Telp. 0265-2351868 | WA 0878 8555 4556 | BBM 5AE49B09

Thursday, 14 September 2017

Kisah Kesabaran Nabi Ayub







Jika ingin mengetahui bagaimana seharusnya kita bersabar, contoh yang paling tepat untuk kita teladani adalah Nabi Ayub as. Beliau dikenal sebagai sosok manusia yang paling sabar, bahkan bisa dikatakan kesabaran beliau berada di titik paling puncak. Itu sebabnya, wajar kalau banyak orang yang menisbatkan sifat sabar kepada Nabi Ayub as. Beliau menjadi simbol sekaligus teladan dalam hal kesabaran.

"Sesungguhnya Kami dapati dia (Ayub) seorang yang sabar. Dialah sebaik-baik hamba Sesungguhnya dia amat taat (kepada Tuhannya)." (QS. Shad: 44)

Nabi Ayub adalah orang yang hatinya selalu ingat kepada Allah. Ia senantiasa berzikir, bersyukur, dan bersabar terhadap apa yang Allah berikan kepadanya. Kesabarannya mendatangkan keselamatan dan pujian dari Allah.

Nabi Ayub adalah hamba yang saleh. Namun, Allah mengujinya dengan harta, keluarga, dan penyakit. Hartanya musnah hingga ia menjadi orang fakir. Padahal, sebelumnya ia adalah orang yang kaya raya. Ia ditinggal oleh istri dan keluarganya sehingga ia tak memiliki teman untuk menjalani sisa hidupnya. Ia juga menderita penyakit kulit yang sangat parah. Meski diberi cobaan sedemikian rupa, Nabi Ayub bersabar menghadapi semua itu dan tetap bersyukur kepada Allah.

Sakit yang diderita Nabi Ayub berlangsung sangat lama. Waktu itu, Nabi Ayub merasakan tiga penderitaan sekaligus, yaitu rasa sakit, kesedihan, dan kesendirian. Saat mendapat cobaan tersebut, setan berbisik ditelinganya, "Wahai Ayub, penyakit dan penderitaan yang kau rasakan itu karena ulahku. Kalau kau mau berhenti bersabar satu hari saja, penyakitmu akan hilang."

Dalam keadaan yang sangat memprihatinkan itu, orang-orang di sekitar Nabi Ayub juga menggunjingkannya. Mereka berkata bahwa jika memang Allah mencintai Nabi Ayub, mengapa ia mendapat penderitaan yang begitu hebat. Karena kurang sabar dalam merawat suaminya, istri Nabi Ayub akhirnya jugapergi meninggalkannya. Nabi Ayub lalu bersumpah, jika istrinya kembali, ia akan menghukumnya dengan seratus kali pukulan.

Bisikan setan terus berputar-putar di kepala Nabi Ayub, namun ia sanggup menepisnya. "Keluarlah, hai setan!" ujarnya, "Sungguh, aku tidak akan berhenti bersabar, bersyukur dan beribadah." Karena keteguhan hati Nabi Ayub, setelah lama-lama putus asa. Bisikan-bisikan jahat yang ia dengungkan di kepala dan hati insan pilihan itu pun mereka hentikan. Nabi Ayub tentu arah kepada setan karena berani mengganggunya. Ia lalu merenungkan keadaanya. Boleh jadi setan berani menggodanya dengan memanfaatkan kesendirian, penderitaan, dan penyakitnya.

Pada suatu hari yang cerah, Nabi Ayub berdoa kepada Allah swt. Ia mengadu kepada Allah karena terus menerus diganggu oleh setan. Peristiwa ini direkam dalam ayat berikut: 

"Dan ingatlah akan hamba Kami Ayyub ketika dia menyeru Tuhannya, "Sesungguhnya aku diganggu setan dengan penderitaan dan bencana.(Allah berfirman), "Hentakkanlah kakimu; inilah air yang sejuk untuk mandi dan untuk minum.Dan Kami anugerahi dia (dengan mengumpulkan kembali) keluarganya dan Kami lipat-gandakan jumlah mereka sebagai rahmat dari Kami dan pelajaran bagi orang-orang yang berpikiran sehat. an ambillah seikat (rumput) dengan tanganmu, lalu pukullah dengan itu dan janganlah engkau melanggar sumpah. Sesungguhnya Kami dapati dia (Ayyub) seorang yang sabar. Dialah sebaik-baik hamba. Sungguh, dia sangat taat (kepada Allah)."

Allah memerintahkan Nabi Ayub mandi di sebuah mata air di gunung dan meminum airnya. Ia melaksanakan perintah itu. Tak lama kemudian, ia sembuh dari penyakitnya. Allah pun memberinya limpahan kasih sayang sehingga ia kembali mendapatkan kekayaan yang berlimpah dan kemuliaan yang sangat tinggi.

Untuk memenuhi sumpahnya dan agar tidak menyakiti istrinya, Nabi Ayub diperintahkan oleh Allah untuk mengumpulkan seikat tangkai bunga Raihan yang berjumlah seratus buah. Ikatan tangkai bunga itu lalu digunakan untuk memukul istrinya sebanyak satu kali pukulan. Dengan demikian, ia telah memenuhi sumpahnya dan tidak ingkar kepada Allah. Itulah rahmat lain dari Allah yang diterimanya.

Nabi Ayub memberi pelajaran kepada kita bahwa sabar memang bukan sesuatu yang mudah. Tetapi, jika kita sadar bahwa Allah senantiasa bersama kita selama kita mau bersabar, semua ujian dan cobaan akan mudah kita lewati. Hati kita akan tenang, tidak bergejolak karena gelisah yang tak berkesudahan. Allah pun akan memberi balasan kepada kita dengan kebahagiaan yang berlipat ganda.