Telp. 0265-2351868 | WA 0878 8555 4556 | BBM 5AE49B09

Tuesday, 3 October 2017

Menjaga Hubungan Baik Dengan Tetangga










Dahulu kala, ada seorang ulama besar bernama Hasal Al Basri yang tinggal di kota Basrah Irak di sebuah bangunan yang bersebelahan dengan tetangganya. Ulama ini sangat dicintai rakyat kecil dan tergolong rajin mengunjungi dan silaturahim ke tempat tetangganya. Entah mengapa, sang tetangga justru sebaliknya. Ia tidak pernah mengunjungi ulama tersebut walau mereka telah hidup berdampingan selama puluhan tahun.
Suatu ketika, Hasan Al Basri tersebut sakit keras dan sang tetangga tersebut menyempatkan diri menemui ulama tersebut yang sedang terbaring di ranjangnya. Betapa kagetnya ia, setelah mengetahui ternyata si ulama hidup sangat sederhana sekali jauh dari bayangan dia sebelumnya. Hampir tidak ada barang barang yang layak apalagi mewah di rumah ulama tersebut.
Sebuah baskom berisi air terlihat berada disamping ranjang sang ulama tersebut. Kontan saja, si tetangga penasaran dan menanyakan perihal baskom tersebut dan kenapa berada disamping ranjang ulama tersebut.
“Baskom ini sudah lama saya gunakan untuk menampung air dari atas” kata sang ulama. “Bila sudah penuh, maka saya buang airnya” ujarnya. Tetesan tetesan air memang masih terlihat menetes dari plafon persis diatas baskom tersebut berada.

Tiba tiba si tetangga teringat bahwa diatas lokasi baskom tersebut adalah lokasi persis dimana kamar mandinya berada. Sang tetangga ini memang memiliki satu kamar mandi kecil yang berada di atas loteng bangunan tersebut dan atap rumahnya dan atap rumah sang ulama bersambung menjadi satu. “Sudah berapa lama bapak menampung air tersebut?” Tanyanya dengan penuh penasaran. “Kira-kira baru dua puluh tahun” jawab sang ulama.
Mendengar jawaban tersebut, Tiba tiba si tetangga meneteskan air mata. Ia menjadi sangat malu dan merasa terharu dengan sikap ulama tersebut yang sangat bersabar dan tidak mempermasalahkan tetesan air tersebut. Mungkin ia selalu memaklumi dan mencoba memaafkan tetangganya tsb walaupun ia dalam kondisi yang terdzholimi.
Hal diatas adalah sepenggal kisah yang sangat inspiratif bagi saya tentang memaafkan orang lain. Memaafkan orang lain bukanlah perkara yang mudah untuk diterapkan apalagi bila kita sedang di posisi yang memungkinkan untuk melampiaskan amarah.
Terkadang atau seringkali kita tidak bisa mengendalikan emosi bahkan marah atau dendam dengan orang lain, apalagi terhadap orang yang pernah menyakiti/mendzholimi atau merusak kenyamanan/kepentingan kita atau bahkan kepada orang yang sekedar berbeda pandangan dengan kita.
Rasa marah/dendam ini, bila dibiarkan terus dalam hati kita, lama kelamaan akan menjadi penyakit dan dipercaya dapat membuat hidup kita tidak bahagia. Jangankan melihat wajahnya, mendengarkan namanya disebut saja atau melihat barang barang miliknya, mungkin hati kita bisa menjadi seolah panas terbakar.