Telp. 0265-2351868 | WA 0878 8555 4556

Monday, 9 November 2020

Jangan Sibuk Mencari Kesalahan Orang Lain


Dalam kehidupan sehari-hari terkadang kita  menjumpai orang yang senang mencari kesalahan orang lain.Ketika melihat teman atau tetangganya mendapatkan kenikmatan, ia sibuk mengorek-orek  informasi kepada orang lain. Begitu pula ketika ada temen atau tetangga yang terlibat suatu masalah, dia sibuk mencari-cari aibnya.  Mencari kesalahan orang lain dilarang dalam ajaran Islam.

Sekarang sering kita melihat banyak orang lebih sibuk mencari kesalahan orang lain daripada mencari kesalahan-kesalahan dirinya sendiri Parahnya, banyak orang sekarang layaknya istilah SMS (senang melihat orang susah, susah melihat orang senang). Mencari kesalahan orang lain juga termasuk salah satu perbuatan yang dilarang dalam agama.

Firman Allah SWT yang artinya: "Hai orang-orang yang beriman,jauhilah kebanyakan berprasangka,  karena sesungguhnya sebagian tindakan berprasangka adalah dosa dan janganlah kamu mencari-cari kesalahan orang lain." (AI-Hujurat (49): 12).

Rasulullah SAW bersabda yang artinya "Berhati-hatilah kalian dari tindakan berprasangka buruk, karena  prasangka buruk adalah sedusta-dusta  ucapan. ]anganlah kalian saling mencari berita kejelekan orang lain, saling  memata-matai, saling mendengki, saling membelakangi, dan saling membenci. jadilah kalian hamba-hamba Allah yang bersaudara." (HR. Bukhari dan Muslim).

Orang yang senang mencari kesalahan-kesalahan orang lain, mengintip  aib, harga diri, dan keadaan mereka, serta ikut campur dalam urusan-urusan mereka tidak akan mendapatkan kebaikan sedikit pun.

Islam memerintahkan umatnya untuk berbuat adil dan tidak hanya melihat kesalahan-kesalahan orang lain.  Seorang mukmin tidak boleh hanya melihat kejelekan-kejelekan orang lain  tanpa melihat kebaikan-kebaikannya.

Rasulullah Saw bersabda, ''janganlah seorang lelaki mukmin membenci  seorang wanita mukminah! jika dia membenci akhlaknya, bisa jadi dia suka pada hal lainnya." (HR. Muslim). 


Hadits di atas menjelaskan agar seorang  lelaki mukmin tidak membenci seorang wanita mukminah karena keburukan  akhlaknya. Sebab ia tidak sedang bermuamalah dengan malaikat, akan tetapi dengan manusia yang pasti memiliki aib dan tidak terjaga dari kesalahan