Telp. 0265-2351868 | WA 0878 8555 4556 | BBM 5AE49B09

Tuesday, 17 May 2016

Boros Artinya Membelanjakan Harta Bukan Untuk Jalan yang Benar

Dan berikanlah kepada keluarga-keluarga yang dekat akan haknya, kepada orang miskin dan orang yang dalam perjalanan dan janganlah kamu menghambur-hamburkan (hartamu) secara boros. Sesungguhnya pemboros-pemboros itu adalah saudara-saudara syaitan dan syaitan itu adalah sangat ingkar kepada Tuhannya. | surah al-Isra’, 17: 26.

Ibnu Katsir rahimahullah berkata, “Setelah perintah untuk memberikan nafkah, Allah melarang sikap berlebih-lebihan dalam memberi nafkah (membelanjakan harta), tetapi yang dianjurkan ialah pertengahan.

Seperti yang disebutkan Allah Ta’ala dalam ayat lain melalui firman-Nya: “Dan orang-orang yang apabila membelanjakan (harta), mereka tidak berlebih-lebihan, dan tidak (pula) kikir, dan adalah (pembelanjaan itu) di tengah-tengah antara yang demikian. | surah al-Furqan, 25: 67.
Kemudian Allah Ta’ala berfirman untuk menanamkan antipati terhadap sikap pemborosan dan berlebih-lebihan: Sesungguhnya pemboros-pemboros itu adalah saudara-saudara syaitan. | surah al-Isra’, 17: 27. Yakni tindakan mereka serupa dengan sepak terjang setan.

Ibnu Mas’ud dan Ibnu Abbas mengatakan, “Tabdzir berarti membelanjakan harta bukan pada jalan yang benar. Imam Mujahid mengatakan, “Seandainya seseorang membelanjakan semua hartanya dalam kebenaran, dia bukanlah termasuk orang yang boros. Dan seandainya seseorang membelanjakan satu mud bukan pada jalan yang benar, dia termasuk seorang pemboros.”
Imam Qatadah mengatakan, “Tabdzir ialah membelanjakan harta di jalan maksiat kepada Allah Ta’ala, pada jalan yang tidak benar, serta untuk kerusakan.”

Firman Allah: “Sesungguhnya pemboros-pemboros itu adalah saudara-saudara syaitan” yaitu saudaranya setan dalam pemborosan, melakukan tindakan bodoh, dan tidak taat kepada Allah serta berbuat maksiat kepada-Nya.

Selanjutnya firman-Nya: “Syaitan itu adalah sangat ingkar kepada Tuhannya” dikatakan demikian karena dia ingkar kepada nikmat yang telah diberikan Allah kepadanya dan tidak mau mengerjakan amal ketaatan kepada-Nya, bahkan membalasanya dengan perbuatan durhaka dan melanggar.