Telp. 0265-2351868 | WA 0878 8555 4556 | BBM 5AE49B09

Friday, 10 June 2016

Duh, indahnya anak kita



Seringkali kita mengeluhkan kenakalan anak-anak kita, “ duh, anak saya ini kalo dinasehati susah nurutnya, bagaimana sih caranya supaya anak saya nurut ketika dinasehati, apa mesti dipukul dulu supaya nurut ? “.

Sahabat, mendidik anak itu indah dan menyenangkan, mengapa harus dengan kekerasan ? bukankah anak kita itu salah satu investasi yang sangat menggiurkan yang mampu membahagiakan kita ketika kita di Alam Penantian ( Alam Barzah ) bahkan hanya anak kitalah yang mampu menyematkan Lencana Penghargaan yang tiada tara di Akhirat kelak, ah masa sih ?, bukankah Rosulullah SAW suruh memukul anak kita ketika dia gak mau Sholat ? benar gak salah, tapi coba deh kita cermati narasi Haditsnya

Dari Amru bin Syuaib dari bapaknya dari kakeknya berkata, Rasulullah saw bersabda, “Perintahkanlah anak-anakmu shalat sementara mereka berumur tujuh tahun dan pukullah karenanya sementara mereka berumur sepuluh tahun dan pisahkanlah di antara mereka di tempat tidur.” (HR. Abu Dawud).

ada tenggang waktu 3 tahun sebelum kita memutuskan untuk memukul, kalo dia kita perintah sholat gak mau juga sholat, artinya apa? sebelum kita memarahi, mancaci, menghakimi dan memukul anak kita kita disuruh berfikir 3 tahun dulu sebelum fonis itu kita jatuhkan, kita disuruh menganalisis dulu secara mendalam selama 3 tahun “ Mengapa anak kita gak taat Aturan ?

Ada satu kisah yang menarik yang bisa kita jadikan pelajaran sebelum kita memutuskan menghukum anak kita dengan kekerasan.

Pada suatu hari Dr.Arun Gandhi, cucu Mahatma Gandhi memberi ceramah di Universitas Puerto Rico, ia menceritakan kisah hidupnya sebagai berikut :

Waktu itu ketika saya masih berusia 16 tahun dan tinggal bersama orangtua di sebuah Lembaga yang didirikan oleh Kakek saya, ditengah kebun tebu, 18 mil diluar kota Durban, Afrika Selatan. Kami tinggal jauh di Pedalaman dan tidak memiliki tetangga. Tak heran bila saya dan dua saudara perempuan saya sangat senang jika ada kesempatan pergi ke kota untuk berlibur dan mengunjungi teman atau memonton bioskop . 

Ketika ayah meminta saya untuk mengantarkan beliau ke kota untuk menghadiri konferensi seharian penuh, saya sangat gembira mendapatkan kesempatan itu. Tahu bahwa saya akan pergi ke kota, ibu memberikan tugas belanja dan memberikan daftar belanjaan yang beliau perlukan. Demikian juga ayah meminta saya mengerjakan beberapa pekerjaan yang tertunda, seperti memperbaiki mobil di bengkel ketika sampai di kota nanti.

Pagi itu setiba di tempat konferensi, ayah berkata, " Ayah tunggu kau disini jam 5 sore, lalu kita akan pulang ke rumah bersama-sama ".

Segera saja saya menyelesaikan pekerjaan-pekerjaan yang diberikan Ayah dan Ibu, kemudia saya mencuri waktu pergi ke Bioskop, wah saya benar-benar terpikat dengan dua permainan John Wayne sehingga lupa akan waktu, begitu melihat jam menunjukkan pukul 17.30, saya langsung lari menuju bengkel mobil dan buru-buru menjemput Ayah yang sudah menunggu saya, saat itu sudah hamper pukul 18.00 !!!

Dengan gelisah Ayah bertanya kepada saya, " Kenapa kau terlambat, nak ? ". saya sangat malu untuk mengakui bahwa saya menonton bioskop, sehingga saya menjawab,  " maaf yah, tadi mobilnya belum siap, sehingga saya harus menungg ". padahal  tanpa sepengetahuan saya , ayah telah menelpon bengkel mobil itu. Dan ayah tau kalau saya berbohong. Lalu Ayah berkata, " Ada sesuatu yang salah dalam membesarkan engkau anakku, sehingga engkau tidak memiliki keberanian  untuk menceritakan kebenaran kepada Ayah, untuk menghukum kesalahan Ayah ini, biarkanlah Ayah pulang berjalan kaki sepanjang 18 mil dan memikirkannya baik-baik ".

Lalu dengan tetap mengenakan pakaian dan sepatunya, ayah mulai berjalan kaki pulang kerumah. Padahal hari sudah mulai gelap dan jalanan sama sekali tidak rata. Saya tidak tega meninggalkan ayah, maka selama lima setengah jam, saya mengendarai mobil pelan-pelan di belakang beliau.

Saya melihat dan merasakan penderitaan yang dialami beliau hanya karena kebohongan bodoh yang saya lakukan, maka sejak itu saya tidak pernah berbohong lagi, seringkali saya berfikir mengenai kejadian ini dan mendapatkan pelajaran yang sangat menghunjam nurani saya. Seandainya saat itu ayah menghukum saya, sebagaimana orang-orang menghukum anak-anak mereka, maka apakah saya akan mendapat sebuah pelajaran mengenai mendidik tanpa kekerasan ? kemungkinan saya akan menderita atas hukuman itu, menyadarinya sedikit dan melakukan hal yang sama lagi. Tetapi, hanya dengan satu tindakan tanpa kekerasan yang sangat luar biasa itu sehingga saya merasa kejadian itu masih terasa baru kemarin terjadi. Itulah kekuatan bertindak tanpa kekerasan.

Bagaima dengan kita ? pernahkah kita menghukum diri kita dulu sebelum kita menghukum anak-anak kita ?

Lho…kok teladan kisahnya tokoh non Muslim sih ? kan masih banyak kisah Sahabat dan Rosulullah SAW ? bukankah salah satu Guru yang sangat mempengaruhi kehidupan keilmuan Imam Ghazali adalah seorang Penjahat Kelas kakap ? bukankah Rosulullah SAW menyuapi dengan tangannya sendiri seorang Yahudi Buta di Pasar ? semua peristiwa nyata yang terjadi disekitar kita dan seluruh penjuru Alam Semesta yang kita lihat, dengar dan rasa adalah bentangan Ayat-Ayat Allah SWT yang tak berhingga dan Hikmahnya hanya akan diberikan kepada orang-orang yang mau mengambil pelajarannya.

Sahabat, anak adalah salah satu investasi yang tak ternilai harganya ketika kita tepat dalam mendidik dan mengantar anak-anak kita agar menjadi anak yang sukses juga sholeh dan sholehah. Anak-anak yang senantiasa berinteraksi dengan Al-Qur'an selama hidupnya, anak-anak yang senantiasa bersegera 'menggelar Sajadah' di Sekolah, di kantor, di pasar bahkan di perjalanan sekalipun ketika panggilan Sang Pencipta berkumandang, Anak-anak yang gigih dalam meniti Jalan Allah yang lurus, terjal dan mendaki, Anak-anak yang seperti inilah kelak yang akan mampu menyematkan penghargaan yang setinggi-tingginya kepada kedua orang tuanya di Dunia dan Akhirat kelak.

Rasulullah SAW bersabda: “Pada hari kiamat nanti Alquran akan menemui penghafalnya ketika penghafal itu keluar dari kuburnya. Alquran akan berwujud seseorang dan ia bertanya kepada penghafalnya: ‘Apakah anda mengenalku?’

Penghafal tadi menjawab: ‘Saya tidak mengenal kamu.’ Alquran berkata: ‘Saya adalah kawanmu, Alquran yang membuatmu kehausan di tengah hari yang panas dan membuatmu tidak tidur pada malam hari. Sesungguhnya setiap pedagang akan mendapat keuntungan di belakang dagangannya dan kamu pada hari ini di belakang semua dagangan itu.  Maka penghafal Alquran tadi diberi KEKUASAAN di tangan kanannya dan diberi KEKEKALAN di tangan kirinya, serta di atas kepalanya dipasang MAHKOTA KEJAYAAN.

Sedang kedua orang tuanya diberi dua BUSANA KEBESARAN yang baru lagi bagus yang harganya tidak akan dapat dibayar oleh penghuni dunia keseluruhannya. Kedua orang tua itu lalu bertanya: ‘Kenapa kami diberi pakaian begini?’ Kemudian dijawab, ‘Karena anakmu hafal Alquran’.

Kemudian kepada penghafal Alquran tadi diperintahkan, ‘Bacalah dan naiklah ke tingkat-tingkat surga dan kamar-kamarnya.’ Maka ia pun terus naik selagi ia tetap membaca, baik bacaan itu cepat atau perlahan (tartil).” (HR.Abu Daud)

Sahabat, tidak sedikit diantara kita yang bangga ketika anak kita sudah pandai bernyanyi dan berdansa ria diatas pentas audisi untuk merebut sebuah penghargaan dan ketenaran status dan nama kita, tidakkah kita lebih bangga ketika nama kita dipanggil diatas panggung kebesaran Sang Maha Raja ALLAH SWT, yang disaksikan langsung oleh milayaran ummat manusia dari segala masa di seluruh penjuru dunia, kemudian disematkan Mahkota dan Jubah kebesaran yang berkilau sinarnya melebihi matahari ?

ya sebuah kebahagiaan yang tak berhingga yang akan kita peroleh dan kita rasakan, ketika kita serius melibatkan diri secara langsung maupun tidak langsung ikut serta mengantar anak-anak kita dan Generasi kita menjadi ‘Al-QUR’AN BERJALAN’ yang akan menghiasi dan menyinari indahnya kehidupan Dunia kita dan betapa bahagianya kita ketika NAMA KITA kelak di Akhirat juga ikut terpanggil sebagai salah satu ‘INVESTOR’ yang juga akan mendapatkan MAHKOTA dan JUBAH kebesaran itu. 

Ya ya ya.…jangan biarkan anak kita berasyik ria di Lembaga Pendidikan yang tidak menjadikan Al-Qur'an sebagai kurikulum prioritas, atau bahkan Al-Qur'an dijadikan kurikulum yang dimarjinalkan, berikan sedikit waktu kita untuk anak kita agar berakrab ria dengan Al-Qur’an. Apa ya ada, apa ya bisa, untuk saat ini ? inilah PR BESAR sekaligus MIMPI BESAR kita semua, Insya Allah kita PASTI BISA !

dan Alhamdulillah PR besar itu mulai terjawab sudah, sebuah Lembaga Pendidikan Solutif untuk anak-anak asuh kita dan juga anak-anak kita kelak telah kita retas dalam bentuk “ Sekolah Bahasa Al-Qur’an dan Informatika ( SAI Homeschooling ) “ di Kampus NSC-RYI Tasikmalaya yang kita bangun bersama, Insya Allah kita yakin Sistem Pendidikan kita kelak akan di DUPLIKASI oleh saudara-saudara kita di seluruh Nusantara bahkan di Luar Negeri, amin