Telp. 0265-2351868 | WA 0878 8555 4556 | BBM 5AE49B09

Kisah Inspiratif

Smart Family

Tafakur

Terbaru

Monday, 16 October 2017

Mencari Ibu










Pagi itu tepat jam 7 kami berencana untuk melakukan ziarah ke tempat-tempat bersejarah di kota Mekah. Donny, seorang pegawai di perusahaan minyak baru saja kembali dari Masjidil Haram bersama istrinya. Sarapan pagi di restoran hotel baru saja disantap. Maka datanglah Hasanudin, ayah Donny dengan tergopoh-gopoh sambil berkata, “Don, kamu lihat ibu tidak?!”
Yang ditanya langsung merasa terkejut, “Memangnya ibu kemana, Pak?”
Sontak langsung ayahnya berkata sambil memukulkan genggaman tangan kanannya ke telapak kiri, “Waduhhh!!!” maka semua anggota rombongan pun menjadi geger mendengar kisah selanjutnya.
Donny saat itu berumrah dengan ketujuh anggota keluarganya. Ia mengajak istrinya, seorang putri, dua orang putra, ayah dan ibu serta bapak mertua. Mereka berdelapan mengambil paket 2 kamar Quard. 1 kamar diisi oleh Donny, ayahnya, putranya yang pertama dan bapak mertua. Kamar kedua diisi oleh istrinya, ibunya, putrinya dan putranya yang kedua.
Saat itu adalah hari ketiga kami berada di kota Mekah. Dua hari sebelumnya kami mengunjungi kota Madinah. Mungkin karena ingin bermesraan dengan istri yang selalu tidur terpisah di sebelah kamar, malam sebelumnya Donny janjian dengan istrinya untuk bangun jam 2 malam untuk melakukan thawaf sunnah sambil bergandengan tangan dan berpelukan. Bagai sepasang muda-mudi yang sedang dimabuk cinta, pada jam yang disepakati keduanya bangun dan bertemu di lobby hotel. Seterusnya, keduanya pergi menuju masjid sambil bergandeng tangan.
Kesyahduan malam membuat mereka begitu mesra. Ditambah dengan lantunan tasbih dan dzikir yang mereka ucapkan saat mengelilingi Baituliah.
Di tengah kesyahduan dan kekhusyukan thawaf sunnah yang mereka lakukan. Pada saat bersamaan ibunya Donny (60 tahun lebih) bangun dari tidurnya. Ia dapati bahwa menantunya tidak ada di kamar. Penasaran ingin mengetahui kabarnya, maka si nenek menghubungi kamar sebelah via pesawat telepon.
“Pak, Donny ada di kamar tidak?” tanya Bu Sulitiawati kepada Hasanudin, suaminya, di kamar sebelah.
“Tidak ada Bu!” jawab sang suami dengan enteng.
“Wah, kalau begitu pasti Donny sedang keluar bersama istrinya. Aku ngendusi barusan memang Ani gak ada di ranjangnya. Mungkin mereka sedang tawaf kali ya?!” Kalimat terakhir yang diucapkan Sulistiawati mengisyaratkan tanya.
Sesaat kemudian, Sulistiawati mengusulkan, “Pak, ayo kita thawaf sunnah berdua kaya Donny dan istrinya?!” Suara tua istrinya di seberang sana terdengar bersemangat di telinga Hasanudin. Ia pun mengiyakan ajakan istrinya untuk melakukan thawaf sunnah di tengah malam.
Keduanya bersiap, dan tak lama kemudian mereka sudah bertemu di lobby hotel dan keduanya melakukan ibadah yang mereka niatkan.
Lingkaran thawaf penuh sesak malam itu. Apalagi bagi kedua tubuh tua ringkih milik Hasanudin dan istrinya. Baru saja melewati garis lurus sejajar dengan Hajar Aswad tanda bahwa mereka telah menyelesaikan putaran pertama thawaf. Namun, karena desakan manusia di lokasi itu yang berebut untuk ber-istilam kemudian mencium kedua tangan mereka. Maka pegangan tangan kedua kakek-nenek itu pun terlepas!
Hasanudin mencoba untuk tidak panik. Sisa putaran thawaf pun ia tuntaskan. Meski sambil celingak-celinguk ke kanan dan ke kiri untuk mencari istrinya.
Namun harapannya untuk menemui istrinya lagi belum ia dapatkan. Bahkan, hingga ia berdoa di Multazam, dan hingga ia melakukan dua rakaat shalat sunnah di belakang Makam Ibrahmim!!!
Azan Subuh kedua berkumandang, disusul dengan iqamat dan pelaksanaan shalat Subuh berjamaah. Hasanudin masih terus mengintai ke kiri dan ke kanan. Pandangannya ia coba perluas, berharap ia bisa menjumpai Sulitiawati, perempuan yang selama ini telah mendampingi hidupnya.
Namun sayang, langit sudah herubah warna. Dari gelap malam ke terangnya pagi. Hingga pukul 06.30, ia masih belum menemukan istninya. Kini ia mulai panik. Tubuh tuanya tak mungkin menyisir barisan manusia yang berthawaf demi mencari istri. Maka tak kuasa untuk mencari lagi, ia pun memutuskan untuk kembali ke hotel berharap istri yang sedang dicari sudah ada di sana.
Sesampainya Hasan di hotel, ia pun sigap menuju restoran. Disanalah ia bertemu dengan Donny, anaknya, hingga kalimat itupun meluncur dari mulutnya, “Wadduuhhhh……!!!!!!!”
Semua jemaah rombongan kami menjadi panik. Terutama Donny yang mendengar berita itu. Setiap orang dari kami berdoa agar Allah Swt. memberi kemudahan kepada kami untuk menemukan kembali Ibu Sulis.
Donny pun mohon izin kepada ustaz pembimbing, sekaligus ia mohon didoakan agar dapat menemui kembali ibunya. Maka berangkatlah Donny menuju Masjidil Haram.
Saat langkah pertama dari pintu hotel diayunkan Donny, tiba-tiba merasuk beberapa pikiran ke dalam benaknya. “Ibu dalam kondisi apa ya sekarang?” Gumamnya. “Apakah ibu jatuh pingsan sebab keletihan thawaf kemudian dibawa orang ke rumah sakit terdekat. Kalau itu yang terjadi, darimana aku mendapatkan informasi di mana ibuku berada?” Bayangan kondisi seperti ini membuat Donny khawatir.
Lalu muncul lagi pikiran kedua, “Atau, ibuku keluar dari pintu masjid yang berbeda hingga ibu tersasar dan tak mengerti jalan pulang?!” Pikiran ini pun membuatnya bertambah khawatir. Tak tahu harus memulai dari mana, Donny meneruskan langkahnya.
Langkahnya seolah tertambat. Berat terasa menggayuti kaki. Kelambanan itu menarik pandangnya untuk menyusuri jalan. Donny kini tengah berjalan sambil merunduk. Dalam ayunan langkahnya yang berat, ia pun merenung, “Ya Allah, hanya pertolongan-Mu kini yang aku harap!” Ia membatin dalam hati.
Ia belum tahu harus berbuat apa. Pikiran yang kalut tak mampu mencari celah jawaban. Namun saat Ia tengah merunduk, ia dapati seorang anak kecil hitam tak berlengan sedang memelas iba kepadanya, “Haji, haji, sabilillah!” Kalimat itu biasa ia dengar di kota Mekah dan Madinah yang berarti minta sedekah.
Donny pun segera merogoh sakunya. Kali itu ia ingin sekali bersedekah. Namun seolah ada sesuatu yang menuntun hatinya tuk berkata, “Ya Allah, dengan sedekah ini aku berharap pertolongan-Mu. Sedekah ini untuk menebus ibu yang telah membesarkan aku!”
Saat tangannya terjulur memberi sedekah, wajah lucu anak negro itu sungguh telah berubah, hanya wajah ibunda Donny yang terbayang di sana. Donny tak kuasa melihat pemandangan itu, betapa hatinya ingin sekali menjumpai ibu kandungnya kembali dalam keadaan sehat seperti sediakala. Beberapa bulir air mata sempat mengalir membasahi pipi.
Lalu ia meneruskan langkah menuju Masjidil Haram. Begitu banyak pengemis yang berada di jalannya. Pemandangan yang teramat biasa di kota Mekah bila hari biasa. Namun, hari itu adalah hari yang luar biasa, di mana keberadaan mereka bagaikan malaikat-malaikat Allah yang betebaran dan mengucapkan doa bagi Donny yang tengah berjalan. Bagi Donny, keberadaan mereka pun seperti lentera terang yang bersinar di kegelapan malam.
Kali ini, pengemis kedua mengiba padanya. Sekali lagi Donny merogoh sakunya. Terus ia susuri jalan sambil menundukkan pandang. Namun kali ketiga, ia dengar seorang pengemis memelas kepadanya. Maka suara hati berkata padanya, “Mengapa tak kau berikan semua uang yang ada padamu bila kau ingin berjumpa dengan ibu?” maka suara hati itupun ia perturutkan.
Ia rogoh sepenuh kantung. Hendak ia kuras semua isinya. Ia ingin bersedekah dengan kesungguhan. Sekali lagi dalam hati ia ucapkan, “Ya Allah, tolong pertemukan aku dengan ibu. Sedekah ini sungguh untuk menebus beliau yang aku cinta!”
Kini tubuh Dony tengah membungkuk. Tangannya terjulur kepeda pengemis yang duduk bersimpuh di tengah jalanan. Pengemis itupun berdoa dengan kalimat Arab yang tidak ia paham. Namun ia tahu, pastilah doa kebaikan yang dipanjatkan untuknya. Donny tersenyum kepada pengemis itu, lalu menegakkan kembali tulang punggungnya untuk meneruskan langkah. Hingga saat kejadian luar biasa yang amat menakjubkan.
Donny baru saja berdiri. Subhanallah! Pemandangan itu sungguh tidak bisa ia percaya. Hanya sekitar lima langkah darinya ia melihat seorang wanita. Ia tidak lagi mengenakan sepatu ataupun sandal. Tampangnya kusut dengan pakaian acak-acakan. Tatapannya kosong. Berjalan tanpa arah dan menyapa siapa saja yang berada di dekatnya.
Donny mengenalnya. Ya, sungguh ia mengenalnya! Wanita itu tiada lain adalah ibunya sendiri. Ibu yang sejak semalam menghilang, kini hanya berjarak beberapa langkah darinya.
Berhambur Donny menghampiri. Ia berdiri di hadapan ibunya untuk memperkenalkan diri. Namun sayang, tatapan mata yang kosong itu tidak mampu mengenali.
Donny merasa amat bersalah, ibunya Ia peluk dengan erat. Hingga kedamaian itu merasuk dalam hati Sulistiawati, maka air mata pun berderai. Kini badannya berguncang karena sesenggukan. Donny pun tak kuasa menahan haru. Ia gendong ibunya ke hotel, seperti ia dulu seringkali digendong oleh bundanya.
Sesampainya di hotel, semua jemaah pun turut bahagia. Sebagaimana kebahagiaan tiada terkira yang dirasakan oleh Donny dan keluarganya.
Dari Abu Darda Uwaimar ra. bahwa ia mendengar Rosululloh Saw. bersabda, “Carilah aku di tengah orang-orang lemah. Sebab kalian bisa hidup Sukses dan berlimpah rezeki karena doa orang-orang dhuafa (lemah) di tengah kalian.” (HR. Abu Daud).

Thursday, 12 October 2017

Menjaga Diri Dari Penyakit Hati












Pada suatu ketika Rasulullah Shallallaahu ‘Alaihi Wasallam beserta sahabat-sahabatnya sedang berkumpul dan bercengkraman satu sama lain. Lalu dihadapan mereka lewatlah seorang laki-laki yang memegang janggutnya yang basah habis berwudhu’ dan tangannya yang kiri memegang sandal jepit. Lalu Rasulullah Shallallaahu ‘Alaihi Wasallam berkata kepada sahabat-sahabatnya: “Dialah pemuda ahli syurga“, kata Rasulullah Shallallaahu ‘Alaihi Wasallam.

Keesokan harinya Rasulullah Shallallaahu ‘Alaihi Wasallam tetap berkumpul dengan sahabat-sahabatnya. Lalu laki-laki yang sama pun lewat dihadapan mereka dengan janggut yang basah bekas berwudhu’ dan tetap ditangan sebelah kirinya memegang sandal jepit. Lalu Rasulullah Shallallaahu ‘Alaihi Wasallam pun tanpa banyak kata-kata hanya mengatakan kepada sahabat-sahabatnya: “Ia pemuda ahli syurga“.

Begitu pula dihari yang ketiga Rasulullah Shallallaahu ‘Alaihi Wasallammengatakan hal yang sama dihadapan sahabat-sahabatnya: “Ia pemuda ahli syurga“.

Maka ada salah satu sahabat Rasulullah Shallallaahu ‘Alaihi Wasallambernama Abdullah bin Amru bin Ash Radhiyallahu ‘Anhu yang penasaran. Ada apa dibalik laki-laki tersebut?, sehingga Rasulullah Shallallaahu ‘Alaihi Wasallam berkali-kali mengatakan ‘ia pemuda ahli syurga’.
Maka Abdullah bin Amru bin Ash Radhiyallahu ‘Anhu ini pun mengikuti sang laki-laki tersebut sampai ke depan rumah sang pemuda Anshor itu. Lalu mengatakan: “Wahai pemuda Anshor, sebenarnya aku memiliki cekcok dengan ayahku sehingga aku tidak bisa pulang kerumah!. Bolehkah pada hari ini, aku menginap dirumahmu?”, katanya mencari-cari alasan. Lalu pemuda Anshor yang baik hati pun mempersilahkan Abdullah bin Amru bin Ash Radhiyallahu ‘Anhu untuk bermalam dirumahnya.

Abdullah bin Amru bin Ash Radhiyallahu ‘Anhu ketika tengah malam disepertiga malam ia bangun dan melihat, mencermati, mengamati. Apa sih yang sebenarnya dilakukan laki-laki ini?, sehingga ia dikatakan ‘begitu istimewa’, oleh Rasulullah Shallallaahu ‘Alaihi Wasallam. Tapi ia melihat pemuda Anshor tersebut tidak bangun, hanya berdzikir saja balik kekanan balik kekiri memuji Allah, tidak shalat, dan tidak melakukan hal-hal yang lain.
Lalu begitu pula dimalam yang kedua ketika pada akhirnya Abdullah bin Amru bin Ash Radhiyallahu ‘Anhu pun kembali mencermati. Apa yang terjadi dengan laki-laki ini?, Apa ibadahnya?, Apa perlakuan yang begitu istimewa?, kepada laki-laki yang dikatakan oleh Rasulullah Shallallaahu ‘Alaihi Wasallam ‘pemuda ahli syurga’. Tidak juga!, disepertiga malam tidak juga bangun, hanya berzikir saja, hanya memuji Allah saja, tidak ada yang lebih, tidak ada yang istimewa.
Begitu pula dihari yang ketiga pun laki-laki tersebut melakukan hal yang sama.

Lalu Abdullah bin Amru bin Ash Radhiyallahu ‘Anhu pada akhirnya jujur kepada laki-laki tersebut dan mengatakan: “Wahai pemuda Anshor, aku minta maaf sesungguhnya aku tidak memiliki cekcok apapun dengan ayahku. Hanya saja, aku begitu penasaran kepada engkau. Kenapa Rasulullah Shallallaahu ‘Alaihi Wasallamberkali-kali menyebut engkau sebagai ‘pemuda ahli surga’?. Apa keistimewaan engkau?”. Lalu sang laki-laki tersebut mengatakan: “Aku tidak memiliki keistimewaan apapun. Aku sama seperti yang engkau lihat selama ini. Aku biasa-biasa saja. Tidak ada yang hebat dalam diriku”.

Lalu Abdullah bin Amru bin Ash Radhiyallahu ‘Anhu pun hanya terdiam dan kemudian meninggalkan laki-laki tersebut. Lalu laki-laki tersebut kemudian memanggil: “Wahai pemuda kemari, aku ingin memberitahukan satu hal. Ibadahku biasa saja, shalatku biasa saja, puasaku biasa saja, tidak ada yang istimewa. Tapi satu hal, aku ingin memberitahu engkau. Bahwa didalam hatiku, aku tidak pernah menyimpan rasa iri, rasa dengki. Hatiku, aku selalu menjaganya agar ia senantiasa bersih. Hatiku, aku menjaga supaya ia senantiasa tidak terkotori dengan sesuatu apapun. Aku tidak pernah marah pada orang. Aku tidak pernah menyakiti hati orang. Pun hatiku, aku jaga supaya tidak tersakiti oleh kata-kata dan perlakuan orang lain”. Lalu Abdullah bin Amru bin Ash Radhiyallahu ‘Anhu pun pada akhirnya mengangguk-angguk sambil termenung dan kemudian ia mengatakan: “Inilah hal yang belum bisa kami perbuat, menjaga hati senantiasa bersih dari penyakit-penyakit hati”.

Kisah ini memberikan pelajaran kepada kita bahwa betapa penyakit hati, betapa rasa kecewa, marah, dengki ternyata bisa mengotori hatimu dan membuatmu tidak lagi menjadi orang yang berlapang dada. 
Maka dari pelajaran ini kita bisa mendapatkan hikmah bahwa untuk menjadi orang-orang yang berlapang dada, ada beberapa hal yang harus kita lakukan: sabar, taat kepada Allah, qonaah dan tawakal ‘alallah.
Mudah-mudahan kisah sederhana ini bisa menjadi pembelajaran untuk kita, untuk senantiasa berlapang dada. In shaa Allah. Aamiin.

Tanda Lemahnya Iman Seseorang


Salah satu tanda lemahnya iman adalah ketika kita merasa malas untuk melakukan ketaatan dalam beribadah yang terkadang bahkan tampak seperti meremehkannya .

Misalnya saja shalat wajib masih dilakukan tetapi dilaksanakannya justru disaat-saat akhir. Kalau istilah sepak bolanya dilakukan pada saat injury time begitu juga dgn ibadah-ibadah lain.

Lalu kenapa Iman kok bisa lemah? Iman kok bisa turun naik? Ini timbul kerana hati manusia yang memang mudah berubah. Cinta bisa berubah menjadi benci atau sebaliknya.

Rajin Ibadah bisa berubah menjadi malas begitu pula sebaliknya. Sehingga Rasulullah sendiri sering berdo’a memohon perlindungan agar hati kita tidak berubah-ubah. Agar kita tetap istiqomah.

Ya Allah ..
Yang membolak-balikkan hati manusia, Tetapkanlah hati kami ini agar tetap istiqomah beribadah kepada-Mu. Agar kami bisa mendapat akhir yang baik yaitu khusnul khotimah.

Aamiin Ya Rabbal’alamin

Wednesday, 11 October 2017

Tiga Orang Dalam Gua






Sahabat dunia islam, Diriwayatkan dari Abdullah bin Umar, beliau menceritakan, “Saya pernah mendengar Rasulullah  saw bercerita:
Dahulu ada kisah tiga orang dari kalangan orang sebelum kalian (dari kalangan Bani Israil) yang pergi berkelana, sampai akhirnya mereka menemukan sebuah gua, kemudian mereka pun masuk ke dalamnya. Tak lama kemudian, ada batu besar yang jatuh dari gunung dan menutup pintu gua tersebut.  Salah seorang di antara mereka mengatakan,  “Tidak akan ada yang bisa menyelamatkan kalian dari batu ini kecuali kalian harus berdoa kepada Allah  dengan perantara kebaikan amalkalian.”
Kemudian salah seorang di antara mereka berdoa, “Ya Allah, sesungguhnya saya mempunyai dua orang tua yang sudah renta, dan saya tidak pernah mendahulukan selain keduanya, baik keluarga maupun pelayan untuk meminum air.
Pada suatu ketika saya pergi mencari kayu bakar, sampai tatkala pulang, saya mendapati keduanya telah tertidur. Maka saya memeras susu untuk makan malamnya, namun saya dapati keduanya sudah tertidurpulas, saya enggan untuk membangunkannya dan saya tidak mau memberikan susu tersebut pada orang lain sebelum keduanya. Sehingga saya menunggu dengan tetap memegang gelas hingga keduanya terbangun sampai terbit fajar. Sementara anak-anakku merengek meminta minum di bawah kakiku. Sampai akhirnya kedua orang tuaku terb angun lalu meminum air susu tersebut. Ya Allah, kalau sekiranya hal itu saya lakukan karena ikhlas mengharap wajah-Mu, maka keluarkan kami dari tempat ini”. Maka batu itupun bergeser sedikit, akan tetapi mereka belum bisa keluar.
Orang yang kedua mengatakan, “Ya Allah, sesungguhnya saya mempunyai keponakan yang paling saya cintai. Dalam riwayat lain dikatakan, “Dan saya mencintainya sebagaimana cintanya seorang 1aki-1akikepada perempuan. Maka saya menginginkan dirinya, namun ia menolaknya, hal itu berlangsung sampai datang suatu masa paceklik yang membuatnya kekurangan.
Hingga pada suatu hari ia datang kepadaku, maka saya memberikannya uang sebanyak seratus dua puluh dinar, agar dirinya mau saya pergauli, ia pun menyetujuinya. Sampai kiranya saya sudah mampu melakukan apapun yang saya inginkan —dalam riwayat lain disebutkan, ‘Tatkala diriku sudah berada di antara kedua kakinya’-— Ia berkata, ‘Takutlah engkau kepada Allah jangan engkau robek cincinnya selain dengan cara yang benar!’
Kemudian saya tinggalkan dirinya, sedangkan dia adalah orang yang paling saya cintai, saya juga tinggalkan semua uang yang telah saya berikan kepadanya. Ya Allah, kalau sekiranya saya lakukan hal itu dengan ikhlas mengharap wajah-Mu, maka keluarkan kami dari tempat ini”. Kemudian batu tersebut tergeser lagi, akan tetapi mereka masih belum mampu untuk keluar.
Orang yang terakhir berkata, “Ya Allah, saya pernah menyewa beberapa orang pelayan. Dan saya telah
memberi upah semua pegawai tersebut kecuali satu orang, orang itu telah meninggalkan upahnya tanpa
mengambilnya. Maka saya investasikan upahnya tersebut sampai menjadi harta yang sangat banyak. Pada suatu ketika orang tersebut datang kepadaku, sembari mengatakan, ‘Wahai hamba Allah! Berikan upah saya yangg dahulu.’
Lalu saya jawab, ‘Semua yang engkau lihat ini adalah hasiil dari upahmu yang dulu, unta, sapi dan kambing serta budak !’ Ia menanggapi, ‘Wahai hamba Allah, jangan mengejekku.’ Maka saya jawab, ‘Saya tidak sedang mengejekmu.’ Kemudian dirinya mengambil semua harta tersebut tanpa menyisakan sedikitpun.
Ya Allah sekiranya saya mengerjakan hal itu dengan ikhlas mengharap Wajah-Mu, maka keluarkanlah kami dari tempat ini.”
Maka batu tersebut bergeser, sehingga mereka mampu keluar dari tempat tersebut”.
(Hadits Shoheh Riwayat Bukhari dan Muslim)

Tuesday, 10 October 2017

Gubernur Ini Tak Malu Menjadi Kuli Angkut








Salman Al Farisi pernah menjabat gubernur di beberapa kota. Ia adalah orang yang sangat rendah hati, hingga ia makan dan minum dari hasil keringatnya sendiri.
Pada suatu hari ketika Salman sedang berjalan kaki, ia bertemu dengan seorang pedagang yang datang dari negeri Syam, sambil membawa barang bawaannya berupa buah tin dan buah kurma. Pedagang itu mencari tukang angkut (kuli) yang dapat membantunya membawakan barang bawaannya.
Tatkala dilihatnya seorang lelaki yang tampaknya olehnya seperti halnya rakyat kebanyakan, terlintas dalam benaknya untuk menyuruh orang itu membawakan barang dagangannya.
Pedagang itu pun melambaikan tangannya sembari menunjuk orang yang dilihatnya agar menghampirinya. Pedagang ituberkata, “Tolong bawakan barang-barangku ini!”
Orang yang diperintah pun segera membawanya dan keduanya berjalan beriringan hingga melewati sekelompok orang yang sedang berkumpul. Sang Pedagang lantas mengucapkan salam kepada mereka. Mereka lalu menjawab, “Wa’alaikummusalam wahai Amirul Mukminin.”
“Wahai Gubernur? Gubernur mana yang kalian maksud?” kata orang Syam itu dalam hatinya.
Ia semakin bertambah keheranan tatkala melihat sebagian dari mereka cepat-cepat menuju ke arah tukang angkutnya sembari memohon, “Biar aku saja yang membawanya wahai Amir”
Akhirnya pedagang dari Syam itu mengetahui bahwa orang yang membawa barang-barangnya itu tidak lain adalah gubernur wilayah tersebut, yaitu Salman Al Farisi. Seketika itu juga dia langsung meminta maaf kepada beliau dan menyatakan penyesalannya.
Segera ia mendekati Salman untuk membantu menurunkan barang bawaannya, tetapi Salman menolak sambil berkata, “Tidak usah, aku akan membawanya hingga sampai di rumahmu,” tuturnya.

Monday, 9 October 2017

Harta Yang Dibawa, Yang Disedekahkan






“Mayit itu akan diikuti oleh tiga golongan, yaitu keluarganya, hartanya dan amalnya. Maka keluarga dan hartanya akan kembali pulang sementara amalnya akan tetap menemaninya.” (muttafaq alaih)

Berbicara tentang harta sungguh merupakan tema yang sangat menarik. Dunia ini hiruk pikuk dengan orang-orang yang mencarinya. Padahal tanpa sadar harta yang sudah susah payah dicari dan diperoleh tidak akan langgeng bersama pemiliknya. Itulah inti peringatan Nabi ﷺ pada hadits di atas.

Simaklah kisah berikut tentang seorang Raja terkenal Alexander the Great atau Iskandar Agung (323 SM) dari Macedonia yaitu sebuah negara di daerah timur laut Yunani. Pada usia tiga puluh tahun, dia memimpin sebuah kekaisaran terbesar pada masa sejarah kuno, membentang mulai dari Laut Ionia sampai pegunungan Himalaya. Dia tidak pernah terkalahkan dalam pertempuran dan dianggap sebagai komandan perang terhebat sepanjang masa.

Pada saat akan meninggal dan dalam keadaan kritis di usia belia 32 tahun, ia berkata pada para dokter yang merawatnya :

"Ambillah 1/2 dari kekayaanku, jika kamu dapat mengantarkan aku untuk menemui ibuku sebentar saja.."

Dokter menjawab : "Jangankan separuh, bahkan seluruh kekayaan Baginda diberikan kepada hamba semuanya, hamba pun tidak akan mampu menambah 1 tarikan nafas."

Mendengar jawaban tersebut, air mata pun berlinang di pipi sang Raja, dia berkata: "Seandainya aku tahu begitu berharganya 1 tarikan nafas, maka aku tidak akan pernah menyia-nyiakan waktu hanya untuk mengejar kekuasaan.."

Kemudian sang Raja pun berpesan, agar nanti sewaktu diarak dalam peti mati menuju peristirahatannya yang terakhir, ia minta agar kedua tangannya dikeluarkan, agar setiap rakyatnya dapat melihat bahwa Alexander Agung yang hebat dan mampu menguasai wilayah terbesar sepanjang sejarah kehidupan manusia ini ternyata harus berpulang dengan tangan kosong. Tidak memiliki apa-apa dan tidak membawa apa-apa.

Kejadian ini senada dengan sabda Rasul ﷺ bersabda: “Anak Adam berkata: Hartaku, hartaku, Allah berfirman: tidaklah engkau memiliki harta wahai anak Adam kecuali apa yang engkau telah makan dan habis, atau engkau pakai lalu rusak, atau engkau sedekahkan lalu engkau berlalu membawanya dan apa-apa selain itu maka dia pergi dan ditinggalkan untuk orang lain.” (HR Muslim)

wallahu A'lam.

Semoga kita tidak lupa bahwa harta itu bukanlah tujuan melainkan hanya sarana untuk menggapai ridha Allah ta’ala.

Wednesday, 4 October 2017

Menyiapkan Bekal Untuk Kehidupan Yang Kekal


Kita hidup di dunia, tidak lama. Rasulullah shallallahu’alaihi wasallam telah bersabda:

أَعْمَارُ أُمَّتِـي مَا بَيْنَ السِّتِّيْنَ إِلَى السَّبْعِيْنَ وَأَقَلُّهُمْ مَنْ يَجُوزُ ذَلِكَ

“Umur-umur umatku antara 60 hingga 70 tahun, dan sedikit orang yg bisa melampui umur tersebut” (HR. Ibnu Majah: 4236, Syaikh Al Albani mengatakan: hasan shahih).

Dan ternyata dalam waktu yang sebentar itu, kita memerlukan bekal yang banyak untuk mengarunginya. Bahkan kadang kita harus banting tulang demi mencari bekal untuk kehidupan ini.
Jika untuk waktu +-70 tahun saja kita harus banting tulang untuk mencari bekalnya, lalu sudahkah kita banting tulang untuk kehidupan alam barzakh yang mungkin bisa sampai ribuan tahun?!

Setelah alam barzakh juga kita harus dibangkitkan dan hidup dalam waktu yang sangat lama, satu harinya = 50 ribu tahun. Ingat, ketika itu tak ada yang berguna kecuali amal baik kita. Tak ada pakaian, tak ada sandal, matahari hanya berjarak 1 mil dan tak ada naungan kecuali naungan-Nya.

Sungguh, kehidupan setelah kehidupan dunia ini jauh lebih lama, dan jauh lebih berat. Tentu itu memerlukan usaha mengumpulkan bekal yang jauh lebih banyak dan jauh lebih intens.
Oleh karena itu, lihatlah diri Anda, sudahkah dia mempersiapkannya…?!

Allah ta’ala berfirman:

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ وَلْتَنْظُرْ نَفْسٌ مَا قَدَّمَتْ لِغَدٍ وَاتَّقُوا اللَّهَ إِنَّ اللَّهَ خَبِيرٌ بِمَا تَعْمَلُونَ

“Hai orang-orang yang beriman, bertakwalah kepada Allah dan hendaklah setiap diri memperhatikan apa yang telah diperbuatnya untuk hari esok (akhirat), dan bertakwalah kepada Allah, sesungguhnya Allah Maha Mengetahui apa yang kamu kerjakan“. (QS. Al-Hasyr: 18).