Telp. 0265-2351868 | WA 0878 8555 4556 | BBM 5AE49B09

Wednesday, 17 May 2017

Membentengi Hati Dari Sifat Iri









Pada zaman Rasulullah ada sahabat yang bernama Saad bin Abi Waqqash. Ia dijamin masuk surga oleh Rasulullah karena hatinya merdeka dari rasa iri dan dengki.

Suatu ketika, dalam sebuah majelis Rasulullah saw berkata pada sahabatnya, "Di pintu ini akan masuk seorang ahli surga."

Sahabat yang bernama Abdullah bin Amr berkata, "Tidak ada seorang pun di antara kita yang tidak ingin masuk surga."

Tak lama kemudian, masuklah seseorang melalui pintu yang telah diisyaratkan. Sahabat tersebut bernama Saad bin Abi Waqqash. Kejadian itu terulang hingga tiga kali. Abdullah bin Amr penasaran. Apa keistimewaan Saad hingga dikatakan sebagai ahli surga? Abdullah mencari jalan agar bisa menginap di rumah Saad untuk mengetahui sehebat apa ibadahnya.

"Saya berjanji kepada ayah saya untuk tidak pulang selama tiga hari hari karena telah membuat beliau murka. Bolehkah saya menginap di rumahmu sampai tiga hari agar janji saya terpenuhi?" tanya Abdullah beralasan.

Saad mempersilakan dengan senang hati. Selama tiga hari di rumah Saad, Abdullah bin Amr tidak melihat kelebihan ibadah yang dilakukan Saad. Semua biasa-biasa saja. Ia tidur dan shalat seperti kaum muslimin pada umumnya.

Abdullah pun lantas membuka rahasia, "Aku dan ayahku sebenarnya tidak ada apa-apa. Aku hanya ingin mengetahui bagaimana ibadah yang engkau lakukan hingga Rasulullah saw tiga kali menyebutkan bahwa ada seorang penghuni surga dalam majelisnya. Aku ingin mendapat kedudukan sepertimu. Namun, selama tiga hari ini aku tidak mendapatimu berbuat sesuatu yang istimewa. Apa rahasianya?"

Semula Saad menjawabnya, "Tidak ada yang lebih baik daripada yang kamu lihat."

Sesaat kemudian Abdullah berpamitan. Namun, langkahnya terhenti ketika Saad memanggilnya, "Sahabatku, aku tidak memiliki rasa dengki. Aku tidak pernah berbuat jahat dan berkata buruk kepada siapa pun."

Abdullah bin Amr pun puas. Itulah yang menjadikan Saad dirindukan oleh surga.

Dari Abdullah bin Amr bin Ash ra, Rasulullah saw, pernah ditanya, "Siapakah orang yang paling utama?" Beliau menjawab, "Setiap orang yang bersi hatinya dan benar ucapannya." Para sahabat berkata, "Orang yang benar ucapannya telah kami pahami maksudnya. Lantas apakah yang dimaksud dengan orang yang bersih hatinya?" Rasulullah menjawab, "Dia adalah orang yang bertakwa (takut) kepada Allah, yang suci hatinya, tidak ada dosa dan kedurhakaan di dalamnya serta tidak ada pula dendam dan hasad." (HR. Ibnu Majah dan Thabrani)

Rasulullah saw mengingatkan, "Janganlah kalian saling hasad (iri), janganlah kalian saling membenci, janganlah kalian saling membelakangi (saling mendiamkan). Jadilah kalian bersaudara, wahai hamba Allah." (HR. Bukhari dan Muslim)