Telp. 0265-2351868 | WA 0878 8555 4556

Kisah Inspiratif

Smart Family

Tafakur

Terbaru

Wednesday, 8 July 2020

Kegiatan Bersih-Bersih Lingkungan Pesantren









Assalamu'alaikum wr wb...

Sahabat,

“Allah itu maha Indah dan menyukai Keindahan”.

Maka dari itu hendaknya kita selalu menjaga kebersihan diri dan lingkungan. Agar kita senantiasa menjadi makhluk yang disukai Allah Swt.

Seperti kegiatan rutin santri yang sedang kerja bakti untuk menyapu, mengepel dan membuang sampah di berbagai area pesantren setiap paginya. Kegiatan bebersih ini dilakukan unutk membentuk karakter santri dalam mencintai dan menjaga kebersihan lingkungan.


Monday, 6 July 2020

Cara Rasul Membalas Keisengan Sahabat-Nya










Suatu hari, Rasulullah berkumpul bersama para sahabat. Terhidanglah buah kurma di hadapan mereka. Mereka pun menyantap kurma itu.

Saat itu, Ali duduk di samping Rasulullah. Sehingga, Ali tahu betul bagaimana cara Rasulullah memakan kurma. Setiap kali makan kurma, Rasulullah selalu menyisihkan bijinya. Biji kurma itu pun terkumpul di satu tempat.

Ali tanpa sadar memakan banyak kurma. Saat sisi jailnya muncul, Ali diam-diam meletakkan biji-biji kurma yang dimakannya menjadi satu dengan bekas Rasulullah.Ketika semua biji kurma selesai dia pindahkan, Ali pun menggoda Rasulullah." Wahai Nabi, tampaknya engkau begitu lapar, sehingga makan kurma begitu banyak. Lihat biji kurna di tempatmu, menumpuk begitu banyak," kata Ali.

Rasulullah tidak kehilangan akal. Dengan santai, Rasulullah membalikkan ucapan Ali."Ali, tampaknya kamulah yang sangat lapar. Sampai kau makan berikut biji kurmanya. Lihatlah, tidak ada biji tersisa di depanmu," kata Rasulullah. Jawaban Rasulullah seketika membuat para sahabat tertawa.

Aku Yang Kurang Bersyukur


Aku melihat hidup orang lain begitu nikmat,
Ternyata ia hanya menutupi kekurangannya tanpa berkeluh kesah..
Aku melihat hidup teman-temanku tak ada duka dan kepedihan,
Ternyata ia hanya pandai menutupi dengan mensyukuri.
Aku melihat hidup saudaraku tenang tanpa ujian,
Ternyata ia begitu menikmati badai hujan dalam kehidupannya..
Aku melihat hidup sahabatku begitu sempurna,
Ternyata ia hanya berbahagia menjadi apa adanya..
Aku melihat hidup tetanggaku beruntung.
Ternyata ia selalu tunduk pada Allah untuk bergantung.

Setiap hari aku belajar memahami dan mengamati setiap hidup orang yang aku temui.
Ternyata aku yang kurang mensyukuri nikmatMu.
Bahwa di belahan dunia lain masih ada yang belum seberuntung yang aku miliki saat ini.
Dan satu hal yang aku ketahui, bahwa Allahu Rabbi tak pernah mengurangi ketetapanNya.
Hanya aku lah yang masih saja mengkufuri nikmat suratan Ilahi.

Maka aku merasa tidak perlu iri hati dengan rezeki orang lain.
Mungkin aku tak tahu dimana rezekiku.. Tapi rezekiku tahu dimana diriku.
Dari lautan biru, bumi dan gunung, Allah Ta’ala telah memerintahkannya menuju kepadaku.
Allah Ta’ala menjamin rezekiku, sejak 4 bulan 10 hari aku dalam kandungan ibuku.
Amatlah keliru bila bertawakkal rezeki dimaknai dari hasil bekerja.
Karena bekerja adalah ibadah, sedang rezeki itu urusan-Nya.
Melalaikan kebenaran demi menghawatirkan apa yang dijamin-Nya, adalah kekeliruan berganda..
Manusia membanting tulang, demi angka simpanan gaji, yang mungkin esok akan ditinggal mati..
Mereka lupa bahwa hakekat rezeki bukan apa yang tertulis dalam angka, tapi apa yang telah dinikmatinya.

Rezeki tak selalu terletak pada pekerjaan kita, Allah menaruh sekehendak-Nya..
Diulang bolak balik 7x shafa dan marwa, tapi zamzam justru muncul dari kaki sang bayi, Ismail ‘alayhissalam
Ikhtiar itu perbuatan.
Rezeki itu kejutan.
Dan yang tidak boleh dilupakan, tiap hakekat rezeki akan ditanya kelak..
“Darimana dan digunakan untuk apa”
Karena rezeki hanyalah “hak pakai”, bukan “hak milik.”

Rasulullah salallahu 'alaihiwasallam bersabda :"Tidak akan bergeser kedua telapak kedua kaki seorang hamba dihari kiamat sehingga ditanya dengan empat macam, yaitu : Tentang umurnya habis digunakan untuk apa, jasadnya rusak digunakan untuk apa, ilmunya bagaimana mengamalkannya, hartanya dari mana mencari dan kemana harta itu membelanjakannya". (HR.At Tirmizi)

Yakni hitung-hitunglah diri kita sebelum kita dimintai pertanggung jawaban, dan perhatikanlah apa yang kita tabung buat diri kita berupa amal-amal saleh untuk bekal hari kita dikembalikan, yaitu hari dihadapkan kita kepada Robul'alamin. 

Allah SWT Berfirman:"Wahai orang-orang yang beriman! Bertaqwalah kepada Allah (dengan mengerjakan suruhanNya dan meninggalkan laranganNya); dan hendaklah tiap-tiap diri melihat dan memerhatikan apa yang ia telah sediakan (dari amal-amalnya) untuk hari esok (hari akhirat). Dan (sekali lagi diingatkan): Bertaqwalah kepada Allah, sesungguhnya Allah Amat Meliputi PengetahuanNya akan segala yang kamu kerjakan.(QS. Surat Al-Hasyr 18)

Bahwa masalah duniawi itu adalah masalah yang rendah, pasti lenyap, sedikit, dan pasti rusak. Maka perlu diwaspadai supaya selamat dan beruntung. 

Wallahu a'lam...


Friday, 26 June 2020

Nutrisi Buah Untuk Santri







Alhamdulillah, adik-adik mendapatkan buah yang kalau di sunda namanya buah kokosan. Buah kokosan ini rasanya manis asam, cocok untuk takjil berbuka puasa nanti. Terima kasih kepada donatur dermawan yang sudah berbagi dan memberi kasih sayang dan perhatiannya untuk kita semua disini. Semoga berkah, aamiin...





Orang Yang Merugi


Silaturahim atau silaturahmi, sebuah kata yang akrab dengan kita. Tapi seringkali keakraban itu membuat kita lalai untuk mengenalnya lebih dalam dan berinteraksi secara efektif dan efisien. Demikian silaturahim, keakraban dengan kata ini membuat sebagian orang lupa atau bahkan enggan untuk memahaminya secara ilmiah, sehingga makna dan nilai substantif dari kata ini melemah dan mengaplikasikannya pun mengendur.

Tidak sedikit pula hubungan kekeluargaan retak bahkan mungkin runtuh hancur berantakan. Betapa miris kita melihat hubungan suami istri retak atau putus karena permasalahan-permasalahan rumah tangga. Setelah orangtua meninggal dunia, tidak malu-malu anak-anaknya bersengketa dan konflik berkepanjangan dalam masalah harta waris. Kadangkala hanya karena sebuah kata-kata yang menyinggung perasaannya, para tokoh masyarakat berseteru dalam permasalahan umat.

Silaturahim kini sudah menjadi kebutuhan mendesak untuk dicermati, direnungkan dan lebih penting lagi untuk direalisasi dalam kehidupan bermasyarakat, dalam kehidupan berkeluarga, berbangsa atau dalam hubungan umat Islam di persada bumi milik Allah SWT, serta hubungan antar umat manusia di mana dan kapan saja mereka berada.

Allah Yang Maha Tahu, Maha Sempurna, Maha Kasih, Maha Cerdas dan Maha yang lainnya telah memberitahu kepada kita tentang orang-orang yang merugi dalam kehidupan. Siapakah mereka?
Allah SWT berfirman: “Dan tiada yang disesatkan Allah kecuali orang-orang yang fasik, yaitu orang-orang yang melanggar perjanjian Allah sesudah perjanjian itu teguh dan memutuskan apa yang diperintahkan Allah (kepada mereka) untuk menyambungnya dan membuat kerusakan di muka bumi. Mereka itulah orang-orang yang rugi.” (QS. Al-Baqarah: 26-27)

Dalam ayat ini Allah menjelaskan bahwa di antara orang-orang merugi adalah mereka yang memutuskan hubungan yang diperintahkanNya untuk disambung, yakni hubungan silaturahim.
Silaturahim dengan anggota keluarga yang berasal dari satu rahim, ibu bapak saudara kandung Demikian silaturahim dengan sesama muslim, bahkan hubungan dengan sesama manusia. Karena pada hakikatnya manusia saling membutuhkan satu sama lain, maka hendaknya menjalin hubungan baik.

Rasulullah saw bersabda dari Abu Muhammad Jubair bin Muth’im r.a: “Tidak akan masuk surga orang yang memutuskan” Sufyan berkata: “yakni yang memutuskan rahim atau tali persaudaraan.” (HR Bukhari dan Muslim).

Sebaliknya orang yang merealisasi silaturahim akan memperoleh keberuntungan seperti penjelasan Rasulullah SAW dalam haditsnya: “Barangsiapa ingin diluaskan rizkinya dan dipanjangkan umurnya, hendaknya ia bersilaturahim.” (HR. Muttafaq ‘Alaih) 

Tuesday, 23 June 2020

Kisah Tentang Sesama Muslim Itu Bersaudara










Inilah kisah yang terjadi pada zaman kekhalifahan Umar bin Khattab.Suatu hari Umar sedang duduk di bawah pohon kurma dekat Masjid Nabawi. Di sekelilingnya para sahabat sedang asyik berdiskusi sesuatu. Di kejauhan datanglah 3 orang pemuda. Dua pemuda memegangi seorang pemuda lusuh yang diapit oleh mereka.
Ketika sudah berhadapan dengan Umar, kedua pemuda yang ternyata kakak beradik itu berkata, “Tegakkanlah keadilan untuk kami, wahai Amirul Mukminin!” “Qishashlah pembunuh ayah kami sebagai hak atas kejahatan pemuda ini!”.
Umar segera bangkit dan berkata, “Bertakwalah kepada Allah, benarkah engkau membunuh ayah mereka wahai anak muda?”
Pemuda lusuh itu menunduk sesal dan berkata, “Benar, wahai Amirul Mukminin.””Ceritakanlah kepada kami kejadiannya.”, tukas Umar.
Pemuda lusuh itu memulai ceritanya,”Aku datang dari pedalaman yang jauh, kaumku mempercayakan aku untuk suatu urusan muammalah untuk kuselesaikan di kota ini. Sesampainya aku, kuikat untaku pada sebuah pohon kurma lalu kutinggalkan dia. Begitu kembali, aku sangat terkejut melihat seorang laki-laki tua sedang menyembelih untaku, rupanya untaku terlepas dan merusak kebun yang menjadi milik laki-laki tua itu. Sungguh, aku sangat marah, segera kucabut pedangku dan kubunuh ia. Ternyata ia adalah ayah dari kedua pemuda ini.”
“Wahai, Amirul Mukminin, kau telah mendengar ceritanya, kami bisa mendatangkan saksi untuk itu.”, sambung pemuda yang ayahnya terbunuh.”Tegakkanlah had Allah atasnya!” timpal yang lain.
Umar tertegun dan bimbang mendengar cerita si pemuda lusuh.”Sesungguhnya yang kalian tuntut ini pemuda shalih lagi baik budinya. Dia membunuh ayah kalian karena khilaf kemarahan sesaat’, ujarnya.
“Izinkan aku, meminta kalian berdua memaafkannya dan akulah yang akan membayarkan diyat atas kematian ayahmu”, lanjut Umar.
“Maaf Amirul Mukminin,” sergah kedua pemuda masih dengan mata marah menyala, “Kami sangat menyayangi ayah kami, dan kami tidak akan ridha jika jiwa belum dibalas dengan jiwa”.
Umar semakin bimbang, di hatinya telah tumbuh simpati kepada si pemuda lusuh yang dinilainya amanah, jujur dan bertanggung jawab.Tiba-tiba si pemuda lusuh berkata,”Wahai Amirul Mukminin, tegakkanlah hukum Allah, laksanakanlah qishash atasku. Aku ridha dengan ketentuan Allah” ujarnya dengan tegas,”Namun, izinkan aku menyelesaikan dulu urusan kaumku. Berilah aku tangguh 3 hari. Aku akan kembali untuk diqishash”.
“Mana bisa begitu?”, ujar kedua pemuda.
“Nak, tak punyakah kau kerabat atau kenalan untuk mengurus urusanmu?” tanya Umar.
”Sayangnya tidak ada Amirul Mukminin, bagaimana pendapatmu jika aku mati membawa hutang pertanggungjawaban kaumku bersamaku?” pemuda lusuh balik bertanya.
“Baik, aku akan meberimu waktu tiga hari. Tapi harus ada yang mau menjaminmu, agar kamu kembali untuk menepati janji.” kata Umar.
“Aku tidak memiliki seorang kerabatpun di sini. Hanya Allah, hanya Allah lah penjaminku wahai orang-orang beriman”, rajuknya.
Tiba-tiba dari belakang hadirin terdengar suara lantang, “Jadikan aku penjaminnya wahai Amirul Mukminin”.Ternyata Salman al Farisi yang berkata..
“Salman?” hardik Umar marah, “Kau belum mengenal pemuda ini, Demi Allah, jangan main-main dengan urusan ini”.”
Perkenalanku dengannya sama dengan perkenalanmu dengannya, ya Umar. Dan aku mempercayainya sebagaimana engkau percaya padanya”, jawab Salman tenang.
Akhirnya dengan berat hati Umar mengizinkan Salman menjadi penjamin si pemuda lusuh.Pemuda itu pun pergi mengurus urusannya.Hari pertama berakhir tanpa ada tanda-tanda kedatangan si pemuda lusuh. Begitupun hari kedua.Orang-orang mulai bertanya-tanya apakah si pemuda akan kembali. Karena mudah saja jika si pemuda itu menghilang ke negeri yang jauh.Hari ketiga pun tiba. Orang-orang mulai meragukan kedatangan si pemuda, dan mereka mulai mengkhawatirkan nasib Salman. Salah satu sahabat Rasulullah saw yang paling utama.
Matahari hampir tenggelam, hari mulai berakhir, orang-orang berkumpul untuk menunggukedatangan si pemuda lusuh. Umar berjalan mondar-mandir menunjukkan kegelisahannya.Kedua pemuda yang menjadi penggugat kecewa karena keingkaran janji si pemuda lusuh. Akhirnya tiba waktunya penqishashan, Salman dengan tenang dan penuh ketawakkalan berjalan menuju tempat eksekusi.Hadirin mulai terisak, orang hebat seperti Salman akan dikorbankan.
Tiba-tiba di kejauhan ada sesosok bayangan berlari terseok-seok,jatuh, bangkit, kembali jatuh, lalu bangkit kembali.
”Itu dia!”teriak Umar, “Dia datang menepati janjinya!”.
Dengan tubuh bersimbah peluh dan nafas tersengal-sengal, si pemuda itu ambruk di pengkuan Umar.”Hh..hh.. maafkan.. maafkan..aku..” ujarnya dengan susah payah, “Tak kukira.. urusan kaumku.. menyita..banyak..waktu..”. ”Kupacu..tungganganku.. tanpa henti, hingga.. ia sekarat di gurun..terpaksa.. kutinggalkan.. lalu aku berlari dari sana..”
”Demi Allah”, ujar Umar menenanginya dan memberinya minum, “Mengapa kau susah payah kembali? Padahal kau bisa saja kabur dan menghilang?”
”Agar..jangan sampai ada yang mengatakan.. di kalangan Muslimin.. tak ada lagi ksatria..tepat janji..” jawab si pemuda lusuh sambil tersenyum.
Mata Umar berkaca-kaca, sambil menahan haru, lalu ia bertanya, “Lalu kau Salman, mengapa mau-maunya kau menjamin orang yang baru saja kau kenal?”
”Agar jangan sampai dikatakan, di kalangan Muslimin, tidak ada lagi rasa saling percaya dan mau menanggung beban saudaranya”,Salman menjawab dengan mantap.
Hadirin mulai banyak yang menahan tangis haru dengan kejadian itu.”Allahu Akbar!” 
Tiba-tiba kedua pemuda penggugat berteriak, “Saksikanlah wahai kaum Muslimin, bahwa kami telah memaafkan saudara kami itu”.
Semua orang tersentak kaget.“Kalian..” ujar Umar, “Apa maksudnya ini? Mengapa kalian..?” Umar semakin haru.
”Agar jangan sampai dikatakan, di kalangan Muslimin tidak ada lagi orang yang mau memberi maaf dan sayang kepada saudaranya” ujar kedua pemuda membahana.
”Allahu Akbar!” teriak hadirin. Pecahlah tangis bahagia, haru dan bangga oleh semua orang.

Friday, 19 June 2020

Wakaf Al Qur'an Berjalan








Bismillahirrahmanirrahim,

Alhamdulillah, hari ini kita masih diberi kesempatan untuk menjalankan ibadah puasa di bulan Ramadhan yang amat mulia.

Terkait Wabah Covid19, kami semua Santri dan seluruh Jajaran Pengurus sampai saat ini masih tetap bertahan di Pondok dengan aktifitas sebagaimana biasa,

Kami semua di Pondok ikut serta MENDOAKAN kepada seluruh Muzakki, Munfiqin dan Donatur khususnya agar semuanya dalam naungan Kasih Sayang dan Perlindungan dari Allah SWT, demikian juga untuk seluruh Rakyat Indonesia dan seluruh Ummat manusia di Muka Bumi ini,

semoga Wabah ini menjadikan kita tersadar bahwa betapapun Kuat dan Kayanya kita ternyata masih bisa kalah juga dengan Makhluk kecil nan Lemah yang gak terlihat oleh Mata,

Sebagaimana tahun tahun sebelumnya, ketika Ramadhan kita membuat Proyek Wakaf Al-Qur'an, kalau tahun sebelumnya kita mengadakan Al-Qur'an Hafalan dan Al-Qur'an terjemah, Alhamdulillah kondisi Al-Qur'annya sampai saat ini masih lumayan baik dan fungsional,

Namun ternyata Para Santri kita yang menghafal Al-Qur'an itu juga butuh suasana baru di ruang terbuka dalam aktifitas menghafal Qur'annya, sambil jalan-jalan ke kebun, ke sawah, ke sungai adalah suasana yang sangat menyenangkan untuk kegiatan menghafal Al-Qur'an,

Untuk itu Para Santri kita butuh AL-QUR'AN SAKU PER JUZ (seperti dalam gambar) untuk kegiatan menghafal Al-Qur'an saat Outing Class

Satu Set Al-Qur'an per Juz berisi 30 Mushaf Juz 1 s.d 30 dalam satu Box Exclusif dengan Harga Rp.100.000,-

Bagi kita yang tertarik ingin mendapatkan PAHALA SETIAP HURUF AL-QUR'AN yang terlantun dari Para Lisan Santri Penghafal Al-Qur'an kita, silahkan ikut serta dalam Proyek Amal Sholeh WAKAF AL-QUR'AN SAKU mulai hari ini sampai 24 April 2020, dibutuhkan 300 set Al-Qur'an Saku Per Juz

Boleh Wakaf atas nama diri sendiri atau atas nama Almarhum/Almarhumah, boleh Wakaf 1 set, 2 set dan seterusnya

Jangan lupa ajak juga Keluarga, Teman dan Sahabat kita untuk ikutan Wakaf

CARANYA :

Tulis Konfirmasi Niat :

" Bismillah, Nama, Niat Wakaf Al-Qur'an Saku Per Juz ....... Set karena Allah SWT ",

Atau

" Bismillah, Niat Wakaf Al-Qur'an Saku Per Juz.........Set atas nama Alm/h...............karena Allah SWT "

Konfirmasi Wakaf Al-Qur'an ke: 081615992703 (SMS/WA/Tlp) - Firman Hidayatullah

Rekening Berbagi :
Mandiri 1770000727914
BNI 0506353699
BRI 010001055225502
A/N Rumah Yatim Indonesia

Pusat Kegiatan Pesantren Yatim Dhuafa dan Tahfidz
Jl. Bandung no.140 Perum Kotabaru
Kec. Cibeureum Tasikmalaya, Telp.0265-2351868