Telp. 0265-2351868 | WA 0878 8555 4556 | BBM 5AE49B09

Kisah Inspiratif

Smart Family

Tafakur

Terbaru

Friday, 15 December 2017

Keadilan Allah Terhadap Orang Yang Dzalim








Alkisah dahulu di salah satu negara timur tengah yg sedang dalam penjajahan Negara Barat , hiduplah seorang  polisi berpangkat kolonel. Kolonel ini sangat kejam kepada siapa saja yang tidak mau mengikuti keinginan sang penjajah. Ia tidak segan-segan menyiksa siapa saja dengan berbagai macam siksaan agar sang penjajah senang, termasuk orang-orang shaleh yg tidak bersalah sekalipun.

Namun Allah SWT Maha Adil , setelah para atasannya yaitu penjajah barat tersebut pergi dari negaranya, ia dibenci oleh rakyat negaranya bahkan keluarganya. Sampai akhirnya suatu ketika ia menderita berbagai macam penyakit seperti darah tinggi, diabetes, penyempitan pembuluh darah, keracunan darah , liver dll.

Di rumah sakit Kolonel ini pada siang hari tidak bisa tidur, pada malam hari ia menjerit kesakitan dan berteriak memanggil perawat laki-laki atau perawat wanita, setelah perawat datang ia tidak minta apa-apa hanya minta ditemani hingga matahari terbit. Itulah yg ia alami setiap malam selama berbulan-bulan  menuju gerbang kematian (sakaratul maut) dengan sangat sulit sekali.

Dulu ia sering menyiksa orang lain yang tidak bersalah pada malam hari kini ia oleh Allah disiksa juga pada malam hari. Kolonet ini menangis tersedu-sedu memori ingatannya masih kuat sehingga masih bisa menceritakan kisahnya ini kepada salah seorang yang mengunjunginya. Dan ia berkata: ”Apa yang aku derita sekarang adalah hukuman dari Allah,SWT. sebab dulu aku menyeret banyak orang-orang yang tidak bersalah ke pengadilan dan juga menyiksa orang-orang yang sholeh karena ingin sekali menyenangkan sang penjajah barat.”

Allah SWT membiarkan ingatannya dan hatinya berdenyut agar ia merasakan siksa dunia, tapi siksa akhirat itu lebih menyakitkan dan pedih. Nau’zubillah

Thursday, 14 December 2017

Mengeluarkan Harta Atau Air Mata?


Saat ini lebih banyak orang yang bersaing dalam hal dunia. Namun sangat sedikit manusia yang berlomba dalam ketaatn di hadapan-Nya. Mereka berlomba mengeluarkan harta, bukan air mata rindu kepada Rabb-Nya.

ORANG yang hatinya dikuasai oleh dosa dan maksiat, tentu matanya akan mengering. Mata pelaku maksiat tidak bisa menteskan air mata karena sama sekali tidak bisa merasakan keagungan Allah dan rasa takut kepada-Nya.

Kita hidup di masa yang menjadikan hati kita kesat dan mata kita kering. Semua apa yang ada di sekitar kita membuat hati ini kesat. Sedikit sekali saling cinta di antara kita, yang ada hanyalah saling mendengki satu sama lain. Jiwa dan mata kita dipenuhi dengan penglihatan dan pendengaran yang haram. Kita lebih banyak mengutamakan makan dan tidur dibandingkan dengan beribadah kepada Allah. Ibnu Athaillah pernah berkata, “Banyak orang yang mengeluarkan dinar dan dirham. Namun, sangat sedikit yang mengeluarkan air mata.

Manusia saling berbangga dan bersaing dalam kenikmatan dunia dan dalam mengeluarkan harta. Namun mereka tidak pernah bersaing dalam perjalanan menuju Allah dan dalam menangis karena takut dan rindu kepada-Nya. Mereka sibuk dengan dunia, pdahal dunia itu terlaknat sebagaimana sabda Nabi, “Dunia ini terlaknat dan terlaknat pula apa-apa yang ada di dalamnya kecuali zikrullah.” (HR. Tirmidzi).

Tanpa kita sadari, kita lebih sering memikirkan dunia ini. Tanpa pernah berpikir, akhiratlah tempat kita kembali dan menetap. Sibukkanlah diri kita dengan selalu mengingat Allah. Karena kelak, Allah akan bertanya tentang apa-apa yang kita perbuat di dunia ini. 

Wallahu ‘alam.

Wednesday, 13 December 2017

Kisah Kejujuran Imam Masjid






Seorang imam masjid di London, setiap hari pergi pulang dari rumahnya ke masjid dengan mengendarai bus umum. Ongkos bus tersebut dibayar pakai kartu (card), atau langsung ke sopir karena bus tidak memiliki kondektur. Setelah bayar, baru kemudian cari tempat duduk kosong.
Sang imampun bayar ongkos pada sopir lalu menerima kembalian, sebab hari itu ia tidak punya uang pas… baru kemudian duduk di bangku belakang yg kosong.
Di tempat duduknya dia menghitung uang kembalian dari sopir yg ternyata lebih 20 sen. Sejenak iapun terpikir.. uang ini dikembalikan atau tidak yah..? Ah cuma 20 sen ini… ah dia (sopir) orang kafir ini… atau aku masukin saja ke kotak amal di masjid…??
Setelah sampai di tempat tujuan, ia pun hendak turun bus dengan berjalan melewati sopir bus tersebut. Dalam hatinya masih bergejolak atas uang 20 sen itu, antara dikembalikan atau tidak. Namun ketika sampai di dekat sopir, spontan iapun mengulurkan 20 sen sambil berkata: “Uang kembaliannya berlebih 20 sen”.
Tanpa disangka tanpa dinyana.. sopir itu mengacungkan jempol seraya berkata:
“Anda berhasil..!!!”
“Apa maksud anda..?” Tanya imam masjid.
“Bukankah anda imam masjid yang di sana tadi?” Tanya sopir.
“Betul” jawabnya
Lantas sopir itu berkata…
“Sebenarnya sejak beberapa hari ini saya ingin datang ke masjid anda untuk belajar dan memeluk Islam.. tapi timbul keinginan di hati saya untuk menguji anda sebagai imam masjid, apa benar Islam itu seperti yang saya dengar: jujur, amanah dan sebagainya. Saya sengaja memberikan kembalian berlebih dan anda berhasil. Saya akan masuk Islam”. Kata sopir tersebut..
Alangkah tercengangnya imam masjid tersebut, sambil beristighfar meyesali apa yg dipikirkannya tadi. Hampir saja ia kehilangan kepercayaan hanya dengan uang 20 sen itu. Astaghfirullah…
Semoga jadi pelajaran buat kita untuk sentiasa bersikap sebagai seorang muslim sejati di mana saja, kapan saja dan di hadapan siapa saja… 

Kebesaran Hati Seorang Ibu


1. Ketika mau makan, jika makanan kurang, Ia akan memberikan makanan itu kepada anaknya dan berkata, makanlah ibu tidak lapar

2. Saat makan, Ia selalu menyisihkan ikan/daging untuk anaknya dan berkata, ibu tidak suka ikan/daging, makanlah nak

3. Tengah malam saat dia sedang menjaga anaknya yang sakit, Ia berkata, Istirahatlah nak, ibu belum ngantuk

4. Saat anak sudah bekerja, mengirimkan uang untuk ibu. Ia berkata, Simpanlah untuk keperluanmu nak, ibu masih punya uang.

5. Saat anak sudah sukses, menjemput ibunya untuk tinggal di rumah besar, Ia lantas berkata, Rumah tua kita sangat nyaman, ibu tidak terbiasa tinggal di sana.

6.Saat menjelang tua, ibu sakit keras, anaknya menangis, tetapi ibu msh bisa tersenyum sambil berkata, Jangan menangis nak, ibu tidak apa apa.Ini adalah kebohongan terakhir yg dibuat ibu.

Tidak peduli seberapa kaya kita, seberapa dewasanya kita, ibu selalu menganggap kita anak kecilnya, mengkhawatirkan diri kita tapi tidak prnh membiarkan kita mengkhawatirkan dirinya.Smoga smua anak di dunia ini bisa menghargai setiap kebohongan seorang ibu.

Berbahagialah orang-orang yang masih memiliki ibu dan bahagiakanlah ibu selagi masih ada.

Saturday, 9 December 2017

Mengeluh, Gejala Penyakit Yang Tak Bersyukur










Allah Swt. berfirman dalam QS An-nahl : 18, artinya : “Dan jika kamu menghitung nikmat Allah, niscaya kamu tidak dapat menentukan jumlahnya.”

Ketika seseorang hanyut dalam keluhan, panca indranya pun tak mampu lagi memainkan peranannya untuk melihat, mendengar, mencium dan merasakan nikmat yang bertebaran diberikan oleh Allah Swt. Tak henti-hentinya, hatinya serta merta buta dari mengingat dan bersyukur atas nikmat Allah yang tiada terbatas. Ia kehilangan akal sehatnya dan jiwanya sakit karena tidak bisa melihat masalah dengan jernih. Hatinya panas, pikiran panas dan tak tenang. Itulah sifat manusia yang selalu mempunyai keinginan yang tidak terbatas dan tidak pernah puas atas pemberian Allah kecuali hamba-hamba yang bersyukur dan itu hanya sedikit.

Pada zaman Sayyidina Umar al-Khattab, ada seorang pemuda yang sering berdo’a di sisi Baitullah yang maksudnya: “Ya Allah! Masukkanlah aku dalam golongan yang sedikit. Doa beliau didengar oleh Sayyidina Umar ketika beliau (Umar) sedang melakukan tawaf di Ka’bah. Umar heran dengan permintaan pemuda tersebut. Selepas melakukan tawaf, Sayyidina Umar memanggil pemuda tersebut dan bertanya, “Mengapa engkau berdoa sedemikian rupa (Ya Allah! masukkanlah aku dalam golongan yang sedikit), apakah tidak ada permohonan lain yang engkau mohonkan kepada Allah?”

Pemuda itu menjawab, “Ya Amirul Mukminin! Aku membaca doa itu karena aku takut dengan penjelasan Allah dalam surah Al-A’raaf ayat 10, yang artinya: ‘Sesungguhnya Kami (Allah) telah menempatkan kamu sekalian di muka bumi dan Kami adakan bagimu di muka bumi (sumber/jalan) penghidupan. (Tetapi) amat sedikitlah kamu bersyukur’. Aku memohon agar Allah memasukkan aku dalam golongan yang sedikit, (lantaran) terlalu sedikit orang yang tahu bersyukur kepada Allah,” jelas pemuda tersebut.

Semoga kita menjadi hamba-hamba yang dikategorikan sedikit oleh Allah dalam ayat tersebut. Dengan selalu menjaga ikhlas dan sabar terhadap segala kejadian atau ketentuan yang diberikan oleh Allah. Dan berprasangka positif bahwa apa yang telah terjadi adalah yang terbaik menurut Allah, sehingga hanya rasa syukur saja yang terlintas di benak, terucap di bibir dan terlihat dari tindakan karena sesungguhnya jika kita bersyukur maka Allah akan menambah nikmat-Nya dan jika kita ingkar, sesunggunya azab Allah sangat pedih (QS Ibrahim:7).

Thursday, 7 December 2017

Bahaya Mencampuri Urusan Orang Lain








Berikut ini beberapa kisah yang mungkin pernah kita baca, yang bisa kita jadikan cermin.

Seorang saudara laki-lakinya bertanya saat kunjungan seminggu setelah ia melahirkan, ia bertanya, “Hadiah apa yang diberikan suamimu setelah engkau melahirkan?”

“Tidak ada,” jawabnya pendek.

Saudaranya bertanya lagi, “Masak sih? Apa engkau tidak berharga di sisinya? Aku bahkan sering memberi hadiah istriku walau tanpa alasan yang istimewa.”

Siang itu, ketika suaminya lelah pulang dari kantor menemukan istrinya merajuk di rumah, keduanya lalu  terlibat pertengkaran. Sebulan kemudian, mereka bercerai. Dari mana sumber masalah tersebut?

Di lain tempat, saat sedang arisan, seorang Ibu bertanya kepada tuan rumah, “Rumahmu ini apa tidak terlalu sempit? Bukankah anak-anakmu banyak?”

Rumah yang tadinya terasa lapang, sejak saat itu mulai dirasa sempit oleh penghuninya. Ketenangan pun hilang saat keluarga ini mulai terbelit hutang manakala mencoba membeli rumah yang lebih besar dengan cara kredit ke bank.

Kisah lain, seorang teman bertanya, “Berapa gajimu sebulan kerja di Toko si A?”

Sang teman menjawab, “Satu juta rupiah.”

Kata temannya lagi, “Cuma satu juta? Sedikit sekali ia menghargai keringatmu Apa cukup untuk memenuhi kebutuhan hidupmu?”

Sejak saat itu teman ini jadi membenci pekerjaannya. Ia lalu meminta kenaikan gaji pada pemilik toko. Sayangnya, pemilik toko menolak, malahan memberhentikannya. Kini ia malahan tidak berpenghasilan dan jadi pengangguran.

Kali lain, seseorang bertanya pada seorang kakek tua, “Berapa kali anakmu mengunjungimu dalam sebulan?”

Sang kakek menjawab, “Sebulan sekali.”

Orang yang tadi bertanya menimpali, “Wah, keterlaluan sekali anak-anakmu itu. Di usia senjamu ini seharusnya mereka lebih sering mengunjungimu.”

Hati sang kakek menjadi sempit, padahal tadinya ia amat rela terhadap anak-anaknya. Ia jadi sering menangis dan ini memperburuk kesehatan dan kondisi badannya.

Apa sebenarnya keuntungan yang kita dapat ketika bertanya seperti pertanyaan-pertanyaan tadi?

Mari menjaga diri dari mencampuri kehidupan orang lain, mengecilkan dunia mereka, menanamkan rasa tak rela pada apa yang mereka miliki, mengkritisi penghasilan, dan keluarga mereka, dll.

Kita bisa menjadi agen kerusakan di muka bumi dengan cara ini. Bila ada bom pemecah yang meledak, cobalah intropeksi diri, bisa jadi kitalah yang menekan tombolnya.

Peringatan Maulid Nabi Muhammad SAW bersama Gus Nur



04 Desember 2017, telah di adakan acara Peringatan Hari Besar Islam (PHBI) tepatnya memperingati Maulid Nabi Muhammad SAW di sebuah Masjid di Perum Tamara tepatnya berlokasi di Tamansari Kota Tasikmalaya.
Pimpinan pondok pesantren Tahfidz Al Karomah Palu, Sulawesi Tenggara, Sugi Nur Raharja, Gus Nur meminta umat muslim untuk meniru akhlak Nabi Muhammad SAW.
Ada dua akhlak nabi yang patut di teladani, pertama ketika pribadi nabi yang di dzalimi, maka Rosulullah tersenyum. Namun ketika agamanya yang dikotori maka Rosulullah menghunus pedang.
“Hati Rosulullah itu seperti lautan. Beratus-ratus orang bahkan beribu-ribu orang menyakiti dibalas oleh Rosulullah dengan kasih sayang, tidak memiliki rasa dendam,” katanya dalam peringatan maulid Nabi di Mesjid Perum Taman Abdi Negara (Tamara) Kelurahan Tamannya, Kecamatan Tamansari, Kota Tasikmalaya, Senin (4/12/2017).
Penceramah kelahiran Jogjakarta dan besar di Bangil Probolinggo itu sengaja datang dari Palu untuk menghadiri pengajian yang dilaksanakan oleh masyarakat Perum Tamara bersama, Pesantren Tahfidz Rumah Yatim Indonesia, Sekolah Bahasa Al-Quran dan Informatika (SAI) perum Kota Baru Kota Tasikmalaya.
Hadir dalam pengajian tersebut, Kabag Kesra Kota Tasikmalaya, H Nasihin yang mewakili Walikota Tasikmalaya, Camat Tamansari, Unsur Muspika dan Undangan lainnya.
Kata dia bagaimana mulianya ahlak Rosulullah saat di hajar habis habisan oleh penduduk Thoif, sampai harus merangkak ke luar gerbang. Dia sama sekali tidak marah apalagi sampai dendam. Padahal Jibril memberi isyarat untuk membalas apa yang sudah dilakukan penduduk Thoif kepada Nabi. Namun Rosulullah menolaknya.
Menurut, dai kondang tersebut, umat muslim kalau mau selamat di dunia dan akhirat, harus meneladani akhlak Rosulullah, dan selalu bertindak karena Allah.  Termasuk harus bisa sabar dalam menghadapi musbih dan bencana yang datang dari Allah.
“Di hati ini harus selalu ada Allah dan Rosulullah, maka hidup ini akan terasa tenang,” katanya.
Pengajian yang dimulai sejak pukul 13.00 itu tidak hanya diikuti oleh masyarakat Perum saja, tetapi juga dihadiri oleh ratusan santri dan santriwati dari Pondok Pesantren SAI Homeschooling, FPI Tamansari dan juga masyarakat lainnya di Tamansari.
Dalam kesempatan itu, Gus Nur yang berusia 43 tahun itu memberi cara jitu bagaimana hidup ini bisa lebih dengan keberkahan. Kuncinya kata dia menyerahkan sepenuhnya masalah kepada Allah dan tidak hanya curhat lewat Facebook yang biasa dilaksanakan umat muslim kebanyakan saat ini.
Kabag Kesra Kota Tasikmalaya, H Nasihin mengatakan, maulid Nabi dilaksanakan sebagi ungkapan rasa syukur atas lahirnya Nabi Muhammad. Apa yang dilakukan oleh Nabi dalam membangun peradaban yang berada harus diteladani oleh umat muslim di Tasikmalaya ini.
“Maulid Nabi ini untuk meneladani setiap pemikiran, ucapan dan tindakan Rosulullah yakni ahlak mulia yang rahmatan lilalamin,,” katanya.
Rosulullah kata dia bisa membangun tatanan kehidupan bernegara, menjunjung tinggi keadilan sosial, musyawarah mufakat, supremasi hukum, kebersamaan antar ummat menjadi harmoni. “Dan itu yang harus kita lakukan untuk membangun peradaban yang lebih beradab,” katanya.