Telp. 0265-2351868 | WA 0878 8555 4556 | BBM 5AE49B09

Friday, 12 February 2016

Maafkan Kenakalan Mereka



Ya...alangkah mulianya kita ketika mendidik anak kita itu dalam rangka menjunjung tinggi amanah Allah. Ini bukan berarti tak ada lagi tempat bagi jiwa kita untuk mencintai anak dengan tulus, dan menambatkan cita-cita kepada mereka. Allah sendiri yang menjadikan indah pada pandangan kita kecintaan terhadap istri, anak, tanah yang luas serta kendaraan yang nyaman. Allah tidak melarang kita mencintai semua itu. 

Bukankah Rasulullah Saw sendiri sulit melupaakn Khadijah setelah bertahun-tahun kepergiannya? Dan bukankah Rasulullah SAW menitikkan airmata ketika putranya meninggal dunia? Ini berarti mencintai anak-anak dan berharap banyak atas mereka merupakan fitrah yang dapat menjadi kendaraan untuk mencapai kebaikan. 

Akan tetapi, di saat sekeliling kita mengajak untuk lupa terhadap tujuan hidup jangka panjang (Akhirat), sudah saatnya kita mengingatkan anak-anak kita akan sebuah kehidupan yang lebih baik dengan kenikmatan yang tiada batas, agar penat kita mendidik anak-anak tidak sia-sia….

Semoga Allah mengampuni dosa-dosa kita. Semoga kita dapat belajar untuk lebih dapat mengendalikan diri di saat-saat kita bersama mereka yang mungkin sedang memiliki masalah, selagi ada waktu luang dan kondisi yang sehat dan baik ini. 

Semoga pula Allah menolong kita sehingga tidaklah kita lejitkan kehebatan mereka, kecuali agar mereka menjadi jalan kebaikan untuk kita dan mereka di dunia dan akhirat, Bukan malah menjadi musuh dan penentang Allah dan Rasul-nya. 

Allah SWT mengingatkan kita , “Hai Orang-orang yang beriman, sesungguhnya di antara istri-istrimu dan anak-anakmu ada yang menjadi musuh bagimu, maka berhati-hatilah kamu terhadap mereka dan jika kamu MEMAAFKAN dan tidak memarahi serta mengampuni (mereka) maka sesungguhnya Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang. Sesungguhnya hartamu dan anak-anakmu hanyalah cobaan fitnah (bagimu). Disi sisi Allahlah pahala yang besar.” (QS. At-Thagabun [64: 14-15).

Sungguh, telah berlalu di hadapan kita sejarah tentang musuh-musuh Allah. Mereka bukanlah orang-orang yang lemah. Di antara mereka bahkan ada yang terbiasa bermunajat kepada Allah Ta’ala untuk memohonkan segala keperluan hidupnya, akan tetapi hati mereka tidak hidup, ada Haman, Bal’am bin Baurah, Fir’aun, Qarun, Abu Jahal dan Abu Lahab adalah sekedar contoh.

Ya, mungkin mereka sedang nakal, suka menentang kita, sebel dengan kita, susah diatur, masih melanggar Aturan Agama, kenapa ? Bisa jadi kita belum bisa jadi teladan buat mereka dalam tutur kata, perbuatan dan ibadah kita, bisa jadi kita juga masih nakal dan belum taat beragama, dan mungkin juga doa kita untuk mereka belum maksimal.

Semoga saja penat kita dalam mendidik mereka tidak sia-sia ?