Telp. 0265-2351868 | WA 0878 8555 4556 | BBM 5AE49B09

Sunday, 7 August 2016

Antara Cinta dan Waktu


Ada suatu pulau yang dihuni berbagai macam sifat manusia. Sifat-sifat ini berdiri sendiri di pulau tersebut dengan ciri khas mereka masing-masin. Optimisme, Pesimisme, Pengetahuan, Kemakmuran, Kesombongan, Cinta, dan sifat-sifat manusia lainnya tinggal di sana. Suatu ketika ada sebuah pengumuman bahwa pulau itu akan segera tenggelam dengan perlahan.

Segala macam sifat tersebut pun mulai panik. Mereka segera menyiapkan perbekalan karena ingin segera meninggalkan pulau tersebut. Namun cinta belum siap untuk itu, ia tidak memiliki perahu sendiri. Dulu perahunya pernah ia pinjamkan kepada pelupa, namun dengan berjalannya waktu pelupa pun lupa mengembalikannya. Namun cinta tetap tenang, ia justru sibuk membantu sifat-sifat lain untuk bersiap-siap menyelamatkan diri.

Setelah semua sifat-sifat lain telah siap untuk pergi meninggalkan pulau, barulah cinta memikirkan dirinya untuk menyelamatkan diri. Karena sudah tidak meiliki perahu ia pun memutuskan untuk meminta bantuan kepada sifat-sifat lain. Kebetulan kemakmuran baru saja akan berangkat dengan perahunya yang besar lengkap dengan tekhnologi mutakhir. 

“Kemakmuran, bolehkah aku ikut denganmu?” tanya Cinta.

“Tidak bisa,” jawab Kemakmuran. “Perahuku sudah terlalu penuh dengan seluruh harta milikku, emas, perak, perabotan antik, koleksi seni, dan lainnya. Tak ada ruang untukmu di sini, cobalah minta pertolongan kepada yang lain”. 

Tak lama setelah kemakmuran pergi lewatlah kesombongan dengan perahunya yang amat indah. “Kesombongan, sudikah engkau menolongku?” pinta cinta.

“Maaf,” jawab Kesombongan, “Aku tak bisa menolongmu. badanmu basah dan kotor, aku tidak mau perahu menjadi jorok dan kotor jika kubiarkan kau ikut denganku.”

Lalu cinta melihat pesimisme yang sedang bersusah payah mendorong perahunya ke air. ia pun lalu membantunya mendorong perahu tersebut. Pesimisme terus-menerus mengeluh soal perahu yang terlalu berat, pasir terlalu lembut, air terlalu dingin. Dan kenapa pulau ini mesti tenggelam? Kenapa semua kesialan ini harus menimpanya? Meski Pesimisme mungkin bukanlah teman perjalanan menyenangkan, Cinta sudah sangat terdesak. “Pesimisme, bolehkah aku menumpang perahumu?”

“Oh jangan, kau jangan ikut denganku, kau terlalu baik untuk berlayar bersamaku. Perhatianmu membuatku merasa lebih bersalah lagi. Bagaimana nanti kalau ada ombak besar yang menghantam perahuku dan kau tenggelam? Tidak, aku tidak tega mengajakmu”. Lalu ia pun pergi meninggalkan cinta.

Perahu terakhir meninggalkan pulau adalah optimisme. Ia sangat percaya diri, bahkan ia tidak percaya tentang bencana dan hal-hal buruk yang akan terjadi dengan pulau itu. Melihat itu cinta berteriak memanggilnya, tetapi optimisme tak mendengar. Ia terlalu sibuk menatap ke depan dan memikirkan tujuan berikutnya. Cinta memanggilnya lagi, tetapi bagi optimisme tak ada istilah untuk menoleh ke belakang. Ia terus berlayar ke depan menjauh meninggalkan cinta sendirian.

Pada saat Cinta sudah nyaris putus asa, dia mendengar sebuah suara. “Cinta kemari, naiklah ke dalam perahuku!” Karena merasa begitu lelah cintapun langsung tertidur saat sudah berada di perahi itu. Sepanjang jalan ia tertidur dengan pulas, sampai nakhoda kapal mengatakan mereka sudah sampai di daratan kering. Cinta sangat berterimakasih kepada penolongnya lalu meloncat turun dari perahu tersebut dan melambaikan tangan kepada nakhoda baik hati itu. Tapi setelah beberapa saat ia baru menyadari bahwa ia ia lupa menanyakan namanya.

Di pantai ia bertemu pengetahuan, dan cinta bertanya siapa penolongnya tadi. “Siapa tadi yang menolongku?”

“Itu tadi Waktu,” jawab Pengetahuan.

“Waktu?” tanya Cinta. “Kenapa hanya waktu yang mau menolongku, padahal teman-teman yang lain tidak mau mengulurkan tangannya?”

Sambil tersenyum pengetahuan menjawab, “Ketahuilah cinta, bahwa hanya waktu yang mampu mengerti betapa hebatnya sebuah cinta kasih".