Telp. 0265-2351868 | WA 0878 8555 4556

Saturday, 23 April 2022

Puasa Itu Kesabaran

Dalam berpuasa sepatutnya manusia tak hanya menahan lapar dan dahaga, tetapi hendaknya juga dapat mengikis dan menghilangkan berbagai penyakit hati yang dapat menggerogoti iman. Karena hati yang rusak dapat melahirkan beberapa penyakit hati, yakni perbuatan tercela, pikiran kotor, amalan yang rusak, serta perkataan yang kotor.

Sabar merupakan salah satu sifat orang yang bertakwa kepada Allah SWT. Sabar merupakan kunci kesuksesan seorang mukmin dalam mengarungi kehidupan. Secara langsung, puasa mengajarkan dan melatih kita bersabar. Bersabar untuk menahan lapar dan dahaga dari waktu fajar hingga terbenamnya matahari; sabar menahan diri dari segala bentuk perbuatan yang membatalkan puasa; sabar dalam menjaga lisan dan menahan diri dari perbuatan yang sia-sia. Dengan demikian, puasa secara garis besar melatih seorang Muslim untuk bersabar dalam segala hal. Hal ini sesuai sabda Rasulullah SAW,"Puasa itu separuh sabar.” (HR. Ibnu Majah)

Dengan puasa yang ikhlas dan hanya mengharap rida Allah SWT, kita telah mendapat separuh kesabaran. Separuh lagi didapatkan dengan cara tetap menjaga ketaatan kepada Allah SWT, karena kita adalah manusia yang penuh dengan dosa, kekhilafan, serta kealpaan.

Pastinya menjaga kesabaran agar tetap terpatri dalam diri itu memang bukan hal yang mudah. Namun, semua itu tidak ada apa-apanya dibandingkan dengan pahala yang sangat besar dari Allah SWT untuk orang-orang yang bersabar. Sebagaimana yang termaktub dalam surat Az-Zumar ayat 10 yang artinya,“Katakanlah: Hai hamba-hamba-Ku yang beriman. Bertakwalah kepada Tuhanmu. Orang-orang yang berbuat baik di dunia ini memperoleh kebaikan. Dan bumi Allah itu adalah luas. Sesungguhnya hanya orang-orang yang bersabarlah yang dicukupkan pahala mereka tanpa batas.”

Ibnu Hajar Al-Hanbali menuturkan sabar itu ada tiga macam. Yang paling tinggi adalah sabar dalam melaksanakan ketaatan kepada Allah, kemudian sabar dalam meninggalkan kemaksiatan kepada Allah, serta sabar terhadap takdir Allah. Susunan ini ditinjau dari sisi sabar itu sendiri, bukan dari sisi orang yang melaksanakan kesabaran. Kadang-kadang sabar terhadap maksiat lebih berat bagi seseorang daripada sabar terhadap ketaatan, apabila dia diuji oleh wanita cantik yang mengajaknya berzina di tempat sunyi dan tidak ada yang melihat mereka, kecuali Allah. Apalagi, dia adalah seorang pemuda yang mempunyai syahwat tinggi. Sabar dari maksiat seperti ini lebih berat baginya. Bahkan kadang-kadang seseorang melakukan salat seratus rakaat itu lebih ringan daripada menghindari maksiat seperti ini.

Terkadang jika seseorang ditimpa suatu musibah, kesabarannya dalam menghadapinya lebih berat daripada melaksanakan suatu ketaatan, seperti seseorang kehilangan kerabatnya atau temannya ataupun istrinya. Maka, kita akan dapati orang yang berusaha untuk sabar terhadap musibah ini sebagai suatu kesulitan yang besar.

Mudah-mudahan kelak kita mendapatkan rida Allah SWT serta mendapatkan pahala kesabaran seperti yang Allah telah janjikan dalam firman-Nya dengan cara menjaga kualitas dalam melaksanakan ibadah puasa. Amin. Wallahu a’lam bisshowab