Telp. 0265-2351868 | WA 0878 8555 4556 | BBM 5AE49B09

Thursday, 22 June 2017

Ukuran Kesalehan







Kadang kita merasa bahwa Allah begitu dekat dengan kita karena terkabulnya berbagai permintaan duniawi kita, Tanpa sadar, kadang kala dalam kebahagiaan yang kita nikmati ada investasi doa dari orang-orang IKHLAS disekitar kita, yang tidak pernah kita ketahui sebelumnya.
kisah kali ini, semoga membawa kita lebih rendah hati dan tidah meremehkan peran orang-orang disekitar kita.
Hiduplah dua orang pemuda bersaudara yang tekun menuntut ilmu. Sehari-hari, mereka bekrja sebagai buruh di pabrik dan hidup dalam kemiskinan. Tidak jarang, mereka harus berjalan kaki untuk sampai ke kediaman guru, tempat mereka mengaji. Namun, keterbatasan tersebut tidak mematahkan semangat mereka untuk terus menuntut ilmu.
Pada suatu hari, sang kakak berdoa memohon rezeki agar bisa membeli kendaraan yang bisa dipakai untuk pergi mengaji. Allah pun mengabulkan doanya. Allah memberinya kelapangan rezeki sehingga ia bisa membeli kendaraan yang mewah. Sekarang, mereka bisa berangkat ke pabrik dan mengaji dengan kendaraan.
Sang kakak kemudian kembali berdoa memohon istri yang sempurna. Lagi-lagi, Allah Swt. Mengabulkannya. Sang kakak kembali berdoa memohon agar dikaruniakan rumah yang nyaman, pekerjaan yang layak, dan berbagai kemudahan duniawi yang lain. Allah mengabulkan semua permohonannya sehingga kehidupan sang kakak sedikit demi sedikit berubah menjadi lebih baik.
Namun, kesenangan duniawi tersebut menyebabkan sang kakak menjadi semakin sibuk. Pekerjaan dan berbagai urusan dunia menghabisan sebagian besar waktunya. Sedikit demi sedikit, sang kakak mulai meninggalkan aktivitasnya menuntut ilmu dan pergi mengaji bersama sang adik, seperti yang dulu sering mereka lakukan. Sementara itu, kehidupan sang adik tidak mengalami perubahan. Hidupnya tetap seperti semula, penuh kesederhanaan. Ia tinggal di rumah peninggalan kedua orangtuanya yang dulu mereka tempati berdua. Meskipun demikian, sang adik tetap rajin menuntut ilmu dan mengikuti pengajian.
Melihat kehidupan sang adik yang demikian, sang kakak kemudian merenung. Mengapa kehidupan adiknya tidak kunjung berubah dari hari ke hari? Padahal ia tahu betul bahwa adiknya sangat rajin bekerja dan berusaha. Juga tidak pernah bosan berdoa seperti dirinya. Lalu, kenapa rahmat Allah seperti enggan menyapa kehidupan adiknya.
Sang kakak kemudian teringat bahwa adiknya selalu membawa dan membaca selembar kertas ketika berdoa. Itu menandakan bahwa adiknya tidak pernah hafal dengan untaian bacaan doa. Mengingat hal tersebut, sang kakak kemudian mendatangai adiknya dan menasihatinya agar rajin-rajin berdoa dan membersihkan hati. Sang adik sangat terharu dan merasa bersyukur memiliki seorang kakak yang sangat perhatian dan begitu menyayanginya. Sang adik sangat berterima kasih kepada sang kakak dan berjanji akan menuruti nasihat sang kakak.
Saatnya tiba, sang adik meninggal dunia. Sang kakak sangat sedih. Sedih, bukan hanya karena kepergian sang adik untuk selama-lamanya. Namun, yang lebih membuat ia bersedih adalah karena sampai akhir hayatnya, adiknya masih hidup dalam kemiskinan. Setelah prosesi pemakaman sang adik selesai, sang kakak bersama keluarga kecilnya membereskan rumah sang adik. Pada saat membereskan rumah, sang kakak menemukan selembar kertas yang terlipat dalam sajadah yang biasa digunakan oleh adiknya untuk shalat. Kertas tersebut berisi tulisan doa yang biasa dibaca secara berulang-ulang oleh adiknya.
Pada secarik kertas itu tertulis:
” Ya Allah, tiada sesuatu pun yang luput dari pengetahuan-Mu. Ampunilah aku dan kakakku, kabulkanlah segala doa kakakku, bersihkanlah hatiku, dan berikanlah kemuliaan hidup untuk kakakku di dunia dan akhirat.”

Membaca untaian doa di secarik kertas tersebut, sang kakak menangis sesenggukan. Air matanya mengalir deras. Ia tidak pernah menduga sebelumnya, ternyata adiknya tidak pernah sekali pun berdoa untuk memenuhi nafsu dunia. Sebaliknya, sang adik mendoakan kebahagiaan untuk kehidupannya di dunia dan di akhirat, padahal ia sendiri selama ini tidak pernah sedikit pun menyebut nama adiknya dalam untaian doa-doanya.
"Apakah kamu tidak memperhatikan orang yang menganggap dirinya suci. Sebenarnya Allah mensucikan siapa yang dikehendaki-Nya dan mereka tidak dianiaya sedikitpun". (QS. An-Nisaa’(4):49).