Telp. 0265-2351868 | WA 0878 8555 4556 | BBM 5AE49B09

Saturday, 14 July 2018

Kisah Taubatnya Seorang Pembunuh








Diriwayatkan dari Abu Sa'id al-Khudri bahwa Nabi Saw bersabda, "Seorang lelaki dari kaum sebelum kalian membunuh sembilan puluh sembilan orang. Ia lantas meminta kepada orang-orang untuk dipertemukan dengan orang yang paling berilmu. Ia pun disarankan untuk mendatangi seorang rahib. Ia mendatanginya dan menceritakan kepadanya bahwa ia telah membunuh sembilan puluh sembilan orang. Ia bertanya, 'Jika aku bertobat, apakah diterima?' Rahib itu menjawa, 'Tidak'. Lelaki itu marah dan membunuhnya sehingga korban di tangannya genap berjumlah seratus orang.

Ia kemudian meminta kembali kepada orang-orang untuk dipertemukan dengan orang yang paling berilmu. Ia pun disarankan untuk mendatangi seorang yang alim. Ia mendatang orang alim itu dan menceritakan kepadanya bahwa ia telah membunuh seratus orang. 'Jika aku bertobat, apakah diterima?' tanyanya. Orang alim itu menjawab, 'Ya. Siapa yang mampu menghalangi seseorang dari tobatnya? Pergilah ke tempat ini! Di sana ada orang-orang yang beribadah kepada Allah. Ikutlah bersama mereka! Jangan kembali ke kampung halamanmu adalah kampung kejahatan.'

Laki-laki itu pun bertolak menuju daerah yang ditunjukkan oleh orang alim tersebut. Di tengah perjalanan, malaikat maut mencabut nyawa lelaki itu. Maka bertengkarlah malaikat rahmat dan malaikat azab. Malaikat rahmat berkata, 'Orang yang bertobat datang dengan hati yang menghadap Allah.'

Malaikat azab berkata, 'Ia tidak pernah melakukan satu kebaikan pun!' Seorang malaikat dalam bentuk manusia mendatangi mereka. Kedua malaikat itu lantas memintanya untuk menengahi mereka. Ia berkata, 'Ukurlah jarak antara tempat mati lelaki itu dan tempat ia bertolak, serta jarak antara tempat ia mati dan tempat yang dituju. Diantara dua jarak itu mana yang paling dekat? ' Mereka lalu mengukurnya dan mendapati bahwa jarak ke tempat yang dituju adalah yang paling dekat. Maka, lelaki itu pun dijemput oleh malaikat rahmat."

Dalam riwayat lain, ".... kampung kebaikan lebih dekat satu jengkal. Maka, ia pun dijadikan sebagai salah seorang penduduknya."

Dalam riwayat lain, ".... Allah lalu memerintahkan kepada kampung kejahatan untuk menjauh dari tempat mati laki-laki itu, dan memerintahkan kepada kampung kebaikan untuk mendekat. Ia lalu berkata, 'Ukurlah kedua jarak itu!'

Mereka pun mendapati jarak ke kampung kebaikan lebih dekat satu jengkal. Akhirnya, laki-laki itu mendapat ampunan."