Telp. 0265-2351868 | WA 0878 8555 4556 | BBM 5AE49B09

Kisah Inspiratif

Smart Family

Tafakur

Terbaru

Saturday, 4 April 2020

Alhamdulillah kami sehat







Bapak dan Ibu sekeluarga, semoga sehat paripurna, lancar rezekinya dan terhindar dari semua musibah dan bencana . Aamiin Yaa Rabbal'alamiin
Musibah yang datang silih berganti, semoga tidak membuat kita lemah dan kehilangan harapan.
Dengan kejadian ini, kepedulian kita sedang diuji, semoga kita tidak menjadi berat tangan untuk berderma. Semoga kita bisa mengambil hikmahnya dan semakin mendekatkan diri kita kehadirat Illahi Rabbi











Friday, 3 April 2020

Sepotong Kayu Berisi Kejujuran










Pada zaman dahulu, sebelum era keislaman, hidup seorang pemuda dari kalangan Bani Israil yang memiliki pribadi luhur. Ia sangat jujur dan tak pernah ingkar janji. Suatu hari si pemuda sangat membutuhkan uang untuk keperluannya. Ia pun meminjam sejumlah uang kepada seseorang yang ia kenal. Namun, saat itu tak ada saksi dalam interaksi utang piutang tersebut. 

“Datangkan ke sini para saksi yang akan mempersaksikan,” ujar si peminjam uang.
“Cukuplah Allah sebagai saksi,” kata si pemuda.
“Kalau begitu, datangkan kepadaku seorang penjamin,” pinta si peminjam lagi.
Namun, si pemuda tak memiliki seseorang untuk menjadi saksi apalagi penjamin. Ia hanya bisa berucap, “Cukuplah Allah sebagai penjamin,” kata si pemuda. Akan tetapi, baginya menyebut asma Allah dalam ikatan perjanjian maka menjadikannya sangat kuat. Jika dilanggar, ia amat takut Allah murka.
Tekad si pemuda pun dipercaya si peminjam. “Kau benar,” katanya. Ia pun kemudian memberi pinjaman seribu dinar kepada sang pemuda. Keduanya pun menyepakati masa jatuh tempo pengembalian uang tersebut.
Pergilah si pemuda mengarungi samudera untuk memenuhi kebutuhannya dengan uang pinjaman tersebut. Saat jatuh masa tempo pengembalian, ia pun bermaksud kembali ke pulau si peminjam tinggal. Namun apa daya, tak ada layanan perahu menuju tempat si peminjam.
Padahal, di hari biasa perahu selalu tersedia. Namun, entah mengapa hari itu si pemuda tak mendapati satu pun perahu meski telah mencarinya dengan keras. Cemaslah hati pemuda itu. Ia tak mau melanggar kesepakatan dan janji utangnya.
Si pemuda tak mau berputus asa segera. Ia telah berjanji akan mengganti uang seribu dinar tersebut pada hari itu juga. Maka ia pun berpikir, bagaimana cara untuk memenuhi janjinya. Ia pun mengambil sepotong kayu, kemudian melubanginya.
Uang seribu dinar itu kemudian ia masukkan pada lubang kayu tersebut. Tak lupa sepucuk surat kepada sang piutang juga diikutsertakan pada lubang kayu tersebut.
Ia menutup lubang kemudian melarungnya ke laut seraya berdoa, “Ya Allah, sungguh Engkau tahu bahwa aku meminjam uang sebesar seribu dinar. Lalu ia (si peminjam) memintaku seorang penjamin, namun kukatakan padanya, ‘Allah cukup sebagai penjamin’. Ia pun rida dengan-Mu. Ia juga meminta saksi kepadaku, aku pun mengatakan ‘Cukup Allah sebagai saksi’. Ia pun rida kepada-Mu. Sungguh aku telah berusaha keras untuk mendapatkan perahu untuk mengembalikan uangnya yang kupinjam, namun aku tak mendapatinya. Aku tak mampu mengembalikan uang pinjaman ini, sungguh aku menitipkannya kepada-Mu,” ujar si pemuda bertawakal.
Sepotong kayu itu pun kemudian hanyut mengikuti arus laut. Namun, meski telah memasrahkan uang dalam kayu tersebut, bukan berarti si pemuda berhenti berusaha. Ia terus mencari perahu untuk menghantarnya ke negeri seberang, tempat si peminjam tinggal.
Sementara itu, di negeri seberang, si piutang terus menengok dermaga menunggu perahu si pemuda. Namun, lama nian tak ada satu perahu pun yang mengantarkan uangnya kembali. Ia pun menunggu di tepi laut berharap si pemuda menepati janjinya.
Cukup lama menunggu, ia pun bosan. Namun, tiba-tiba ia melihat sebongkah kayu yang hanyut. Bermaksud digunakan sebagai kayu bakar di rumahnya, ia pun memungutnya dan membawanya pulang. Terkejut, saat membelah kayu tersebut, ia mendapati uang seribu dinar dan sepucuk surat. Membaca surat tersebut, ia pun tersenyum riang.
Keesokan harinya, si pemuda muncul dengan wajah penuh cemas dan rasa bersalah. Turun dari perahu, ia bergegas menuju rumah si peminjam utang. “Demi Allah, aku terus berusaha mencari perahu untuk menemuimu dan mengembalikan uangmu. Tapi, aku tak memperoleh perahu hingga perahu sekarang ini aku datang dengannya,” ujar si pemuda menjelaskan uzurnya.
Si peminjam uang pun tersenyum melihat kegigihan pemuda menepati janjinya. Ia pun berkata, “Apakah kau mengirim sesuatu kepadaku?” tanyanya. Namun, si pemuda tak sedikit pun menyangka bahwa kayu kirimannya sampai tujuan meski tanpa alamat, apalagi jasa kurir. “Aku katakan kepadamu, aku tak mendapatkan perahu sebelum apa yang kubawa sekarang ini,” ujar si pemuda sembari menunjukkan seribu dinar untuk diberikan kepada si peminjam utang. Wajah sang piutang pun merekah gembira. Ia senang mendapati pemuda yang begitu jujur dan menepati janji. Ia pun harus berkata jujur bahwa utangnya si pemuda telah lunas melalui kayu yang dikirimkannya sesuai tenggat waktu peminjaman. “Sungguh Allah telah menyampaikan uang yang kau kirim di dalam kayu. Maka, pergilah dan bawalah kembali seribu dinar yang kau bawa ini,” ujar si  pemberi utang.
Kisah pemuda dan sepotong kayu tersebut dikabarkan oleh Rasulullah dalam hadis riwayat Al-Bukhari dan Nasa’i. Tak dikabarkan jelas siapa nama pemuda tersebut dan latar lokasi tempat tinggal si pemuda dan si piutang. Namun, kisah ini dipastikan kebenarannya, mengingat kedudukan hadis yang menyebutkan kisah itu memiliki derajat shahih.
Dari kisah tersebut, terdapat hikmah agung yang dapat menjadi pelajaran bagi Muslimin. Membulatkan tekad sangat dibutuhkan Muslimin sebelum bertawakal kepada Allah. Hal tersebut tercantum dalam Alquran surah Ali Imran ayat 159, Allah berfirman, “...Kemudian apabila kamu telah membulatkan tekad, maka bertawakallah kepada Allah. Sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang bertawakal kepada-Nya.”
Dalam kisah, si pemuda menunjukkan sikap memenuhi janji dengan ketekadan yang luar biasa. Hingga kemudian, ia menyerahkan urusannya kepada Allah dengan mengirimkan sepotong kayu. Ia bertawakal kepada Allah agar suratnya sampai ke tujuan setelah memiliki tekad bulat dalam hatinya untuk memenuhi janji mengganti hutangnya.

Thursday, 2 April 2020

Perataan Asrama Putri









Alhamdulillah, Yuk awali Pagi Sehat dengan bergerak dan berjemur, sambil meratakan lantai Pembangunan Asrama Putri.

Siapa yang masih mau ikutan wakaf pembangunan Asrama Putri?





Wednesday, 1 April 2020

Kisah Gadis Kecil Dengan Kesabarannya








Ini adalah kisah seorang gadis berumur 10 tahun bernama Bar`ah. Orangtuanya merupakan dokter yang telah pindah ke Arab Saudi untuk mencari kehidupan yang lebih baik.
Meski baru berusia 10 tahun, Bar`ah sudah menghafal seluruh Alquran dengan tajwid yang baik. Dia dikenal sebagai anak yang sangat cerdas. Bahkan gurunya mengatakan bahwa Bar’ah sudah lebih maju dari anak seusianya. Keluarga kecilnya pun terus mendorong dan berkomitmen mengajarkan Islam kepada Bar’ah.
Suatu hari, ibu Bar’ah merasa sakit perut yang parah. Setelah beberapa kali diperiksa ke dokter, ternyata ibu bar’ah menderita penyakit kanker. Kanker ini sudah dalam keadaan stadium akhir atau sudah kronis.
Ibu bar’ah berfikir untuk memberitahu putrinya, terutama jika ia terbangun pada suatu hari dan tidak menemukan ibunya di sampingnya.
“Bar`ah aku akan pergi ke surga di depan kamu nak. Tapi ibu ingin kamu selalu membaca Alquran dan menghafalkannya setiap hari karena itu akan menjadi pelindungmu kelak,” pesan ibu Bar’ah kepada anaknya.
Gadis kecil itu tidak benar-benar mengerti apa yang ibunya berusaha katakan. Tapi dia mulai merasakan perubahan keadaan ibunya, terutama ketika ibunya mulai dipindahkan ke rumah sakit untuk waktu yang lama.
Sesuai pesan ibunya, Bar’ah pun menggunakan waktu sepulang sekolah untuk menjenguk sang ibu ke rumah sakit. Dia membaca Alquran untuk ibunya sampai malam hingga ayahnya datang menjemput pulang.
Suatu hari, pihak rumah sakit mengabarkan kepada ayah bar’ah bahwa kondisi istrinya sudah semakin buruk. Ayah Bar’ah perlu datang secepatnya. Kemudian, sang ayah menjemput Bar`ah dari sekolah. Keduanya berangkat menuju rumah sakit.
Sesampainya di depan rumah sakit, sang ayah meminta Bar’ah untuk tetap duduk di mobil. Agar Bar’ah tidak akan shock jika mendengar kabar ibunya meninggal dunia.
Ayah Bar’ah pun keluar dari mobilnya. Dengan penuh air mata, ia menyeberang jalan untuk masuk rumah sakit. Tiba-tiba, sebuah mobil melaju kencang dan menabrak ayah Bar’ah yang sedang menyebrang jalan. Seketika itu pula, Ayah Bar’ah meninggal tepat di hadapan putrinya. Gadis kecil ini pun menangis histeris.
Tragedi Bar`ah belum selesai sampai di sini. Kabar kematian ayahnya disembunyikan dari ibu Bar’ah yang masih opname. Namun setelah lima hari semenjak kematian suaminya, ibu Bar’ah juga wafat menyusul sang suami. Kini gadis kecil penghafal Alquran itu sendirian. Dia resmi jadi anak yatim piatu.
Orangtua teman-teman Bar’ah di sekolah memutuskan untuk mencarikan kerabat Bar’ah di Mesir, agar kerabatnya itu bisa merawatnya.
Tak berapa lama tinggal di Mesir, Bar`ah pun mulai mengalami nyeri, mirip dengan sakit yang dialami oleh ibunya. Keluarga Bar’ah pun kemudian membawanya ke dokter untuk diperiksa. Setelah beberapa kali tes, Bar’ah juga ternyata mengidap kanker.
Namun, jawaban Bar’ah justru sangat mencengangkat saat dirinya divonis kanker. “Alhamdulillah, sekarang aku akan bertemu dengan kedua orang tua (ayah dan ibu),” ucap Bar’ah.
Semua teman-teman dan keluarga terkejut. Gadis kecil ini sedang menghadapi musibah yang bertubi-tubi, tetapi dia tetap sabar dan ikhlas dengan apa yang ditetapkan Allah untuknya!
Orang-orang mulai mendengar cerita tentang Bar`ah. Pemerintah Saudi pun memutuskan untuk mengurusnya. Bar’ah kemudian dikirim ke Inggris untuk pengobatan penyakit kanker ini.
Salah satu saluran TV Islam (Al Hafiz) mendapat kontak dengan gadis kecil ini dan memintanya untuk membaca Alquran. Lantunan ayat suci yang dibacakan Bar’ah terdengar indah dan merdu. Bar’ah juga kerap berdoa untuk orangtuanya seraya menyanyikan lagu Nasyid.
Hari-hari terlewati dan kanker mulai menyebar di seluruh tubuh Bar’ah. Para dokter memutuskan untuk mengamputasi kakinya. Sekali lagi, Bar’ah tetap bersabar dan pasrah  dengan apa yang ditetapkan Allah baginya.
Beberapa hari setelah operasi amputasi kakinya, kanker Bar’ah menyebar ke otaknya. Dokter pun memutuskan untuk melakukan operasi otak. Dan sekarang bar’ah berada di sebuah rumah sakit di Inggris menjalani perawatan.  
Kisah Bar’ah begitu menginspirasi kita semua, khususnya umat Muslim. Bahwa sebesar apa pun ujian dan musibah yang menimpa, sabar dan salat adalah obatnya. Tidak peduli kapan Allah SWT akan mengambil nyawa Bar’ah, namun gadis kecil ini tetap berpegang teguh pada Iman dan Islamnya.
“Jadikanlah sabar dan salat sebagai penolongmu. Dan sesungguhnya yang demikian itu sungguh berat, kecuali bagi orang-orang yang khusyu” (Q.S. Al-Baqarah [2] ayat 45)

Friday, 27 March 2020

Santri Belajar Bercocok Tanam







Assalamu'alaikum wr wb...
Sahabat, berikut kegiatan santri dalam melestarikan lingkungan dengan menanam tanaman. Kegiatan ini sangat produktif sekali bagi mereka dalam menambah ilmu pengetahuan tentang bagaimana baiknya bercocok tanam. Sehingga sampai nanti santri bisa memanen serta menikmati hasil dari semua yang mereka tanam.
Dari Jabir radhiyallahu ‘anhuma bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda, “Barangsiapa yang mengolah tanah mati, dia mendapatkan pahala. Apapun yang dimakan oleh makhluk hidup dari hasil olahannya bernilai sedekah bagi dia.”









Wednesday, 25 March 2020

Seluruh Santri Rumah Yatim Indonesia Hadiri Sosialisasi Terkait Virus Corona


Pengasuh Pesantren Rumah Yatim Indonesia melakukan sosialisasi pencegahan virus corona (Covid-19) yang belakangan ini cukup meningkat dalam pesebarannya.

Sosialisasi ini disampaikan oleh salah satu perwakilan dari pihak pengasuh pesantren, sosialisasi bertempat di Masjid Generasi Mandiri Rumah Yatim Indonesia. Dalam hal ini, seluruh santri wajib mengikuti sosialisasi tersebut agar santri melek akan informasi media dan agar lebih wasdapa terhadap virus tersebut.

Atas kekhawatiran virus Corona ini pengasuh mengeluarkan keputusan bahwa santri yang ada di pondok tidak boleh pulang, santri yang ada di pesantren senantiasa untuk berwudhu, menjaga kebersihan, mencuci tangan, dan jangan sering menyentuh bagian wajah.

Tidak hanya menekankan pada himbauan saja, saat sosialisasi itu,  juga membahas tentang asal-usul virus Corona, penyebaran virus Corona, pencegahan tertularnya virus Corona, cara mencuci tangan yang baik, hingga keadaan negara-negara lain yang sudah terpapar virus tersebut.

Selama masa darurat penyebaran virus corona, para pengasuh terus memantau dan menghimbau agar para santri lebih waspada dan meningkatkan pola hidup bersih dan sehat supaya terhindar dari virus corona.



Saturday, 21 March 2020

Belajar Di Kelas Malam









Assalamu'alaikum wr wb..

Sahabat, berikut suasana kelas malam di Yayasan Rumah Yatim Indonesia. Tetap semangat ya adik-adik dalam meraih ilmu, karena tidak ada batasan dalam menggapai ilmu, bisa dimanapun dan kapanpun.