Telp. 0265-2351868 | WA 0878 8555 4556 | BBM 5AE49B09

Wednesday, 5 October 2016

Menahan Marah


Marah adalah sesuatu yang alamiah. Seseorang bisa marah jika dizalimi. Namun, tidak banyak orang yang mampu menahan amarahnya dengan bersikap bijaksana.

 Rasulullah SAW bersabda, "Aku ini hanya manusia biasa, aku bisa senang sebagaimana manusia senang dan aku bisa marah sebagaimana manusia marah".(HR.Muslim)

Orang-orang yang di hati mereka tertanam keimanan yang kuat,biasanya mampu menahan dan meredakan amarah mereka. Mereka sadar bahwa marah bukanlah jalan untuk menyelesaikan masalah. Untuk apa marah jika bisa menyelesaikan masalah dengan cara yang lemah lembut? 

Dalam Al-Qur'an, Allah memuji sikap semacam ini, "Orang-orang yang bertaqwa adalah mereka yang enafkahkan (harata mereka) di waktu lapang dan  sempit, dan orang-orang yang menahan amaarah mereka serta memaafkan (kesalahan) oranng lain,Allah menyukai orang-orang yang berbuat kebajikan".(QS.Ali Imran:134)

Terbiasa menahan marah memang tidak bisa instan. Butuh latihan dan kesadaran yang luar biasa. Ada orang yang marah ketika kemiskinannya diejek aatau dihina, ketika tidak tahan mendengar makian,saat menunggu antrean panjang dan sebagainya.Ada baiknya seorang muslim merenung,mengintrospeksi diri,dan menanyakan dalam hati. Apakah dengan kemarahan masalah akan selesai?

Rasulullah SAW menyampaikan deskripsi orang yanng mampu menahan marah dengan kalimat yang begitu indah,"Bukanlah orang kuat dengan (selalu mengalahkan lawannya dalam) pergulatan (perkelahian), orang kuat (yang sebenarnya)adalah yang mampu mengendalikan diri ketika marah."(HR.Bukhari dan Muslim)

Keutamaan orang yang mampu menahan marahnya disebutkan dalam sabda Rasullullah SAW,"Barangsiapa menahan kemarahannya padahal dia mampu melampiaskannya maka Allah akan memanggilnya (membanggakannya) pada hari kiamat di hadapan semua manusia sampai (kemudian) Allah membiarkannya memilih bidadari bermata jeli yang disukainya". 
(HR.Abu Daud,Tirmidzi, Ibnu Majah dan Ahmad)