Telp. 0265-2351868 | WA 0878 8555 4556 | BBM 5AE49B09

Friday, 20 January 2017

Mengalah Itu Indah





Sahabat, sejak kecil hingga dewasa kita selalu diajarkan dan dimotivasi oleh orang tua kita, guru kita dan motivator kita bagaimana hidup ini harus SUKSES dan JADI PEMENANG, ini kadang membuat kita tidak ada yang mau mengalah dalam segala hal, yang Bisnis ingin CEPAT KAYA, yang Pejabat ingin CEPAT BERKUASA, yang berkeluarga ingin CEPAT BAHAGIA, semua ingin menjadi yang terdepan.

Ternyata untuk Sukses dan Bahagia tidak harus selalu menjadi yang terdepan, apalah artinya kita menjadi yang terdepan kalo orang-orang yang dibelakang kita ketinggalan jauh, kan lucu jadinya ngacir sendirian, ya gak ?. nah ternyata salah satu faktor Sukses Bahagia kita itu karena ada orang-orang dibelakang kita yang MAU MENGALAH, gak percaya ? ini kisahnya……

Urainab baru saja menikah. Ia tinggal bersama suami di rumah mertuanya. Sejak pertama kali tinggal di rumah mertuanya, Urainab sudah merasa tidak cocok dengan ibu metua. Urainab merasa mertuanya sangat keras dan cerewet. Urainab sering dikritik ibu mertua karena perbedaan sikap dan prinsip mereka dalam semua perkara.

Pertengkaran sering terjadi. Urainab dan ibu mertua selalu berselisih. Yazid, suami Urainab merasa sedih melihat hal itu. Namun, dia tidak mampu menyelesaikan persoalan antara istri dan ibunya. Jika dia membela ibunya, bagaimana dengan istrinya. Jika dia membela istrinya, tentu akan membuat ibunya sakit hati. Yazid hanya bisa berdoa kepada Allah, semoga persoalan antara istri dan ibunya segera selesai dan mereka hidup damai bersama.

Hari pun terus berlalu, suasana panas di rumahnya tak berubah. Yazid sempat terpikir untuk membawa istrinya pindah dari rumah ibunya. Namun, dia belum memiliki tempat lain untuk ditinggali, apalagi ibunya yang beranjak tua tak tega dia tinggalkan.

Keadaan semakin memburuk, pertengkaranterus terjadi, dan tidak ada satu pun yang mau disalahkan atas setiap pertengkaran. Akhirnya, Urainab memutuskan untuk melakukan sesuatu demi mengakhiri pertengkaran dengan ibu mertuanya. Dia berencana akan meracuni mertuanya.

“Kalau Ibu meninggal, tidak ada lagi yang akan mengganggu hidupku!” pikir Urainab.
Urainab lalu mengunjungi Sufyan bin Umar, seorang ahli obat disebuah kota. Dia menceritakan masalahnya dan meminta Sufyan bin Umar untuk memberinya racun.

“Aku mengerti masalahmu dan betapa kamu menderita karenanya. Aku akan membuatkan racun yang paling ampuh untukmu, asal kamu mendengarkan semua saranku.” Kata Sufyan bin Umar.
Urainab mengangguk. Jauh di dalam hatinya, dia merasa berdosa karena memiliki niat yang buruk atas mertuanya. Bukankah dalam Islam telah diajarkan bahwa mertua adalah orang tua juga. Ibu mertua adalah ibunya juga. Namun, rasa sakit hati dan marah telah membakar dirinya.

“Sebelum racun ini diberikan, selama satu bulan menurutlah pada apa yang diperintahkan dan diinginkan oleh ibu mertuamu,” saran Sufyan bin Umar.

Urainab mengangguk setuju. Urainab lalu pulang dengan lega. Racun yang diberikan Sufyan bin Umar disimpannya dalam dompet. Hari demi hari berlalu, urainab menuruti apa yang diperintahkan ibu mertuanya. Dia membersihkan rumah, memasak, menyapu halaman, mendengarkan ibu mertua ketika sedang berbicara dan melakukan banyak perbuatan baik padanya. Dia tidak lagi berdebat dan melayani ibu mertua bagai ibu kandungnya sendiri.

Awalnya, hati Urainab berontak. Namun, dia teringat pesan Sufyan untuk menuruti semua keinginan dan perintah ibu mertua selama satu bulan. Sesudah itu, ibu mertuanya akan dia racun hingga mati. Hari demi hari berlalu, tidak ada lagi pertengkaran di rumah itu. Yazid sangat bahagia melihat perubahan sikap istri dan ibunya. Istrinya tidak lagi mendebat dan lambat laun ibunya tak bersikap keras lagi. Suasana rumah menjadi hangat dan nyaman. Urainab merasa senang dan nyaman. Ia dan ibu mertuanya menjadi sepasang sahabat baik.

Satu bulan tiba. Sudah waktunya Urainab meracuni ibu mertuanya. Urainab membuka dompetnya, tiba-tiba dia menangis hebat. Hatinya terasa sakit. Kali ini bukan karena perlakuan ibu mertuanya, melainkan karena niat buruknya. Kini, dia mengerti kalau ibu mertuanya melakukan semua itu karena ingin mengajarinya menjadi istri yang baik bagi suaminya. Satu bulan telah mengajarkan banyak hal pada Urainab. Sekarang Urainab bisa mengerjakan semua pekerjaan rumah, memasak, dan melayani suami dengan baik.

Sayup terdengar di ruang tengah, ibu mertuanya sedang berbincang dengan tamu.

“Aku sungguh beruntung memiliki menantu seperti Urainab. Dia adalah menantu terbaik yang kumiliki. Dia sangat patuh, rajin, dan shalihah,” ujar ibu mertuanya dengan bangga.

Dada Urainab semakin sesak, “Ya Allah, maafkan semua salah dan niat burukku.”

Ya…akhirnya Urainab mengurungkan niatnya meracuni ibu mertuanya, maka jadilah kehidupan keluarga itu bahagia dan menyejukkan bagai hidup di Istana Sorga.

“Ibu mertua kedudukannya sebagai ibu” –HR TIRMIDZI DAN AHMAD

Ya ya ya…. Memang kadang kala mertua kita itu sangat ‘nyebelin’, tapi gak semuanya lho, makanya kalo mau nikah jangan hanya lihat cantik atau tampan anaknya saja, lihat juga hati calon mertua, he he he….

Berbeda paham dan berseberangan pandangan mengarah kepada perselisihan dan perselisihan mengarah kepada kemarahan dan kemarahan adalah api, dan air adalah pemadam api, bila air adalah pemadam api maka mengalah adalah pemadam kemarahan tersebut.

Tapi untuk bisa mengalah itu ternyata perlu LATIHAN, mau marah tahan dengan senyuman, ingin membenci tahan dengan memberi, mau melawan tahan dengan memaafkan, gimana kalo sudah keterlaluan dan kita sudah gak tahaaaaaan ? ya coba perbanyak istighfar, minta bantuan Allah untuk menahan gejolak hati kita, bukankah Dia sangat mampu mebolak-balikkan hati-hati kita ? percayalah FITRAH setiap kita ingin hidup tenteram dan bahagia dalam berumah tangga, dan yakinlah, ketika yang MENDOMINASI hati kita hanyalah NAMA ALLAH, maka sifat-sifat kasih sayang Allah akan meresonansi hati kita dan hati orang-orang disekitar kita, PASTI !

“Maka disebabkan rahmat dari Allah-lah kamu Berlaku lemah lembut (mengalah) terhadap mereka. Sekiranya kamu bersikap keras lagi berhati kasar, tentulah mereka menjauhkan diri dari sekelilingmu. karena itu ma’afkanlah mereka, mohonkanlah ampun bagi mereka, dan bermusyawarahlah dengan mereka dalam urusan itu. kemudian apabila kamu telah membulatkan tekad, Maka bertawakkallah kepada Allah. Sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang bertawakkal kepada-Nya”. (QS. Ali ‘Imron: 159).

“Dan tidaklah sama kebaikan dan kejahatan. Tolaklah (kejahatan itu) dengan cara yang lebih baik, Maka tiba-tiba orang yang antaramu dan antara Dia ada permusuhan seolah-olah telah menjadi teman yang sangat setia. Sifat-sifat yang baik itu tidak dianugerahkan melainkan kepada orang-orang yang sabar dan tidak dianugerahkan melainkan kepada orang-orang yang mempunyai keuntungan yang besar.” (QS. Fushshilat: 34-35)