Telp. 0265-2351868 | WA 0878 8555 4556 | BBM 5AE49B09

Thursday, 23 April 2015

Anak Kita Bukan Robot



Bu Linar mewarisi dendam kesumat akibat sejak kecil dirundung penderitaan dan penghinaan. Tidak ingin selamanya hidup menderita dan dicaci, dia berhasil menaikkan harkat keluarganya dengan bekerja keras menjadi guru. Sayang, dendam masa lalu terlalu berakar dalam dirinya. Bu Linar pun menjadi sombong, induk dari segala macam dosa.


Dia suka pamer dan membangga-banggakan dirinya. Bahkan dia menghalalkan segala macam cara agar keinginannya tercapai. Dan yang pertama menjadi korban adalah anak-anaknya sendiri. Mereka dipaksa menanggung ambisi besar si ibu dengan belajar setiap waktu. Selain belajar di sekolah dari pagi hingga siang, mereka juga mendapatkan les privat langsung setelah sekolah usai. Sore harinya mereka les vokal, les tari, dan malam hari les yang lainnya lagi.


“Kalian tahu betapa sulitnya mencari uang! Sementara kalian enak-enak saja! Tugas kalian cuma satu, yaitu berprestasi!” teriak Bu Linar tiap jumpa anak-anaknya sedang santai.


Anak-anak Bu Linar kehilangan masa kanak-kanak mereka demi mewujudkan cita-cita si ibu. Dan memang mereka semua mendapatkan juara pertama, bahkan juara umum di sekolah. Namun, itu semua tidak membuat mereka bahagia.


“Prestasi kalian harus ditingkatkan lagi. Ibu belum puas!” seru si ibu saat memaksa anak-anaknya belajar pada masa liburan.
Selain menyuruh anaknya selalu belajar, setiap hari si ibu memeriksa PR dan hasil ulangan anak-anaknya. Apabila ada satu nomor saja yang salah maka dia tak ragu-ragu memukul buah hatinya dengan kayu atau rotan.


“Kalian anak Ibu, Ibu yang melahirkan kalian, Ibu berhak mengajar kalian supaya tahu diri!” makinya. Kondisi itu semakin parah karena sikap si ayah setali tiga uang dengan si ibu.


Bu Linar juga memaksa anak-anaknya ikut lomba model yang sebenarnya tidak sesuai dengan keinginan si anak. Setiap kali menjadi juara, dia pun memamerkannya kepada tetangga kanan kiri. Sementara itu, anaknya semakin tak bahagia, apalagi saat ibu mereka berkata, “Lihat tuh, lemari piala itu sangat besar dan mahal! Kalian harus mengisinya dengan piala-piala hasil juara lomba!”


Tak heran lama-kelamaan anaknya jatuh sakit karena stres ditekan si ibu. Lagi-lagi si ibu tidak ambil pusing dengan kondisi anaknya. Yang penting keinginannya terlaksana.


Belasan tahun berlalu, Bu Linar tak habis pikir, anak-anaknya yang sejak kecil selalu berprestasi menjadi orang yang tidak punya pendirian. Mereka plin-plan, peragu, penakut, dan gagal dalam pergaulan sosial. Anak-anaknya memang sudah dewasa, tetapi sifatnya masih kekanak-kanakan. Segalanya terserah kepada keinginan si ibu.


Begitu juga soal mendapatkan pekerjaan. Si ibu harus turun tangan dengan meloloskan semua anaknya menjadi pegawai di sejumlah instansi pemerintah. “Walau gagal menjadi artis top, menjadi pegawai masih dapat dibanggakan,” ujarnya.


Sayangnya, karier anak-anaknya mandek karena tidak terbiasa kreatif. Mereka bergantung pada perintah ibunya sehingga tidak cakap mengelola hidupnya sendiri. Malangnya, mereka mengalami gangguan kejiwaan, yaitu selalu dihinggapi rasa takut, terutama takut gagal sehingga cenderung tidak melakukan apa-apa. Bahkan mereka akan langsung jatuh sakit jika berhadapan dengan sedikit masalah.
----------

Sahabat, Setelah mempunyai anak hendaknya kita lebih memahami bahwa kita orang tua tidak selalu benar. Jangan sampai ambisi kita mengorbankan  kebahagiaan anak-anak kita karena Prestasi yang berasal dari jiwa yang tertekan tidak akan mendatangkan kebahagiaan.


Ya…anak-anak kita bukan Robot yang siap membantu melayani dan mewujudkan keinginan-keinginan kita yang sesa’at.


Tugas kita justru bagaimana Anak-Anak kita mempunyai karakter yang kuat dan keimanan yang kokoh sehingga jika kita lebih dulu meninggalkan mereka, kita bisa istirahat dengan tenang dan tersenyum indah ketika kita sedang ‘beristirahat’ di Alam Barzah nanti.


Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam mencium Al-Hasan bin 'Ali, dan di sisi Nabi ketika itu ada Al-Aqro' bin Haabis At-Tamimiy yang sedang duduk. Maka Al-Aqro' berkata, "Aku punya 10 orang anak, tidak seorangpun dari mereka yang pernah kucium". Maka Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallampun melihat kepada Al-'Aqro' lalu beliau berkata, "Barangsiapa yang tidak menyayangi maka ia tidak akan disayangi" (HR Al-Bukhari ).

Datang seorang arab badui kepada Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam lalu berkata, "Apakah kalian mencium anak-anak laki-laki?, kami tidak mencium mereka". Maka Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam berkata, "Aku tidak bisa berbuat apa-apa kalau Allah mencabut kasih sayang dari hatimu" (HR Al-Bukhari ).

"Hai orang-orang yang beriman, peliharalah dirimu dan keluargamu dari api neraka…" [at Tahrim : 6].