Telp. 0265-2351868 | WA 0878 8555 4556 | BBM 5AE49B09

Kisah Inspiratif

Smart Family

Tafakur

Terbaru

Saturday, 22 April 2017

Memberi Kasih Sayang Terhadap Anak




Memiliki anak adalah anugerah besar yang diberikan Allah kepada orangtua. Banyak suami istri yang belum memiliki anak berjuang sekuat tenaga agar memiliki keturunan.

Anak adalah amanah. Oleh karena itu, orangtua wajib menyayangi anak-anak mereka. Rasulullah saw, adalah potret orangtua yang mencintai anak-anaknya. Beliau biasa memeluk, mencium, dan mendoakan anak-anak serta cucu-cucu beliau.

Hasan dan Husein, cucu beliau pernah menaiki punggung beliau saat sedang shalat. Beliau membiarkan mereka dengan tidak bangkit dari sujud. Setelah mereka puas dan turun, barulah beliau bangkit dari sujud.

Usamah bin Zaid ra, mengatakan "Dahulu Rasulullah saw pernah mengambilku dan mendudukkanku di sebelah paha beliau dan mendudukkan Hasan bin Ali di sebelah paha yang lain. Beliau memeluk kami berdua, lalu berdoa, 'Ya Allah, kasihanilah keduanya karena sesungguhnya aku mengasihani keduanya."

Abu Hurairah bercerita, suatu hari Rasulullah saw keluar menuju ke pasar Bani Qainuqa. Beliau berjalan mengelilingi pasar seraya berpegangan pada tanganku, kemudian duduk-duduk di masjid dan bertanya, "Mana si kecil yang lucu itu? Panggilkanlah dia untuk datang kepadaku!" Hasan pun datang dengan berlari, lalu langsung melompat ke pangkuan beliau. Rasulullah saw, mencium mulut Hasan kemudian berdoa, "Ya Allah sesungguhnya aku mencintainya, maka cintailah dia dan cintailah pula orang yang mencintainya." Beliau mengucapkan doa ini sebanyak tiga kali." (HR. Bukhari dan Muslim)

Banyak riwayat yang menggambarkan betapa Rasulullah saw, amat menyayangi anak-anak, membelai rambut mereka, serta mencium dan mendoakan mereka. Beliau tidak pernah membentak, apalagi memukul mereka. Anak-anak merasakan kasih sayang luar biasa dari beliau.

Menyanyangi anak bukan berarti bersikap permisif atau memanjakan, melainkan memberikan didikan yang baik terhadap akhlak serta potensi kecerdasannya, terutama mengenalkan kewajibannya sebagai seorang muslim.

Apa keutamaan orangtua yang menyayangi anaknya dengan tulus. Diriwayatkan dari Abu Umamah ra, bahwa Rasulullah saw, melihat seorang perempuan yang membawa anak-anaknya. Anak yang satu di gendong dan anak yang lain berjalan di belakangnya. Rasulullah saw bersabda, "Ibu-ibu yang mengandung, melahirkan, dan menyayangi anak-anak mereka, jika tidak mendurhakai suami dan selalu mendirikan shalat, niscaya akan masuk surga." (HR. Hakim)

Friday, 21 April 2017

Balasan Berbakti Kepada Orangtua







Orang tua adalah manusia yang paling berjasa dalam kehidupan seorang anak. Merekalah sosok yang menjadikan putra-putri mereka generasi saleh impian bangsa. Demikian tinggi kedudukan mereka hingga Rasulullah saw mengingatkan seseorang bisa masuk surga atau neraka, sangat bergantung pada perlakuannya kepada mereka (HR. Ibnu Majah).

Dikisahkan pada zaman Nabi Sulaiman as, saat itu Nabi Sulaiman as melakukan perjalanan dan tiba di suatu lautan. Nabi Sulaiman as memerintahkan jin menyelam ke dasar samudra. Di sana jin melihat sebuah kubah dari permata putih tanpa lubang. Ia mengangkat kubah itu ke atas samudra. Melhat "barang" tersebut, Nabi Sulaiman as penasaran dan membuka tutup kubah. Betapa terkejutnya Nabi Sulaiman as begitu melihat seorang pemuda tinggal di dalamnya.

"Siapakah Anda? Golongan jin atau manusia?" tanya Nabi Sulaiman.

"Aku adalah manusia." jawan si pemuda.

"Bagaimana Anda bisa seperti ini?"

Pemuda itu bercerita, ibunya dulu sudah tua dan tidak berdaya. Dialah yang memapah dan menggendongnya ke mana pun. Dia adalah anak yang berbakti. Karena baktinya itu, si ibu mendoakan anaknya agar diberi rezeki dan perasaan qanaah serta ditempatkan di suatu tempat yang tidak di dunia dan tidak pula di langit.

"Setelah ibuku wafat, aku berkeliling di pantai. Dalam perjalanan, aku melihat sebuah kubah yang terbuat dari permata. Aku mendekatinya. Pintu kubah itu terbuka dan aku masuk ke dalamnya."

Nabi Sulaiman kagum terhadap pemuda itu. "Bagaimana anda hidup di dalam kubah di dasar laut?"

Si pemuda menjawab, "Di dalam kubah, aku tidak tahu di mana berada. Di langitkah atau di udara, tetapi Allah tetap memberi rezeki kepadaku ketika aku tinggal di dalam kubah."

"Bagaimana Allah memberi makan?"

"Jika aku lapar, Allah menciptakan pohon di dalam kubah dan buahnya kumakan. Jika aku merasa haus, keluarlah air yang bersih, lebih putih daripada susu dan lebih manis daripada madu."

"Bagaimana Anda tahu perbedaan siang dan malam?"

"Bila Anda terbit fajar, kubah berubah putih. Dari situ aku tahu hari sudah siang. Bila matahari terbenam, kubah menjadi gelap dan aku tahu hari sudah malam."

Begitulah balasan yang diberikan Allah kepada anak yang berbakti kepada orangtuanya.

Yang pasti, seorang anak tidak akan mampu membalas jasa orangtua meskipun memberikan semua kekayaan kepada mereka. Seorang anak hanya berusaha memenuhi hak-hak orangtua dan melayani mereka dengan keikhlasan hati. Bantulah memenuhi kebutuhan mereka. Senangkan dan gembirakan hati mereka.

Rasulullah bersabda, "Keridhaan Allah terletak pada keridhaan kedua orangtua dan kemarahan Allah terletak pada kemarahan orangtua." (HR Ibnu Hibban dan Hakim) 

Buah Manis Hasil Dari Sikap Ridha


Masuk surga
“Wahai Abu Said, barangsiapa ridha Allah sebagai Rabbnya, Islam sebagai agamanya dan Muhammad sebagai Nabinya, maka ia pasti masuk surga”. (HR. Muslim)

Diampuni dosa-dosanya
“Siapa yang membaca setelah mendengar muadzin: Asyhadu an laa ilaha illallahu wahdahulasyarika lahu, wa anna Muhammadan ‘abduhu warosuluhu rodhitu billahi robban wabi Muhammadin rasula wabil Islami dina. (Saya bersaksi bahwa Tidak ada Ilah kecuali Allah Yang Maha Esa, dan tiada bersekutu dan bahwa Nabi Muhammad saw adalah hamba dan utusan-Nya, saya ridho bertuhankan Allah dan bernabikan Muhammad saw dan beragam Islam), diampunkan dosanya.” (HR. Muslim)
Mendapat ridha Allah

Rasulullah SAW bersabda, “Barangsiapa yang berkata: ‘Rodhitu billahi robban, wabil islami diinan, wabi muhammadin nabiyyan (artinya: Aku rela ALLAH sebagai RABB, Islam sebagai agama dan Muhammad sebagai Nabi), maka telah jadi kewajiban bagi ALLAH meridhoinya.’ (HR. At-Tarmidzi)

Diberkahi rizkinya
‘barangsiapa ridha terhadap pemberian Allah Azza wa Jalla, maka Allah akan memberkahinya dan barangsiapa tidak ridha maka Allah tidak akan memberkahinya’. (HR. Ahmad )

Mendapat ridha Allah
“Sesungguhnya besarnya pahala tergantung pada besarnya cobaan. Jika Allah mencintai suatu kaum maka Dia akan mengujinya dengan cobaan. Barang siapa yang ridha atas cobaan tersebut maka dia mendapat keridhaan Allah dan barang siapa yang berkeluh kesah (marah) maka ia akan mendapat murka Allah.” (HR. Tirmidzi )

Daud at To’i berkata: “Sebaik-baik amal adalah Ridha kepada Allah”
Bisyr bin Haris berkata: “Barangsiapa yang dikaruniai sifat Ridha sungguh dia telah menggapai derajat yang tertinggi”

Ar Robi’ bin Abi Rosyid berkata: “Barangsiapa yang memohon Ridha maka dia telah memohon perkara yang agung”



Thursday, 20 April 2017

Tanda Hati Yang Jatuh Cinta Pada Al-Quran


1. Gembira bertemu dan duduk berlama-lama dengannya

Sejarah telah mencatat dengan tinta emas perjalanan orang-orang soleh terdahulu, mereka habiskan waktu malamnya bersama al Quran, mereka isi hari-harinya dengan firman Allah, mereka merasakan nikmat yang luar biasa dalam balutan kasih sayang al Quran.

Salah seorang ulama salaf dahulu menghabiskan waktu malamnya dengan bermunajat kepada Allah dan membaca al Quran. Beliau mengulang-ulang ayat:

إِنَّ الَّذِينَ آمَنُوا وَعَمِلُوا الصَّالِحَاتِ سَيَجْعَلُ لَهُمُ الرَّحْمَنُ وُدًّا

“Sesungguhnya orang-orang yang beriman dan beramal saleh, kelak Allah Yang Maha Pemurah akan menanamkan dalam (hati) mereka rasa kasih sayang.” (QS. Maryam, 96).

Sampai datang waktu pagi. Setelah shalat subuh salah seorang muridnya datang menemuinya menanyakan atas apa yang dilihatnya semalam. Sang guru berkata: “tutuplah berita itu, jangan kau ceritakan kepada orang lain”. Sang murid menjawab: “saya akan menyembunyikannya selama guru masih hidup”. Sang guru berkata: “tatkala saya membaca ayat ini, aku merasakan dalam hati ada rasa kasih sayang, setiap kali mengulanginya maka semakin besar rasa itu oleh karenanya aku berlama-lama menikmati rasa itu”.

Al Aswad mengkhatamkan Al Quran pada bulan Ramadhan setiap dua malam, beliau tidur antara Maghrieb dan Isya dan di luar Ramadhan mengkhatamkan Al Quran setiap enam hari.

Urwah bin Zubair setiap hari selalu membaca seperempat al quran dan begitu juga dalam shalat malam, beliau tidak pernah meninggalkannya kecuali pada saat kakinya dipotong…
Ketika Abu Ja’far Al Qori’ dimandikan, orang-orang pada melihat di antara tenggorokan dan hatinya seperti lembaran Al Quran, yang hadir menyaksikannya tidak meragukan lagi kalau itu cahaya al Quran.

Saat Abu Bakar ‘Ayyasy menghadapi sakaratul maut saudarinya menangis. Beliau berkata: “wahai saudariku, lihat ke pojok itu sesungguhnya saudaramu telah mengkhatamkan al Quran 18 ribu kali di situ”

Al a’masy berkata: “Yahya bin Watsab termasuk orang yang paling indah bacaan Qurannya, sehingga saya ingin mengecup dahinya (sebagai penghormatan) karena saking bagusnya bacaannya. Kalau beliau sedang membaca al Quran engkau tidak akan mendapatkan satupun gerakan di masjid seakan-akan di masijid sedang tidak ada orang. (khusyuk mendengarkan”

2. Al Quran selalu menjadi rujukan hidupnya, dalam kesulitan maupun kegembiraan

3. Patuh atas semua perintah dan larangannya.

Wednesday, 19 April 2017

Mereka yang Dicemburui Para Nabi


Rasulullah saw. pernah bersabda, “Sesungguhnya agama (Islam) ini amal mulanya dianggap asing (aneh) dan nanti akan kembali dianggap asing (aneh). Karena itu berbahagialah orang-orang terasing. Mereka adalah orang-orang yang senantiasa melakukan perbaikan terhadap apa saja yang dirusak oleh manusia setelah aku.” (HR at-Tirmidzi).

Rasul saw. juga bersabda, “Al-Ghuraba’ (orang-orang terasing) itu adalah mereka yang senantiasa melakukan perbaikan pada saat masyarakat dalam keadaan rusak.” (HR ath-Thabrani).
.
Dari hadis-hadis di atas bisa disimpulkan bahwa yang dimaksud orang-orang terasing itu: Pertama, mereka yang taat kepada Allah SWT di tengah-tengah masyarakat yang banyak bermaksiat kepada-Nya. Kedua, mereka yang bukan hanya shalih (baik), tetapi juga mushlih (biasa melakukan perbaikan-perbaikan atas perkara agama apa saja yang telah dirusak oleh masyarakat). Ketiga, mereka hidup jauh dari zaman Rasulullah saw., para Sahabat dan generasi setelah mereka. Mereka pastinya ada pada zaman kita hari ini yang memang rusak.

Mereka inilah orang-orang yang dicemburui oleh para nabi, juga para syuhada, karena kedudukan mereka yang istimewa di sisi Allah SWT. Demikianlah sebagaimana sabda Rasulullah saw., “Sesungguhnya Allah memiliki para hamba yang bukan para nabi dan para syuhada, tetapi para nabi dan para syuhada mencemburui mereka (berangan-angan ingin seperti mereka) pada Hari Kiamat. Hal itu karena kedekatan mereka dengan Allah dan kedudukan mereka (yang mulia) di sisi Allah.” (HR al-Hakim).

Semoga kita termasuk di dalamnya.

Monday, 17 April 2017

Mencari Nafkah Juga Terrmasuk Jihad di Jalan Allah


JIHAD Fi Sabilillah (berjuang di jalan Allah) bukan hanya berperang membela Islam dan kaum Muslim. Bekerja mencari nafkah pun termasuk jihad di jalan Allah SWT.

Imam Hasan al-Bashri rahimahullah berkata, “Sesungguhnya bisa jadi ada seorang yang senantiasa berjihad walaupun tidak pernah menyabetkan pedang -di medan perang- suatu hari pun.” (Lihat Tafsir al-Qur’an al-‘Azhim [6/264] cet. Dar Thaibah).

Ath-Thabarani meriwayatkan dari Abu Hurairah yang berkata, “Tatkala kami (para sahabat) duduk-duduk di sisi Rasulullah Saw, tiba-tiba ada seorang pemuda yang keluar dari jalan bukit. Ketika kami memperhatikannya, maka kami pun berkata, “Kalau saja pemuda ini menggunakan kekuatan dan masa mudanya untuk jihad di jalan Allah!”

Mendengar ucapan para sahabat itu, Rasulullah Saw bersabda:

وَمَا سَبِيلُ اللَّهِ إِلا مَنْ قُتِلَ ؟ مَنْ سَعَى عَلَى وَالِدَيْهِ فَفِي سَبِيلِ اللَّهِ، ومن سعى على عياله ففي سبيل الله، وَمَنْ سَعَى مكاثِرًا فَفِي سَبِيلِ الطَّاغُوتِ.

“Memangnya jihad di jalan Allah itu hanya yang terbunuh (dalam perang) saja? Siapa yang bekerja untuk menghidupi orang tuanya, maka dia di jalan Allah, siapa yang berkerja menghidupi keluarganya maka dia di jalan Allah, tapi siapa yang bekerja untuk bermewah-mewahan (memperbanyak harta) maka dia di jalan thaghut.” (HR Thabrani, Al-Mu’jam Al-Ausath).

Hadits yang juga diriwayatkan Al-Bazzar dan Al-Baihaqi itu menegaskan, bekerja mencari nafkah juga merupakan kewajiban dalam Islam dan tergolong jihad di jalan Allah.

Redaksi lain hadits ini:

وَمَنْ سَعَى عَلَى نَفْسِهِ لِيُعِفَّهَا فَفِي سَبِيلِ اللهِ , وَمَنْ سَعَى عَلَى التَّكَاثُرِ فَهُوَ فِي سَبِيلِ الشَّيْطَانِ

"Siapa yang bekerja menghidupi dirinya sendiri agar terhormat (tidak meminta-minta) maka dia di jalan Allah, dan siapa yang bekerja untuk memperbanyak harta maka dia di jalan setan.”

Dengan hadits tersebut, Rasulullah Saw menegaskan, berkeja mencari nafkah juga termasuk jihad di jalan Allah.

Tentu saja keterangan Rasul ini tidak lantas menafikan apalagi merendahkan jihad dalam arti berperang (qital).

Dalam Risalah Islam, semua jenis jihad adalah mulia, baik mencari nafkah, berperang melawan musuh-musuh Islam dan kaum Muslim, menyebarkan kebenaran Islam, maupun jenis jihad lainnya. 

Wallahu a'lam

Friday, 14 April 2017

Tiga Amal yang Bisa Merubah Takdir


Iman atau percaya kepada Qodho dan Qodar alias takdir atau nasib merupakan bagian dari Rukun Iman dalam Islam.

Takdir adalah ketentuan Allah SWT berdasarkan pertimbangan terbaik dari Allah SWT dan hal terbaik bagi hamba-Nya.

Takdir bisa berubah dengan sejumlah amal kebaikan. Artinya, jika kita melakukan amal kebaikan, maka takdir buruk yang sedianya menimpa kita, akan dihapus oleh Allah SWT.

Allah SWT memang Maha Pengasih dan Penyayang, juga Maha Kuasa atas segala sesuatu.
Berikut ini ini tiga amal atau perbuatan yang bisa mengubah takdir buruk menjadi takdir baik, mengubah nasib buruk yang semula ditetapkan Allah menjadi nasib baik, berdasarkan hadits-hadits shahih dari kitab Shaihain dan Bulughul Maram.

1. Amal Kebaikan.

Rasulullah Saw menegaskan, amal kebaikan bisa mengubah hal buruk menjadi hal baik yang akan menimpa kita. Bahkan, usia bisa bertambah dengan amal kebaikan.

"Beramallah kamu sekalian, karena beramal (berbuat kebaikan/ibadah) akan mengubah sesuatu yang buruk yang telah ditentukan-Nya padamu" (HR. Bukhori dan Muslim).

“Tiada yang dapat menambah umur seseorang, selain (amal) kebaikan.” (HR. Ahmad dan Thabrani)

2. Sedekah

Sangat banyak hadits atau keterangan tentang manfaat, hikmah, atau keutamaan sedekah. Selain manambah harta dan membuat harta jadi berkah, sedekah pun bisa mengubah takdir atau nasib.
"Sesungguhnya sedekah itu dapat memadamkan kemarahan Allah dan menolak ketentuan yang buruk.” (HR. Tirmidzi).

“Bersegeralah bersedekah, karena bala tidak pernah mendahului sedekah.” (HR. Thabrani).

“Sesungguhnya sedekah dan silaturahim itu dapat menambah umur dan menolak ketentuan buruk yang tidak disukai dan ingin dijauhi.” (HR. Abu Ya’la Alhambali).

3. Doa

Doa adalah senjata kaum mukmin, Doa harus mengiringi atau diiringi usaha dan tawakal. Kekuatan doa sangat besar karena ia adalah permohonan kepada Yang Maha Besar, yakni Allah SWT.

“Tiada yang bisa menolak takdir Allah, kecuali doa.” (HR. Tirmidzi, Hakim, Ahmad, dan Ibnu Majah).

Demikian tiga amalan yang bisa mengubah takdir. Semoga kita diberi hidayah dan kekuatan untuk melaksanakan tiga amal yang bisa mengubah takdir atau nasib tersebut. Amin!

Wallahu a'lam