Telp. 0265-2351868 | WA 0878 8555 4556 | BBM 5AE49B09

Kisah Inspiratif

Smart Family

Tafakur

Terbaru

Friday, 22 March 2019

Restu Dan Kasih Ibu










Hari itu, saya menggunakan jasa taxi, Blue Bird. Begitu saya naik taxi sang driver menyapa dengan kata-kata yang lembut dan bahasa tubuh yang mengesankan.  Semakin saya ajak ngobrol, saya semakin “jatuh cinta” dengan driver itu. Dalam hati saya bergumam, “Pasti ada sesuatu di dalam diri driver ini sehingga pribadinya begitu mempesona. Saya ingin banyak belajar dengan driver ini.”

Agar punya kesempatan yang lebih luas untuk ngobrol, driver ini saya ajak makan siang di salah satu restoran kesukaan saya di Bogor. Awalnya dia menolak, tetapi setelah saya “paksa” akhirnya ia bersedia menemani saya.

Ketika saya tanya mau pesan apa, dia menjawab, “Terserah bapak.” Driver itu saya pesankan menu sama persis dengan pesanan saya: Sate kambing tanpa lemak dan sop kambing, masing-masing satu mangkok.

Sebelum makan saya bertanya, “Tinggal dimana?” Dia menjawab, “Balaraja Tangerang.”

“Berapa jam perjalanan ke pool?” sambung saya.

Diapun menjawab, “Empat jam.” Saya terkejut, “Hah! Empat jam? Pergi pulang delapan jam. Kenapa gak nginep saja di pool?” Dia segera menjawab, “Saya harus menjaga ibu saya.”

“Menjaga ibu?” batinku. Bagaimana mungkin menjaga ibu, sampai rumah jam 23.30 berangkat kerja jam 03.30 dini hari?

Untuk mengurangi rasa penasaran, kemudian saya bertanya lagi, “Bukannya sampai rumah ibu sudah tidur, berangkat ibu belum bangun?”

Dengan agak terbata dia menjawab, “Setiap saya berangkat ibu sudah bangun. Saya hanya ingin mencium tangan ibu setiap pagi sebelum berangkat kerja, sambil berdoa semoga saya bisa membahagiakan ibu.”

Jawaban itu menusuk sanubariku, hanya sekedar mencium tangan ibu dan mendoakannya ia rela menempuh perjalanan delapan jam setiap hari.  Sayapun ke belakang sejenak menghapus air mata yang mengalir di pipi.

Kemudian saya bertanya lagi, “Apa yang kamu lakukan untuk membahagiakan ibu?”

Dengan lembut ia menjawab, “Saya sudah daftarkan umroh di kantor.”

“Maksudnya?” seru saya. Ia menjawab, “Kalau saya berprestasi dan tidak pernah mangkir kerja, saya berpeluang mendapat hadiah umroh dari kantor. Bila saya menang, hadiah umroh itu akan saya berikan kepada ibu tercinta.”

Mendengar jawaban itu saya menarik napas panjang. Dengan nada agak bergetar ia melanjutkan, “Setiap hari saya pulang agar bisa mencium tangan ibu dan mendoakannya agar ia bisa pergi umroh. Saya benar-benar ingin membahagiakan ibu saya.” Mendengar jawaban itu, haru dan malu bercampur menjadi satu. Air matapun mengalir deras di pipiku.

Malu karena pengorbananku untuk ibuku kalah jauh dengan driver taxi ini.

Bila selama ini saya yang membuat peserta training berkaca-kaca. Hari ini Asep Setiawan, driver taxi itu, yang membuatku menangis tersedu. Dia telah menjadi trainer dalam kehidupanku.

Ya, Asep Setiawan telah menjadi trainerku… bukan melalui kata-katanya tetapi melalui tindakannya.

Buat rekan rekan yg belum berkirim kabar buat Ibu atau sekedar telepon masak apa hari ini dan basa basi ringan.

Segeralah telp atau sms beliau. Semoga ada keberkahan dan keridhaan dari Ibu kita tercinta.
Bagi yang bundanya telah kembali menghadap Sang Kholik. Berhentilah sejenak dan luangkan untuk memanjat kan doa untuk nya saat ini atau saat beribadah nanti

Ingatlah selalu, surat al-Israa’ ayat 23-24, Allah Swt berfirman :

وَقَضَىٰ رَبُّكَ أَلَّا تَعْبُدُوا إِلَّا إِيَّاهُ وَبِالْوَالِدَيْنِ إِحْسَانًا ۚ إِمَّا يَبْلُغَنَّ عِنْدَكَ الْكِبَرَ أَحَدُهُمَا أَوْ كِلَاهُمَا فَلَا تَقُلْ لَهُمَا أُفٍّ وَلَا تَنْهَرْهُمَا وَقُلْ لَهُمَا قَوْلًا كَرِيمًا وَاخْفِضْ لَهُمَا جَنَاحَ الذُّلِّ مِنَ الرَّحْمَةِ وَقُلْ رَبِّ ارْحَمْهُمَا كَمَا رَبَّيَانِي صَغِيرًا

“Dan Rabb-mu telah memerintahkan agar kamu jangan beribadah melainkan hanya kepada-Nya dan hendaklah berbuat baik kepada ibu-bapak. Jika salah seorang di antara keduanya atau kedua-duanya sampai berusia lanjut dalam pemeliharaanmu, maka sekali-kali janganlah engkau mengatakan kepada keduanya perkataan “ah” dan janganlah engkau membentak keduanya, dan ucapkanlah kepada keduanya perkataan yang baik. Dan rendahkanlah dirimu terhadap keduanya dengan penuh kasih sayang dan ucapkanlah, ‘Ya Rabb-ku, sayangilah keduanya sebagaimana mereka berdua telah mendidik aku pada waktu kecil.’” [QS.Al-Israa’ : 23-24]

Perintah birrul walidain juga tercantum dalam surat an-Nisaa’ ayat 36:

وَاعْبُدُوا اللَّهَ وَلَا تُشْرِكُوا بِهِ شَيْئًا ۖ وَبِالْوَالِدَيْنِ إِحْسَانًا وَبِذِي الْقُرْبَىٰ وَالْيَتَامَىٰ وَالْمَسَاكِينِ وَالْجَارِ ذِي الْقُرْبَىٰ وَالْجَارِ الْجُنُبِ وَالصَّاحِبِ بِالْجَنْبِ وَابْنِ السَّبِيلِ وَمَا مَلَكَتْ أَيْمَانُكُمْ ۗ إِنَّ اللَّهَ لَا يُحِبُّ مَنْ كَانَ مُخْتَالًا فَخُورًا

“Dan beribadahlah kepada Allah dan janganlah kamu mempersekutukan-Nya dengan sesuatu apa pun. Dan berbuat baiklah kepada kedua orang tua, karib kerabat, anak-anak yatim, orang-orang miskin, tetangga dekat, tetangga jauh, teman sejawat, ibnu sabil [1], dan hamba sahaya yang kamu miliki. Sungguh, Allah tidak menyukai orang-orang yang sombong dan membanggakan diri.” [QS.An-Nisaa’ : 36]


Jangan PERNAH LUPA untuk mendoakan mereka,

رَبِّ ارْحَمْهُمَا كَمَا رَبَّيَانِي صَغِيْرًا

“Wahai Rabb-ku, kasihilah keduanya, sebagaimana mereka berdua telah mendidikku sewaktu kecil.”

*Ini adalah kisah nyata yang dialami oleh salah satu motivator Indonesia, Jamil Azzaini.*

Mengendalikan Diri


Sahabat, penting bagi kita untuk mampu mengendalikan diri. Mengendalikan diri supaya tidak terjerumus ke dalam kemusyrikan. Karena hawa nafsu selalu mendorong kita untuk sibuk dengan selain Allah. Maka, kita kendalikan diri kita untuk senantiasa bisa kembali mendekat kepada Allah setelah sempat menjauh, kita kendalikan iman kita kuat kembali setelah sempat melemah.

Kita juga perlu mengendalikan diri dari kemunafikan. Munafik itu senang membagus-bagus bungkus supaya terlihat keren, baik, indah dalam pandangan makhluk, sedangkan isinya dibiarkan busuk. Nah, kita harus bisa mengendalikan diri agar terhindar dari kemunafikan, dan sibuk memperbaiki diri serta mencari penilaian Allah Swt.

Kemampuan mengendalikan diri adalah urusan penting dalam hidup kita. Oleh karena itu Rosululloh Saw. bersabda, “Orang yang kuat bukanlah orang yang kuat dalam bergulat, namun orang yang mampu mengendalikan dirinya di kala marah.” (HR. Muttafaq’alaih)

Mengendalikan diri bukanlah hal yang mudah, akan tetapi ia akan menjadi mudah jika kita semakin terbiasa. Semakin kita bersungguh-sungguh melatih diri untuk mampu mengendalikan diri, semakin kita akan terbiasa, dan semakin terbentuklah akhlak mulia pada diri kita. Insyaa Allah!

Thursday, 21 March 2019

Everyday Is Al-Qur'an










Sahabat, hidup bersama Al-quran merupakan suatu kenikmatan yang sangat indah. Karena Al-quran adalah sumber kemuliaan. Siapapun yang menjadikan Al-quran sebagai panduan dan pedoman hidup maka akan mendapatkan kemuliaan. Lalu, bagaimana cara mendapatkan kemuliaan tersebut?

Untuk mendapatkan kemuliaan tersebut kita harus membaca (tilawah), mengkaji serta memahami Al-quran. Dan dari membaca Al-quran bisa melahirkan jiwa yang sabar, melembutkan dan mengkokohkan hati, serta sebagai nasihat dan obat tatkala hati sedih dan gundah.

Dan inilah kegiatan tilawah quran di Yayasan Rumah Yatim Indonesia. Semakin anak-anak berinteraksi dengan Al-quran setiap harinya, itu akan menjadi suatu kebiasaan bagi mereka. Semoga Al-quran akan menjadi cahaya bagi anak-anak dan bagi kita semua serta bisa menerangi kehidupan kita dengan menjadikannya sebagai petunjuk dalam menjalani hidup. Amin....




Wednesday, 20 March 2019

Isi Hati Anak Dengan Al-Qur'an









Seorang pria menangis, kemudian ada orang menanyakannya kenapa dia menangis. Orang yang menangis ini lalu mengatakan, “Aku memiliki seorang putra, aku pikir aku akan membuat dia bisa membaca dan menulis dan akan menjadi orang besar. 
Dan kami memberinya pendidikan yang terbaik dengan mengirimnya belajar ke luar negeri.


Lalu tiba-tiba ia jatuh sakit dan dokter menyerah dengan keadaannya. Dia menghitung napas terakhirnya dan dia berkata kepadaku, ”Ayah, bawakan semua sertifikat dan ijazahku kemari!!! ”


Dia berkata sambil menatapku . ”Ayah, ini semua gelarku, tapi ayah tidak mengajariku Al-Qur’an. Bagaimana aku akan menghadap Allah ? “


Aku berdiri di depannya dan dalam beberapa saat dia sudah menghembuskan nafas terakhirnya.


Hikmah:


Sebagian besar dari kita peduli dengan kehidupan duniawi ini, tapi lupa dengan kehidupan akhirat. Didiklah anak-anak kita bukan hanya ilmu dunia. Tapi juga ilmu akhirat.


Mari kita bertekad kuat bahwa kita akan selalu bertakwa kepada Allah dan rasul-Nya. Agar hidup kita menjadi baik di dunia dan di akhirat. Aamiin..


“Ya Rabb kami! Berilah kami kebaikan di dunia dan kebaikan di akhirat dan peliharalah kami dari siksa api neraka.” (Al-Baqarah : 201).


Semoga bermanfaat.

Masihkah Mau Mengeluh?


Sahabat,Keluh kesah tidak akan pernah menyelesaikan masalah. Ungkapan-ungkapan keluh kesah menunjukkan ketidaksabaran kita dan ketidakmenerimaan kita terhadap takdir Allah.
Sudah seharusnya kita meminimalisir berkeluh kesah. Mari kita latih diri kita untuk bisa merespon keadaan dan menghadapi orang lain secara santun.

Kesantunan akan membuat batin lebih lapang. Kesantunan akan mampu menaklukan sesuatu yang tidak bisa dilakukan dengan kekerasan. Karena, kalau orang-orang keras dilawan dengan kekerasan, maka itu akan merasa bagian dari dunianya. Tapi, kalau orang-orang yang bertemperamen keras itu diberi kelembutan yang tulus dari lubuk hati yang paling dalam, mereka akan terbawa lembut juga. Contohnya, orang sekeras Umar bin Khattab atau Khalid bin Walid bisa jatuh tersengkur menangis oleh lembutnya lantunan Al Quran.

Berkeluh kesah seringkali membuat kita terdramatisasi oleh masalah. Seakan-akan rencana dan keinginan kita lebih baik daripada yang terjadi. Padahal, belum tentu. Siapa tahu, di balik kejadian yang mengecewakan menurut kita, ternyata sarat dengan perlindungan Allah Swt.
Allah Swt. berfirman, “..boleh jadi kamu membenci sesuatu padahal ia amat baik bagimu dan boleh jadi kamu menyukai sesuatu padahal ia amat buruk bagimu; Allah mengetahui, sedang kamu tidak mengetahui,” (QS. Al Baqarah : 216).

Allah menolong kita dengan tuntunan-Nya. Tuntunan itu tidak selalu dengan terkabulnya keinginan kita. Karena Allah Mahatahu di balik apapun keinginan kita. Baik keinginan jangka pendek, maupun jangka panjang. Kita tidak bisa mendeteksi secara cermat. Kadang-kadang kita hanya mendeteksinya sesuai dengan hawa nafsu kita.

Berkeluh kesah seperti nampak sepele. Tetapi, itu akan menjadi tolak ukur kualitas pengendalian diri kita. Ketahuilah bahwa kualitas seseorang itu tidak diukur dengan hal yang besar-besar, tetapi oleh yang kecil-kecil. Kalau kita ingin melihat suatu komplek perumahan yang berkualitas, maka cukup kita lihat saja rumput di halamannya. Kalau komplek itu berkualitas baik, maka rumputnya pun akan nampak terawat dengan baik.

Apalagi berkeluh kesah termasuk penyakit hati, bentuk ketidaksabaran kita dalam menerima ketentuan dari Allah.

Rasulullah SAW bersabda:“Barang siapa yang tidak ridha terhadap ketentuan-Ku, dan tidak sabar atas musibah dari-Ku, maka carilah Tuhan selain Aku.” (HR. Bukhari dan Muslim).

Marilah kita respon setiap kejadian demi kejadian dengan respon yang positif. Mengapa? Karena setiap respon akan mempengaruhi persepsi kita terhadap masalah yang kita hadapi dan cara kita menyelesaikannya. Lebih dari itu, akan berdampak pula kepada orang-orang di sekitar kita.


Tuesday, 19 March 2019

Berbagi Paket Sembako






Assalamu'alaikum wr wb...

Alhamdulillah, terimakasih kepada Pak Daka dari Air Tanjung Kawalu, Tasikmalaya, yang telah memberikan donasi berupa paket sembako untuk seluruh santri yatim, dhuafa, dan penghafal Al-Qur'an.

Baarokallahulaka, jazaakumullah khoiron katsiiron. Semoga segala kebaikan dan keikhlasannya dibalas oleh Allah Swt. Aamiin...






Monday, 18 March 2019

Selamat Dari Api Neraka Dengan Bersedekah


Manusia hidup di dunia ini tidak pernah luput dari salah dan dosa. Perbuatan yang kita lakukan harus terus kita jaga jangan sampai hanya kesalahan yang kita lakukan. Dosa-dosa yang kita lakukan mungkin tidak terhitung, namun jangan sedih sahabat. Allah Maha pengasih dan Maha Penyayang.

Tahukah kamu? Salah satu penolong kita dari api neraka adalah dengan bersedekah.

Nabi bersabda: “Jauhkan dirimu dari api neraka walaupun hanya dengan (sedekah) sebutir kurma“. (Muttafaqun ‘alaih)

Untuk bersedekah tidak perlu mengeluarkan harta yang banyak, semampu kita saja. Apabila kita hanya mampu memberi makanan, pakaian, atau hal apapun yang bisa bermanfaat untuk orang lain, juga termasuk sedekah.

Namun, sedekah harta adalah hal yang paling utama. Sedekah harta tidak hanya bermanfaat untuk orang lain tapi juga akan memberikan keberkahan untuk hidup yang kita jalani.

Sahabat, mari kita mulai dari hal terkecil yang kita mampu untuk mendapatkan ampunan Allah SWT dan diselamatkan dari Api neraka dengan bersedekah.