close

Silahkan kunjungi website program-program mulia kami, klik tombol dibawah ini

www.rumahyatimindonesia.org


Telp. 0265-2351868 | WA 0878 8555 4556

Saturday 24 April 2021

Mengajarkan Anak Pentingnya Salat

Seorang bayi atau anak kecil bagaikan suatu bahan mentah yang siap di cetak oleh kedua orang tuanya. Sebagaimana sabda rasul Nabi Muhammad, “Setiap anak dilahirkan atas dasar fitrah, dan kedua orang tuanyalah yang menjadikan menyimpang dari fitrah tersebut.”

Oleh karenanya, peran orang tua sangatlah besar untuk mendidik anak atas akhlak Islam, pengajaran ibadah maupun hal yang lain. Sebagai contoh, Tak sedikit para orang tua mengalami kesulitan dalam mengajarkan shalat pada anak. Padahal, shalat merupakan hal yang wajib diajarkan pada anak sejak dari dalam kandungan.

Sebenarnya mengajarkan anak akan pentingnya shalat sudah harus dimulai sejak dari janin. Ibu yang senantiasa menjaga wudhu dan shalatnya pada saat hamil, berarti telah mengenalkan shalat kepada janinnya. Makna bacaan shalat akan terekam dan akan memberikan pengaruh positif bagi si janin. Mau seperti apa anak kita, penanaman hal-hal yang kita inginkan dimulai dari dalam kandungan.

Semua bermula dari keteladanan orang tua. Menyaksikan kedua orang tuanya melakukan shalat lima waktu setiap hari sejak dini, membuat anak terpicu untuk meniru. Apalagi dikisahkan sebuah hadits ketika seseorang bertanya kepada Rasulullah mengenai kapan waktu untuk mulai mengajak anak pada ibadah shalat. Nabi menjawab, “Jika ia sudah dapat membedakan tangan kanan dan tangan kirinya.” Pada anak kemampuan membedakan tangan kanan dan tangan kiri diperolehnya pada masa balita, atau masa lima tahun pertama usianya. Ketika ia sedang senang-senangnya meniru apapun yang dilakukan ayah dan ibunya.

Ketika anak memasuki usia sekolah, yaitu sekitar usia 7 tahun, maka mulailah anak siap untuk memasuki masa untuk mempelajari tata cara shalat yang benar. Seperti yang dijelaskan Rasulullah, “Ajarilah anakmu shalat pada usia tujuh tahun.”

Beberapa cara yang dapat dilakukan pada fase ini, yaitu mengajarkan rukun-rukun shalat melalui pendekatan praktek langsung. Misalnya pada waktu-waktu shalat orang tua mengajak anak untuk langsung melakukan shalat dengan bimbingan. Mulai dari tata cara thaharah dan berwudhu pada anak, bagaimana membentuk barisan, shaf-shaf pada shalat diikuti dengan praktek shalat yang benar serta menghafalkan doa-doa secara bertahap.

Ketika berusia sepuluh tahun, anak belum juga mau mengikuti perintah shalat, maka diriwayatkan Al-Imam Abu Dawud disebutkan bahwa Nabi SAW bersabda, “Suruhlah anak-anak kalian untuk shalat ketika berumur tujuh tahun dan jika telah berumur sepuluh tahun, namun tidak mau mengerjakan shalat maka pukullah.”

Ungkapan ini perlu dimaknai dengan berhati-hati, karena makna ‘pukullah’ di sini tentu bukan melakukan hukuman dengan kekerasan fisik yang menyakitkan dan melukai anak. Tetapi bahwa orang tua harus menunjukkan ketidak-senangan dan konsekuensi yang sangat tegas saat anak menolak shalat.