Telp. 0265-2351868 | WA 0878 8555 4556 | BBM 5AE49B09

Monday, 22 February 2016

Membeli Istana



Astaghfirullah... betapa ternyata setiap detik kita dikejar oleh sesuatu yang sangat-sangat mengkhawatirkan, ialah KEMATIAN….namun jarang sekali kita mengingatnya bahkan tak pernah merasa takut karena kurangnya bekal untuk hidup sesudah kematian kita, padahal ibadah kita masih hambar, bacaan Al-Qur’an kita masih terbata-bata bahkan tak berasa nikmat sedikitpun, sedekah kitapun masih dari yang tersisa, anak-anak kitapun belum kita program agar menjadi aset investasi untuk kehidupan sesudah kematian kita, sebagian besar kekayaan kita masih kita habiskan untuk memenuhi kebutuhan gaya hidup kita yang SESA’AT ini...

Namun Alhamdulillah, untungnya Allah SWT itu Maha Pengasih dan Maha Penyayang yang sangat menghargai segala ‘upaya kecil’ kita dengan melipatkangandakan balasan sampai tak berhingga dan Allah SWT selalu sabar dan rindu menunggu kehadiran kita untuk segera mendekat kepadaNYA, walau dengan membawa segunung dosa dan maksiat.

Sahabat, tidak rindukah kita untuk segera tinggal di sebuah IstanaNYA yang begitu mempesona dengan segala kenikmatan yang tak berhingga di dalamnya, mengapa kita masih begitu tergiur dengan tawaran-tawaran untuk memiliki Istana Dunia yang pasti akan lenyap dan kita tinggalkan, bukankah ketika kita meninggal nanti hanya butuh sejengkal tanah 2x1 meter saja? sementara setiap saat Allah SWT menawarkan IstanaNYA kepada kita namun kadang kita begitu acuh menyambut apalagi membelinya, semahal apakah Istana yang ditawarkan Allah SWT? berikut ini kisahnya...

Seorang Pengemis berjalan gontai ke arah Rahim bin Afwan.
“Tuanku, bisakah kau memberiku sedekah? sudah tiga hari ini aku tidak makan. Demikian juga keluargaku. Seluruh tubuhku gemetar menahan lapar,” pinta pengemis itu dengan suara lemah.
Rahim menatap kakek tua itu dengan mata tajam.
“Hai kakek tua, tubuhmu tidak cacat. Kau pun belum terlalu tua untuk bekerja. Lalu, kenapa kau mengemis?” tanya Rahim dengan sinis. “Mencari uang itu bukan persoalan gampang. Jadi, aku tidak mungkin langsung memberi begitu saja,” lanjut Rahim.
Pengemis itu mengangguk. “Baiklah, aku akan bekerja jika Tuan bersedia memberiku perkerjaan.”
“Hahaha... mana mungkin kau bekerja dalam keadaan lapar dan gemetar,” Rahim malah mengejek.
Pengemis itu menjadi sedih.
“Sudah, pergilah. Aku tidak akan memberimu apa-apa,” usir Rahim.

Pengemis melangkahkan kaki dengan kecewa. Ketika sedang bingung, ke mana lagi dia akan meminta-minta, lewatlah seorang pemuda Badui di depannya.
“Tuan, demi keagungan dan kebesaran hari ini, berilah aku sedekah untuk memberi makan keluargaku. Sudah tiga hari kami tidak makan. Kami sangat kelaparan,” kata pengemis meminta sedekah.

Badui itu berbalik menatapnya, “Memangnya, ini hari apa? Kau mengatakan hari ini adalah hari yang agung dan besar?” tanyanya.
“Hari ini adalah bulan Syura,” jawab pengemis sambil menerangkan keutamaan dan kisah bulan Syura.
Rupanya, orang Badui itu tergerak hatinya untuk memberikan sedekah.
“Baiklah, kakek tua. Apa yang harus aku sedekahkan untukmu ?” katanya.
Si pengemis berkata, “Aku memerlukan 9 iris roti, 5 iris daging, 5 biji kurma, dan uang lima dirham. Jika kau tidak keberatan, wahai Tuan.”
Tanpa banyak bicara, orang Badui itu memberi si pengemis apa yang di butuhkannya. Si pengemis langsung pulang dengan hati bahagia.

Sementara itu, Rahim yang sedang tertidur pulas bermimpi.
“Lihatlah Rahim, istana di depanmu,” kata sebuah suara yang berat.
Rahim melihat dua buah istana yang sangat megah. Istana itu terbuat dari emas dan ditaburi batu-batu permata yang berkilauan.
“Subhanallah, indah sekali istana itu. Milik siapakah?”
Suara itu menjawa, “Dua istana yang indah itu tadinya akan diberikan untukmu, jika kau memberikan sedekah kepada pengemis yang tadi siang menemuimu. Kini, istana itu menjadi milik seorang pemuda Badui.”
Rahim terkejut dan terbangun dari tidurnya. Rahim segera pergi menemui orang Badui yang dimaksud dalam mimpinya.
“Apa yang kaulakukan tadi siang hingga kau mendapat pahala dua buah istana yang sangat indah?” tanya Rahim.
Mulanya, orang Badui itu tidak mengerti apa yang di katakan Rahim. Setelah Rahim menceritakan mimpinya, baru ia mengerti. Orang Badui itu lalu bercerita mengenai pengemis yang datang kepadanya. Dia memberikan semua yang diperlukan si pengemis.
“Maukah kau menjual amalmu itu padaku dengan harga seribu dirham?” tanya Rahim.
Orang Badui itu menjawab, “Wahai Saudaraku, sesungguhnya amal yang dilakukan seseorang tidak dapat diperjualbelikan, bahkan dengan harga bumi dan seluruh isinya sekalipun”

“Dan bahwa munusia hanya akan memperoleh apa yang telah diusahakannya. Dan sesungguhnya usahanya itu kelak akan diperlihatkan (kepadanya). Kemudian akan diberi balasan kepadanya sesuai dengan balasan yang paling sempurna”. (QS. An–Najm 39-41)

“Rasulullah saw. Bersabda, `Orang yang paling cepat diantara kamu sekalian menyusul aku adalah orang yang paling ringan tangannya (senang membantu) di antara kalian” (SHAHIH MUSLIM)