihan yang berjumlah seratus buah. Ikatan tangkai bunga itu lalu digunakan untuk memukul istrinya sebanyak satu kali pukulan. Dengan demikian, ia telah memenuhi sumpahnya dan tidak ingkar kepada Allah. Itulah rahmat lain dari Allah yang diterimanya.

Nabi Ayub memberi pelajaran kepada kita bahwa sabar memang bukan sesuatu yang mudah. Tetapi, jika kita sadar bahwa Allah senantiasa bersama kita selama kita mau bersabar, semua ujian dan cobaan akan mudah kita lewati. Hati kita akan tenang, tidak bergejolak karena gelisah yang tak berkesudahan. Allah pun akan memberi balasan kepada kita dengan kebahagiaan yang berlipat ganda.

Tuesday, 12 September 2017

Rontoknya Sebuah Kepercayaan








Suatu hari seorang raja kembali ke istana setelah bepergian. Beliau sampai di istana pada waktu malam yang saat itu sangat dingin. Di pintu gerbang istana, raja melihat seorang penjaga yang dalam keadaan lemah dan hanya berpakaian pakaian yang tipis. Raja mendekat dan berkata, "Apa engkau tidak merasa kedinginan?"

Penjaga itu menjawab: "Ya, saya merasakan dingin yang sangat, akan tetapi aku tidak mempunyai baju yang tebal, karena dari itu saya tahan dingin yang menusuk tulang ini."

Raja kemudian berkata, "Baiklah, saya akan masuk ke istana dan menyuruh salah satu pegawai untuk mengantarkan baju tebal untuk melindungi dari dinginnya malam ini."

Mendengar janji itu, penjaga merasa sangat gembira. akan tetapi setelah masuk istana, raja lupa dengan janjinya tersebut. Setelah waktu fajar tiba, penjaga itu didapati meninggal dunia. Penjaga itu mati kedinginan. Dan disamping penjaga terdapat secarik kertas yang ditujukan kepada Sang Raja.

Secarik kertas tersebut berisi, "Wahai raja, setiap malam yang sangat dingin ini, aku tahan-tahan sehingga aku kuat, akan tetapi janji anda untuk memberikan pakaian tebal menyebabkan rontoknya kekuatan dariku sehingga membunuhku." 

Janji terhadap seseorang seringkali memberikan harapan yang tinggi kepadanya, lebih besar dari yang dibayangkan oleh pemberi janji. Kita tidak tahu harapan besar yang roboh dari orang yang diberi janji karena adanya ingkar janji.

Wakaf Pembangunan Asrama Putra



Sesungguhnya ALLAH akan selalu menolong seorang hamba selama dia gemar menolong saudaranya. (HR. Muslim)

Saat ini ada 150 santri putra yang berada di Rumah Yatim Indonesia, yang merupakan anak yatim dan kaum dhuafa, saat ini mereka tidur di beberapa ruangan yang tersedia di area Pondok Rumah Yatim Indonesia, dan kondisi ruangan serta perlengkapan tidur dan belajar yang belum dapat dikatakan layak untuk aktifitas istirahat dan menuntut ilmu.

Alhamdulillaah, Pembangunan Asrama Putra Rumah Yatim Indonesia akan segera dilaksanakan dengan luas 22 x 30 meter, sehingga 150 santri putra yang menginap dapat beristirahat serta belajar dengan baik.

Untuk itu kami mengetuk hati para dermawan dan donatur sekalian untuk memberikan bantuan dalam pembangunan Asrama Putra Rumah Yatim Indonesia yang membutuhkan dana sebesar Rp. 3.000.000.000,- (Tiga Miliar Rupiah) yang akan digunakan untuk pembangunan fisik di luas area 22 x 30 meter serta membeli perlengkapan tidur dan belajar.

Sahabat, mereka sangat membutuhkan Pendidikan dan Pembinaan, tak mungkin kita Tolak, inilah Proyek Amal Sholeh kita bersama yang akan menjamin KESELAMATAN kita Dunia Akhirat.
Apa yang ada di tangan kita PASTI LENYAP pada saatnya dan apa yang kita persembahkan untuk Allah dan untuk menolong Agama Allah melalui Pembinaan Generasi dan Ummat ini DIJAMIN PASTI KEKAL dan akan jadi ASET PENYELAMAT kita.

Pastikan kita semua terlibat dalam Program WAKAF ASRAMA YATIM DHUAFA DAN PENGHAFAL QUR'AN, paket Wakaf mulai Rp.100.000,- sampai batas kemampuan kita.

Caranya : 
Transfer Dana Wakaf, lalu Ketik " BISMILLAH, NAMA, NIAT WAKAF ASRAMA YATIM, DHUAFA DAN PENGHAFAL QUR'AN = Rp. ............ KARENA ALLAH SWT, UNTUK SARANA PENDIDIKAN YATIM, DHUAFA DAN PENGHAFAL QUR'AN ", lalu Kirim Ke 081394055565 (SMS) - 087885554556 (WA) - 5AE49B09 (BBM).

Semoga Allah ‎SWT memberkahi harta-harta kita semua, khususnya bagi yang ikut membantu pembangunan ini,

Hormat Kami, 
Wawan Ismawan
(Ketua Harian Rumah Yatim Indonesia)
Hp: 085777772310

Alamat: Jl Bandung Blok II No 140 Perumnas Kotabaru Cibeureum Tasikmalaya Tlp 0265-2351868


Wednesday, 6 September 2017

Kisah Abu Hanifah Dan Seorang Pemalas














Suatu hari ketika Imam Abu Hanifah sedang berjalan-jalan melalui sebuah rumah yang jendelanya masih terbuka, terdengar olehnya suara orang yang mengeluh dan menangis tersedu- sedu. Keluhannya mengandungi kata-kata, "Aduhai, alangkah malangnya nasibku ini, agaknya tiada seorang pun yang lebih malang dari nasibku yang celaka ini. Sejak dari pagi belum datang sesuap nasi atau makanan pun di kerongkongku sehingga seluruh badanku menjadi lemah lunglai. Oh, adakah seseorang yang berbelas kasihan yang sudi memberi curahan air walaupun setetes."

Mendengar keluhan itu, Abu Hanifah merasa kasihan lalu beliau pun balik ke rumahnya dan mengambil bungkusan hendak diberikan kepada orang itu. Sesampainya Abu Hanifah ke rumah orang yang mengeluh tersebut, dia terus melemparkan bungkusan yang berisi uang kepada orang yang malang tersebut. Kemudian Abu Hanifah meneruskan perjalanannya.

Si malang berasa terkejut setelah mendapati sebuah bungkusan yang tidak diketahui dari mana datangnya, lantas ia tergesa-gesa membukanya. Setelah dibuka, nyatalah bungkusan itu berisi uang dan secarik kertas yang bertulis, "Hai manusia, sungguh tidak patut kamu mengeluh seperti itu, kamu tidak pernah atau perlu mengeluh atas peruntungan nasibmu. Ingatlah kepada kemurahan Allah dan cobalah memohon kepada-Nya dengan bersungguh-sungguh. Jangan suka berputus asa, hai kawan, tetapi berusahalah terus."

Pada keesokan harinya, lmam Abu Hanifah melalui lagi rumah orang malang tersebut dan suara keluhan kembali terdengar, "Ya Allah Tuhan Yang Maha Belas Kasihan dan Pemurah, sudilah kiranya memberikan bungkusan lain seperti kemarin,sekedar untuk menyenangkan hidupku yang melarat ini. Sungguh jika Tuhan tidak beri, akan lebih sengsaralah hidupku, wahai penentu nasibku."

Mendengar keluhan itu lagi, maka Abu Hanifah pun lalu melemparkan lagi bungkusan berisi uang dan secarik kertas dari luar jendela itu, lalu dia pun meneruskan perjalanannya. Si Malang yang juga orang yang malas tersebut gembira mendapat bungkusan itu. Lantas terus membukanya.

Seperti kemarin, di dalam bungkusan itu ada secarik kertas. Selanjutnya Si Malas membaca tulisan tersebut yang berbunyi, "Hai kawan, bukan begitu cara memohon, bukan demikian cara berikhtiar dan berusaha. Perbuatan demikian ‘malas’ namanya. Putus asa kepada kebenaran dan kekuasaan Allah. Sungguh tidak ridha Tuhan melihat orang pemalas dan putus asa, enggan bekerja untuk keselamatan dirinya. Jangan.. ..jangan berbuat demikian. Hendak senang mesti suka pada bekerja dan berusaha karena kesenangan itu tidak mungkin datang sendiri tanpa dicari atau diusahakan. Orang hidup tidak perlu atau disuruh duduk diam tetapi harus bekerja dan berusaha. Allah tidak akan perkenankan permohonan orang yang malas bekerja. Allah tidak akan mengkabulkan doa orang yang berputus asa. Sebab itu, carilah pekerjaan yang halal untuk kesenangan dirimu. Berikhtiarlah sedapat mungkin dengan pertolongan Allah. Insya Allah, akan dapat juga pekerjaan itu selama kamu tidak berputus asa. Nah... carilah segera pekerjaan, saya doakan lekas berkerja."
Setelah selesai surat itu, si malas termenung, dia insaf tn sadar akan kemalasannya yang selama ini dia tidak suka :rikhtiar dan berusaha.

Pada keesokan harinya, dia pun keluar dari rumahnya ituk mencari pekerjaan. Sejak dari hari itu, sikapnya pun ;rubah mengikut peraturan-peraturan hidup (Sunnah jhan) dan mengikuti segala nasihat Abu Hanifah yang di- mpaikan melalui secarik kertas.

Dalam Islam tidak ada istilah pengangguran, istilah i hanya digunakan oleh orang yang berakal sempit. Islam engajar kita untuk terus bekerja dan bukan mengajar kita ituk meminta-minta di tepi jalan.