Telp. 0265-2351868 | WA 0878 8555 4556 | BBM 5AE49B09

Tuesday, 26 December 2017

Allah Tujuan Kita


Keberuntungan besar adalah bagi orang-orang yang memiliki tujuan yang jelasa dalam hidupnya. Setiap keraguan adalah awal dari malapetaka. Setiap keyakinan yang kokoh, itu adalah awal dari kesuksesan. Pergi dari rumah tanpa tujuan, selain akan membuang banyak waktu, tenaga, pikiran dan biaya, juga bisa mendekatkan kepada petaka. Sedangkan jika ada tujuan yang jelas, dengan persiapan yang matang, dengan tekad yang sangat kuat dan bulat, dan yang menjadi tujuan adalah benar, maka detik demi detik yang terlewati akan sangat efektif.

Lantas apa tujuan hidup kita di dunia ini? Hidup hanya sekali dan sebentar di dunia ini. Kalau tidak jelas tujuannya, jangan heran kalau kita merasa jemu, lelah dan capek menjalani hidup. Tetapi bagi orang yang sudah jelas tujuannya, insyaa Allah setiap detik akan terisi dan bermakna. Tidak ada waktu baginya untuk keluh kesah yang tiada berguna.

Mari kita lihat siapa diri kita. Kita adalah manusia, makhluk yang Allah ciptakan. Kita adalah makhluk ciptaan Allah, yang tinggal di bumi milik Allah, yang hidup di dalam alam semesta yang ada dalam kekuasaan Allah. Kita adalah hamba Allah. Maka sebaik-baik cita-cita adalah bagaimana agar kita sebagai hamba, dicintai oleh Penciptanya.

Rasulullah Saw. mengajarkan kita untuk berdoa, “Allahumma inni as aluka ridhoka wal jannah wa a’uzubika min sakhothika wannaar”, Ya Allah, aku memohon daripada-Mu keridhoan-Mu dan surga, dan aku memohon perlindungan daripada kemurkaan-Mu dan dari adzab api neraka”. (HR. Tirmidzi, Ibn Majah)

Rosulullah Saw. mengajarkan bahwa ridho Allah adalah sebaik-baik cita-cita. Kita lihat seekor induk ayam saja, yang tidak diberikan akal, sayang kepada anak-anaknya. Sang induk akan melindungi, membela dan mencarikan makanan. Padahal itu hanyalah hewan yang oleh Allah diberikan sifat kasih sayang tanpa diberi akal. Lalu kita lihat manusia, bagaimana orangtua pasang badan demi anaknya, rela membanting tulang bekerja keras demi anaknya. Padahal itu hanyalah setetes dari sifat rahman rahim Allah, yang ditebarkan kepada sekian banyak makhluk-Nya di alam semesta ini. Setetes sifat kasih sayang itulah yang membuat induk ayam menyayangi anak-anaknya, orangtua menyayangi putra-putrinya. Lalu, bagaimana jikalau kita dicintai Allah dengan kasih sayang-Nya yang tiada terbatas?! Sungguh sempurna.

Maka, sungguh naïf jikalau dalam hidup kita bukan Allah yang menjadi tujuan kita, bukan ridho-Nya yang menjadi kejaran kita. Semoga kita tergolong hamba-hamba Allah yang senantiasa berjalan menuju-Nya dan mendapat limpahan kasih sayang-Nya. Aamiin