Telp. 0265-2351868 | WA 0878 8555 4556 | BBM 5AE49B09

Thursday, 14 February 2019

Allah Balas Secara Tunai












Satu hari saya pergi ke satu Rumah Panti Jompo. Seorang sahabat meminta bantuan agar saya dapat menyalurkan bantuan kepada orang miskin.
Saya belikan kain sarung, beli roti, dll, saya pun pergi ke Panti Jompo yg saya kenal, tak usah saya sebut namanya.
"Ye..ye.. Anak aku datang, anak aku datang, senangnya anak aku datang.."
Saat sampai kendaraan kami di perkarangan Panti Jompo tsb, tiba-tiba ada seorang ibu tua berlari dari asrama (panti) mebdekati saya.. Saya tak mengenal beliau siapa, ibu itu memeluk saya, dia cium saya. Orang tua itu berkata..
"Sampai hati nak, kau tak mengaku aku ni ibu kau.."
"Nak.. Kenapa tinggalkan ibu disini nak, ibu mau pulang.. Ibu rindu rumah kita.." Saya waktu itu.. hampir tak bisa berkata-kata, Ya Allah.. Saya coba mengucapkan kata.. "Bu.....' Saya pegang tanganya, saya lihat mukanya, dia bilang..
Mencoba bayangkan, hati seorang ibu yang rindu kepada anaknya, bila kita anaknya, mengambilkan sepotong roti, kita suapkan kemulutnya, bagaimana perasaan beliau? Bagaimana perasan kita?
Bisa saya bayangkan, bagaimana perasan beliau begitu rindu pada anak nya, saya coba berpura-pura, seolah-olah saya anaknya, saya berkata.. "Bu.. Maafkan saya ya.." Saya pegang tangannya, saya ajak duduk atas kursi, saya ambil roti, dan saya suapkan ke mulutnya. Tak terasa menetes air mata dipipi.
Akhirnya saya minta izin dengan pihak pengawas panti di situ. Melihat data beliau ternyata anaknya ada 5 orang. Yang paling besar bergelar Tan Sri, orangnya memang kaya, punya nama besar, dan hebat orangnya.
Saya coba usap air matanya yg meleleh dipipi, dia pegang tangan saya, Subhana Allah.. Saya bisa merasakan bagaimana perasaan beliau yg begitu rindu kepada anaknya. Saat saya hendak pulang, dia pegang kaki saya sambil berkata.. "Nak.. Jangan tinggalkan ibu nak, ibu mau balik, ibu mau pulang.."
"Bu.. Maafkan saya ya.."
Waktu saya izin pulang, dia pegang baju saya, dia bilang mau ikut saya pulang, saya bilang "di mobil ada banyak barang", "tak apa kata ibu itu, saya duduk sama barang-barang, itu".. Akhirnya saya izin ke pengelola panti untuk membawa ibu itu selama 5 hari saja. Pulang ke rumah saya, Sholat Subuh saya jadi Imam dia makmum di belakang, saya baca doa, saya tengok air mata beliau jatuh. Selesai doa saya salami beliau, saya cium tangannya, saya bilang..
"Ustaz.. Kau bukan anak saya kan.."_
Waktu itu, saya tak membayangkan kalau ibu saya sudah meninggal, tapi saya bayangkan ibu ini adalah ibu saya, sebab dia rindu pada anak-anakny. Di hari ketiga di rumah saya, waktu Sholat Isya', selesai doa saya salami beliau, dia lapisi tangannya dengan kain mukena-nya, dia salam. Saya bilang.. "Bu.. Kenapa ibu lapisi tangan ibu ?, dua hari yg lalu ibu salam, ibu tak lapisi tangan ibu dengan saya. Kenapa hari ini ibu lapisi tangan ?" Dia bilang.. Subhanaallah.. Tiba-tiba dia sebut nama saya "Ustaz". Saya bilang.. "Kenapa ibu panggil saya ustaz? Saya anak ibu.." Dia berkata..
"Bu.. Walaupun ibu saya telah tiada, tapi ibu boleh ganti menjadi ibu saya, ibu duduklah di sini..".
"Bukan.. Kalau anak saya dia tak akan seperti ini, kalau anak saya dia tak akan jadi imam saya, kalau anak saya dia tak akan suap saya makan.." Bayangkan sahabat-sahabat bagaimana perasaan ibu ini, spontan saya pegang dia, saya peluk dia, saya menangis, saya bilang.. "Bu.. Walaupun bukan ibu saya tapi saya sayang ibu seperti ibu saya..". Saya pegang tangan ibu ini.. Walaupun bukan ibu saya tapi saya tahu hatinya sangat rindu dekat dengan anaknya, waktu itu saya pandang wajahnya, saya bilang.. Saat makan, saya suapkan nasi ke mulutnya, dia muntahkan balik makan dari mulutnya, saya tanya.. "Kenapa bu ?" Tiba-tiba saya lihat wajahnya pucat, saya angkat dia, panggil ambulan antar ke rumah sakit.
Dia meninggal dalam pelukan saya, saya doakan Ibu Hajjah Khalijah ini ruhnya mudah-mudahan bersama salafusoleh.
Waktu di RS, saya ambil kepalanya dan saya rebahkan ibu ini, dia pegang tangan saya dia berkata.. "Ustaz.. Kalau saya mati, tolong jangan beritahu sorang pun anak saya, kalau saya sudah mati, jangan beritahu mereka di mana makam saya, kalau mereka tau di mana kubur saya, jangan izinkan dia pegang batu nisan saya..". saya pegang beliau saya berkata.. "Bu.. Jangan ngomong seperti itu, bu..". Isteri saya menangis di sebelah, anak saya menangis di sebelah memegang dia. Kami pegang dia.. "Bu.. Jangan ngomong seperti itu, bu..". Dia geleng kepala, rupa-rupanya itulah saat penghujung hayatnya, akhirnya dia pun meninggal di atas ribaan saya di rumah sakit itu.
Sahabat, bila kita masih ada ibu tolonglah taat pada ibu kita, jangan durhaka pada ibu kita, jangan tinggalkan dia di Panti Jompo, saat ibu kita sakit kita jaga dia, pijat-pijat kepala dan kaki ibu kita..